Pura Dalem Mpu Aji di Penatih Dangri: Jejak Sulinggih Waisnawa dari Bangsawan Bali Kuno
Pura Dalem Mpu Aji di Penatih Dangri bukan hanya tempat suci bagi umat Hindu, tetapi juga jejak hidup seorang bangsawan Bali kuno yang memilih jalan spiritual. Di pura inilah Ida I Dewa Anggungan keturunan Kerajaan Gelgel menanggalkan kebangsawanannya dan menempuh kehidupan sebagai sulinggih Waisnawa bergelar Mpu Aji. Konon, dari tempat inilah lahir berbagai ajaran tentang tapa brata, pengobatan tradisional, dan ilmu kawisesan yang kemudian tersebar ke berbagai wilayah Bali. Hingga kini, masyarakat masih menjaga kesucian pura ini sebagai pusat pembelajaran rohani dan simbol kesederhanaan seorang bangsawan yang memilih jalan dharma.
Di tengah ramainya kehidupan Kota Denpasar Timur, terdapat sebuah tempat suci yang menyimpan kisah panjang perjalanan spiritual masyarakat Bali, yaitu Pura Dalem Mpu Aji. Berlokasi di Banjar Buaji, Desa Adat Bekul, Desa Penatih Dangin Puri, Denpasar, pura ini bukan hanya menjadi tempat persembahyangan umat Hindu, tetapi juga merupakan warisan sejarah, pusat pengetahuan tradisional, dan simbol kebijaksanaan leluhur yang masih dijaga hingga kini. Meski berada di permukiman padat, kompleks pura tetap mempertahankan keasliannya dengan struktur kuno yang sarat makna.
Pura Dalem Mpu Aji diperkirakan berdiri sekitar tahun 1500 Masehi pada masa pemerintahan Kerajaan Gelgel. Karena nilai sejarahnya yang tinggi, pura ini ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XV. Struktur arsitekturnya memperlihatkan ciri khas Bali Kuno, seperti candi kurung bertingkat lima yang diapit patung dwarapala raksasa. Walaupun beberapa bagian bangunan sempat rusak akibat cuaca ekstrem pada akhir tahun 2024, proses restorasi harus melalui prosedur ketat agar tidak mengubah bentuk aslinya sebagai bagian dari warisan budaya.
Tugu Nista Mandala di Depan Pintu Masuk Pura (Sumber Photo: Koleksi Pribadi)
Sejarah Pura Dalem Mpu Aji tidak dapat dipisahkan dari sosok Ida I Dewa Anggungan, seorang bangsawan Kerajaan Gelgel dan keturunan Sri Aji Kresna Kepakisan, raja pertama Bali setelah Majapahit. Ia merupakan sepupu Dalem Waturenggong, salah satu raja paling dikenal dalam sejarah Bali, namun memilih meninggalkan kehidupan kerajaan demi menempuh jalan spiritual sebagai seorang sulinggih Waisnawa. Keputusan ini membuatnya merelakan gelar kebangsawanan dan hidup sederhana untuk memperdalam pengetahuan kerohanian serta ajaran leluhur. Dalam pengembaraannya, ia diiringi beberapa arya, pasek, dan pande hingga akhirnya menetap di wilayah yang kini disebut Buaji. Di sana, ia menjalani serangkaian tahapan spiritual mulai dari Bhujangga Aji, kemudian menjadi Dukuh, hingga akhirnya mencapai tingkat tertinggi dan memperoleh gelar Mpu Aji. Atas dasar wangsit yang diterimanya, beliau kemudian mendirikan pura sebagai tempat menjalankan berbagai ritual, menyebarkan ajaran Waisnawa, dan memberikan pengajaran tentang ilmu pengobatan tradisional atau usada kepada masyarakat.
Salah satu warisan terpenting dari keberadaan Mpu Aji adalah lontar-lontar kuno yang masih tersimpan di pura hingga kini. Lontar-lontar tersebut memuat berbagai ilmu mulai dari tata upacara, ritual penyucian, pengobatan tradisional, sastra, hingga ajaran kebatinan yang disebut kawisesan. Sebagian lontar diperkirakan telah berusia ratusan tahun dan masih sering digunakan sebagai pedoman pelaksanaan upacara. Salah satu lontar yang paling dihormati adalah Kaputusan Jagatnatha, yang menjadi acuan dalam ritual penyucian dan memohon taksu. Karena nilainya yang sangat penting, lontar-lontar ini pernah melalui proses konservasi agar tetap terpelihara dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Hingga saat ini, banyak peneliti, pemangku, dan penekun spiritual datang untuk mempelajari isi lontar sebagai bagian dari pelestarian pengetahuan lokal.
