I Ketut Gede Antara: Dari Satu Lagu Menjadi Ribuan Pewaris Seni Gender
Sanggar Sabda Kencana Sakti (SKS) yang didirikan I Ketut Gede Antara (Pak Tut De) pada 2005 berawal dari keresahan sulitnya mencari penabuh gender wayang saat hari-hari yadnya. Bermula dari latihan sederhana bersama anak dan lingkungan sekitar dengan alat terbatas, SKS berkembang lewat ketekunan dan dukungan swadaya hingga kini memiliki puluhan instrumen serta melahirkan banyak generasi penabuh. Melalui penekanan teknik dan nilai ngayah, SKS menjadi bukti bahwa tradisi gender wayang tetap hidup dan terus diwariskan lintas generasi.
Nama I Ketut Gede Antara, atau yang lebih akrab disapa Pak Tut De, tidak dapat dilepaskan dari perjalanan panjang Sanggar Sabda Kencana Sakti (SKS). Sosok ini bukan hanya pendiri sanggar, tetapi juga saksi hidup bagaimana seni gender wayang bertahan, tumbuh, dan diwariskan lintas generasi di tengah keterbatasan zaman. Perjalanan tersebut tidak dimulai dari fasilitas lengkap atau dukungan besar, melainkan dari pengalaman personal seorang pelaku seni yang berhadapan langsung dengan kenyataan lapangan: kelangkaan penabuh gender wayang saat hari-hari yadnya.
Makna di Balik Nama Sabda Kencana Sakti
Lahir dari Masalah Nyata di Lapangan Seni
Tidak seperti gamelan lain yang lebih mudah mencari penabuh pengganti, gender wayang menuntut kesiapan teknik dan latihan yang matang. Kondisi ini sering memicu benturan jadwal antarpenabuh.
Dari Perkumpulan Kecil ke Sanggar Seni
Pada awalnya, tidak ada niat mendirikan sanggar secara formal. Yang ada hanyalah keinginan membentuk perkumpulan generasi agar selalu tersedia pasangan ngayah. Langkah pertama dimulai dari lingkungan terdekat: anak kandung sendiri, yang saat itu masih duduk di kelas 1 SD.
Dengan hanya satu lagu, latihan dilakukan berulang-ulang. Lagu yang sama dimainkan dalam berbagai kesempatan ngayah di wilayah Ubung Kaja. Seiring waktu, teman sekolah sang anak mulai ikut belajar. Jumlah peserta perlahan bertambah hingga mencapai sekitar dua puluh orang, meskipun alat yang tersedia hanya dua buah gender.
Kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat. Justru dukungan datang dari warga sekitar dan orang tua murid. Karena minimnya bantuan pemerintah pada masa itu, orang tua murid secara swadaya membantu pengadaan alat tambahan. Dari dua alat berkembang menjadi empat, meskipun jumlah murid kembali melonjak hingga sekitar lima puluh orang.
Mengajar Tanpa Batas Waktu dan Administrasi
Pada masa awal, sistem pembelajaran berjalan tanpa administrasi resmi. Tidak ada tarif tetap. Kontribusi orang tua murid bersifat sukarela, bahkan sering kali dalam bentuk kebutuhan sehari-hari seperti kopi, gula, atau rokok.
Proses latihan dilakukan dengan sistem bergantian. Hari libur dimanfaatkan penuh, dari pagi hingga malam. Beberapa anak bahkan dititipkan orang tuanya sejak sepulang sekolah hingga malam hari. Kesabaran murid dalam menunggu giliran menjadi salah satu kenangan paling berkesan dalam perjalanan sanggar.
Dari pemasukan yang terkumpul secara perlahan, alat demi alat mulai dicicil. Hingga kini, Sanggar Sabda Kencana Sakti telah memiliki puluhan instrumen gender, sebuah capaian yang lahir dari proses panjang dan konsistensi.
Akar Kesenian yang Mengalir dalam Darah
Perjalanan Pak Tut De tidak lepas dari latar belakang keluarga. Seni telah mengalir sejak generasi sebelumnya. Ayah dan kakeknya dikenal memiliki ketertarikan kuat pada seni, khususnya kerawitan. Salah satu sosok penting dalam perjalanan keseniannya adalah almarhum Pak Sinti, paman yang dikenal sebagai seniman kerawitan dan sering mengajar hingga ke luar negeri.
Proses belajar pada masa lalu dilakukan secara langsung, tanpa rekaman atau media digital. Lagu dipelajari melalui pengamatan dan ingatan. Dari berbagai pertemuan dengan seniman lain, Pak Tut De mulai mengenal ragam gaya gender wayang, termasuk style Kayumas dan gaya dari daerah lain.
Metode Latihan dan Penanaman Nilai
Dalam proses pembelajaran, teknik menjadi prioritas utama. Cara memegang panggul, teknik memukul, dan teknik menutup nada diajarkan sebelum murid diperkenalkan pada lagu. Menurut pengalaman, bagian tersulit dalam gender wayang bukanlah menghafal lagu, melainkan menguasai teknik yang benar agar suara yang dihasilkan terdengar selaras dan indah.
Penanaman cinta seni dilakukan dengan pendekatan nilai. Murid dikenalkan pada fungsi gamelan dalam konteks agama Hindu. Yadnya tidak hanya diwujudkan melalui sembahyang, tetapi juga melalui suara, lagu, dan pengabdian seni. Dengan pemahaman ini, murid tidak hanya belajar bermain, tetapi juga memahami makna di balik kesenian yang dijalani.
Tentang Warisan dan Harapan
Dalam pandangan Pak Tut De, pengakuan pribadi bukanlah tujuan utama. Yang terpenting adalah keberlanjutan generasi. Selama masih ada anak-anak yang mau belajar dan melestarikan gender wayang, tujuan sanggar telah tercapai.
Harapan besar juga ditujukan kepada pemerintah agar menyediakan wadah yang jelas bagi seniman, baik dalam jalur pendidikan maupun pekerjaan. Dengan adanya ruang yang terarah, seni tidak hanya menjadi kegiatan sampingan, tetapi juga dapat berkembang sebagai profesi yang layak.