Ki Gusti Panji Sakti: Dari Legitimasi Lokal Menuju Sejarah Kerajaan Buleleng

Silsilah dan perjuangan Ki Gusti Ngurah Panji Sakti serta keluarganya dalam membangun dan memerintah Kerajaan Denbukit di Bali. Dimulai dari kelahiran dan kesaktian Ki Barak Panji, yang kemudian menjadi Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, cerita ini menelusuri perjalanan hidupnya, penguasaan wilayah Denbukit, penaklukan Blambangan, pembangunan ibu kota di Singaraja, serta pembagian wilayah kerajaan kepada keturunannya. Kisah ini juga menyoroti keberanian, kebijaksanaan, kesaktian, dan kepemimpinan Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, yang membuat rakyatnya makmur dan setia, serta pewarisan kerajaan kepada generasi berikutnya yang mempertahankan kejayaan Denbukit dan Singaraja.

Nov 6, 2026 - 05:25
Nov 5, 2026 - 23:27
Ki Gusti Panji Sakti: Dari Legitimasi Lokal Menuju Sejarah Kerajaan Buleleng
Ilustrasi AI, Ki Gusti Panji Sakti. (Sumber: Koleksi Pribadi)

Di Desa Panji Denbukit, Buleleng, hiduplah seorang wanita bernama Si Luh Pasek. Ia bekerja sebagai sahaya (panjroan) di Puri Gelgel. Saat itu, Dhalem Sagening sudah berusia lanjut (wreda). Pada suatu ketika terjadi sebuah peristiwa yang membuat hati Dhalem Sagening jatuh kepada Si Luh Pasek. Karena rasa cinta yang tumbuh, akhirnya Dhalem Sagening menikahi Si Luh Pasek. Beberapa waktu setelah pernikahan itu, Si Luh Pasek pun mengandung. Namun, pada suatu hari Dhalem Sagening tersadar bahwa usianya sudah sangat tua dan ajalnya telah mendekat. Beliau merasa belum sempat membalas jasa besar Ki Arya Jlantik, seorang pengikut yang sangat setia dan penuh pengabdian. Untuk itu, Dhalem Sagening kemudian menghadiahkan Si Luh Pasek yang saat itu tengah hamil kepada Ki Arya Jlantik sebagai tanda balas budi. Akan tetapi, ada sebuah syarat yang harus dipenuhi: selama bayi dalam kandungan Si Luh Pasek belum lahir, Ki Gusti Ngurah Jlantik tidak boleh menikahi dirinya. Setelah bayi itu lahir, anak tersebut akan diserahkan kepada Ki Arya Jlantik untuk diasuh dan dipelihara sebagai putranya. Tibalah saatnya Si Luh Pasek melahirkan. Ia dikaruniai seorang bayi laki-laki yang ketika lahir tampak sinar bercahaya dari ubun-ubunnya, pertanda bahwa kelak anak itu akan memiliki kekuatan besar serta kejayaan di masa depan. Setelah kelahiran tersebut, diadakanlah upacara dan upakara sesuai dengan kebiasaan yang selalu dijalankan oleh Arya Ngurah Jlantik. Bayi itu kemudian diberi nama “Ki Barak Panji.” Namun, pada waktu itu, istri Ki Ngurah Jlantik merasa tidak bisa menerima keadaan tersebut. Hatinya dipenuhi rasa waswas dan kekhawatiran bahwa kelak anak kandungnya sendiri akan tersingkirkan, karena mungkin tidak memiliki kewibawaan maupun kekuatan sebesar anak yang baru lahir itu. Oleh sebab itulah, perasaan sedih dan duka menyelimuti hati sang istri Ki Ngurah Jlantik.

