Pancoran Batan Nyuh: Jejak Harmoni Ajaran Siwa-Budha di Desa Adat Kapal
Bali menyimpan lapisan keindahan yang tidak selalu hadir di permukaan, tersembunyi di antara aliran air, pepohonan tua, dan ruang-ruang sunyi yang dijaga oleh tradisi. Di balik hiruk pikuk pariwisata, terdapat beji-beji suci yang menjadi tempat pertemuan antara alam dan laku spiritual masyarakatnya. Salah satunya adalah Pancoran Batan Nyuh, sebuah sumber air sakral yang terletak di Desa Adat Kapal, Kecamatan Mengwi. Pancoran ini tidak hanya menghadirkan kesejukan alam, tetapi juga merekam jejak panjang praktik penyucian diri dan harmoni ajaran spiritual yang tumbuh lintas generasi. Dalam kesederhanaannya, Pancoran Batan Nyuh menjadi penanda bahwa air, keyakinan, dan budaya di Bali terus mengalir sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Desa Adat Kapal, yang terletak di Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali, menyimpan warisan spiritual yang unik dalam tradisi keagamaan masyarakat setempat. Di Banjar Langon, berdiri sebuah sumber air alam yang dikenal sebagai Pancoran Batan Nyuh, tempat suci yang memantulkan jejak harmonis antara ajaran Hindu dan budaya Kuno Buddha yang pernah berkembang di daerah tersebut. Lokasinya hingga saat artikel ini ditulis, masih belum terdaftar secara resmi dalam peta digital seperti Google Maps. Namun, masyarakat dan pengunjung dapat menemukan lokasi ini dengan menuju Pura Beji Langon, yang berada di sekitar wilayah itu, di mana Pancoran Batan Nyuh terlihat berdekatan di sampingnya.
Pura Persembahyangan di Pancoran Batan Nyuh (Sumber: Koleksi Redaksi)
Pancoran Batan Nyuh telah lama dikenal sebagai tempat untuk melukat atau penyucian diri melalui tirta (air suci). Meskipun keberadaannya kerap dikaitkan dengan praktik Hindu Bali, lokasi ini memiliki lapisan sejarah yang menarik terkait pengaruh ajaran Budha, terutama sebelum masa dominasi Hindu di Bali. Dalam tradisi lokal disebutkan bahwa tempat ini dahulu berperan sebagai Pasraman Alit, atau tempat retret spiritual yang dikaitkan dengan penyebaran ajaran Buddha. Pengaruh tersebut masih tercermin dalam simbol-simbol budaya di sekitar Pancoran Batan Nyuh, khususnya dalam keberadaan pohon-pohon religius yang mendukung narasi simbolik lintas tradisi spiritual, yang mencerminkan persinggungan kosmologi antara ajaran Siwa dan Budha di masa lampau.
Sejak dahulu, masyarakat sekitar menggunakan Pancoran Batan Nyuh sebagai tempat untuk melaksanakan panglukatan (ritus pembersihan batin dan lahir). Air yang mengalir dari pancoran dianggap memiliki mutu spiritual yang mampu membersihkan jiwa dari ketidakseimbangan batin, kesalahan masa lalu, dan energi negatif pada individu. Karena itu, hingga hari ini, kegiatan ritual penyucian ini masih dilaksanakan, terutama pada waktu-waktu tertentu dalam kalender ritual Bali.
Lima Pancoran pada Pancoran Batan Nyuh (Sumber: Koleksi Redaksi)
Dari lima pancoran yang tercatat di lokasi, saat ini tiga di antaranya masih aktif mengeluarkan air, dan dua digunakan secara rutin oleh pamedek (umat Hindu Bali) untuk penglukatan, sedangkan satu lainnya khusus digunakan untuk nunas tirtha (mengambil air suci untuk keperluan ritual).
Wilayah Pancoran Batan Nyuh tidak hanya didefinisikan oleh aliran airnya tetapi juga oleh elemen-elemen lingkungan yang mengandung simbolisme religius. Di sekitar pancoran terdapat beberapa jenis pohon yang memiliki makna spiritual tersendiri:
- Pohon Bodhi, yang dalam tradisi Budha menjadi simbol pencerahan Siddhartha Gautama;
- Pohon Pule, yang diyakini sebagai simbol Dewa Siwa;
- dan Pohon Beringin yang sering dihubungkan dengan Dewi Durga, figur penting dalam kosmologi Siwa.
Penggabungan simbol-simbol ini mencerminkan harmoni lintas tradisi yang menghormati ajaran Siwa dan Buddha oleh masyarakat lokal Desa Adat Kapal. Pancoran Batan Nyuh adalah manifestasi nyata dari bagaimana tradisi spiritual di Bali tidak bergerak sebagai domain tunggal. Di Pancoran Batan Nyuh, jejak ajaran Siwa dan Budha terlihat dalam ritual penyucian (melukat), keberadaan simbol-simbol alam yang sakral, dan cara masyarakat menjaga serta mewariskan praktik ritual generasi ke generasi. Lebih dari sekadar sumber air, Pancoran Batan Nyuh berfungsi sebagai ruang harmonisasi kepercayaan, di mana nilai-nilai kosmologis yang berbeda digabungkan dalam pengalaman religius yang khas dan tetap relevan hingga kini.