Dalem Ketut Ngelusir: Pendiri Kerajaan Gelgel

Dalem Ketut Ngulesir, juga dikenal sebagai Dalem Semara Kepakisan, merupakan pendiri dan raja pertama Kerajaan Gelgel setelah memindahkan pusat pemerintahan dari Samprangan karena kepemimpinan kakaknya dianggap lemah. Pada masa pemerintahannya, ia menghadiri pertemuan di Majapahit dan ketika kembali ke Bali dikawal oleh 40 prajurit Muslim Majapahit yang kemudian diberi tanah di Gelgel sebagai tempat tinggal, sehingga lahirlah komunitas Islam tertua di Bali dengan Masjid Nurul Huda sebagai pusat ibadah. Kebijakan dan kepemimpinannya menjadikan Gelgel pusat politik dan kebudayaan Bali selama berabad-abad serta meninggalkan warisan sejarah yang penting bagi hubungan antarbudaya di Pulau Bali.

Sep 18, 2026 - 05:27
Sep 18, 2026 - 02:24
Dalem Ketut Ngelusir: Pendiri Kerajaan Gelgel
Ilustrasi AI Dalem Ketut Ngulesir (Sumber: Koleksi Pribadi)

Ilustrasi AI Dalem Ketut Ngulesir (Sumber: Koleksi Pribadi)

Ilustrasi AI Dalem Ketut Ngeulesir (Sumber : Koleksi Pribadi)


Sejarah Kuno Bali tidak dapat dipisahkan dari Peran Besar Kerajaan Gelgel, salah satu kerajaan terkuat yang pernah ada di Pulau Dewata. Di balik kejayaan kerajaan ini berdiri sosok penting yang mendirikannya Dalem Ketut Ngulesir. Ia adalah raja yang bijaksana yang memindahkan pusat pemerintahan dari Samprangan ke Gelgel, menjadi penguasa pertama yang meletakkan dasar era kejayaan Dinasti Kepakisan di Bali. Kisahnya tercatat tidak hanya dalam tradisi lokal tetapi juga dalam warisan sejarah kerajaan-kerajaan Bali yang diteruskan dari generasi ke generasi.

Setelah ekspedisi besar yang dipimpin oleh Gajah Mada pada tahun 1343 M, Bali resmi menjadi bagian dari Kekaisaran Majapahit. Untuk memperkuat kontrol atas pulau tersebut, Majapahit menunjuk seorang bangsawan keturunan Brahmana dari Jawa Timur, Sri Aji Kresna Kepakisan, sebagai penguasa Bali.

Sri Aji Kresna Kepakisan memerintah dari istananya di Samprangan, sebuah wilayah yang pada saat itu berfungsi sebagai pusat administrasi Majapahit di Bali. Pemerintahannya stabil hingga wafatnya. Setelah kematiannya, kekuasaan diwariskan kepada putranya, Dalem Samprangan. Namun, pemerintahan Dalem Samprangan dianggap lemah dan tidak efektif dalam mengelola kerajaan. Hal ini menyebabkan ketidakpuasan luas di kalangan bangsawan dan rakyat, menciptakan ketidakstabilan politik di seluruh wilayah.

Ilustrasi AI tentang Dalem Ketut Ngulesir yang Terletak di Desa Pandak (Sumber: Koleksi Pribadi)

Ilustrasi AI Dalem Ketut Ngeulesir (Sumber : Koleksi Pribadi)


Di tengah situasi yang tidak pasti ini, Dalem Ketut Ngulesir, adik bungsu dari Dalem Samprangan, muncul. Ia tinggal di Desa Pandak, dan dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana, adil, dan cakap. Popularitas dan pengaruhnya di kalangan bangsawan maupun rakyat biasa membuat banyak orang mendesaknya untuk mengambil alih takhta dan menyelamatkan Bali dari kemunduran politik.

Menanggapi seruan-seruan ini, Dalem Ketut Ngulesir akhirnya menerima mandat untuk memimpin. Pada tahun 1383 M, ia secara resmi dimahkotai sebagai raja dan segera mengambil langkah tegas yang menandai awal Kerajaan Gelgel.

Ilustrasi AI Dalem Ketut Ngulesir Memimpin Perpindahan Kerajaan Bali dari Samprangan ke Gelgel (Sumber: Koleksi Pribadi)

Ilustrasi AI Dalem Ketut Ngeulesir Bersama Pasukannya (Sumber : Koleksi Pribadi)

Tindakan pertamanya sebagai raja adalah memindahkan pusat pemerintahan dari Samprangan ke wilayah baru yang disebut Gelgel, yang terletak di apa yang sekarang dikenal sebagai Klungkung. Di sana, ia membangun istana baru yang dikenal sebagai Puri Suweca Linggarsapura, yang menjadi simbol kekuasaan baru di Bali.

