Dari Sanggar Rumahan ke Diplomasi Budaya: Sanggar Seni Guntur Madu dalam Pentas Kedutaan Internasional Vietnam

Seni tradisional Bali tidak hanya hidup melalui ruang-ruang pertunjukan formal, tetapi juga bertumbuh dari komunitas dan lingkungan keluarga. Salah satu ruang penting dalam proses pelestarian dan regenerasi seni tersebut adalah sanggar seni. Sanggar Seni Guntur Madu merupakan contoh sanggar berbasis komunitas yang tumbuh dari lingkungan rumah tangga dan banjar, namun mampu menembus panggung internasional melalui partisipasinya dalam kegiatan kedutaan di Vietnam.

Oct 10, 2026 - 12:00
Oct 9, 2026 - 12:07
Dari Sanggar Rumahan ke Diplomasi Budaya: Sanggar Seni Guntur Madu dalam Pentas Kedutaan Internasional Vietnam
Sanggar Seni Guntur Madu di Kedutaan Internasional Vietnam (Sumber: Koleksi Pribadi)

Sanggar Seni Guntur Madu bermula pada tahun 1998 sebagai sanggar rumahan yang belum memiliki nama. Pada awalnya, hanya beberapa anak di sekitar lingkungan rumah yang mengikuti latihan tari. Seiring berjalannya waktu, jumlah peserta latihan semakin bertambah. Kehadiran mahasiswa dari Institut Seni Indonesia (ISI) yang berkunjung ke lingkungan tersebut turut mendorong pembentukan sanggar secara lebih terstruktur.

Dari proses tersebut, kemudian disepakati nama Sanggar Seni Guntur Madu, yang beralamat di Banjar Pundung, Desa Pangsan, Kecamatan Petang. Sejak saat itu, sanggar mulai aktif menjalankan kegiatan latihan secara rutin dan terbuka bagi masyarakat sekitar.

Foto Bersama Setelah Latihan (Sumber: Koleksi Pribadi)

Pendiri dan Latar Belakang Pendirian Sanggar

Sanggar Seni Guntur Madu didirikan oleh Ni Nyoman Rashini, seorang lulusan Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) dengan jurusan tari. Latar belakang pendidikan seni tersebut menjadi dasar kuat dalam pendirian sanggar. Tujuan awal pendirian sanggar ini adalah untuk mengembangkan bakat menari setelah menyelesaikan pendidikan, sekaligus sebagai sarana pengabdian atau ngayah di pura-pura.

Nama Sanggar Seni Guntur Madu memiliki makna dan filosofi yang mendalam. Nama tersebut diciptakan oleh suami pendiri sanggar, yaitu I Nyoman Putra Saptana. Secara filosofis, “Guntur Madu” dimaknai sebagai ajakan untuk menggunakan tenaga dan kemampuan yang dimiliki demi kepentingan masyarakat.

Kata “Guntur” bermakna menggelegar, melambangkan semangat, kekuatan, dan daya dorong yang besar. Sementara itu, kata “Madu” berarti manis, yang merepresentasikan kelembutan, keharmonisan, dan hasil yang membawa kebaikan. Kombinasi keduanya mencerminkan semangat berkesenian yang kuat namun tetap berlandaskan nilai-nilai kehalusan dan kebersamaan.

Jadwal Latihan di Sanggar Seni Guntur Madu

Kegiatan latihan di Sanggar Seni Guntur Madu dilaksanakan secara rutin dua kali dalam seminggu. Pada hari Sabtu, latihan tari dilaksanakan pukul 14.00 WITA, dilanjutkan latihan tabuh pada pukul 16.00 WITA. Sementara itu, pada hari Minggu, latihan tari dimulai pukul 09.00 WITA dan latihan tabuh dilaksanakan pukul 14.00 WITA.

Peserta sanggar berasal dari berbagai kalangan usia. Mulai dari anak-anak sekolah dasar kelas satu, remaja tingkat SMP dan SMA, hingga kelompok umum yang bukan berasal dari kalangan pelajar.