Ilustrasi AI, Kelahiran Ki Gusti Panji Sakti (Sumber: Koleksi Pribadi)

Setelah Ki Barak Panji beranjak dewasa, ia pergi ke puri untuk mengabdikan diri kepada Dhalem Sagening. Di sana, ia bergabung bersama putra-putra para Arya lainnya yang juga menjadi sahaya di lingkungan puri. Suatu malam, tepat pada tengah malam, Sri Dhalem bersama permaisuri keluar untuk menikmati udara malam. Ketika itu, tiba-tiba beliau melihat ada cahaya yang memancar di kepala salah seorang anak yang sedang tertidur lelap di antara kumpulan mereka. Melihat hal tersebut, Sri Dhalem memberi tanda dengan kapur pada anak itu, kemudian cahaya tersebut pun menghilang. Keesokan harinya, semua anak diperiksa satu per satu. Ternyata yang bertanda kapur adalah Ki Barak Panji. Saat itu Sri Dhalem semakin yakin akan kebenaran yang sebelumnya dikatakan oleh Ki Gusti Ngurah Jelantik. Sejak peristiwa tersebut, kasih sayang Sri Dhalem kepada Ki Barak Panji semakin bertambah. Namun, di dalam hatinya tetap tersimpan rasa waswas dan kekhawatiran, jangan sampai di kemudian hari keberadaan Ki Barak Panji dianggap dapat mengalahkan kewibawaan putra kandungnya sendiri, yang ia harapkan kelak menjadi penggantinya sebagai Raja Bali. Seiring berjalannya waktu, setelah Ki Barak Panji dewasa, kekhawatiran Dhalem Sagening bersama permaisurinya kian bertambah, begitu pula dengan Ki Gusti Ngurah Jelantik beserta istrinya. Mereka memperhatikan kemampuan, keberanian, dan kesaktian Ki Barak Panji, sehingga terpikirkan untuk mencari jalan agar di kemudian hari tidak timbul perselisihan atau pertentangan akibat kedudukan dan wibawa anak itu. Akhirnya diputuskan bahwa Ki Barak Panji sebaiknya dipulangkan ke desa ibunya, yaitu Panji di Denbukit. Menjelang keberangkatannya, Dhalem Sagening menyiapkan rombongan pengantar sebanyak 40 orang pilihan, yang dikenal akan keberanian dan kekebalannya, dan pengawalan tersebut dipimpin oleh Ki Dumpiung dan Ki Dosot untuk memastikan perjalanan Ki Barak Panji berlangsung aman.

Sebelum berangkat, seluruh pengantar dikumpulkan dan masing-masing diberikan sebilah keris. Setelah dibagikan, keempat puluh orang itu telah menerima keris masing-masing, namun masih tersisa satu keris. Keris tersebut kemudian dihitung ulang, dan dipastikan jumlahnya tepat empat puluh, tidak lebih dan tidak kurang. Setelah dibagikan kembali, tetap tersisa satu keris yang berupa Mundarang Cacaran Bang, yang membuat semua orang heran. Dhalem Sagening memutuskan bahwa keris sisa itu memang diperuntukkan bagi Ki Barak Panji dan akan menjadi pusakanya, lalu diberikan kepadanya. Selain itu, Dhalem Sagening menganugerahi Ki Gusti Barak Panji sebuah suligi (lembing) bernama Ki Tunjung Tutur dan sebuah bendera bernama Pangkajatatua. Saat waktunya tiba, Ki Gusti Barak Panji bersama ibunya berangkat ke Denbukit diantar oleh 40 orang pengawal yang dipimpin Ki Dumpiung dan Ki Dosot, membawa bendera Pangkajatatua. Dalam perjalanan mereka singgah di desa Jarantik untuk bersembahyang di tempat tumpah darahnya dahulu, kemudian melanjutkan perjalanan menuju utara, berbelok ke barat melalui Samprangan dan Kwisunya (Mengwi), masuk ke wilayah Bandanegara (Tabanan), lalu terus ke utara hingga Danau Beratan. Perjalanan memakan waktu empat hari, dan pada sore hari mereka akhirnya sampai di Watusaga (Batumejan), daerah Denbukit. Mereka berhenti di suatu tempat untuk makan perbekalan berupa ketupat. Ketika sedang makan, ketupat tersangkut di kerongkongan Ki Barak Panji, sehingga para hamba sahayanya menjadi kebingungan mencari air untuk membantunya. Namun, mencari air di puncak bukit setinggi 1.220 meter itu sangat sulit, kecuali harus turun hingga ke danau. Pada saat itu, bendera Pangkajatatua diambil oleh Si Luh Pasek Panji dan ditancapkan ke tanah dengan maksud akan memancangkannya. Karena kemurahan dan kekuasaan Hyang Widhi atas hambanya, tiba-tiba terpancarlah air suci dari tempat tersebut, dan terus digali hingga membentuk mata air setinggi seperiuk dan selebar yang cukup, yang terus mengalir tanpa habis. Mata air itu tetap melimpah meskipun telah ditimba puluhan kali dan tidak mengalir ke tempat lain. Mata air itu kemudian dinamai Banyu Anaman atau Tirtha Ketipat, dan hingga saat ini tetap dihormati serta dimuliakan oleh seluruh umat Hindu di Bali, terutama oleh keturunan Ki Gusti Ngurah Panji dan keturunan Ki Pasek Panji.

