Tajog dalam Permainan Tradisional Bali: Keseimbangan, Ketangkasan, dan Nilai Sosial

Di atas dua batang bambu setinggi lutut hingga paha, anak-anak Bali dahulu belajar sesuatu yang lebih dari sekadar berjalan, cara menjaga tubuh tetap stabil sambil terus bergerak maju. Permainan bernama Tajog ini sederhana secara alat, tetapi menyimpan pelajaran tentang ketekunan, kerja keras, dan sportivitas. Di tengah semakin dekatnya anak-anak dengan dunia digital, Tajog dapat dihidupkan kembali sebagai permainan yang mengajak mereka meninggalkan sejenak layar smartphone, bergerak lebih aktif, dan menikmati interaksi langsung bersama teman-temannya.

Sep 28, 2026 - 05:31
Sep 28, 2026 - 08:57
Tajog dalam Permainan Tradisional Bali: Keseimbangan, Ketangkasan, dan Nilai Sosial
Tajog dan dua batang bambu sebagai alat utama permainan (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)

Jauh sebelum anak-anak mengenal permainan melalui layar smartphone, Tajog telah menjadi bagian dari permainan tradisional Bali. Permainan ini menggunakan sepasang bambu yang dirancang sebagai pijakan untuk berjalan. Bentuknya sederhana, tetapi cara memainkannya membutuhkan keseimbangan dan ketangkasan. Di Bali, permainan yang di berbagai daerah Indonesia dikenal sebagai egrang ini memiliki nama Tajog, dan hingga kini masih menjadi salah satu permainan tradisional yang dikenalkan kembali melalui berbagai kegiatan budaya

Dahulu, bermain Tajog tidak membutuhkan peralatan yang rumit. Sepasang bambu dengan pijakan kaki sudah cukup untuk membuat permainan dimulai. Pemain berdiri di atas pijakan tersebut, kemudian menggerakkan bambu secara bergantian untuk melangkah. Permainan ini juga dapat dilakukan dalam bentuk perlombaan, sehingga pemain bukan hanya ditantang untuk tetap berdiri, tetapi juga berusaha mencapai garis akhir dengan cepat tanpa kehilangan keseimbangan. Dari permainan sederhana inilah Tajog menghadirkan perpaduan antara keseimbangan, ketangkasan, dan keberanian.

Pernah membayangkan berjalan di atas dua batang bambu tanpa menyentuh tanah? Bagi pemain Tajog, setiap langkah membutuhkan kemampuan menjaga keseimbangan sekaligus mengatur arah gerakan. Perubahan kecil pada posisi tubuh saja dapat membuat pijakan goyah dan langkah terhenti. Justru tantangan inilah yang membuat Tajog menjadi permainan tradisional Bali yang menarik, baik bagi mereka yang sudah terbiasa maupun bagi orang yang baru pertama kali mencobanya.


Tajog dan dua batang bambu sebagai alat utama permainan (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)

Pada awalnya, tantangan terbesar mungkin hanya bagaimana caranya tetap berdiri. Setelah mulai terbiasa, tantangannya berubah menjadi bagaimana mengatur langkah agar tubuh dapat bergerak ke arah yang diinginkan. Kaki, tubuh, dan kedua batang bambu harus bekerja secara bersamaan. Tajog bukan hanya soal keberanian berdiri di atas bambu, tetapi juga tentang bagaimana pemain mengendalikan tubuh dan mempertahankan kestabilan selama bergerak.

Keseimbangan menjadi bagian penting dalam permainan ini, dan kemampuan tersebut tidak datang secara instan. Pemain perlu mencoba berulang kali sampai menemukan cara yang paling nyaman untuk mengatur posisi tubuh dan langkah. Terjatuh atau kehilangan keseimbangan bukan berarti permainan berakhir. Justru dari proses mencoba, gagal, lalu mencoba kembali, pemain belajar untuk tidak mudah menyerah. Di sinilah Tajog menghadirkan nilai kerja keras dan ketekunan di balik aktivitas bermain yang sederhana.



Menjaga keseimbangan di atas pijakan Tajog (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)

Permainan yang terlihat sederhana ini ternyata memberikan pengalaman yang cukup beragam. Ada tantangan fisik ketika pemain berusaha mempertahankan tubuhnya, ada proses belajar ketika harus terus berlatih, dan ada pula interaksi sosial ketika permainan dilakukan bersama. Tajog akhirnya tidak hanya menjadi kegiatan untuk mengisi waktu luang, tetapi juga menjadi ruang bagi anak-anak untuk bergerak, mencoba sesuatu yang baru, dan bermain bersama.

Tajog tidak hanya diperkenalkan sebagai bagian dari pembelajaran, tetapi juga masih dimainkan dalam berbagai kegiatan di sekolah. Salah satunya terlihat di SMP Negeri 2 Kuta Selatan, yang menghadirkan permainan Tajog dalam rangka memeriahkan perayaan 17 Agustus. Di tengah suasana perayaan kemerdekaan, permainan ini menjadi salah satu cara bagi siswa untuk mengenal kembali permainan tradisional melalui pengalaman bermain secara langsung. Kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa Tajog masih dapat menjadi bagian dari aktivitas sekolah dan hiburan bagi generasi muda.