Ujian Kenaikan Tingkat Sanggar Seni Guntur Madu (Sumber: Koleksi Pribadi)

Bidang Seni yang Diajarkan di Sanggar Seni Guntur Madu

Sanggar Seni Guntur Madu mengajarkan berbagai bidang seni tradisional Bali, baik tari maupun tabuh. Dalam bidang tari, sanggar mengajarkan beragam jenis tari Bali sesuai dengan tingkat kemampuan peserta. Sementara itu, dalam bidang tabuh, materi yang diajarkan meliputi beberapa barungan gamelan, antara lain Gong Kebyar, Semar Pegulingan, Slonding, dan Bleganjur.

Peran Sanggar Seni Guntur Madu dalam Kegiatan Adat dan Ngayah

Selain sebagai ruang latihan, Sanggar Seni Guntur Madu memiliki peran aktif dalam kegiatan adat dan keagamaan. Sanggar ini sangat sering terlibat dalam kegiatan ngaturan ayah atau ngayah, baik di pura-pura maupun di rumah penduduk yang melaksanakan upacara yadnya.

Keterlibatan ini menunjukkan bahwa aktivitas sanggar tidak terpisah dari kehidupan adat masyarakat Bali, melainkan menyatu dan berkontribusi langsung dalam pelaksanaan ritual keagamaan dan sosial.

Sanggar Seni Guntur Madu Mengikuti Pesta Kesenian Bali (Sumber: Koleksi Pribadi)

Partisipasi dalam Festival dan Acara Budaya

Sepanjang perjalanannya, Sanggar Seni Guntur Madu telah mengikuti berbagai acara dan festival budaya. Sanggar ini pernah terlibat dalam festival pertanian, menjadi pembuka dan pengisi acara hiburan, serta berpartisipasi dalam Festival Budaya Badung dan berbagai kegiatan tingkat provinsi.

Selain itu, sanggar ini juga secara rutin mengikuti Pesta Kesenian Bali (PKB), dengan menampilkan berbagai materi seperti Janger, Gong Anak, dan Dolanan. Partisipasi ini menjadi bukti konsistensi Sanggar Seni Guntur Madu dalam menjaga eksistensi dan kualitas pertunjukan seni tradisional.

Sanggar Seni Guntur Madu Tampil Dalam Kedutaan Internasional di Vietnam

(Sumber: Koleksi Pribadi)

Pentas Internasional dan Diplomasi Budaya

Salah satu keunikan Sanggar Seni Guntur Madu adalah keterlibatannya dalam pentas internasional. Sanggar ini setiap tahun tampil di Vietnam dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh kedutaan internasional. Partisipasi tersebut menjadikan Sanggar Seni Guntur Madu sebagai pelaku diplomasi budaya, yang memperkenalkan seni tradisional Bali kepada masyarakat internasional.

Melalui pertunjukan tari dan tabuh di luar negeri, Sanggar Seni Guntur Madu tidak hanya membawa identitas budaya lokal, tetapi juga berkontribusi dalam membangun citra budaya Bali dan Indonesia di tingkat global.

Momen Berkesan dan Pencapaian Sanggar

Berbagai momen berkesan telah dialami oleh Sanggar Seni Guntur Madu, terutama saat anak-anak mengikuti ujian kenaikan tingkat, berpartisipasi dalam Festival Budaya Badung, dan tampil dalam ajang Pesta Kesenian Bali. Momen-momen tersebut menjadi tonggak penting dalam proses pembelajaran dan pengembangan kepercayaan diri peserta sanggar.

Di tengah perkembangan zaman dan semakin banyaknya sanggar seni, Sanggar Seni Guntur Madu mampu bertahan dengan menitikberatkan pada pelatihan dari dasar. Sanggar ini fokus membina anak-anak yang memulai belajar seni dari nol, serta mengedepankan nilai ngayah sebagai fondasi utama. Pendekatan ini tidak hanya menumbuhkan kemampuan teknis, tetapi juga membangun rasa kebersamaan dan kebahagiaan, baik bagi anak-anak maupun orang tua mereka.

Melalui aktivitasnya, Sanggar Seni Guntur Madu menyampaikan harapan agar generasi muda tetap menjaga dan mencintai seni serta budaya Bali, khususnya dalam bidang tari dan tabuh. Pelestarian seni tradisional diharapkan dapat terus terjaga dan lestari, tidak hanya di Bali, tetapi juga di luar Bali dan bahkan di mancanegara.