Pura Tirta Ketipat 2 - BADAS (Bank Data Arsip Statis) Kabupaten Buleleng

Pura Tirta Ketipat (Sumber: bulelengkab.go.id)

Setelah selesai makan, mereka melanjutkan perjalanan menuju barat laut. Saat itu matahari telah terbenam dan malam mulai menyelimuti perjalanan mereka. Ketika sampai di punggung bukit di barisan Danau Buyan, tiba-tiba muncul sesuatu yang luar biasa, yang dikenal dengan sebutan Panji Landung, yang dengan kekuatannya menangkap Ki Gusti Barak Panji dan mengangkatnya tinggi di atas bahunya sehingga Ki Barak Panji merasa seolah-olah berada di langit. Panji Landung memerintahkan Ki Barak Panji untuk melihat ke timur, dan ia melihat pegunungan Tianyar; ke utara, yang tampak hanyalah lautan; ke barat, terlihat Gunung Banger di Blambangan; dan ketika diminta melihat ke selatan, Ki Barak Panji memohon diturunkan karena tidak sanggup mendengar tangisan ibunya dan para sahayanya. Akhirnya ia diturunkan, dan Panji Landung memberinya anugerah bahwa semua wilayah yang dilihatnya akan menjadi jajahan Ki Gusti Barak Panji, kemudian Panji Landung menghilang secara gaib. Semua orang, terutama ibunya, sangat bersuka cita, lalu mereka melanjutkan perjalanan. Keesokan harinya, mereka sampai di desa Panji dan menuju rumah keluarga ibunya, yang menyambut mereka dengan gembira. Setelah Ki Gusti Barak Panji menetap di Panji, 38 pengawalnya kembali ke Gelgel, hanya Ki Dumpiung dan Ki Dosot yang tetap tinggal karena cinta setia kepada tuannya. Sejak itu, Ki Gusti Barak Panji yang masih kekanak-kanakan sering pergi ke mana-mana sambil membawa keris anugerah Dhalem Sagening, yang dipakai untuk mencungkil jangkrik dan ketela, diiringi kedua sahayanya dalam kegiatan sehari-hari.

