Air Mata Suci Samobarong: Kisah Mata Air yang Tak Hanya Mengalir, tetapi Juga Menyimpan Warisan Leluhur

Jauh di tengah hutan Desa Adat Tinggarsari terdapat Air Mata Suci Samobarong, sebuah mata air pegunungan yang sejak dahulu dipercaya memiliki nilai penting bagi masyarakat setempat. Airnya yang jernih dan dingin tidak hanya digunakan untuk pemandian dan melukat, tetapi juga memiliki cerita tentang penyembuhan, meditasi, serta berbagai kepercayaan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di tengah perkembangan zaman, masyarakat tetap memilih menjaga mata air ini agar kesucian dan keasriannya tidak hilang.

Sep 19, 2026 - 05:38
Sep 19, 2026 - 07:01
Air Mata Suci Samobarong: Kisah Mata Air yang Tak Hanya Mengalir, tetapi Juga Menyimpan Warisan Leluhur
Gambar 1. Lokasi Air Mata Suci (Sumber Foto: Milik Pribadi

Di tengah hutan Desa Adat Tinggarsari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah mata air yang sejak dahulu memiliki tempat khusus dalam kehidupan masyarakat, yaitu Air Mata Suci Samobarong. Letaknya sekitar dua kilometer dari permukiman warga. Untuk sampai ke tempat ini, perjalanan harus melewati kawasan hutan yang masih dipenuhi pepohonan rindang. Suasananya jauh dari keramaian, udara terasa sejuk, dan suara aliran air menjadi suara yang paling mudah terdengar. Di tempat seperti inilah Air Mata Suci berada, mengalir dari sumber pegunungan dengan air yang dikenal jernih dan dingin.

Bagi masyarakat Tinggarsari, Air Mata Suci bukan sekadar sumber air. Mata air ini telah dikenal sejak sekitar tahun 1950 berdasarkan cerita yang diwariskan oleh para tetua desa dan Jro Mangku. Tidak ada catatan tertulis yang memastikan kapan pertama kali mata air tersebut ditemukan. Dahulu, keadaan Air Mata Suci masih sangat sederhana. Air hanya dialirkan melalui pancoran yang terbuat dari bambu, sementara lingkungan di sekitarnya dibiarkan tetap alami. Masyarakat memanfaatkan apa yang tersedia di sekitar tanpa banyak mengubah keadaan mata air. Dari kondisi yang sederhana tersebut, Air Mata Suci kemudian terus dikenal dan dipertahankan keberadaannya hingga sekarang.

Sejak dahulu, Air Mata Suci digunakan masyarakat sebagai tempat pemandian dan "melukat". Bagi mereka, mandi di tempat ini tidak hanya berkaitan dengan membersihkan tubuh, tetapi juga menjadi bagian dari penyucian diri secara lahir dan batin. Air yang jernih dan dingin dari sumber pegunungan menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, Air Mata Suci juga dipercaya dapat membantu menyembuhkan luka dalam. Pada masa lalu, terdapat pula orang yang datang untuk melakukan penyucian diri karena dipercaya mengalami guna-guna atau “cetik”. Cerita mengenai hal tersebut merupakan bagian dari kepercayaan dan tradisi lisan masyarakat sehingga tidak dapat dianggap sebagai bukti pengobatan secara medis. Namun, kisah itu tetap menjadi bagian dari sejarah yang membuat Air Mata Suci memiliki arti khusus bagi masyarakat.

Gambar 2. Pancoran Air Mata Suci (Sumber Foto: Milik Pribadi)

Suasana di sekitar mata air juga membuat tempat ini dipercaya memiliki hubungan dengan kegiatan spiritual lainnya. Letaknya yang berada di tengah hutan, jauh dari permukiman, menghadirkan suasana yang tenang dan jauh dari kebisingan. Menurut cerita masyarakat, kawasan di sekitar Air Mata Suci pernah digunakan sebagai tempat meditasi dan mendalami ilmu-ilmu tertentu. Di sekitar kawasan pura terdapat tebing dan ceruk yang dikaitkan dengan tempat pertapaan. Dalam cerita yang berkembang, tempat tersebut dikaitkan dengan seorang Peranda atau Pendeta yang kemudian dikenal oleh masyarakat sebagai Ida Peranda Sakti. Kisah tersebut menjadi bagian dari sejarah lisan kawasan Samobarong dan turut memperkuat cerita spiritual yang menyertai keberadaan Air Mata Suci.

Karena dianggap memiliki nilai khusus, Air Mata Suci juga memiliki Pantangan yang masih dikenal hingga sekarang. Sumber air tersebut tidak boleh dikotori dengan apa pun. Menurut kepercayaan masyarakat, orang yang sengaja mencemari mata air dipercaya dapat mengalami gangguan dari makhluk astral berukuran besar yang diyakini berada di kawasan tersebut. Kepercayaan tersebut tentu tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, tetapi pantangan yang menyertainya memiliki pengaruh nyata dalam kehidupan masyarakat. Orang yang datang ke Air Mata Suci diingatkan untuk menjaga sikap, kebersihan, dan kondisi lingkungan di sekitarnya.

