​Dari Kanvas Sederhana hingga Panggung Dunia: Perjalanan Legenda Hidup Ketut Sadia

Seni lukis gaya Batuan telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia sejak tahun 2018 berkat keunikan teknik tanpa perspektif dan pengerjaannya yang sangat mendalam. Di balik kehebatan seni tradisi ini, sosok Ketut Sadia (60) berdiri kokoh sebagai legenda hidup yang berhasil membawa gaya Batuan ke museum-museum dunia. Tak hanya merawat warisan lewat kanvasnya, ia juga merintis gerakan pembinaan gratis bagi ratusan anak demi menjaga nyala tradisi di tanah kelahirannya.

Aug 28, 2026 - 05:29
Aug 27, 2026 - 14:56
​Dari Kanvas Sederhana hingga Panggung Dunia: Perjalanan Legenda Hidup Ketut Sadia
Ketut Sadia Sedang Mengerjakan Lukisan Tantri (Sumber: Koleksi Pribadi)

Di balik keanggunan dan keindahan seni rupa Bali yang tersohor hingga ke mancanegara, Desa Batuan yang terletak di Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, menyimpan sebuah tradisi lukis yang sangat khas, rumit, dan berkarakter pekat. Corak visualnya yang padat akan detail naratif serta sarat akan filosofi mendalam telah lama memikat perhatian para pecinta seni dari berbagai belahan dunia. Mengingat nilai kebudayaan dan sejarahnya yang tak ternilai, Pemerintah Republik Indonesia secara resmi menetapkan karya seni lukis gaya Batuan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia pada tahun 2018. Di tengah gelombang modernisasi dan digitalisasi, sosok Ketut Sadia berdiri kokoh sebagai salah satu tiang penyangga utama kelestarian tradisi rupa ini. Berusia 60 tahun, Ketut Sadia bukan sekadar pelukis biasa, melainkan sosok maestro dan legenda hidup yang karya-karyanya telah melanglang buana hingga menghiasi berbagai galeri serta museum internasional. Lebih dari sekadar berkarya di atas kanvas, ia juga memikul tanggung jawab moral sebagai pemrakarsa wadah komunitas seni Baturulangun yang mendidik generasi penerus tanpa memungut biaya sepeser pun

Perjalanan panjang sang maestro dalam mencintai dunia seni rupa tidak muncul secara mendadak, melainkan telah tertaut erat semenjak ia masih duduk di kelas 3 Sekolah Dasar. Tumbuh dan besar di dalam lingkungan keluarga seniman lintas generasi, irama kehidupan Sadia kecil senantiasa diwarnai oleh aroma cat, tinta, serta gesekan kuas. Garis keturunan seninya membentang kuat, dimulai dari kakeknya, Nyoman Ngendon, seorang pelukis legendaris sekaligus pejuang kemerdekaan yang dihormati. Darah seni tersebut diteruskan oleh ayahnya, I Wayan Tawong, serta pamannya, Ketut Tomblot, yang juga dikenal sebagai pelukis Batuan berbakat.

Kehangatan iklim berkesenian di kediamannya kian mengental karena saudara-saudaranya turut mendedikasikan seluruh hidup mereka pada dunia rupa. Kakaknya, Wayan Bendi, diakui secara luas sebagai maestro gaya Batuan, sementara adik-adiknya, Wayan Diana dan Made Geriyawan, juga setia menapak di jalur seni yang sama. Sadia mempelajari seni lukis secara otodidak hanya dengan memperhatikan orang tuanya berkarya setiap kali ia pulang dari sekolah. "Saya belajar melukis secara otodidak dengan cara memperhatikan orang tua melukis. Sepulang sekolah, penglihatan pertama saya adalah orang tua yang sedang memegang kuas," kenang Ketut Sadia. Dari momen-momen sederhana di teras rumah itulah, benih kecintaan mendalam pada melukis gaya Batuan mulai berakar kuat di dalam jiwanya.

Kerumitan dan keindahan seni lukis gaya Batuan memang selalu mengundang decak kagum dari berbagai kalangan pengamat seni. Sebutan "gaya Batuan" itu sendiri sebenarnya merupakan sebuah julukan yang pertama kali disematkan oleh para kolektor dan pengamat seni internasional pada kisaran tahun 1970-an. Bagi Ketut Sadia, untuk mampu menguasai gaya lukis ini secara matang, seseorang tidak cukup hanya belajar dalam kurun waktu 5 hingga 10 tahun saja karena tingkat kesulitan dan kedalaman tekniknya yang sangat luar biasa.