Desa Panji dipimpin oleh Ki Pungakan Gendis, yang purinya terletak di desa Gendis, dan rakyatnya semua menghormati sekaligus takut kepadanya. Beliau dikenal selalu bersuka ria. Suatu hari, ia pergi menyabung ayam di sebuah desa sambil menunggangi kuda gendis rateng yang berbulu menyerupai gula masak, diapit dan diiringi hamba sahayanya serta menggunakan payung kebesaran menuju utara. Kebetulan pada saat itu Ki Barak Panji sedang berjalan-jalan bersama kedua sahayanya, kerisnya selalu dibawa untuk mencungkil ketela dan jangkrik. Tiba-tiba terdengar suara tanpa wujud yang berbicara kepadanya: "Hai Barak Panji, janganlah buyut marah kepadaku, bukan tugasku digunakan untuk menggali ketela, ubi, dan jangkrik, jangan ragu kepadaku, karena pada ujung kerisku terdapat pasupati sastra, senjata yang bisa mencabut nyawa, yang kelak akan membuatmu berkuasa besar di bumi dan dicintai rakyat. Lihatlah dan uji kesaktianku. Ada musuhmu bernama Pungakan Gendis yang berkuasa di Gendis, yang patut dibunuh olehmu. Jangan ragu, cobalah kepadanya!" Demikianlah suara itu terdengar oleh Ki Barak Panji dan sahayanya. Setelah sabungan selesai, Pungakan Gendis pulang diiringi hamba sahayanya. Ki Gusti Barak Panji bersembunyi di pinggir jalan di balik pohon. Ketika Pungakan Gendis mendekat, Ki Barak Panji menusukkan ujung kerisnya dan mengucapkan "tar semang", lalu segera menyelinap pergi. Seketika itu Pungakan Gendis tewas dan tubuhnya menjadi tegang, namun tidak seorang pun mengetahui hal itu. Sesampainya di puri, Pungakan Gendis tetap terbaring di punggung kudanya tanpa bergerak. Barulah kemudian diketahui bahwa ia telah meninggal dunia. Beliau meninggalkan dua orang anak, seorang putri bernama Ki Dewa Ayu Juruh dan seorang putra yang masih kanak-kanak, yang kelak akan menggantikan ayahnya. Oleh karena itu, untuk sementara pemerintahan di desa diwakili oleh Ki Bendesa Gendis sebagai pejabat sementara.

Beberapa waktu kemudian, tiba-tiba sebuah kapal karam ditemukan di pantai Penimbangan (Pura Segara Panji). Kapal itu milik seorang pedagang Tionghoa bernama Ki Dompu Awang (San Po Kong) pada abad ke-16. Mereka meminta bantuan kepada Ki Bendesa Gendis untuk menarik kapal tersebut dengan janji akan memberikan seluruh isi kapal sebagai hadiah, yang terdiri dari berbagai barang sandang, pecah belah, dan benda-benda mulia lainnya. Ki Bendesa Gendis kemudian mengerahkan rakyatnya lengkap dengan peralatan penarik, namun kapal itu tidak bergerak sedikitpun sehingga mereka putus asa dan akhirnya pulang. Berita itu sampai ke telinga Ki Barak Panji, sehingga ia pergi ke pantai ditemani Ki Dumpiung dan Ki Dosot. Di sana, Ki Barak Panji mendapati Empu Awang sedang bersedih dan bersumpah bahwa siapa pun yang bisa menolongnya akan diberikan seluruh isi kapal. Karena itu, Ki Barak Panji bersedia menolong, lalu mendekati kapal sambil menghunus kerisnya. Tiba-tiba terdengar suara yang berkata “Ayua semang,” artinya jangan ragu-ragu, yang menambah semangatnya dan memperkuat keyakinannya kepada kebesaran dan Maha Kuasa Hyang Widhi Wasa. Ki Barak Panji kemudian mendorong kapal sambil menyapu dengan kerisnya, dan berkat anugerah Sang Hyang Widhi, kapal itu terlepas dari penghalangnya dan bergerak ke tengah laut dengan selamat. Semua awak kapal bersorak gembira, terutama Empu Awang yang sangat kagum dan bahagia atas kesaktian Ki Barak Panji. Kapal itu kemudian berlayar kembali ke pantai dekat Empu Awang, yang menepati janjinya dengan menyerahkan seluruh isi kapal kepada Ki Barak Panji. Sejak peristiwa itu, kepercayaan terhadap Ki Barak Panji semakin meningkat karena kesaktian keris pusakanya, yang kemudian dinamai “Ki Tarsemang,” artinya tidak ragu-ragu, dan Ki Barak Panji pun menjadi kaya raya tanpa kekurangan harta benda.