Seiring berjalannya waktu, Air Mata Suci mengalami perubahan pada bagian penataannya. Jika dahulu air hanya mengalir melalui pancoran bambu, kini pancoran tersebut telah dibuat menggunakan batu dengan ukiran khas Bali berbentuk kepala naga. Area di sekitar kawasan suci juga mengalami penataan menggunakan batu-batu berukiran. Perubahan tersebut membuat kawasan mata air terlihat lebih tertata, tetapi tidak menghilangkan fungsi dan nilai yang telah melekat pada Air Mata Suci sejak dahulu. Penataan ini menjadi salah satu bentuk perawatan agar kawasan tetap dapat digunakan dan dijaga oleh masyarakat.

Gambar 3. Patung Pemujaan Budha (Sumber Foto: Milik Pribadi)

Tidak jauh dari bagian atas Air Mata Suci, masih dalam kawasan mata air suci dan pura, terdapat pula tempat pemujaan Dewa Buddha. Menurut penuturan masyarakat, tempat tersebut berada diatas tebing yang ada pada lokasi area Air Mata Suci. Keberadaan tempat pemujaan ini menjadi salah satu bagian yang menarik dari kawasan Samobarong. Meskipun demikian, keberadaan berbagai tempat dan cerita spiritual tersebut tetap tidak terlepas dari Air Mata Suci sebagai salah satu bagian utama kawasan. Mata air menjadi tempat yang secara langsung digunakan masyarakat, sementara lingkungan di sekitarnya menyimpan berbagai cerita yang berkembang dari generasi ke generasi.

Salah satu hal yang paling memperlihatkan bagaimana masyarakat memandang Air Mata Suci terjadi pada tahun 2020. Karena memiliki air yang jernih dan berasal dari kawasan pegunungan, mata air tersebut pernah mendapat tawaran untuk dikembangkan menjadi air minum kemasan seperti Aqua. Dari sisi ekonomi, tawaran tersebut tentu dapat memberikan keuntungan. Namun, masyarakat Desa Adat Tinggarsari memilih untuk menolaknya. Keputusan itu menunjukkan bahwa nilai Air Mata Suci bagi masyarakat tidak dapat dihitung hanya berdasarkan nilai ekonominya. Mereka memilih mempertahankan mata air tersebut sebagai bagian dari warisan, lingkungan, dan tempat yang memiliki nilai kesucian.

Hubungan masyarakat dengan kawasan Samobarong tetap dilanjutkan melalui kegiatan keagamaan. Salah satunya adalah piodalan Pura Samobarong yang bertepatan dengan Purnama Kapat, Saniscara Umanis Bale, Sasih Kapat 1948 Saka. Pada saat piodalan, masyarakat berkumpul untuk melaksanakan persembahyangan dan menjalankan berbagai warisan yang telah dipertahankan dari generasi sebelumnya. Salah satu persembahan yang wajib dilaksanakan dalam piodalan tersebut adalah Tari Gandrung. Kehadiran tarian ini bukan hanya menjadi bagian dari rangkaian upacara, tetapi juga menjadi cara masyarakat mempertahankan kesenian yang telah diwariskan.

Nama Samobarong sendiri juga memiliki cerita tersendiri. Dalam penelitian mengenai Pura Batur Samobarong, unsur samu atau samo dikaitkan dengan arti pertemuan atau berkumpul, sedangkan barong dikaitkan dengan baruang atau macan. Ada pula pembahasan mengenai hubungan unsur barong dengan kebudayaan Tionghoa, khususnya Barong Sai. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan Samobarong memiliki perjalanan budaya yang cukup panjang. Keberadaan Air Mata Suci Samobarong dan berbagai kegiatan keagamaan tersebut menjadi bagian dari lingkungan yang mengelilingi Air Mata Suci. Namun, mata air tetap memiliki hubungan yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat. Airnya digunakan untuk pemandian dan melukat, sementara keberadaannya dijaga melalui berbagai aturan dan pantangan. Bahkan ketika ada kesempatan untuk memanfaatkannya secara komersial, masyarakat memilih untuk mempertahankan Air Mata Suci sebagaimana nilai yang mereka jaga dan lestarikan sejak dahulu.

Gambar 4. Tempat Pemandian Air Suci (Sumber Foto: Milik Pribadi)

Pada akhirnya, Air Mata Suci Samobarong bukan hanya tentang air yang keluar dari sumber pegunungan. Di dalamnya terdapat cerita tentang masyarakat yang sejak puluhan tahun lalu mengenal, menggunakan, dan menjaga mata air tersebut. Dari pancoran bambu yang sederhana hingga pancoran batu berukiran kepala naga, perubahan yang terjadi menunjukkan perjalanan sebuah tempat yang terus dirawat tanpa meninggalkan nilai yang telah diwariskan. Cerita tentang melukat, pantangan, pertapaan, Ida Peranda Sakti, tempat pemujaan Dewa Buddha, hingga penolakan terhadap pengembangan air kemasan menjadi bagian dari perjalanan panjang kawasan ini.

Bagi masyarakat Desa Adat Tinggarsari, menjaga Air Mata Suci berarti menjaga lebih dari sekadar sumber air. Mereka juga menjaga alam di sekitarnya, cerita para tetua, serta nilai yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Bagi orang yang baru pertama kali datang, Air Mata Suci mungkin hanya terlihat seperti mata air yang mengalir di tengah hutan. Namun, ketika melihat bagaimana masyarakat memperlakukannya dan mengetahui cerita yang menyertainya, aliran air tersebut menjadi bagian dari warisan yang memiliki makna bagi kehidupan masyarakat Tinggarsari hingga sekarang.