Ciri utama yang paling membedakan gaya Batuan dari gaya lukis lainnya terletak pada penggunaan dua kuas sekaligus saat proses melukis berlangsung. Dalam teknik ini, tangan pelukis memegang dua kuas dengan fungsi yang berbeda. Satu kuas digunakan untuk mengaplikasikan warna atau tinta, sedangkan kuas kedua yang dibasahi air berfungsi meratakan gradasi warna serta menciptakan nuansa pencahayaan yang halus atau yang dalam istilah lokal dikenal dengan sebutan ngucek atau nyawi.

Selain penggunaan dua kuas yang khas, seni lukis gaya Batuan juga memegang teguh sebuah prinsip visual yang disebut memedeg. Prinsip memedeg merupakan proses melukis yang dikerjakan secara bertahap dan sistematis dari bagian bawah menuju ke bagian atas bidang gambar. Karakteristik utama dari prinsip ini adalah sifatnya yang memenuhi seluruh permukaan kanvas tanpa menyisakan ruang kosong. Dalam komposisi lukisan gaya Batuan, tidak ada satu pun objek yang ditonjolkan secara dominan atau dieksklusifkan, melainkan setiap sudut ruang terisi oleh detail cerita dan elemen naratif yang padat. Keunikan lainnya yang sangat disukai oleh Ketut Sadia adalah ketiadaan aturan hukum perspektif khusus. "Hal yang paling saya sukai dari gaya Batuan adalah tidak adanya aturan perspektif khusus. Tanpa perspektif, seniman justru mendapatkan kebebasan berkreasi sebesar-besarnya," tutur Sadia.

Pencapaian internasional Ketut Sadia telah terukir sejak usianya masih sangat muda, tepatnya saat ia masih berseragam Sekolah Menengah Atas (SMA) pada tahun 1985. Kala itu, karya lukisan Sadia muda terpilih untuk diikutsertakan dalam ajang pameran dan perlombaan seni lukis tradisi bergengsi di Fukuoka, Jepang. Keikutsertaan ini menjadi sebuah momen berharga karena karya ciptaannya bersanding langsung dengan lukisan-lukisan sekelas museum dunia. Prestasi tersebut kian mengagumkan ketika lukisannya tidak hanya disimpan dan dipamerkan secara permanen di Museum Fukuoka, tetapi juga terpilih sebagai gambar sampul (cover) buku pameran bertajuk Bali Batuan yang dicetak menggunakan aksara Kanji Jepang. Peristiwa bersejarah di Fukuoka ini menjadi titik balik penting sekaligus penyulut motivasi terbesar bagi Sadia muda untuk semakin mantap menapaki jalan hidupnya sebagai pelukis gaya Batuan.

Lukisan Ketut Sadia Yang Lolos Ke Fukuoka Jepang dan Menjadi Sampul Buku Museum Fukuoka (Sumber: Koleksi Pribadi)

Jejak prestasi dan pengakuan dunia terhadap keahlian Ketut Sadia terus berlanjut sepanjang karir berkeseniannya. Pada tahun 2015, lukisan karyanya kembali mendapat kehormatan besar saat terpilih sebagai gambar sampul buku pameran seni di Finlandia. Tak berhenti di benua Eropa dan Asia Timur, karya-karya lukisannya juga secara berkala diboyong untuk mengisi berbagai pameran di museum-museum ternama di Singapura hingga Amerika Serikat. Kehebatan Sadia tidak hanya diakui di mancanegara, tetapi juga di tingkat nasional. Salah satu mahakaryanya yang berjudul Sidang Wakil Rakyat Negeri Antah Berantah berhasil menembus persaingan ketat dan meraih penghargaan sebagai finalis dalam ajang The 2nd UOBI Painting of The Year Competition 2012 yang diselenggarakan di Jakarta.

Sebagai seorang seniman yang berjiwa bebas, Ketut Sadia selalu berani mendobrak kekakuan tema-tema tradisional tanpa sedikit pun menanggalkan atau merusak teknik murni peninggalan leluhur Batuan. Walau teguh mempertahankan teknik tradisional, ia sangat terbuka mengadopsi isu-isu kontemporer dan imajinasi liar ke dalam bidang gambarnya. Bagi Sadia, kepuasan tertinggi yang dirasakan oleh seorang pelukis adalah ketika ia mampu melahirkan karya otentik hasil pemikiran sendiri tanpa merespons atau mereka ulang karya orang lain.

Filosofi berkarya yang selalu dipegangnya adalah "membuat apa yang tidak ada menjadi ada". Filosofi imajinatif ini dituangkan secara tajam dalam mahakaryanya yang berjudul Pentas di Bulan. Dalam lukisan tersebut, Sadia menyilangkan mitologi tradisional Bali seperti kisah Dewi Ratih (Dewi Bulan) dan Kalarau (raksasa pemakan bulan) dengan objek futuristik seperti piringan terbang UFO, serta menggambarkan kemeriahan warga dan seniman yang antusias mentas memainkan gamelan, Barong, dan naga di luar angkasa.