Ilustrasi AI, Ki Gusti Panji Sakti membantu kapal Empu Awang (Sumber: Koleksi Pribadi)

Setelah Ki Gusti Panji mencapai usia 20 tahun, namanya semakin terkenal dan beliau menjadi sosok yang masyhur, dikenal karena sifatnya yang ramah, sopan, santun, dan murah hati. Karena itu, seluruh masyarakat di daerah Gendis merasa hormat dan cinta kepadanya. Rakyat pun kemudian mengabdikan diri kepadanya, dan akhirnya Ki Gusti Panji diangkat menjadi raja oleh rakyat dengan gelar Ki Gusti Ngurah Panji. Selanjutnya, desa beserta perhyangan Agung Gendis, dengan persetujuan dan kemampuan masyarakat, dipindahkan ke desa Panji oleh Ki Ngurah Panji, yang terjadi pada masa Saka nora-menga-sagara-bumi: 1490–1568. Pada masa pemerintahannya, Raja kemudian membuat berbagai alat musik secara lengkap yang masing-masing memiliki nama dan fungsi khusus. Alat musik itu antara lain Juruh Satukad, yang suaranya amat merdu dan manis sehingga mengalir bagai air madu, sepasang gong bernama Bentar Kedaton yang suaranya membelah bumi, Kala atau bende yang dinamai Ki Gagak Kora karena suaranya menyerupai ribuan suara gagak, kenuk atau kajar yang diberi nama Ki Tundung Musuh karena suaranya menimbulkan rasa gentar bagi musuh, trompong dinamai Glagah Katunuan, dan kendang dinamai Gelap Kesanga. Keseluruhan bunyi-bunyian ciptaan Ki Gusti Ngurah Panji ini, ketika dimainkan, mampu menimbulkan getaran yang membuat musuh gentar.

Pada tahun 1489, ketika Dhalem Batur Enggong memerintah dari tahun 1460 hingga 1550 M, Danghyang Nirarta datang ke Bali bersama anak-anaknya dan menetap di Kemenuh, daerah Blahbatuh. Salah satu putrinya bernama Swabhawa tinggal di Pulaki secara gaib dan dikenal sebagai Batari Melanting, yang menjadi raja bagi makhluk halus (gamang). Putra beliau, Danghyang Wiragasandhi, menetap di desa Tarupinge (Kayuputih) di daerah Denbukit untuk berasrama. Beliau terkenal bijaksana dan sakti, khususnya dalam membuat keris yang memiliki kekuatan luar biasa, yang sangat terkenal dengan nama keris "Pakarya Kayuputih". Seorang putra Danghyang Nirarta diangkat oleh Ki Gusti Ngurah Panji menjadi purohita kerajaan dengan gelar Pendeta, diberi kedudukan di Banjar Ambengan serta memperoleh wewenang untuk memerintah rakyat di sebelah barat desa Kalibukbuk, yang jumlah penduduknya mencapai 3.000 jiwa, dan bergelar "Pedanda Sakti Ngurah". Selain itu, beliau juga diberikan asrama di sebelah timur Sukasada yang dikenal dengan nama griya "Romaarsana". Setelah beberapa waktu, Padanda Sakti Ngurah wafat di Kayuputih, tempat yang penuh keutamaan. Posisi beliau kemudian digantikan oleh putranya yang menjadi purohita kerajaan dan juga bergelar Padanda Sakti Ngurah. Seperti ayahnya, beliau bijaksana dan memiliki keahlian luar biasa dalam membuat keris yang sangat bertuah, yang dikenal dengan nama keris "Pakarya Banjar" dan memiliki kekuatan luar biasa terutama dalam hal "guna pangan". Puri di Sukasada pada masa itu tercatat pada tahun 1584. Padanda Sakti Ngurah sangat menghormati dan setia kepada Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, sehingga beliau membuat sebuah perjanjian yang dinamakan "sengkera", yang berarti kesetiaan bersama dalam suka dan duka, di mana beban berat dipikul bersama dan ringan dijinjing bersama. Perjanjian ini dilakukan di asrama Romaarsana, sehingga tempat itu hingga kini dikenal dengan sebutan "Sangket". Padanda Sakti Ngurah juga menurunkan para Brahmana Kemenuh ke Denbukit. Ki Gusti Ngurah Panji Sakti memiliki beberapa putra dari Ki Dewa Ayu Juruh, yakni Ki Gusti Ngurah Panji Gede sebagai anak pertama, diikuti Ki Gusti Ngurah Made sebagai anak kedua, dan Ki Gusti Ngurah Panji Wala sebagai anak ketiga, selain itu beliau juga memiliki putra-putra lain dari istri-istri beliau yang lain.