Area Utama Mandala Pura Dalem Mpu Aji (Sumber Photo: Koleksi Pribadi)
Pura Dalem Mpu Aji juga dikenal sebagai tempat pengobatan dan penyucian diri. Umat Hindu dari berbagai daerah, bahkan dari luar Bali, datang untuk memohon kesembuhan, ketenangan batin, atau peningkatan spiritual. Ritual yang dilakukan mengikuti petunjuk dalam lontar peninggalan leluhur dan harus melalui beberapa tahapan penyucian sebelum umat dapat bersembahyang di utama mandala. Salah satu tahapan penting adalah melukat di Pura Taman Sari Pancaka Tirta, sumber air suci yang dikenal sebagai toya ngembeng. Airnya tampak seperti menggenang tanpa terlihat mata airnya, namun tidak pernah kering meskipun menghadapi musim kemarau panjang. Fenomena naik-turunnya permukaan air diyakini sebagai pertanda adanya perubahan dalam alam, meskipun tidak diketahui secara pasti perubahan apa yang dimaksud. Setelah melukat, umat melanjutkan ritual ke Geria Sunia, sebuah tempat yang diyakini sebagai lokasi Mpu Aji melakukan tapa, yoga, dan meditasi. Tempat ini dianggap memiliki energi spiritual yang kuat. Pada waktu-waktu tertentu, ribuan burung walet terlihat berputar di atas pohon kepah yang menaungi area tersebut, menambah kesan magis sekaligus mempertegas pentingnya wilayah ini dalam sistem ritual pura.
Setelah melewati Geria Sunia, umat kemudian singgah di beberapa palinggih penting lainnya seperti Ida Ratu Ngurah Agung dan Ardhanariswari sebelum akhirnya melaksanakan persembahyangan utama di palinggih gedong bertingkat yang memiliki pratima Bedawang Nala, Aswin, dan Wisnu di bagian paling atas. Pada tahap inilah umat diperbolehkan memanjatkan doa dan harapan pribadi. Banyak dari mereka datang berdasarkan petunjuk spiritual atau wangsit, sementara yang lain datang karena telah mendengar bahwa pura ini dipercaya memiliki kekuatan kesembuhan dan taksu. Tidak hanya umat Hindu Bali, beberapa tokoh spiritual dari luar daerah, bahkan bhante dalam tradisi Buddha Theravada, pernah mengunjungi pura ini sebagai bagian dari perjalanan spiritual mereka.
Pura Taman Sari Pancaka Tirta (Sumber Photo: Koleksi Pribadi)
Dalam perkembangan zaman, Pura Dalem Mpu Aji menunjukkan bagaimana nilai sejarah, ajaran agama, dan warisan budaya saling berpadu dan bertahan di tengah modernitas. Kisah seorang bangsawan yang memilih menjauhi kemegahan istana untuk mengejar jalan kerohanian memberikan contoh bagaimana dharma dapat dijalankan dalam berbagai bentuk. Ajaran Waisnawa yang beliau wariskan turut memperkaya corak keagamaan di Bali yang selama ini dikenal sebagai perpaduan unsur Siwa, Buddha, dan tradisi lokal. Untuk menjaga keberlanjutan warisan ini, diperlukan upaya pelestarian berkelanjutan, baik dari segi fisik bangunan, penyimpanan lontar yang benar, maupun pendokumentasian tradisi lisan dan ritual. Peran masyarakat adat sangat penting dalam memastikan bahwa pura tetap berfungsi sebagai pusat aktivitas keagamaan sekaligus ruang pembelajaran budaya bagi generasi muda. Dengan demikian, Pura Dalem Mpu Aji bukan hanya tempat suci untuk memanjatkan doa, tetapi juga penjaga nilai-nilai luhur leluhur Bali yang terus hidup dan memberi inspirasi di tengah kehidupan modern.