Ki Gusti Panji Sakti: Dari Legitimasi Lokal Menuju Sejarah Kerajaan Buleleng
Silsilah dan perjuangan Ki Gusti Ngurah Panji Sakti serta keluarganya dalam membangun dan memerintah Kerajaan Denbukit di Bali. Dimulai dari kelahiran dan kesaktian Ki Barak Panji, yang kemudian menjadi Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, cerita ini menelusuri perjalanan hidupnya, penguasaan wilayah Denbukit, penaklukan Blambangan, pembangunan ibu kota di Singaraja, serta pembagian wilayah kerajaan kepada keturunannya. Kisah ini juga menyoroti keberanian, kebijaksanaan, kesaktian, dan kepemimpinan Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, yang membuat rakyatnya makmur dan setia, serta pewarisan kerajaan kepada generasi berikutnya yang mempertahankan kejayaan Denbukit dan Singaraja.
Di Desa Panji Denbukit, Buleleng, hiduplah seorang wanita bernama Si Luh Pasek. Ia bekerja sebagai sahaya (panjroan) di Puri Gelgel. Saat itu, Dhalem Sagening sudah berusia lanjut (wreda). Pada suatu ketika terjadi sebuah peristiwa yang membuat hati Dhalem Sagening jatuh kepada Si Luh Pasek. Karena rasa cinta yang tumbuh, akhirnya Dhalem Sagening menikahi Si Luh Pasek. Beberapa waktu setelah pernikahan itu, Si Luh Pasek pun mengandung. Namun, pada suatu hari Dhalem Sagening tersadar bahwa usianya sudah sangat tua dan ajalnya telah mendekat. Beliau merasa belum sempat membalas jasa besar Ki Arya Jlantik, seorang pengikut yang sangat setia dan penuh pengabdian. Untuk itu, Dhalem Sagening kemudian menghadiahkan Si Luh Pasek yang saat itu tengah hamil kepada Ki Arya Jlantik sebagai tanda balas budi. Akan tetapi, ada sebuah syarat yang harus dipenuhi: selama bayi dalam kandungan Si Luh Pasek belum lahir, Ki Gusti Ngurah Jlantik tidak boleh menikahi dirinya. Setelah bayi itu lahir, anak tersebut akan diserahkan kepada Ki Arya Jlantik untuk diasuh dan dipelihara sebagai putranya.
Ilustrasi AI, Kelahiran Ki Gusti Panji Sakti (Sumber: Koleksi Pribadi)
Setelah Ki Barak Panji beranjak dewasa, ia pergi ke puri untuk mengabdikan diri kepada Dhalem Sagening. Di sana, ia bergabung bersama putra-putra para Arya lainnya yang juga menjadi sahaya di lingkungan puri. Suatu malam, tepat pada tengah malam, Sri Dhalem bersama permaisuri keluar untuk menikmati udara malam. Ketika itu, tiba-tiba beliau melihat ada cahaya yang memancar di kepala salah seorang anak yang sedang tertidur lelap di antara kumpulan mereka. Melihat hal tersebut, Sri Dhalem memberi tanda dengan kapur pada anak itu, kemudian cahaya tersebut pun menghilang. Keesokan harinya, semua anak diperiksa satu per satu. Ternyata yang bertanda kapur adalah Ki Barak Panji. Saat itu Sri Dhalem semakin yakin akan kebenaran yang sebelumnya dikatakan oleh Ki Gusti Ngurah Jelantik. Sejak peristiwa tersebut, kasih sayang Sri Dhalem kepada Ki Barak Panji semakin bertambah. Namun, di dalam hatinya tetap tersimpan rasa waswas dan kekhawatiran, jangan sampai di kemudian hari keberadaan Ki Barak Panji dianggap dapat mengalahkan kewibawaan putra kandungnya sendiri, yang ia harapkan kelak menjadi penggantinya sebagai Raja Bali.