Kerajaan Ki Gusti Ngurah Panji Sakti berada dalam keadaan aman dan sentosa. Namun, timbul niat untuk menyerang Blambangan di bumi Jawadwipa, sesuai dengan waranugraha yang pernah diberikan Ki Panji Landung kepadanya. Beliau telah memiliki 800 orang pahlawan perang pilihan yang sakti dan kebal, yang kemudian diperbanyak menjadi 1.600 orang pilihan yang dinamai "Truna Goak", bertindak sebagai pahlawan tempur, serta 11.000 orang laskar rakyat yang juga telah terlatih dalam peperangan. Keseluruhan pasukan itu dipimpin oleh 20 orang komandan, di mana tiga yang terkemuka adalah Tambelang Sampun, Ki Gusti Made Batan, dan Ki Macan Gading. Suatu hari raja mengadakan pertemuan ramai-ramai yang dihadiri seluruh Truna Goak dan laskar rakyat. Ki Gusti Ngurah Panji Sakti mengajak para Truna Goak bermain "goak-goakan" atau permainan ular naga, di mana setiap goak boleh mengajukan permintaan kepada raja yang akan dikabulkan. Truna Goak berbaris membentuk ular naga sambil bersuara "goak, goak, gaak, gaak". Raja bertanya, "Hai goak, apakah yang kamu minta?" Goak menjawab, "Goak, gaak, gaak, aku minta pakaian," lalu permintaannya dikabulkan. Raja kembali bertanya, "Apa lagi yang kamu minta, Goak?" Goak menjawab, "Gaak, gaak, gaak, aku minta perhiasan dan wanga!" Semua permintaan itu dikabulkan, dan kemudian raja menjadi Goak. Rakyat bertanya lagi, "Hai Goak, apa yang kamu minta?" Sambil menari, Goak menjawab, "Goak, gaak, gaak, aku minta Blambangan diserang, supaya takluk di bawah perintahku, gaak, gaak, harus bersiap sekarang juga! gaak, gaak." Mendengar permintaan itu, seluruh Truna Goak dan rakyat bersorak gembira dan setuju untuk menyerang Blambangan.

