Jejak Spiritual Dang Hyang Nirartha: Pendeta Suci dalam Perjalanan Hindu Bali

Dang Hyang Nirartha (Mpu Nirartha / Dang Hyang Dwijendra) adalah pendeta Hindu Saiwa dari Jawa pada masa runtuhnya Majapahit. Ia melakukan dharmayatra ke Bali pada akhir abad ke-15, memperkenalkan padmasana sebagai simbol pemujaan langsung kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, serta membangun banyak pura penting seperti Uluwatu dan Tanah Lot. Ajaran dan peninggalannya masih menjadi dasar spiritual Hindu Bali hingga kini.

Oct 9, 2026 - 05:25
Oct 9, 2026 - 01:48
Jejak Spiritual Dang Hyang Nirartha: Pendeta Suci dalam Perjalanan Hindu Bali
Patung Dang Hyang Nirartha di Pura Uluwatu (Sumber: Koleksi Pribadi)

Dang Hyang Nirartha, dikenal juga dengan berbagai nama seperti Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh, Mpu Nirartha, dan Dang Hyang Dwijendra, beliau dikenal sebagai Pangeran Sangupati di Lombok serta Tuan Guru Semeru di Sumbawa. Ia adalah seorang pendeta Hindu aliran Saiwa yang lahir di Jawa pada masa akhir Kerajaan Majapahit dan menghabiskan sebagian besar hingga akhir hidupnya di Bali. Melalui ajaran dan tindakannya, Nirartha berhasil mengintegrasikan teologi Śaiva dengan praktik spiritual masyarakat Bali yang sebelumnya masih kuat dipengaruhi tradisi Jawa-Hindu.

Tokoh ini berasal dari Daha (Kediri), Jawa Timur, dan dididik sebagai Brahmana Śaiva. Beliau kemudian melakukan perjalanan religius (dharmayatra) ke Bali pada akhir abad ke-15, tepat setelah Kerajaan Majapahit runtuh akibat perang saudara dan serangan Kerajaan Demak yang beragama Islam (Astara, 2016). Saat itu, banyak masyarakat Hindu berpindah ke daerah lain, sementara para bangsawan dan rohaniawan memilih Bali yang masih kuat dengan tradisi Hindu. Dalam tradisi Bali, Nirartha dipandang sebagai leluhur para pedanda Śaiva, dan jejak rohaninya diwarisi oleh kaum Brahmana Bali hingga kini (Dwijendra Tattwa, n.d.).

Pada akhir abad ke-15, keruntuhan Majapahit akibat perang saudara dan serangan Kerajaan Demak yang beragama Islam membuat pengaruh Hindu semakin melemah di Jawa. Banyak masyarakat yang tetap berpegang pada agama Hindu memilih berpindah ke daerah Pasuruan, Blambangan, Banyuwangi, atau pegunungan seperti Tengger dan Bromo, sementara para bangsawan dan rohaniawan pergi ke Bali yang saat itu masih kuat dengan tradisi Hindu. Salah satu rohaniawan tersebut adalah Danghyang Nirartha, yang pada tahun 1489 datang ke Bali pada masa pemerintahan Raja Sri Dalem Waturenggong untuk melakukan dharmayatra.

Ilustrasi AI Dharmayatra Dang Hyang Nirartha (Sumber: Koleksi Pribadi)

Walaupun sempat mempelajari Islam, Nirartha tetap teguh sebagai penganut Hindu Siwa, khususnya Siwa Sidhanta, dengan penekanan pada pemujaan Sadasiwa. Reformasi penting yang beliau lakukan adalah memperkenalkan padmasana, altar berbentuk singgasana kosong yang melambangkan pemujaan langsung kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Cokorda Putra & Wardani, n.d.). Sejak itu, padmasana menjadi ciri utama pura-pura di Bali dan menegaskan pemusatan pemujaan umat Hindu kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Ilustrasi AI Padmasana (Sumber: Koleksi Pribadi)