Pura Tirta Ketipat (Sumber: bulelengkab.go.id)
Setelah selesai makan, mereka melanjutkan perjalanan menuju barat laut. Saat itu matahari telah terbenam dan malam mulai menyelimuti perjalanan mereka. Ketika sampai di punggung bukit di barisan Danau Buyan, tiba-tiba muncul sesuatu yang luar biasa, yang dikenal dengan sebutan Panji Landung, yang dengan kekuatannya menangkap Ki Gusti Barak Panji dan mengangkatnya tinggi di atas bahunya sehingga Ki Barak Panji merasa seolah-olah berada di langit. Panji Landung memerintahkan Ki Barak Panji untuk melihat ke timur, dan ia melihat pegunungan Tianyar; ke utara, yang tampak hanyalah lautan; ke barat, terlihat Gunung Banger di Blambangan; dan ketika diminta melihat ke selatan, Ki Barak Panji memohon diturunkan karena tidak sanggup mendengar tangisan ibunya dan para sahayanya. Akhirnya ia diturunkan, dan Panji Landung memberinya anugerah bahwa semua wilayah yang dilihatnya akan menjadi jajahan Ki Gusti Barak Panji, kemudian Panji Landung menghilang secara gaib. Semua orang, terutama ibunya, sangat bersuka cita, lalu mereka melanjutkan perjalanan. Keesokan harinya, mereka sampai di desa Panji dan menuju rumah keluarga ibunya, yang menyambut mereka dengan gembira. Setelah Ki Gusti Barak Panji menetap di Panji, 38 pengawalnya kembali ke Gelgel, hanya Ki Dumpiung dan Ki Dosot yang tetap tinggal karena cinta setia kepada tuannya. Sejak itu, Ki Gusti Barak Panji yang masih kekanak-kanakan sering pergi ke mana-mana sambil membawa keris anugerah Dhalem Sagening, yang dipakai untuk mencungkil jangkrik dan ketela, diiringi kedua sahayanya dalam kegiatan sehari-hari.
Desa Panji dipimpin oleh Ki Pungakan Gendis, yang purinya terletak di desa Gendis, dan rakyatnya semua menghormati sekaligus takut kepadanya. Beliau dikenal selalu bersuka ria. Suatu hari, ia pergi menyabung ayam di sebuah desa sambil menunggangi kuda gendis rateng yang berbulu menyerupai gula masak, diapit dan diiringi hamba sahayanya serta menggunakan payung kebesaran menuju utara. Kebetulan pada saat itu Ki Barak Panji sedang berjalan-jalan bersama kedua sahayanya, kerisnya selalu dibawa untuk mencungkil ketela dan jangkrik. Tiba-tiba terdengar suara tanpa wujud yang berbicara kepadanya: "Hai Barak Panji, janganlah buyut marah kepadaku, bukan tugasku digunakan untuk menggali ketela, ubi, dan jangkrik, jangan ragu kepadaku, karena pada ujung kerisku terdapat pasupati sastra, senjata yang bisa mencabut nyawa, yang kelak akan membuatmu berkuasa besar di bumi dan dicintai rakyat. Lihatlah dan uji kesaktianku. Ada musuhmu bernama Pungakan Gendis yang berkuasa di Gendis, yang patut dibunuh olehmu. Jangan ragu, cobalah kepadanya!" Demikianlah suara itu terdengar oleh Ki Barak Panji dan sahayanya.
Beberapa waktu kemudian, tiba-tiba sebuah kapal karam ditemukan di pantai Penimbangan (Pura Segara Panji). Kapal itu milik seorang pedagang Tionghoa bernama Ki Dompu Awang (San Po Kong) pada abad ke-16. Mereka meminta bantuan kepada Ki Bendesa Gendis untuk menarik kapal tersebut dengan janji akan memberikan seluruh isi kapal sebagai hadiah, yang terdiri dari berbagai barang sandang, pecah belah, dan benda-benda mulia lainnya. Ki Bendesa Gendis kemudian mengerahkan rakyatnya lengkap dengan peralatan penarik, namun kapal itu tidak bergerak sedikitpun sehingga mereka putus asa dan akhirnya pulang. Berita itu sampai ke telinga Ki Barak Panji, sehingga ia pergi ke pantai ditemani Ki Dumpiung dan Ki Dosot. Di sana, Ki Barak Panji mendapati Empu Awang sedang bersedih dan bersumpah bahwa siapa pun yang bisa menolongnya akan diberikan seluruh isi kapal. Karena itu, Ki Barak Panji bersedia menolong, lalu mendekati kapal sambil menghunus kerisnya. Tiba-tiba terdengar suara yang berkata “Ayua semang,” artinya jangan ragu-ragu, yang menambah semangatnya dan memperkuat keyakinannya kepada kebesaran dan Maha Kuasa Hyang Widhi Wasa. Ki Barak Panji kemudian mendorong kapal sambil menyapu dengan kerisnya, dan berkat anugerah Sang Hyang Widhi, kapal itu terlepas dari penghalangnya dan bergerak ke tengah laut dengan selamat. Semua awak kapal bersorak gembira, terutama Empu Awang yang sangat kagum dan bahagia atas kesaktian Ki Barak Panji. Kapal itu kemudian berlayar kembali ke pantai dekat Empu Awang, yang menepati janjinya dengan menyerahkan seluruh isi kapal kepada Ki Barak Panji. Sejak peristiwa itu, kepercayaan terhadap Ki Barak Panji semakin meningkat karena kesaktian keris pusakanya, yang kemudian dinamai “Ki Tarsemang,” artinya tidak ragu-ragu, dan Ki Barak Panji pun menjadi kaya raya tanpa kekurangan harta benda.