Tajog juga dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar anak usia dini. Permainan ini pernah diperkenalkan kepada anak-anak kelompok TK Besar di TK Putra Budaya Denpasar melalui kegiatan bermain dan demonstrasi. Anak-anak tidak hanya melihat bagaimana Tajog dimainkan, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk mengenal permainan tradisional secara langsung. Pengalaman seperti ini membuat permainan tradisional terasa lebih dekat karena anak belajar melalui aktivitas, bukan sekadar melalui cerita atau gambar.

Namun, keberadaan permainan seperti Tajog menghadapi tantangan di tengah perubahan kebiasaan bermain anak-anak. Permainan tradisional semakin jarang ditemukan ketika aktivitas bermain mulai banyak berpindah ke perangkat digital. Smartphone menawarkan berbagai jenis permainan yang mudah diakses, sehingga kebiasaan bermain anak pun ikut mengalami perubahan. Akibatnya, Tajog yang dahulu dapat ditemukan dalam aktivitas bermain sehari-hari kini lebih sering hadir dalam kesempatan tertentu, seperti perlombaan atau kegiatan sekolah.

Menariknya, perubahan cara anak-anak bermain tidak membuat Tajog sepenuhnya kehilangan tempat. Permainan ini masih dapat diperkenalkan melalui berbagai media, salah satunya lewat karya fotografi. Dalam penelitian fotografi di Undiksha, tajog bambu turut diabadikan sebagai bagian dari permainan tradisional Bali melalui rekonstruksi visual. Hasilnya menunjukkan bahwa masih ada anak-anak yang tertarik memainkan permainan tradisional meskipun berada di tengah maraknya permainan melalui ponsel.

Dengan cara tersebut, Tajog tidak hanya diperkenalkan melalui pengalaman bermain secara langsung, tetapi juga melalui teknologi dan karya seni. Hal ini menunjukkan bahwa pelestarian permainan tradisional tidak selalu harus dilakukan dengan cara yang sama seperti dahulu. Permainannya tetap dapat dipertahankan, sementara media untuk memperkenalkannya dapat menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

Pelestarian Tajog juga masih terlihat dalam berbagai kegiatan kebudayaan Bali. Pada April 2024, Pemerintah Kabupaten Badung menyelenggarakan Pekan Kebudayaan Daerah Jantra Tradisi Bali yang menghadirkan lomba Tajog putra sebagai salah satu cabang perlombaan. Kegiatan tersebut diikuti oleh ratusan siswa SMP se-Kabupaten Badung dan menjadi bagian dari persiapan menuju ajang tingkat provinsi.

Setahun kemudian, Tajog kembali hadir dalam Pacentokan Jantra Tradisi Bali V yang menjadi bagian dari rangkaian Pesta Kesenian Bali XLVII 2025. Pada tingkat provinsi tersebut, Tajog Putra turut dipertandingkan. Kontingen Kabupaten Buleleng yang diwakili siswa SMP Negeri 6 Singaraja berhasil meraih Juara III. Pencapaian tersebut tidak hanya menunjukkan adanya persaingan dalam perlombaan, tetapi juga memperlihatkan bahwa permainan tradisional seperti Tajog masih dipelajari dan dilatih oleh generasi muda.

Kehadiran Tajog dalam kegiatan semacam ini menunjukkan bahwa permainan tersebut masih memiliki ruang di tengah kegiatan budaya dan olahraga tradisional Bali. Tajog bukan sekadar kenangan dari permainan masa lalu, tetapi masih menjadi aktivitas yang dipelajari, dipertandingkan, dan diperkenalkan kepada anak-anak.

 


Tajog dalam ajang perlombaan dan pelestarian budaya Bali (Sumber Foto: Koleksi Pribadi) 

Keberadaan Tajog dalam pendidikan, karya seni, teknologi, dan kegiatan kebudayaan memperlihatkan bahwa pelestarian permainan tradisional dapat berjalan mengikuti perkembangan zaman. Bentuk permainannya tetap sederhana, yaitu berjalan dengan bantuan dua batang bambu, tetapi ruang untuk mengenalkannya terus berkembang. Dari halaman sekolah, arena perlombaan, karya fotografi, hingga layar ponsel, Tajog menemukan berbagai cara untuk tetap dikenal.

Pada akhirnya, Tajog bukan hanya soal seberapa cepat seseorang mampu berjalan di atas bambu. Ada proses untuk menemukan keseimbangan, keberanian untuk mencoba kembali setelah terjatuh, dan pengalaman bermain bersama orang lain. Tantangan Tajog saat ini bukan hanya menjaga tubuh agar tetap seimbang di atas bambu, tetapi juga memastikan permainan tersebut tetap memiliki tempat di tengah perubahan zaman. Selama masih ada anak-anak yang mau mencobanya dan ruang budaya yang terus memberinya kesempatan untuk hadir, Tajog masih memiliki pijakan untuk terus melangkah.