Setelah semua persiapan selesai, Caturangga atau Angkatan Bersenjata Truna Goak beserta laskar rakyat menyiapkan peralatan, senjata, perbekalan, dan pengangkutan berupa prahu-prahu, bekerja amat sibuk siang dan malam. Setelah semuanya siap siaga, mereka hanya menunggu perintah dari raja. Raja sendiri menunggu petunjuk dari Sang Pendita untuk menentukan hari dan waktu yang baik menyerang musuh. Pada suatu hari yang dianggap baik menurut petunjuk Pendita Bagawanta, Angkatan Perang 1 Ki Gusti Ngurah Panji Sakti berangkat menyerang Blambangan. Dua batang tombak pakarya Ranjar, yang masing-masing bernama Ki Baru Ketug dibawa oleh Ki Tamblangsampun dan Ki Baru Sakti dibawa oleh Ki Gusti Made Batan. Angkatan perang berlayar menuju barat melalui Gili Manuk, Segara Rupek, dan Batu Sondol, lalu berlabuh di Candigading, yaitu pantai Tirtharum (Banyuwangi), sementara pasukan yang berjalan kaki sampai di Gilimanuk sebelum menyeberang. Setelah sampai di sana, Ki Gusti Ngurah Panji Sakti dan pasukannya menyerang Banger (Probolinggo), yang segera berhasil diduduki karena serangan dilakukan secara tiba-tiba. Pada waktu itu, tentara Panji Sakti mendapat perlawanan hebat dari pasukan Blambangan, sehingga terjadilah pertempuran sengit. Keduanya sama-sama kuat dan tidak ada yang mau mundur, tetapi pukulan tentara Panji Sakti, terutama Truna Goak yang dipimpin langsung oleh Ki Tamblang Sampun, Ki Gusti Ratan, dan Ki Macan Gading di bawah pimpinan Panji Sakti, akhirnya membuat kota kerajaan Blambangan dapat diduduki. Raja Blambangan, Pangeran Mas Tawang Alun, gugur dalam pertempuran dan dibunuh oleh Ki Panji Sakti. Rakyat Blambangan tidak mampu bertahan, lalu menyerah kalah, sementara keluarga raja beserta dua putranya, Ki Dewa Mas Sedah dan Ki Dewa Mas Pahit, melarikan diri ke Solo. Dengan demikian, pada tahun 1691 M, kerajaan Blambangan jatuh ke tangan Ki Gusti Ngurah Panji Sakti dan segala sesuatunya diatur kembali.

Setelah beberapa lama berada di sana dan keadaan telah kembali aman dan sentosa, Ki Gusti Ngurah Panji Sakti mengangkat putranya, Ki Gusti Ngurah Wayan, menjadi raja Blambangan, disertai oleh enam ratus prajurit Bali. Meskipun demikian, Panji Sakti merasa berduka karena putranya yang lain, Ki Gusti Ngurah Nyoman (Danudresta), gugur dalam peperangan. Raja Solo mengetahui kejayaan Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, lalu mendekatinya, dan akhirnya terjalin persahabatan; Panji Sakti pun diberi kendaraan berupa seekor gajah oleh raja Solo, yang mungkin merupakan siasat untuk mengetahui kelemahan Panji Sakti. Setelah itu, Panji Sakti diiringi oleh Truna Goak dan laskar rakyatnya pulang ke Bali. Dalam perjalanan pulang, Ki Panji Sakti singgah untuk menyerang Jembrana, yang akhirnya dapat ditaklukkannya. Setelah menaklukkan Jembrana, Panji Sakti pun kembali ke Denbukit, yang ibu kotanya berada di Sukasada.

Ilustrasi AI, Kerajaan Buleleng pada masa kepemimpinan Ki Gusti Panji Sakti (Sumber: Koleksi Pribadi)