Ilustrasi AI, Ki Gusti Panji Sakti membantu kapal Empu Awang (Sumber: Koleksi Pribadi)
Setelah Ki Gusti Panji mencapai usia 20 tahun, namanya semakin terkenal dan beliau menjadi sosok yang masyhur, dikenal karena sifatnya yang ramah, sopan, santun, dan murah hati. Karena itu, seluruh masyarakat di daerah Gendis merasa hormat dan cinta kepadanya. Rakyat pun kemudian mengabdikan diri kepadanya, dan akhirnya Ki Gusti Panji diangkat menjadi raja oleh rakyat dengan gelar Ki Gusti Ngurah Panji. Selanjutnya, desa beserta perhyangan Agung Gendis, dengan persetujuan dan kemampuan masyarakat, dipindahkan ke desa Panji oleh Ki Ngurah Panji, yang terjadi pada masa Saka nora-menga-sagara-bumi: 1490–1568.
Pada tahun 1489, ketika Dhalem Batur Enggong memerintah dari tahun 1460 hingga 1550 M, Danghyang Nirarta datang ke Bali bersama anak-anaknya dan menetap di Kemenuh, daerah Blahbatuh. Salah satu putrinya bernama Swabhawa tinggal di Pulaki secara gaib dan dikenal sebagai Batari Melanting, yang menjadi raja bagi makhluk halus (gamang). Putra beliau, Danghyang Wiragasandhi, menetap di desa Tarupinge (Kayuputih) di daerah Denbukit untuk berasrama. Beliau terkenal bijaksana dan sakti, khususnya dalam membuat keris yang memiliki kekuatan luar biasa, yang sangat terkenal dengan nama keris "Pakarya Kayuputih".
Kerajaan Ki Gusti Ngurah Panji Sakti berada dalam keadaan aman dan sentosa. Namun, timbul niat untuk menyerang Blambangan di bumi Jawadwipa, sesuai dengan waranugraha yang pernah diberikan Ki Panji Landung kepadanya. Beliau telah memiliki 800 orang pahlawan perang pilihan yang sakti dan kebal, yang kemudian diperbanyak menjadi 1.600 orang pilihan yang dinamai "Truna Goak", bertindak sebagai pahlawan tempur, serta 11.000 orang laskar rakyat yang juga telah terlatih dalam peperangan. Keseluruhan pasukan itu dipimpin oleh 20 orang komandan, di mana tiga yang terkemuka adalah Tambelang Sampun, Ki Gusti Made Batan, dan Ki Macan Gading. Suatu hari raja mengadakan pertemuan ramai-ramai yang dihadiri seluruh Truna Goak dan laskar rakyat. Ki Gusti Ngurah Panji Sakti mengajak para Truna Goak bermain "goak-goakan" atau permainan ular naga, di mana setiap goak boleh mengajukan permintaan kepada raja yang akan dikabulkan. Truna Goak berbaris membentuk ular naga sambil bersuara "goak, goak, gaak, gaak". Raja bertanya, "Hai goak, apakah yang kamu minta?" Goak menjawab, "Goak, gaak, gaak, aku minta pakaian," lalu permintaannya dikabulkan. Raja kembali bertanya, "Apa lagi yang kamu minta, Goak?" Goak menjawab, "Gaak, gaak, gaak, aku minta perhiasan dan wanga!" Semua permintaan itu dikabulkan, dan kemudian raja menjadi Goak. Rakyat bertanya lagi, "Hai Goak, apa yang kamu minta?" Sambil menari, Goak menjawab, "Goak, gaak, gaak, aku minta Blambangan diserang, supaya takluk di bawah perintahku, gaak, gaak, harus bersiap sekarang juga! gaak, gaak." Mendengar permintaan itu, seluruh Truna Goak dan rakyat bersorak gembira dan setuju untuk menyerang Blambangan.