Langkah ini bukan hanya bersifat geografis tetapi juga strategis. Gelgel lebih dekat dengan pusat-pusat spiritual dan budaya di Bali timur, dan juga memiliki posisi yang lebih menguntungkan dalam hal pertahanan dan pemerintahan.

Sejak saat itu, Kerajaan Gelgel secara resmi didirikan dengan Dalem Ketut Ngulesir sebagai raja pertamanya. Ini menandai awal dari periode penting dalam sejarah Bali, yang kemudian dikenal sebagai zaman keemasan kerajaan-kerajaan Hindu di Bali.

Selama masa pemerintahannya, Dalem Ketut Ngulesir dikenal sebagai raja yang adil dan bijaksana, mampu membangun struktur pemerintahan yang stabil. Ia menata kembali birokrasi, menetapkan undang-undang dan peraturan kerajaan, serta menjaga hubungan harmonis antara bangsawan, rakyat, dan pemimpin adat.

Ilustrasi AI Dalem Ketut Ngulesir Didampingi oleh 40 Prajurit Majapahit Kembali ke Bali (Sumber: Koleksi Pribadi)

Ilustrasi AI Dalem Ketut Ngeulesir Bersama Pengikutnya (Sumber : Koleksi Pribadi)

Salah satu aspek yang sangat menarik dari pemerintahannya adalah hubungannya dengan Majapahit dan kedatangan awal Islam di Bali. Menurut tradisi setempat, dikatakan bahwa Dalem Ketut Ngulesir pernah mengunjungi Majapahit untuk menjalin hubungan politik dan budaya.

Setibanya di Bali, ia ditemani oleh sekitar 40 pengikut dari Majapahit, yang beragama Islam. Para pengikut ini kemudian diberikan tempat tinggal di dekat wilayah Gelgel dan menjadi komunitas Muslim awal di Bali, yang hingga kini masih menetap di Kampung Gelgel, Klungkung. Komunitas ini telah mempertahankan identitas dan tradisinya sebagai bagian dari warisan sejarah Bali dan terus hidup rukun berdampingan dengan penduduk lokal yang sebagian besar beragama Hindu.

Dalem Ketut Ngulesir memerintah selama beberapa dekade dan wafat sekitar tahun 1460 M. Setelah kematiannya, kepemimpinan Kerajaan Gelgel diteruskan oleh putranya, Dalem Waturenggong, yang kemudian akan membawa kerajaan tersebut ke puncak kejayaannya. Di bawah pemerintahan Dalem Waturenggong, Gelgel menjadi kerajaan yang kuat, berpengaruh hingga daerah Lombok dan Sumbawa.

Dalem Ketut Ngulesir bukan hanya pendiri sebuah kerajaan tetapi juga arsitek peradaban yang membentuk wajah Bali klasik. Di bawah kepemimpinannya, muncul sistem pemerintahan Hindu-Bali yang khas, lengkap dengan struktur sosial, adat istiadat, dan sistem hukum sendiri yang terus mempengaruhi kehidupan masyarakat Bali hingga hari ini.

Meskipun Kerajaan Gelgel akhirnya mengalami kemunduran dan digantikan oleh Kerajaan Klungkung pada abad ke-17, warisan kebesaran yang dibangun oleh Dalem Ketut Ngulesir tetap bertahan. Desa Gelgel terus menjadi tempat yang kaya akan makna historis, budaya, dan spiritual. Kisahnya dikenang sebagai awal dari masa keemasan Bali dan tetap menjadi bagian penting dari narasi sejarah pulau yang penuh warna tersebut.

Referensi:

Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Klungkung. (n.d.). e-Museum Kabupaten Klungkung. https://e-museum.klungkungkab.go.id

Pemerintah Desa Gelgel. (2018, August 7). Sejarah Desa Gelgel. Official Website of Gelgel Village. https://gelgel.desa.id/artikel/2018/8/7/sejarah-desa-gelgel

Pemerintah Desa Kampung Gelgel. (2022, August 7). Sejarah Desa Kampung Gelgel. Official Website of Kampung Gelgel Village. https://kampunggelgel.desa.id/artikel/2022/8/7/sejarah-desa-kampung-gelgel