Geguritan Niti Raja Sasana: Kritik Abadi untuk Pemimpin yang Lalai
Di tengah maraknya isu korupsi dan krisis kepercayaan terhadap pemimpin, sebuah naskah kuno dari tradisi Jawa-Bali, Geguritan Niti Raja Sasana, menawarkan sebuah cermin yang tak lekang oleh waktu. Artikel ini mengupas bagaimana ajaran kepemimpinan luhur dari masa lampau—yang menjunjung tinggi welas asih, keadilan, dan amanah—justru menjadi kritik paling tajam bagi para penguasa modern yang terjerat dalam keserakahan dan kelalaian terhadap rakyatnya. Bukan sekadar nostalgia sejarah, tulisan ini adalah sebuah refleksi mendalam tentang hakikat kekuasaan, moralitas, dan warisan abadi yang akan ditinggalkan oleh setiap pemegang amanah.
Di tengah maraknya berita tentang penyalahgunaan wewenang dan pejabat yang terlena oleh kemewahan, sering terlintas pemikiran bahwa krisis etika pemimpin adalah fenomena modern. Namun, jika kita menengok lembaran sejarah, kearifan masa lalu seolah membisikkan bahwa pergulatan antara amanah dan nafsu kekuasaan adalah cerita yang berulang.
Salah satu catatan abadi itu tersimpan dalam naskah kuno Geguritan Niti Raja Sasana. Karya sastra ini bukanlah sekadar kumpulan nasihat usang, melainkan sebuah cermin yang dirancang untuk memantulkan watak asli kepemimpinan. Di dalamnya, terpapar jelas standar luhur seorang pemimpin sejati yang tugas utamanya adalah menyejahterakan rakyat. Naskah ini juga memberi peringatan keras, seolah berkata bahwa kekuasaan yang dijalankan tanpa welas asih pada akhirnya akan berujung pada kerapuhan.
Cermin Abadi Masa Lalu di Masa Kini, Ilustrasi AI (Sumber : Koleksi Pribadi)
Melalui bait-baitnya, Geguritan Niti Raja Sasana mengingatkan bahwa keserakahan dan kelalaian bukanlah isu baru. Ajarannya yang telah melintasi zaman kini terasa relevan kembali, menawarkan tolak ukur untuk menilai para pemegang kuasa. Bukankah gambaran pemimpin yang lebih mementingkan kekayaan pribadi daripada nasib rakyat adalah potret yang masih begitu akrab hingga hari ini?
Standar Luhur Sang Pemimpin: Cermin dari Niti Raja Sasana
Sebelum melontarkan kritik, Geguritan Niti Raja Sasana terlebih dahulu membentangkan sebuah cermin—gambaran utuh seorang pemimpin yang ideal. Standar yang ditetapkan bukanlah tentang kekayaan atau kekuatan militer, melainkan tentang karakter dan moralitas. Naskah ini menegaskan bahwa tugas tertinggi seorang penguasa adalah ngraksa gumi (menjaga dan menyejahterakan dunia/rakyat). Tanggung jawab ini menuntut sifat welas asih, terutama kepada mereka yang menderita dan kekurangan.
Pemimpin sejati, menurut naskah ini, adalah ia yang hatinya mudah tergerak untuk memberi, bukan yang tangannya gemar menumpuk harta untuk diri sendiri. Etika kepemimpinan ini juga diperkuat dengan ajaran Catur Pariksa, empat landasan perilaku yang harus dipegang teguh. Salah satu tujuannya adalah agar sang pemimpin "sampun salang surup, katungkul nurut wisaya"—agar jangan sampai kalang kabut atau kehilangan arah karena terlalu menuruti hawa nafsu. Nafsu inilah yang menjadi gerbang utama menuju kelalaian dan kerusakan.
Simbolisme Dua Jalan Kepemimpinan, Ilustrasi AI (Sumber : Koleksi Pribadi)
Penyakit Abadi Kekuasaan: Keserakahan dan Kelalaian
Setelah menetapkan standar yang luhur, Niti Raja Sasana dengan tajam mengupas penyakit abadi yang sering menjangkiti para pemegang kuasa: keserakahan. Naskah ini seolah memberi peringatan lintas zaman bahwa ketika seorang pemimpin mulai menyamakan jabatannya dengan kesempatan untuk mengumpulkan kekayaan, saat itulah ia telah menapaki jalan kelalaian. Gambaran tentang raja yang kikir, sewenang-wenang, dan hanya berfokus pada kemewahan pribadi menjadi sindiran utama di dalamnya.
Kritik ini terasa begitu relevan ketika disandingkan dengan realitas hari ini. Fenomena pejabat publik yang terjerat kasus korupsi triliunan rupiah, atau gaya hidup mewah yang dipamerkan di tengah kesulitan ekonomi rakyat, adalah cerminan modern dari pemimpin yang diperingatkan oleh naskah ini. Geguritan Niti Raja Sasana seolah bertanya: untuk apa kekuasaan jika hanya digunakan sebagai alat untuk memuaskan nafsu pribadi, sementara amanah untuk menyejahterakan rakyat justru diabaikan? Kelalaian ini, menurut naskah tersebut, adalah bentuk pengkhianatan terbesar seorang pemimpin.
Pada akhirnya, Geguritan Niti Raja Sasana bukanlah sekadar peninggalan sastra dari masa lalu. Ia adalah sebuah suara abadi, bisikan kearifan yang terus bergema melintasi zaman untuk mengingatkan setiap generasi tentang hakikat kekuasaan. Naskah ini dengan gamblang menunjukkan bahwa standar kepemimpinan sejati tidak diukur dari seberapa banyak harta yang dikumpulkan, melainkan dari seberapa besar kesejahteraan yang dihadirkan untuk rakyatnya.
Kritik tajam terhadap keserakahan dan kelalaian yang tertulis di dalamnya menjadi bukti bahwa tantangan terbesar seorang pemimpin tetap sama, dulu maupun sekarang: pertempuran melawan hawa nafsu pribadi. Ajaran kuno ini berfungsi sebagai cermin kolektif, mengajak siapa pun untuk merefleksikan kembali kondisi kepemimpinan di sekitarnya.
Seorang Pemimpin yang Sedang Memohon Pengampunan, Ilustrasi AI (Sumber: Koleksi Pribadi)
Dengan demikian, warisan Niti Raja Sasana bukanlah untuk dihafalkan, melainkan untuk direnungkan. Ia adalah pengingat bahwa sejarah akan selalu mencatat dua jenis pemimpin: mereka yang dikenang karena welas asih dan kebijaksanaannya, dan mereka yang dilupakan karena lalai pada amanah yang diembannya. Pilihan itu, dulu dan sekarang, selalu berada di tangan sang pemegang kuasa.