Jiwa yang Bercerita Lewat Topeng: Kiprah I Dewa Gede Putra dalam Seni Topeng Bali di Singapadu Kaler

Seni Topeng Bali menyimpan lapisan cerita yang hidup di balik setiap ukiran dan geraknya. Di tangan I Dewa Gede Putra, penggiat seni dari Singapadu Kaler, topeng tidak hanya hadir sebagai karya visual, tetapi juga menjadi ruang tempat jiwa dan ekspresi bertemu dengan nilai-nilai budaya yang diwariskan. Melalui keseharian yang bersentuhan dengan tradisi dan dunia pendidikan, artikel ini menghadirkan suasana tentang bagaimana seni topeng terus dijaga dan menemukan maknanya di tengah perjalanan waktu.

May 17, 2026 - 05:14
May 15, 2026 - 14:28
Jiwa yang Bercerita Lewat Topeng: Kiprah I Dewa Gede Putra dalam Seni Topeng Bali di Singapadu Kaler
I Dewa Gede Putra dengan Tapel Topeng Dalem Arsa Wijaya (Sumber: Koleksi Pribadi)

Dalam tradisi Bali, topeng bukan sekadar properti pertunjukan. Ia adalah medium cerita, simbol karakter serta sarana penyampaian nilai-nilai kehidupan dalam tari maupun lakon-lakon klasik. Di tengah tradisi yang terus dijaga itu, I Dewa Gede Putra hadir sebagai salah satu penggiat seni topeng Bali yang konsisten menekuni dan menghidupkan nilai-nilai tersebut melalui pembuatan topeng, pementasan, dan pendidikan seni.

Proses Pengecatan Tapel Topeng setelah Dipahat (Sumber: Koleksi Pribadi)

Lahir di Singapadu Kaler pada 2 Februari 1976, I Dewa Gede Putra, S.Pd. tumbuh dalam lingkungan keluarga seniman yang lekat dengan dunia seni pedalangan dan topeng. Ia mengaku bahwa kedekatannya dengan seni topeng sudah terbangun sejak kecil. Ia lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga seniman. Kakek dan orang tuanya merupakan pelaku seni pedalangan, seni topeng, sekaligus pengrajin topeng dan pemahat patung.

Sejak kecil, ia terbiasa melihat keluarganya menggantungkan hidup dari seni. Lingkungan keluarga juga secara alami menurunkan pengetahuan dan keterampilan seni kepada anak-anaknya sebagai bagian dari proses regenerasi. Dari situlah ketertarikan terhadap seni topeng tumbuh dan terus melekat hingga kini.

I Dewa Gede Putra saat Berbincang Mengenai Perjalanannya (Sumber: Koleksi Pribadi)

Perjalanan Dewa Putra dimulai sejak bangku sekolah dasar, ketika ia sudah memiliki keinginan untuk melanjutkan jejak orang tuanya di dunia seni. Saat memasuki jenjang SMA, ia memilih menempuh pendidikan di SMK jurusan seni di SMK Negeri 3 Sukawati (KOKAR Bali). Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan seni ke IKIP PGRI dan menempuh jalur formal sebagai pendidik. Dari proses tersebut, ia akhirnya berprofesi sebagai guru seni tari dan guru seni budaya. Di luar pendidikan formal, ia juga aktif mengisi pelatihan-pelatihan seni tari dan seni topeng secara nonformal.

Koleksi Topeng I Dewa Gede Putra (Sumber: Koleksi Pribadi)

Dalam koleksinya, Dewa Putra memiliki berbagai jenis topeng, termasuk topeng warisan dan topeng hasil karyanya sendiri. Sebagian besar merupakan topeng wali yang digunakan dalam konteks upacara dan pementasan sakral, seperti topeng Rangda, Barong, serta berbagai jenis topeng lainnya. Jenis topeng yang paling sering ia buat dan mainkan adalah di antaranya Topeng Keras, Topeng Tua, Topeng Dalem Arsa Wijaya, Topeng Penasar atau Wijil, dan Topeng Pajegan. 

Koleksi Topeng I Dewa Gede Putra (Sumber: Koleksi Pribadi)

Menurutnya, setiap topeng memiliki fungsi, karakter, dan makna yang berbeda, sehingga tidak bisa diperlakukan secara sembarangan. Menurut Dewa Putra, kesan terdalam sebagai seniman muncul ketika ia menarikan topeng hasil ciptaannya sendiri. Ada perbedaan rasa antara menarikan karya sendiri dan karya orang lain, meskipun keduanya tetap harus mengikuti pakem yang sama. Namun, ketika seorang seniman menciptakan topeng sekaligus menarikan karyanya sendiri, hubungan batin yang terbangun menjadi lebih kuat. Di sanalah kesan dan pesan dalam sebuah tarian terasa lebih mendalam, karena proses kreatif dan ekspresi artistik menyatu dalam satu tubuh.

I Dewa Gede Putra saat Mementaskan Topeng Dalem Arsa Wijaya (Sumber: Koleksi Pribadi)

Dalam seni tari topeng, penghayatan karakter menjadi kunci utama. Setiap tapel atau topeng memiliki karakter yang berbeda dan harus dipahami secara mendalam oleh penarinya. Sebagai contoh, Topeng Tua melambangkan sosok orang tua yang bijaksana. Gerakannya harus lambat, penuh kehati-hatian, dan mencerminkan usia serta pengalaman hidup. Sebaliknya, Topeng Keras melambangkan seorang patih atau prajurit yang gagah dan berani, sehingga gerakannya tegas dan kuat.

Topeng Dalem Arsa Wijaya melambangkan sosok raja, dengan karakter gerak yang halus, agung, dan berwibawa. Sementara itu, Penasar berperan sebagai parekan atau pembawa alur cerita dalam pertunjukan topeng. Setiap karakter memiliki pakem gerak tersendiri yang wajib dipelajari dan dipahami agar tarian terasa hidup dan bermakna.

I Dewa Gede Putra saat Memperagakan Gerakan Topeng Dalem Arsa Wijaya (Sumber: Koleksi Pribadi)

Dewa Putra berharap generasi muda Bali, khususnya yang beragama Hindu, tetap menjaga dan melestarikan seni topeng ini karena seni dan agama memiliki keterkaitan yang sangat erat dalam kehidupan masyarakat Bali. Menurutnya, jika bukan masyarakat Bali sendiri yang melestarikan seni budayanya, maka tidak ada lagi yang akan menjaga warisan tersebut. Ia mengajak generasi muda setidaknya untuk mengenal dan mengapresiasi seni topeng, meskipun belum tentu terlibat langsung sebagai pelaku seni.