Peristiwa Pemindahan Keraton ke Gelgel dan Awal Kejayaan Sweca Linggarsa Pura (1401 M)

Sebuah pembahasan sejarah tentang pemindahan keraton Bali dari Samprangan ke Gelgel pada tahun 1401 M, yang menjadi awal kejayaan Sweca Linggarsa Pura. Artikel ini menelusuri latar belakang politik, tokoh-tokoh penting, dan pengaruh budaya Hindu Bali, berdasarkan sumber pustaka dari lembaga resmi nasional.

Sep 25, 2026 - 05:29
Sep 24, 2026 - 23:50
Peristiwa Pemindahan Keraton ke Gelgel dan Awal Kejayaan Sweca Linggarsa Pura (1401 M)
Gambar ilustrasi AI ekspedisi majapahit ke bali (sumber: koleksi pribadi)

Sejarah Bali pada awal abad ke-15 mengalami transformasi besar yang ditandai dengan pemindahan pusat pemerintahan dari Samprangan ke Gelgel. Peristiwa ini bukan sekadar perpindahan fisik keraton, tetapi juga menjadi awal dari kejayaan Sweca Linggarsa Pura. Keraton yang menjadi pusat kekuasaan, spiritualitas, dan budaya Hindu Bali. Tahun 1401 M menjadi tonggak penting dalam pembentukan identitas politik dan budaya Bali yang bertahan hingga kini.

Gambar ilustrasi AI Relokasi Istana Gelgel (Sumber: Koleksi Pribadi)

Pasca ekspedisi Majapahit ke Bali pada tahun 1343 M, yang dipimpin oleh Gajah Mada dan Arya Damar, Bali berada di bawah pengaruh Majapahit. Sebagai bentuk penguatan kekuasaan, Majapahit menempatkan Sri Aji Kresna Kepakisan sebagai penguasa Bali. Ia memerintah dari Samprangan dan mendirikan struktur pemerintahan yang bercorak Hindu-Jawa.

Namun, setelah wafatnya Sri Aji Kresna Kepakisan, putra sulungnya Dalem Samprangan dinilai kurang mampu memimpin. Ketidakpuasan para bangsawan dan tokoh adat mendorong munculnya gagasan untuk memindahkan pusat pemerintahan ke wilayah yang lebih strategis dan spiritual: Gelgel.

Gambar Ilustrasi AI Dalem Waturenggong Danghyang Nirartha (Sumber: Koleksi Pribadi)

Pemindahan keraton ke Gelgel dipimpin oleh I Dewa Ketut Smara Kepakisan, putra bungsu Sri Aji Kresna Kepakisan. Ia dinobatkan sebagai raja Bali dan mendirikan keraton baru yang disebut Sweca Linggarsa Pura. Nama ini mengandung makna spiritual yang dalam: “Sweca” berarti suci, “Linggarsa” berarti pusat kekuasaan, dan “Pura” berarti istana atau tempat suci.

Keraton Gelgel dibangun dengan tata ruang yang mencerminkan kosmologi Hindu Bali, menggabungkan fungsi pemerintahan, spiritual, dan budaya. Pemindahan ini menandai awal dari konsolidasi kekuasaan Wangsa Kepakisan dan menjadi fondasi bagi kejayaan Bali selama lebih dari dua abad.

Gambar Ilustrasi AI Kejayaan Sweca Linggarsa Pura (Sumber: Koleksi Pribadi)

Di bawah kepemimpinan Dalem Ketut dan penerusnya, Kerajaan Gelgel berkembang pesat. Wilayah kekuasaannya meluas hingga ke Lombok dan Sumbawa, bahkan menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan di Jawa Timur dan Nusa Tenggara.

Sweca Linggarsa Pura menjadi pusat kebudayaan Hindu Bali, tempat berkembangnya seni tari, sastra, arsitektur, dan ritual keagamaan. Pada masa Dalem Waturenggong (pertengahan abad ke-16), Gelgel mencapai puncak kejayaannya. Kedatangan Danghyang Nirartha dari Jawa membawa pembaruan spiritual dan memperkuat ajaran Siwa-Buddha di Bali.

Peristiwa pemindahan keraton ke Gelgel pada tahun 1401 M bukan hanya peristiwa politik, tetapi juga transformasi budaya dan spiritual. Sweca Linggarsa Pura menjadi simbol kejayaan Bali yang menyatukan kekuasaan, adat, dan agama dalam satu kesatuan. Warisan ini masih terasa hingga kini dalam struktur sosial dan budaya masyarakat Bali.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Khastara: Portal Naskah Kuno dan Warisan Dokumenter Nusantara, 2025, Perpusnas RI https://khastara.perpusnas.go.id/

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Keraton Yogyakarta dan Arsitektur Kerajaan Nusantara, 2024, Direktorat Jenderal Kebudayaan https://repositori.kemendikdasmen.go.id/32175/