Pemberontakan Bali Aga: Penolakan terhadap Upaya Memajapahitkan Bali (1343 M)

Bali Aga, masyarakat asli Bali, melestarikan tradisi nenek moyang, budaya, dan sistem kekerabatan yang sudah ada sebelum masa Majapahit. Pada abad ke-14, Majapahit melancarkan ekspedisi militer yang sukses menaklukkan pusat kekuasaan Bali, namun Bali Aga yang tinggal di pegunungan menolak dominasi tersebut dengan perlawanan fisik dan ritual adat untuk mempertahankan kedaulatan sosial dan budaya mereka. Menanggapi hal ini, Majapahit mengangkat Sri Aji Krishna Kepakisan, keturunan asli Bali, sebagai penguasa dengan pendekatan diplomasi budaya yang berhasil merangkul Bali Aga ke dalam pemerintahan baru tanpa menghilangkan identitas budaya, sehingga menciptakan stabilitas pemerintahan di Bali pada masa itu.

Aug 21, 2026 - 05:29
Aug 21, 2026 - 00:20
Pemberontakan Bali Aga: Penolakan terhadap Upaya Memajapahitkan Bali (1343 M)
Ilustrasi AI Desa Bali Aga (Sumber : Koleksi Pribadi)

Kelompok masyarakat asli Bali yang disebut Bali Aga mendiami wilayah pegunungan dan mempertahankan adat, budaya, serta sistem kekerabatan yang sudah ada jauh sebelum kedatangan Majapahit. Mereka memiliki otonomi budaya yang kuat dan menjalani cara hidup yang berbeda dari masyarakat Bali lain yang telah dipengaruhi oleh Majapahit. Bali Aga dianggap sebagai representasi paling murni dari budaya Bali dengan sistem sosial yang egaliter dan religius serta memegang teguh kepercayaan leluhur.

Ilustrasi AI Penduduk Bali Aga (Sumber : Koleksi Pribadi)

Desa-desa Bali Aga biasanya terisolasi dan memiliki struktur sosial yang berbeda dibandingkan dengan desa-desa di dataran rendah Bali yang banyak terpengaruh sistem kerajaan Hindu-Buddha Majapahit. Pelaksanaan ritual dan sistem kepemimpinan yang bersifat demokratis menjadi ciri khas tradisional yang penting, membedakan komunitas ini dari masyarakat Bali yang mengikuti sistem pemerintahan kerajaan.

Ilustrasi AI Ekspedisi Kerajaan Majapahit ke Bali (Sumber : Koleksi Pribadi)

Pada abad ke-14, Majapahit melancarkan ekspedisi militer ke Bali setelah serangan awal yang gagal, dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada pada tahun 1343 Masehi. Misi ini bertujuan menaklukkan kerajaan Bali yang saat itu dipimpin Raja Astasura Ratna Bhumi Banten. Ekspedisi kedua berhasil menundukkan kerajaan tersebut dengan pasukan yang lebih besar dan terorganisir.

Meskipun pusat kekuasaan kerajaan Bali jatuh ke tangan Majapahit, masyarakat Bali Aga yang tinggal di pegunungan menolak dominasi tersebut. Perlawanan dari masyarakat ini menghambat stabilitas pemerintahan baru, sehingga kekuasaan Majapahit tidak langsung diterima oleh seluruh lapisan masyarakat Bali secara menyeluruh.

Ilustrasi AI Perlawanan Masyarakat Bali Aga (Sumber : Koleksi Pribadi)

Masyarakat Bali Aga mempertahankan perlawanan yang berkelanjutan terhadap upaya Majapahit menguasai seluruh Bali, terutama melalui pemberontakan di wilayah pegunungan. Wilayah adat dan tradisi leluhur dilindungi dengan sikap penolakan terhadap kebijakan Majapahit yang dianggap mengancam keberadaan budaya asli mereka.

Perlawanan yang dilakukan tidak hanya berupa konflik fisik, tetapi juga melalui penguatan simbolik dengan melaksanakan ritual adat yang menjaga kedaulatan sosial dan sistem kepercayaan berbeda dari masyarakat desa di bawah pengaruh Majapahit. Konflik ini menjadi sebuah tantangan signifikan bagi konsolidasi Majapahit di Bali secara keseluruhan.

Ilustrasi AI Shri Aji Krishna Kepakisan Berdiskusi Dengan Tetua Bali Aga (Sumber : Koleksi Pribadi)

Majapahit menanggapinya dengan mengangkat Raja Sri Aji Krishna Kepakisan, yang memiliki garis keturunan Bali asli, sebagai penguasa daerah. Pendekatan ini mengombinasikan kekuasaan politik dengan diplomasi budaya yang menghargai adat dan tempat suci Bali Aga untuk meredakan ketegangan.

Strategi tersebut berhasil meminimalkan konflik dan mengintegrasikan masyarakat Bali Aga ke dalam pemerintahan baru tanpa menghilangkan identitas budaya mereka. Kebijakan ini membawa stabilitas pemerintahan Majapahit di Bali dan diterima oleh masyarakat Bali Aga.

Daftar Pustaka: 

Alit, Dewa Made. “Strategi Politik Majapahit Menaklukan Kerajaan Bali 1352-1380 M.” 2018, Jurnal Pendidikan Sejarah, Prodi Pendidikan Sejarah FPIPS IKIP PGRI Bali.
Subawa, I. B. G. “Agama Hindu dan Budaya Bali: Warisan Luhur dalam Masyarakat Bali Aga.” 2024, Jurnal Kamaya.
Sapta Jaya, I. B. “Kronologi Penaklukan Gajah Mada atas Bali.” 2018, Jurnal Sejarah Indonesia.
Liefrinck, M. “Bali Aga Traditions. 1989, dalam Bali: Studies in Life, Thought, and Ritual.”
Soebandi, I. “Sejarah Penaklukan Bali oleh Majapahit.” 2003.