Samudra Berdarah: Perang Gelgel dan Gowa-Tallo (1618–1640 M)
Sejarah Nusantara adalah sejarah laut.Pada abad ke-17 kerajaan-kerajaan maritim yang kekuatannya diukur dari kemampuan armada mereka menguasai jalur niaga dan memproyeksikan pengaruh ke seberang lautan. Di antara dua kerajaan dengan karakter yang sangat berbeda muncul sebagai kekuatan dominan Kerajaan Gowa-Tallo (Makassar) sebagai pusat niaga kosmopolitan, dan Kerajaan Gelgel di Bali sebagai pewaris tradisi agraris-maritim Majapahit.
Kerajaan Gowa-Tallo terletak di pesisir barat daya Sulawesi, Gowa-Tallo bertransformasi dari kerajaan agraris menjadi Bandar Niaga Internasional pasca-jatuhnya Malaka pada 1511. Di bawah kepemimpinan para sultan yang visioner, pelabuhan Somba Opu menjadi jantung perdagangan Nusantara. Dengan kebijakan perdagangan bebas, Makassar menjadi magnet bagi pedagang dari Eropa, Cina, India, dan Arab, menciptakan sebuah kota pelabuhan yang dinamis dan makmur.
Ilustrasi AI, Kerajaan Gowa-Tallo pada tahun 1618 (Sumber: Pribadi)
Kerajaan Gelgel di Bali adalah kekuatan Agraris-Maritim yang berpusat pada kebudayaan. Di bawah pemerintahan legendaris Dalem Waturenggong pada abad ke-16, Gelgel mencapai puncak kejayaannya. Kekuatan utamanya bukan pada perdagangan jarak jauh seperti Gowa-Tallo atau Ternate, melainkan pada surplus beras, kekuatan militer, dan pengaruh budayanya yang kuat. Kemakmuran Kerajaan Gelgel didukung oleh sistem pertanian yang maju, terutama melalui penerapan sistem irigasi subak. Sistem ini mencerminkan kearifan lokal masyarakat Bali dalam mengelola air secara adil dan seimbang, sehingga mendukung produktivitas pertanian. Surplus hasil pertanian tersebut tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga menjadi dasar bagi pengembangan kekuatan militer, pemerintahan, serta seni dan budaya.
Ilustrasi AI, Kerajaan Gelgel pada tahun 1618 (Sumber:Pribadi)
Kekuasaan Gowa-Tallo Hegemoni Makassar terbentang melalui penguasaan jalur-jalur laut strategis. Armada pelaut Bugis-Makassar yang tangguh mengontrol Laut Flores, Laut Banda, dan Selat Makassar. Pengaruhnya terasa kuat di pesisir timur Kalimantan, sebagian besar Sulawesi, dan kepulauan Nusa Tenggara. Kekuasaan Gelgel bersifat kewilayahan. pengaruhnya meluas hingga Lombok, Sumbawa Barat, dan Blambangan di ujung timur Jawa. Kekuatan lautnya digunakan untuk menjaga supremasi politik dan memproyeksikan pengaruh budayanya di kawasan sekitarnya.Perang antara kerajaan Gowa-Tallo melawan kerajaan Gelgel Persaingan paling sengit terjadi di Nusa Tenggara. Ekspansi Gowa-Tallo ke timur untuk mengamankan sumber pangan dan jaringan dagang berbenturan langsung dengan pengaruh Gelgel di Lombok dan Sumbawa. Pertempuran di darat dan laut sering terjadi untuk memperebutkan kendali atas wilayah-wilayah ini.
Ilustrasi AI Perang Kerajaan Gelgel Dan Kerajaan Gowa-Tallo, (Sumber: Koleksi Pribadi)
VOC memandang Kerajaan Gowa-Tallo sebagai penghalang utama dalam upayanya meraih monopoli mutlak. Di Makassar, prinsip perdagangan bebas yang dijalankan melalui kebijakan perdagangan terbuka secara langsung mengganggu monopoli rempah-rempah VOC. Konflik ini memuncak dalam Perang Makassar, yang akhirnya berujung pada kekalahan Sultan Hasanuddin. Interaksi VOC dengan Bali pada era Gelgel sangat berbeda. Bali tidak memiliki rempah-rempah yang dicari VOC. Karena perlawanan Bali yang kuat, VOC tidak melakukan penaklukan militer. Sebaliknya, mereka menjalin hubungan dagang, membuka kantor dagang (loge) di Klungkung, membeli beras, dan merekrut prajurit Bali yang terkenal tangguh sebagai tentara bayaran.
Ilustrasi AI Runtuhnya Kerajaan Gelgel (Sumber: Koleksi Pribadi)
Kerajaan Gowa-Tallo, dan Gelgel adalah dua kerajaan model kekuatan bahari di Nusantara. kekuatan niaga, kekuatan komoditas, dan kekuatan budaya. Dua di antaranya takluk oleh kekuatan militer dan ekonomi asing (VOC) yang superior. Sementara itu, yang lainnya runtuh dari dalam akibat perpecahan internal. Perjalanan mereka menjadi pelajaran berharga bahwa selain ancaman dari luar, stabilitas dan persatuan internal adalah kunci utama bagi keberlangsungan sebuah hegemoni.
DAFTAR PUSTAKA
Handoko, W. (2017). Dunia kemaritiman di Kepulauan Maluku: Peran laut dan sungai dalam jaringan pelayaran, perdagangan, dan islamisasi pada abad XV–XVII.
Suwitha, I. P. G. (2017). Teluk Benoa dan Laut Serangan sebagai “laut peradaban” di Bali. Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies). Universitas Udayana.
Sritimuryati, & Suryaningsi, T. (2021). Perdagangan maritim di Makassar abad XVI–XVII. Walasuji: Jurnal Sejarah dan Budaya. Balai Arkeologi Sulawesi Selatan.