Selama perjalanan spiritualnya, Danghyang Nirartha mendirikan banyak pura di Bali, khususnya di daerah selatan, seperti Pura Rambut Siwi, Pura Petitenget, dan Pura Melanting, yang dikenal sebagai Pura Dang Kahyangan (Ardiyasa, 2020). Ia juga melakukan dharmayatra ke Lombok dan Sumbawa, di mana masyarakat setempat mengenalnya dengan berbagai sebutan. Di Bali, Nirartha menetap di Desa Mas, menikah, dan memiliki keturunan yang ia didik menjadi pedanda. Beliau meninggalkan dua bhisama penting untuk keturunannya, yaitu tidak menyembah pratima (arca) dan hanya sembahyang di pura yang memiliki padmasana (Budihardjo, n.d.). Akhir hidupnya dicapai di Pura Luhur Uluwatu, tempat beliau moksa. Hingga kini, ajaran dan peninggalan Danghyang Nirartha tetap lestari melalui keberadaan pura-pura dan padmasana di Bali.

Jejak spiritual Nirartha terekam di berbagai situs penting di Bali. Di antaranya. Pura Luhur Uluwatu, dipercaya sebagai tempat beliau mencapai moksha (Ardiyasa, 2020). Pura Tanah Lot, diyakini sebagai pura yang didirikan beliau setelah konflik dengan penguasa setempat. Berbagai pura pesisir dan Kahyangan Tiga yang diperkuat strukturnya selama perjalanan religius Nirartha. Tempat-tempat ini kini tidak hanya menjadi pusat pemujaan, tetapi juga tujuan wisata religi dan kultural. Tujuan utama Nirartha datang ke Bali adalah melaksanakan dharmayatra atau perjalanan suci. Tugas ini sekaligus menjadi misi spiritual untuk memperkuat ajaran Hindu Śaiva dan menata sistem kependetaan di Bali. Reformasi yang dibawa Nirartha penting karena pada saat itu masyarakat Bali memerlukan penyegaran rohani setelah Majapahit runtuh. Salah satu pembaharuannya adalah memperkenalkan padmasana, altar berbentuk singgasana kosong yang melambangkan Tuhan Yang Maha Esa, sehingga umat Hindu Bali lebih menekankan pemujaan langsung kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Astara, 2019).

Ilustrasi AI Warisan Dang Hyang Nirartha (Sumber: Koleksi Pribadi)

Reformasi dan ajaran Nirartha diwujudkan dengan cara berkeliling Bali, membangun pura, memperkenalkan padmasana, menata struktur Kahyangan Tiga, serta memperkuat kependetaan Śaiva. Selain itu, beliau juga menekankan ajaran tentang moksha atau kebebasan jiwa dari siklus samsara, yang hingga kini menjadi inti dari spiritualitas Hindu Bali. Legenda rakyat melengkapi jejak rohaninya, misalnya kisah Nirartha datang dengan menaiki labu raksasa dan moksha di Uluwatu. Meskipun bersifat mitologis, cerita-cerita ini memperkuat posisi beliau sebagai sosok sakral yang dihormati lintas generasi.

Referensi:

  • Ardiyasa, I Nyoman Suka. “Napak Tilas Dang Hyang Niratha di Pulau Bali”. Sanjiwani: Jurnal Filsafat, Vol. 9, No. 2, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, 2020.
  • Cokorda Putra & A. A. A. Cahaya Wardani. “Tipologi dan Bentuk Bangunan Pelinggih Padmasana”. Widya Teknik, Universitas Hindu Indonesia, Vol. 12, No. 1.
  • Astara, I Wayan Wesna; Made Mardika; Nyoman Sujaya. “Konstruksi Nilai Kearifan Lokal Perjalanan Dang Hyang Nirartha di Kelurahan Tuban dan Kota Denpasar”. Wicaksana, Vol. 25, No. 2, 2016.
  • Budihardjo, Rachmat. “Sistem Pemerintahan Kerajaan Pengaruhnya Terhadap Arsitektur Bali”. NALARs, Vol. 11, No. 2.
  • Dwijendra Tattwa. Naskah Lontar Tradisional Bali tentang Dang Hyang Nirartha.