Lukisan Piala Dunia Oleh Ketut Sadia Yang Diperlombakan Di Jakarta Awards 2012 (Sumber: Koleksi Pribadi)

Tidak hanya lihai meracik imajinasi fantasi, Ketut Sadia juga kerap menjadikan kanvasnya sebagai media kritik sosial yang amat halus namun menusuk. Hal ini terlihat jelas dalam karyanya yang masuk nominasi Jakarta Award 2012 bertajuk Piala Dunia. Dalam lukisan naratif tersebut, Sadia menggambarkan sebuah pertandingan sepak bola imajiner antara tim nasional Indonesia melawan tim nasional Brasil, lengkap dengan papan skor yang menunjukkan angka 3-2 untuk kemenangan Indonesia. Mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu, saat melihat karya Piala Dunia sempat bertanya heran mengapa Sadia bisa terpikir membuat tema unik tersebut. Sadia hanya tertawa seraya menjawab bahwa itulah mimpi hakiki seorang seniman: mewujudkan harapan yang belum ada di dunia nyata melalui kanvas. Selain menyentil isu olahraga, Sadia juga adaptif merekam momen kontemporer seperti fenomena pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), namun ia tetap setia melahirkan lukisan bernuansa tradisi sakral seperti Atma Kerthi dan Sang Hyang Jaran.

Lukisan Sang Hyang Jaran Oleh Ketut Sadia (Sumber: Koleksi Pribadi)

Perjalanan panjang dan gemilang sebagai seorang maestro tidak membuat Ketut Sadia lupa akan masa depan warisan budayanya. Ia merasa prihatin ketika menyaksikan minat generasi muda mulai terdistraksi oleh perkembangan teknologi modern serta beragam sarana hiburan gawai. Menyadari ancaman terputusnya mata rantai tradisi, Ketut Sadia bersama para seniman lokal Batuan mengambil langkah nyata dengan memprakarsai berdirinya Perhimpunan Pelukis Baturulangun Batuan pada tahun 2012.

Sejak tahun 2015, melalui wadah Baturulangun ini, Sadia dan kawan-kawan seniman mulai membuka serta menggerakkan program pembinaan seni lukis secara gratis tanpa memungut biaya sepeser pun bagi anak-anak usia sekolah dasar, khususnya dimulai dari siswa kelas 3 SD. Dari program tanpa pungutan biaya ini, telah lahir ratusan bibit muda pelukis gaya Batuan. Karya anak-anak didik mereka kerap diikutsertakan dalam berbagai pameran profesional. Apabila ada karya murid yang diminati dan dibeli oleh kolektor, hasil penjualannya akan dialokasikan dan disalurkan kembali dalam bentuk donasi untuk mendukung operasional pelatihan serta pengembangan seni bagi generasi penerus berikutnya.

Bagi Ketut Sadia, melukis gaya Batuan bukan sekadar aktivitas menggoreskan warna di atas kain, melainkan sebuah proses pendidikan jiwa untuk menanamkan nilai kehidupan utama, yaitu kesabaran. Kesabaran ini bukanlah timbul tanpa sebab. Melukis gaya Batuan menuntut kesabaran ekstra tinggi, apalagi diiringi dengan teknik dua kuasnya yang rumit sehingga seorang pelukis harus ekstra hati-hati saat menggoreskan garis dan warna. Kedalaman proses kreatif ini bahkan tidak jarang membuat seorang seniman menjadi lupa waktu hingga lupa makan saat sedang terikat erat oleh arus inspirasi.

Ketut Sadia Mengajari Anak Anak Melukis Di Baturulangun (Sumber: Koleksi Pribadi)

Namun perlu diingat, di luar fungsi komersial atau nilai ekonomi semata, lukisan bagi masyarakat Bali juga bermakna sebagai bentuk ayah-ayahan yakni wujud pengabdian tulus dan persembahan spiritual bagi masyarakat serta pura lewat pembuatan sarana keagamaan kober (bendera sakral) dan umbul-umbul. Melalui pendedikasian hidup yang tak pernah surut dan wadah Perhimpunan Pelukis Baturulangun, Ketut Sadia terus menitipkan pesan mendalam kepada anak-anak serta generasi muda agar tidak monoton dan tidak terlalu kaku dalam menggambar. "Pesan saya untuk anak-anak dan generasi muda, jangan monoton, jangan terlalu kaku dalam menggambar. Bebaskan kreativitas diri kalian, tetapi untuk teknik, tetaplah pegang teguh gaya lukis Batuan," pungkas sang legenda.