Setelah semua persiapan selesai, Caturangga atau Angkatan Bersenjata Truna Goak beserta laskar rakyat menyiapkan peralatan, senjata, perbekalan, dan pengangkutan berupa prahu-prahu, bekerja amat sibuk siang dan malam. Setelah semuanya siap siaga, mereka hanya menunggu perintah dari raja. Raja sendiri menunggu petunjuk dari Sang Pendita untuk menentukan hari dan waktu yang baik menyerang musuh. Pada suatu hari yang dianggap baik menurut petunjuk Pendita Bagawanta, Angkatan Perang 1 Ki Gusti Ngurah Panji Sakti berangkat menyerang Blambangan. Dua batang tombak pakarya Ranjar, yang masing-masing bernama Ki Baru Ketug dibawa oleh Ki Tamblangsampun dan Ki Baru Sakti dibawa oleh Ki Gusti Made Batan. Angkatan perang berlayar menuju barat melalui Gili Manuk, Segara Rupek, dan Batu Sondol, lalu berlabuh di Candigading, yaitu pantai Tirtharum (Banyuwangi), sementara pasukan yang berjalan kaki sampai di Gilimanuk sebelum menyeberang.
Setelah beberapa lama berada di sana dan keadaan telah kembali aman dan sentosa, Ki Gusti Ngurah Panji Sakti mengangkat putranya, Ki Gusti Ngurah Wayan, menjadi raja Blambangan, disertai oleh enam ratus prajurit Bali. Meskipun demikian, Panji Sakti merasa berduka karena putranya yang lain, Ki Gusti Ngurah Nyoman (Danudresta), gugur dalam peperangan. Raja Solo mengetahui kejayaan Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, lalu mendekatinya, dan akhirnya terjalin persahabatan; Panji Sakti pun diberi kendaraan berupa seekor gajah oleh raja Solo, yang mungkin merupakan siasat untuk mengetahui kelemahan Panji Sakti. Setelah itu, Panji Sakti diiringi oleh Truna Goak dan laskar rakyatnya pulang ke Bali. Dalam perjalanan pulang, Ki Panji Sakti singgah untuk menyerang Jembrana, yang akhirnya dapat ditaklukkannya. Setelah menaklukkan Jembrana, Panji Sakti pun kembali ke Denbukit, yang ibu kotanya berada di Sukasada.
Ilustrasi AI, Kerajaan Buleleng pada masa kepemimpinan Ki Gusti Panji Sakti (Sumber: Koleksi Pribadi)
Pada masa ketika Ki Gusti Ngurah Panji Sakti memerintah, rakyat merabas ladang di Jenggala Blalak, yaitu wilayah tempat orang menanam buleleng, yang berarti jagung gembal (jagung gambah), di sebelah utara Sukasada. Setelah pekerjaan tersebut selesai, raja membangun puri di tempat itu, dan pegawai kerajaan beserta rakyat turut membangun bangunan-bangunan di sekitarnya. Tempat baru itu dinamai "BULULUNG", karena sebelumnya merupakan ladang jagung gembal (Buleleng). Sejak saat itu, pusat kerajaan dipindahkan dari Sukasada ke Buleleng, dan ibu kotanya dinamai "SINGARAJA", karena rajanya gagah perkasa bak singa, yaitu Ki Gusti Ngurah Panji Sakti.
DAFTAR PUSTAKA
Admin disbud. (2024, Mei 17). CIKAL BAKAL NAMA KERAJAAN BULELENG. Retrieved from disbud.bulelengkab.go.id: https://disbud.bulelengkab.go.id/informasi/detail/artikel/94_cikal-bakal-nama-kerajaan-buleleng
Annisa, R. (2020). PENINGGALAN SEJARAH ISLAM DI BULELENG BALI. Jurnal Pendidikan dan Sejarah, 3-4.
Simpen, I. W. (1989). BABAD KERAJAAN BULELENG. Denpasar.