I Wayan Gobiah Penulis Nemoe Karma Novel Berbahasa Bali 1931
Novel Nemoe Karma (1931) karya I Wayan Gobiah adalah novel pertama berbahasa Bali, mengisahkan Soedana yang terjerat perjodohan paksa, konflik keluarga, hingga menemukan cinta yang tulus. Lebih dari 90 tahun kemudian, kisah ini tetap relevan sebagai potret masyarakat Bali sekaligus pengingat pentingnya harmoni dalam kehidupan.
Bayangkan Bali pada awal 1930-an. Dunia sastra di sana masih berpusat pada tradisi lisan: geguritan, kidung, dan tembang yang diwariskan dari generasi ke generasi. Belum ada karya panjang berbentuk prosa yang ditulis dalam bahasa ibu. Saat itulah sebuah karya lahir, Nemoe Karma, novel pertama berbahasa Bali yang diterbitkan tahun 1931.
Kehadirannya mencatat kejutan dalam sejarah sastra Bali. Untuk pertama kalinya, bahasa Bali digunakan untuk menuturkan kisah dalam bentuk modern, dengan alur, tokoh, dan konflik sosial. Sosok di balik karya ini bukan sastrawan besar yang masyhur, melainkan seorang guru sederhana: I Wayan Gobiah.
Gobiah, guru yang melahirkan sastra Bali modern, Ilustrasi AI (Sumber: Koleksi Pribadi)
Jejak Hidup Gobiah
Gobiah lahir sekitar 1898 di Panjer, Badung. Masa kecilnya bertepatan dengan periode penuh gejolak. Ketika Belanda menyerbu Denpasar pada 1906, Gobiah sempat ditugaskan mengawal pangeran Ida Tjokardo Alit Ngurah ke Lombok. Dari peristiwa itulah Gobiah mendapat kesempatan bersekolah, hingga melanjutkan pendidikan ke Singaraja.
Di kota ini Gobiah bertemu Mas Nitisastro, seorang guru sekaligus penulis yang mengenalkannya pada dunia sastra. Kehidupannya sendiri tidak bebas dari duka: kehilangan istri dan anak pada usia muda. Namun dalam kesedihan, Gobiah menemukan pelarian pada bacaan Balai Pustaka, termasuk novel populer seperti Sitti Nurbaya. Dari sanalah gaya tulisannya mulai terbentuk.
Karier kepenulisannya dimulai dengan fabel bergambar Satua Lutung Mungil (1923), lalu geguritan Rare Angon (1926). Kedua karya itu menunjukkan semangat Gobiah memperbarui cara bercerita. Namun puncak kiprahnya terjadi ketika Balai Pustaka menerbitkan Nemoe Karma pada 1931, yang menjadi tonggak lahirnya prosa modern dalam bahasa Bali.
Cerita dan Tema dalam Nemoe Karma
Nemoe Karma berfokus pada kisah Soedana, anak seorang duda bernama Pan Soedana yang terjerat utang judi. Dalam keputusasaan, sang ayah menjual anaknya untuk melunasi utang. Soedana kemudian diasuh oleh keluarga Men Soekarsi. Putri keluarga itu jatuh cinta kepadanya, tetapi hubungan mereka terikat oleh rasa balas budi, bukan sekadar cinta murni.
Kisah cinta Soedana, Ilustrasi AI (Sumber: Koleksi Pribadi)
Gambaran ini sejajar dengan novel-novel Melayu awal abad ke-20, seperti Sitti Nurbaya (1922) karya Marah Rusli atau Salah Asuhan (1927) karya Abdul Muis. Bedanya, Nemoe Karma tidak sarat dengan pesan politik, melainkan lebih fokus pada potret kehidupan masyarakat Bali.
Menurut I Nyoman Darma Putra, peneliti sastra Bali sekaligus guru besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (2010), novel ini mencerminkan masyarakat kelas bawah Bali tahun 1920-an yang banyak terjerat kebiasaan berjudi. Selain itu, cerita juga menyiratkan pentingnya iman kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, pendidikan, serta sikap kritis terhadap upacara adat yang mewah.
Filosofi dan Relevansi Hari Ini
Meski ditulis lebih dari 90 tahun lalu, nilai yang terkandung dalam Nemoe Karma masih terasa segar. Hubungan para tokoh hanya dapat bertahan jika dibangun di atas rasa hormat, tanggung jawab, dan cinta yang tulus. Pesan ini sejalan dengan ajaran Tri Kaya Parisudha: berpikir, berkata, dan berbuat yang baik.
Di masyarakat modern, persoalan serupa masih muncul: pernikahan karena tekanan sosial, hubungan yang goyah karena ego, dan tradisi yang menuntut pengorbanan besar. Novel ini mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati datang dari harmoni, bukan dari paksaan atau kewajiban semata.
Warisan yang Tetap Hidup
Kini, hampir satu abad setelah terbit, Nemoe Karma tetap layak dibaca, bukan hanya sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai cermin sosial dan moral. Gobiah memperlihatkan bagaimana sastra mampu mendokumentasikan wajah masyarakat sekaligus memberi arah nilai. Hingga kini, manusia masih mencari “nemu karma” masing-masing, entah jodoh, kedamaian dalam keluarga, atau harmoni dengan lingkungan, sehingga karya Gobiah terus hidup sebagai cermin kehidupan yang tak lekang oleh waktu.