Tenang Saat Siang, Air di Akar Pohon Nyelati Dipercaya Bisa Melayang di Malam Hari

Di kawasan suci Banjar Adat Nyelati, Desa Kuwum, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, terdapat sebuah cerita masyarakat tentang air yang berada di sekitar akar pohon. Pada siang hari, tempat tersebut terlihat tenang seperti sumber air pada umumnya. Namun, ketika malam tiba, masyarakat setempat memiliki cerita bahwa air tersebut dipercaya dapat melayang. Fenomena ini belum dapat disebut sebagai fakta ilmiah, tetapi menjadi bagian dari cerita lisan dan kepercayaan masyarakat yang menarik untuk ditelusuri.

Oct 11, 2026 - 05:45
Oct 11, 2026 - 00:27
Tenang Saat Siang, Air di Akar Pohon Nyelati Dipercaya Bisa Melayang di Malam Hari
Pohon Pura Dalem Kahyangan Banjar Adat Nyelati

Di tengah suasana Desa Kuwum, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, terdapat Pura Dalem Kahyangan Nyelati. Pura ini tidak hanya menjadi tempat masyarakat melaksanakan kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan adat masyarakat Banjar Adat Nyelati. Keberadaan pura dan lingkungan di sekitarnya menyimpan berbagai cerita yang masih menarik untuk ditelusuri hingga sekarang.

Pura Dalem Kahyangan Nyelati di Banjar Adat Nyelati, Desa Kuwum (Sumber: Koleksi Pribadi)

Salah satu cerita yang membuat kawasan ini menarik adalah keberadaan air di sekitar akar sebuah pohon yang oleh masyarakat setempat dipercaya memiliki keunikan. Cerita yang berkembang menyebutkan bahwa pada siang hari air tersebut terlihat biasa saja, sedangkan pada malam hari air itu dipercaya dapat melayang atau tampak seperti berada di atas permukaan tanah.

Pohon dan bagian akar tempat air berada (Sumber: Koleksi Pribadi)

Cerita tersebut bukan sesuatu yang dapat langsung disebut sebagai fakta ilmiah. Ia lebih tepat dipahami sebagai bagian dari cerita lisan dan kepercayaan masyarakat yang perlu ditanyakan kembali kepada orang-orang yang mengetahui sejarah tempat tersebut. Bagi masyarakat setempat, cerita mengenai air tersebut tidak berdiri sendiri. Air dalam kehidupan masyarakat Bali memiliki hubungan yang kuat dengan kehidupan sehari-hari maupun kegiatan keagamaan. Karena itu, keberadaan sumber air di sekitar kawasan suci dapat memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar tempat munculnya air. Namun, makna khusus air di lokasi ini perlu dijelaskan berdasarkan keterangan pemangku, tokoh adat, atau masyarakat yang memang mengetahui sejarahnya.

Keberadaan Pura Dalem Kahyangan Nyelati sendiri tercatat dalam berbagai kegiatan masyarakat dan pemerintah daerah. Pada tahun 2020, misalnya, Pemerintah Kabupaten Badung mencatat pembangunan Pura Dalem Kahyangan di Banjar Adat Nyelati serta berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat setempat. Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan penanaman pohon di lingkungan pura. Pada tahun 2022, Pura Dalem Kahyangan Nyelati kembali menjadi tempat pelaksanaan rangkaian karya keagamaan seperti Karya Ngenteg Linggih dan Ngusaba Dalem. Hal ini menunjukkan bahwa pura memiliki peran penting dalam kehidupan keagamaan masyarakat setempat.

Pancoran Alam Dedari (Sumber: Koleksi Pribadi)

Namun, cerita mengenai air di akar pohon menjadi sisi lain yang menarik untuk ditelusuri. Cerita semacam ini biasanya tidak selalu tercatat dalam dokumen resmi. Pengetahuan tersebut dapat bertahan melalui percakapan masyarakat, cerita orang tua kepada anak, maupun ingatan orang-orang yang telah lama tinggal di sekitar lokasi.

Karena itu, untuk mengetahui asal-usul cerita tersebut, pertanyaan yang paling penting bukan hanya “apakah air itu benar-benar melayang?”, tetapi juga “siapa yang pertama kali menceritakan hal tersebut?” dan “mengapa masyarakat masih mengingatnya sampai sekarang?”Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat membantu melihat fenomena ini bukan hanya sebagai sesuatu yang mistis, tetapi sebagai bagian dari cara masyarakat memahami dan memaknai lingkungan di sekitar tempat suci.

Pura Beji Pancoran Alam Dedari(Sumber: Koleksi Pribadi)

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, fenomena tersebut berkaitan dengan kondisi air di sekitar akar pohon. Akan tetapi, keterangan mengenai bagaimana bentuk air tersebut, kapan tepatnya fenomena itu terlihat, dan siapa yang pernah menyaksikannya perlu diperoleh langsung dari narasumber. Hal ini penting agar cerita yang ditulis tidak berubah menjadi klaim yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Justru di sinilah menariknya cerita Nyelati. Sebuah sumber air yang terlihat sederhana dapat menyimpan cerita yang membuat orang bertanya-tanya. Pada siang hari mungkin tidak ada sesuatu yang tampak luar biasa. Namun, cerita tentang malam hari membuat tempat tersebut memiliki sisi yang berbeda dalam ingatan masyarakat. Di tengah perubahan zaman, cerita seperti ini juga menghadapi tantangan. Generasi muda mungkin mengenal tempatnya, tetapi belum tentu mengetahui cerita yang pernah disampaikan oleh orang-orang terdahulu. Jika tidak dicatat, cerita lisan dapat berubah, memiliki banyak versi, atau bahkan perlahan dilupakan.

Lingkungan Sekitar Pura Beji Pancoran Alam Dedari (Sumber: Koleksi Pribadi)

Karena itu, kisah air di akar pohon Nyelati tidak harus langsung dijawab dengan percaya atau tidak percaya. Yang lebih penting adalah memahami bagaimana masyarakat setempat memandangnya. Bagi sebagian orang, cerita tersebut mungkin merupakan pengalaman yang dipercaya. Bagi yang lain, mungkin ada penjelasan alamiah yang belum diketahui. Di antara keduanya terdapat satu hal yang sama cerita tersebut telah menjadi bagian dari rasa ingin tahu terhadap tempat dan lingkungan di sekitar Nyelati.

Pada akhirnya, air yang disebut dapat melayang pada malam hari bukan sekadar soal apakah fenomena itu benar-benar terjadi. Cerita tersebut membuka jalan untuk mengenal hubungan masyarakat dengan tempat suci, alam, air, dan pengetahuan yang diwariskan secara lisan. Selama cerita itu masih diingat dan diceritakan oleh masyarakat Nyelati, ia menjadi bagian dari kisah budaya yang menarik untuk didengar tentu dengan tetap menghormati kepercayaan masyarakat dan membedakan antara fakta, cerita lisan, dan keyakinan.