Pura Luhur Pucak Bukit Gede: Arca Dewa Siwa dan Lingga Yoni Jejak Abad ke-11 di Luwus

Pura Luhur Pucak Bukit Gede merupakan salah satu pura yang memiliki nilai penting di Bali yang terletak di Banjar Poyan, Desa Luwus, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan. Sebagai pura berstatus Kahyangan Jagat, Pura Luhur Pucak Bukit Gede tidak hanya menjadi pusat peribadatan, tetapi juga menyimpan berbagai cerita purana yang menggambarkan asal-usul alam semesta dan peran dewa-dewa dalam menjaga kehidupan manusia.

Feb 26, 2025 - 07:24
Nov 11, 2024 - 19:20
Pura Luhur Pucak Bukit Gede: Arca Dewa Siwa dan Lingga Yoni Jejak Abad ke-11 di Luwus
Pura Luhur Pucak Bukit Gede (Sumber: Koleksi Pribadi)

Kisah asal mula berdirinya Pura Luhur Pucak Bukit Gede dimulai dengan perjalanan Bhatara Guru dalam upaya menyatukan para putranya yang telah lama berpisah. Dalam perjalanan spiritualnya, Bhatara Guru melakukan meditasi mendalam (Yogha Samadhi), yang akhirnya membuatnya memperoleh kekuatan besar hingga mampu mengangkat sebagian dari Gunung Mahameru di India atau Jambhu Dwipa. Bagian puncak gunung yang kaya akan permata itu dikenal dengan nama Gunung Mapucak Manik.

Dalam perjalanannya membawa bongkahan Gunung Mahameru di atas Pulau Bali, Bhatara Guru merasa lelah hingga beberapa bagian gunung yang ia papah terjatuh dan menyebar di berbagai wilayah Bali. Salah satu bongkahan itu menjadi Bukit Gede di Banjar Poyan yang menjadi lokasi berdirinya Pura Luhur Pucak Bukit Gede. Sejak saat itu, pura ini menjadi tempat pemujaan bagi Dewa Siwa yang berstana dengan gelar Bhatara Pucak Bukit Gede, dibuktikan dengan keberadaan arca Dewa Siwa dan Lingga Yoni yang tersimpan di Gedong Meru.

Palinggih Utama Gedong Meru (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)

Sebagai pusat religius, Pura Luhur Pucak Bukit Gede dikelilingi oleh empat pura lain yang membentuk konsep Catur Lawa, yaitu Pura Pucak Sari di utara, Pura Pucak Hyang Api di timur, Pura Pucak Buung di selatan, dan Pura Pucak Melangki di barat. Dengan kehadiran keempat pura ini, Pura Luhur Pucak Bukit Gede semakin memperkuat posisinya sebagai tempat pemujaan utama di wilayah Baturiti. Pura ini menjadi tujuan bagi umat Hindu di Bali untuk memohon keselamatan, kemakmuran, dan kesuburan, terutama dalam hal pertanian. Bhatara Guru juga memberikan sabda bagi penduduk sekitar untuk menanam berbagai jenis tanaman seperti padi, gaga, buah-buahan, dan umbi-umbian. Larangan menanam bawang merah dan bawang putih menjadi aturan yang dipercayai dapat menghindarkan tanaman dari hama penyakit.

Pura Luhur Pucak Bukit Gede terdiri dari tiga mandala, yaitu nista mandala, madya mandala, dan utama mandala. Pada nista mandala, terdapat beberapa bangunan seperti Bale Pelik, Bale Wantilan, dan Bale Panjang yang digunakan untuk aktivitas umum. Madya mandala menjadi tempat stana bagi beberapa dewa yang dipuja melalui palinggih, seperti Bale Pangaruman Omkara, Bale Gong sebagai stana Sanghyang Aji Gurnita, Bale Pangubengan sebagai stana Sanghyang Catur Loka, serta Bale Pasandekan dan Padma Capah.

Yang unik dari pura ini adalah utama mandala yang dibagi menjadi tiga bagian: utamaning utama, madyaning utama, dan nistaning utama. Utamaning utama merupakan tempat palinggih utama yaitu Gedong Meru sebagai stana Sanghyang Siwa Pasupati. Sedangkan pada madyaning utama terdapat sejumlah palinggih, seperti Gedong Limas Watukaru, Gedong Limas Beratan, dan Gedong Tarib Majapahit. Nistaning utama sendiri memiliki palinggih seperti Bale Pasandekan, Bale Gong, dan Bale Panggungan.

Utama Mandala (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)

Tradisi di Pura Luhur Pucak Bukit Gede memiliki ketentuan khusus, termasuk pantangan menggunakan daging babi sebagai persembahan di utama mandala atau Gedong Meru. Hanya pemangku atau tokoh tertentu seperti Jero Mangku Gede dan Panyarikan yang diperkenankan memasuki Gedong Meru. Jika aturan ini dilanggar, maka ritual pacaruan berupa persembahan bebek putih jambul harus dilakukan untuk membersihkan tempat suci tersebut. Ritual ini menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur dan menjaga kesakralan pura agar tetap dihormati oleh masyarakat.

Pura Luhur Pucak Bukit Gede diempon oleh umat Hindu yang tergabung dari sepuluh banjar yang tersebar di tiga desa: Banjar Poyan, Banjar Belah, Banjar Luwus di Desa Luwus; Banjar Temacun, Banjar Tundak, Banjar Kerobokan, Banjar Sekargula, Banjar Peneng, dan Banjar Mojan di Desa Mekar Sari; serta Banjar Anyar di Desa Perean Kangin. Masyarakat sekitar menjaga pura ini dengan penuh hormat dan mengikuti aturan serta nilai-nilai yang diwariskan oleh leluhur. Kesakralan Pura Luhur Pucak Bukit Gede tetap terjaga, berkat rasa tanggung jawab dan kepatuhan terhadap pesan-pesan suci dalam purana.

Pura Luhur Pucak Bukit Gede tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga cerminan budaya, sejarah, dan kesatuan masyarakat Bali dalam menjaga warisan leluhur. Keberadaan purana dan cerita-cerita mitologis di pura ini memperkuat keyakinan masyarakat Bali untuk terus melestarikan nilai-nilai luhur yang diajarkan para leluhur, menjadikan Pura Luhur Pucak Bukit Gede sebagai pusat spiritual yang penuh makna bagi generasi masa kini dan mendatang.