Pada masa ketika Ki Gusti Ngurah Panji Sakti memerintah, rakyat merabas ladang di Jenggala Blalak, yaitu wilayah tempat orang menanam buleleng, yang berarti jagung gembal (jagung gambah), di sebelah utara Sukasada. Setelah pekerjaan tersebut selesai, raja membangun puri di tempat itu, dan pegawai kerajaan beserta rakyat turut membangun bangunan-bangunan di sekitarnya. Tempat baru itu dinamai "BULULUNG", karena sebelumnya merupakan ladang jagung gembal (Buleleng). Sejak saat itu, pusat kerajaan dipindahkan dari Sukasada ke Buleleng, dan ibu kotanya dinamai "SINGARAJA", karena rajanya gagah perkasa bak singa, yaitu Ki Gusti Ngurah Panji Sakti.Gajah kendaraan Ki Gusti Ngurah Panji Sakti dibuatkan kandang atau “petak” di sebelah utara kota Singaraja, dan tempat itu kemudian dinamai “Banjar Petak” hingga sekarang. Pawang atau gembala gajah itu berjumlah tiga orang dari Jawa Solo; dua orang tinggal di sebelah utara Banjar Petak, sehingga tempat itu dinamai “Banjar Jawa” sampai saat ini, sedangkan seorang lagi menetap di pantai dekat muara Sungai Banyumala, berasal dari Probolinggo, dan tempat itu dinamai “Lingga”. Di antara Banjar Petak dan Banjar Jawa terbentuk Banjar “Peguyangan” (Pekubangan), karena di sana tempat gajah berkubang atau maguyang. Lama kelamaan jumlah orang Jawa di Banjar Jawa semakin banyak, sehingga raja memindahkan mereka ke tempat dekat pegunungan yang dinamai hutan “Pegatepan”, artinya “Pegayaman (Teep)”, yang sampai sekarang menjadi sendi atau penjaga perbatasan di sebelah selatan. 

Kerajaan Denbukit berada dalam keadaan aman sentosa berkat kebijaksanaan Ki Gusti Ngurah Panji Sakti yang membuat negerinya makmur. Setelah tiba waktunya, Ki Gusti Ngurah Panji Sakti mangkat, meninggalkan putra-putri, di antaranya Ki Gusti Ngurah Panji Gede yang menggantikan ayahnya menjadi raja Denbukit dan tetap bermukim di Sukasada, adiknya Ki Gusti Ngurah Panji Made, serta Ki Gusti Ayu Panji yang lahir dari ibu Ki Dewa Ayu Juruh dan telah menikah dengan raja Mengwi. Putra lainnya ialah I Gusti Alit Oka dan I Gusti Made Padang yang ibunya Wesya dari Banjar Ambengan Radung, serta I Gusti Wayan Padang dan I Gusti Made Banjar yang ibunya dari Panji. Ki Gusti Ngurah Panji Gede memiliki seorang putri bernama Ki Gusti Ayu Jlantik Rawit, sedangkan Ki Gusti Ngurah Panji Made memiliki beberapa anak: I Gusti Ngurah Panji Bali, I Gusti Panji Tanuk, I Gusti Made Munggu, I Gusti Nyoman Panji, dan I Gusti Oka Panruju. Ki Gusti Ngurah Panji Bali menikah dengan Ki Gusti Ayu Jlantik Rawit, dan setelah Ki Gusti Panji Gede serta Ki Gusti Ngurah Panji Made mangkat, putranya, Ki Gusti Ngurah Panji Bali, menjadi raja di Denbukit dengan tetap berpuri di Sukasada. Puri di Singaraja dijaga dengan baik sebagai pesanggrahan. Ki Gusti Ngurah Panji Bali memiliki dua putra, yaitu Ki Gusti Ngurah Panji dan Ki Gusti Ngurah Jlantik. Pada masa itu, kerajaan Denbukit dibagi menjadi dua wilayah: Ki Gusti Ngurah Panji menjadi raja di Sukasada, sementara adiknya, Ki Gusti Ngurah Jlantik, menjadi raja di Singaraja.

DAFTAR PUSTAKA

 

Admin disbud. (2024, Mei 17). CIKAL BAKAL NAMA KERAJAAN BULELENG. Retrieved from disbud.bulelengkab.go.id: https://disbud.bulelengkab.go.id/informasi/detail/artikel/94_cikal-bakal-nama-kerajaan-buleleng

Annisa, R. (2020). PENINGGALAN SEJARAH ISLAM DI BULELENG BALI. Jurnal Pendidikan dan Sejarah, 3-4.

Simpen, I. W. (1989). BABAD KERAJAAN BULELENG. Denpasar.