Sepekan yang Mengubah Sejarah: VOC dan Bali dalam Ekspedisi Cornelis de Houtman 1597
Membahas peristiwa penting dalam sejarah Bali dan Belanda, yakni kontak pertama antara Cornelis de Houtman dan Pulau Bali pada 9–16 Februari 1597. Ekspedisi ini merupakan bagian dari pelayaran pertama Belanda ke Asia untuk mencari rempah-rempah. Setelah perjalanan panjang yang melelahkan dan menelan korban jiwa, armada Houtman tiba di Bali dan disambut dengan hangat oleh masyarakat lokal.
Ekspedisi Cornelis de Houtman (1595–1597) merupakan perjalanan pertama Belanda ke Asia dengan tujuan mencari rempah-rempah. Setelah berlayar selama berbulan-bulan dari Banten dan Jawa Timur, rombongan ini tiba di Bali pada tanggal 9 hingga 16 Februari 1597. Ini menjadi momen pertama kalinya Belanda (yang nantinya menjadi VOC) berinteraksi dengan Pulau Bali, yang pada saat itu masih berada di bawah pemerintahan Dalem Bekung dari Kerajaan Gelgel.
Ketika armada Cornelis de Houtman tiba di Bali pada 9 Februari 1597, kondisi mereka sebenarnya sudah sangat tidak baik. Dari empat kapal yang berangkat dari Belanda, hanya tiga yang berhasil mencapai tujuan. Perjalanan yang panjang melalui Tanjung Harapan, Samudra Hindia, dan Jawa telah menguras tenaga para awak kapal. Banyak dari mereka jatuh sakit, bahkan beberapa meninggal karena kelaparan dan terserang penyakit. Oleh karena itu, saat pantai Bali mulai terlihat di kejauhan, seluruh awak kapal merasakan lega dan kebahagiaan.
Ilustrasi AI Kedatangan Ekspedisi Cornelis de Houtman Ke Bali (Sumber : Koleksi Pribadi)
Masyarakat Bali sudah terbiasa berinteraksi dengan pedagang asing seperti dari Jawa dan Makassar, tidak merasa curiga dengan kehadiran awak kapal Houtman. Mereka diterima dengan baik oleh penduduk setempat. Para pedagang lokal tampak bersedia menjual hasil pertanian mereka, terutama beras, daging, arak, dan kelapa. Awak kapal Houtman yang lelah setelah perjalanan panjang merasa bahwa Bali adalah tempat yang sempurna seperti surga tropis.
Pedagang Belanda mulai menjalin hubungan dengan masyarakat Bali dengan melakukan pertukaran barang-barang Eropa seperti besi, tekstil, dan perhiasan kecil untuk memenuhi kebutuhan logistik. Barang-barang dari Eropa ini tampak menarik bagi masyarakat Bali, sehingga pertukaran tersebut tidak hanya berkaitan dengan perdagangan, tetapi juga memicu rasa ingin tahu mereka terhadap benda-benda asing yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Di sisi lain, pedagang Belanda juga mengamati berbagai upacara, cara berpakaian, dan seni tari di Bali, mereka mencatat bahwa kehidupan sosial di sana sangat khas. Selain itu, para awak kapal merasa terkesan dengan keramahan masyarakat Bali, yang kontras dengan pengalaman mereka di Jawa yang sering kali penuh konflik.
Ilustrasi AI Pedagang Belanda Mulai Menjalin Hubungan dengan Masyarakat Bali (Sumber : Koleksi Pribadi)
Pada 13 Februari 1597, empat hari setelah Armada Houtman tiba di Bali, kunjungan mereka mencapai puncaknya. Perwakilan Belanda diundang untuk bertemu dengan Raja Bali, Dalem Bengkug, di Kerajaan Gelgel. Cornelis de Houtman dan beberapa perwira hadir dalam acara resmi tersebut. Berdasarkan jurnal Rouffaer & IJzerman (1915): De eerste schipvaart der Nederlanders naar Oost-Indië onder Cornelis de Houtman, 1595–1597, pertemuan di Kerajaan Gelgel ini memberikan kesan mendalam kepada pihak Belanda mengenai kemewahan istana dan ritual Hindu di Bali. Raja Bali menyambut mereka dengan penuh hormat dan memberikan izin untuk berdagang, meskipun tidak ada kontrak dagang formal yang ditandatangani. Meskipun demikian, izin sementara untuk berdagang diberikan, menunjukkan bahwa Bali terbuka terhadap hubungan dengan orang asing sambil tetap menjaga kedaulatan dan kebijakan politiknya.
Ilustrasi AI Kunjungan Perwakilan Belanda Bertemu Raja Bali, Dalem Bengkug(Sumber : Koleksi Pribadi)
Di dalam jurnal yang sama disebutkan juga bahwa saat singgah di Bali pada Februari 1597, beberapa anggota awak kapal membangun hubungan sosial yang cukup dekat dengan penduduk setempat. Beberapa dari mereka terlibat dalam interaksi dengan masyarakat lokal. Penduduk Bali menyambut rombongan dengan menyediakan makanan, minuman, dan pertunjukan tari. Selain itu, awak kapal juga membeli banyak bahan makanan segar yang sangat dibutuhkan setelah perjalanan panjang mereka. Hal ini menjadi lebih penting mengingat beberapa anggota awak kapal sudah mengalami penyakit scurvy, yang disebabkan oleh kekurangan vitamin C akibat berbulan-bulan berlayar hanya dengan makanan kering atau asin seperti roti keras dan daging asin, tanpa mengonsumsi buah atau sayuran segar.
Ilustrasi AI Hubungan Sosial Awak Kapal dengan Penduduk Setempat (Sumber : Koleksi Pribadi)
Setelah seminggu berinteraksi, kapal Houtman meninggalkan Bali pada 16 Februari 1597 untuk menuju pelabuhan berikutnya, yaitu Maluku. Mereka berlayar dengan persediaan yang cukup, kesehatan awak yang semakin baik, serta kesan mendalam tentang keramahan masyarakat Bali. Beberapa anggota awak kapal bahkan memilih untuk tinggal di Bali karena tertarik dengan kehidupan di sana. Peristiwa singkat ini menjadi catatan penting dalam sejarah, karena menandai kontak resmi pertama antara Belanda dan Bali, yang kemudian berlanjut dalam sejarah panjang kolonialisme setelah pembentukan VOC pada tahun 1602.
Sumber:
FARRAM, S. (1997). Of Bali – The Dutch Conquest. https://ris.cdu.edu.au/ws/portalfiles/portal/35306545/Thesis_CDU_6198_Farram_S.pdf (Tesis/Disertasi penelitian, Charles Darwin University).
Hägerdal, H. (2001). Bali in the sixteenth and seventeenth centuries: Suggestions for a chronology of the Gelgel period. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 157(4), 695–717.
Rouffaer, G. P., & IJzerman, J. W. (Eds.). (1915). De eerste schipvaart der Nederlanders naar Oost-Indië onder Cornelis de Houtman, 1595–1597. Martinus Nijhoff.