Jejak Sejarah Pasar Tabanan: Dari Pusat Kerajaan dan Perdagangan hingga Ruang Ekonomi Masyarakat Kekinian

Pasar Tabanan bukan sekadar tempat berlangsungnya aktivitas jual beli masyarakat sehari-hari. Di balik keramaian pedagang dan pembeli, tersimpan perjalanan panjang yang berkaitan erat dengan perkembangan kehidupan, budaya, dan ruang Kota Tabanan. Pasar ini menjadi salah satu ruang penting bagi masyarakat untuk berinteraksi, memenuhi kebutuhan, serta membangun hubungan sosial dari waktu ke waktu. Jejak masa lalu yang masih tersimpan di dalamnya menghadirkan berbagai cerita menarik untuk ditelusuri.

Aug 25, 2026 - 05:53
Aug 24, 2026 - 22:50
Jejak Sejarah Pasar Tabanan: Dari Pusat Kerajaan dan Perdagangan hingga Ruang Ekonomi Masyarakat Kekinian
Pintu masuk timur pasar (Sumber: Koleksi Pribadi)

Pasar Tabanan mungkin terlihat seperti pasar tradisional pada umumnya di tengah aktivitas kota. Pasar ini di masanya merupakan salah satu pusat perputaran ekonomi bukan hanya bagi wilayah Kabupaten Tabanan, tetapi juga bagi wilayah Kabupaten lainnya. Hal ini terjadi karena Kabupaten Tabanan dikenal sebagai lumbung pangan Bali.  Namun, di balik kesibukan tersebut, tersimpan jejak sejarah yang mungkin tidak banyak diketahui. Jejak itu tidak hanya dapat ditemukan di kawasan pasar, tetapi juga tersebar dalam ruang-ruang di sekitar pusat Kota Tabanan.

Jejak Sejarah dalam Penamaan Wilayah

Salah satu petunjuk mengenai keberadaan pasar pada masa lalu terekam dari nama sejumlah wilayah di Kota Tabanan. Beberapa di antaranya adalah Desa Dauh Peken, Desa Delod Peken, dan Desa Dajan Peken. Bagi masyarakat saat ini, nama-nama tersebut telah menjadi bagian dari penanda wilayah yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, I Nengah Januartha, seorang pengarsip dokumen sejarah Bali, menjelaskan bahwa ketiga nama tersebut juga dapat menjadi petunjuk untuk menelusuri keberadaan Pasar Tabanan pada masa lampau.

Untuk memahami jejak tersebut, perlu dilihat terlebih dahulu bagaimana kegiatan pasar berkembang pada masa lalu. Menurutnya, keberadaan sebuah pasar berawal dari adanya keramaian yang menjadi tempat berkumpulnya masyarakat. Dalam konteks kehidupan pada masa kerajaan, keramaian tersebut umumnya berkembang di sekitar puri atau pusat kerajaan. Dari aktivitas masyarakat yang berlangsung di tempat-tempat tersebut, kemudian terbentuk kegiatan pertukaran barang yang menjadi cikal bakal pasar. Pada tahap awal, kegiatan tersebut belum menggunakan sistem jual-beli seperti yang dikenal sekarang, melainkan berlangsung melalui barter, yaitu menukar suatu barang dengan barang lainnya yang dibutuhkan.

Seiring perkembangan zaman, pola pertukaran tersebut mengalami perubahan. Uang kepeng atau pis bolong mulai digunakan sebagai alat pembayaran dalam kegiatan perdagangan. Penggunaan uang kepeng mengubah pola transaksi yang sebelumnya dilakukan melalui pertukaran barang secara langsung. Masyarakat kemudian mulai mengenal sistem jual-beli dengan uang kepeng sebagai alat pembayaran untuk memperoleh barang yang dibutuhkan.

Di Sekitar Puri dan Pohon Beringin

Sesuai keterangan Januartha, paparan tentang jejak sejarah pasar Tabanan mengarah pada kawasan di sekitar pusat kekuasaan kerajaan sebagai salah satu lokasi penting dalam perkembangan peken atau pasar di Tabanan. Jejak keberadaan pasar lama dipercaya berada di sekitar pohon beringin dan Pura Puseh Kota Tabanan. Pohon beringin yang dimaksud berada di kawasan Jalan Gunung Agung, Tabanan, dan menjadi salah satu titik penting dalam penelusuran sejarah awal Pasar Tabanan.

Kawasan Pohon Beringin dan Pura Puseh Kota Tabanan (Sumber: Koleksi Pribadi)

Kedekatan antara pasar dan pusat kekuasaan juga dapat dilihat dari keberadaan puri di sekitar kawasan tersebut. Terdapat dua puri utama yang berkaitan dengan Kerajaan Tabanan, yaitu Puri Gde dan Puri Kaleran. Puri Gde disebut berada di sekitar kawasan yang kini menjadi BPD Tabanan, sedangkan Puri Kaleran masih dapat dijumpai sampai sekarang di sebelah utara pohon beringin. Posisi tersebut memberikan gambaran mengenai hubungan ruang perdagangan dengan kawasan puri sebagai pusat kekuasaan pada masa Kerajaan Tabanan.

Jejak keberadaan pasar lama juga dapat ditemukan dalam nama wilayah yang hingga kini masih digunakan masyarakat Tabanan. Dauh Peken berada di sebelah barat pasar, Delod Peken di sebelah selatan, sedangkan Dajan Peken di sebelah utara. Penamaan tersebut berkaitan dengan posisi wilayah terhadap keberadaan pasar yang dahulu berkembang di kawasan pusat Kota Tabanan. Dengan demikian, nama-nama wilayah tersebut menjadi salah satu jejak yang masih bertahan meskipun lokasi pasar telah mengalami perubahan.

Perkembangan kegiatan perdagangan tersebut juga tercatat dalam kajian antropolog Clifford Geertz melalui buku Penjaja dan Raja. Dalam pembahasannya mengenai Tabanan, Geertz mencatat keberadaan Gadarata atau Gabungan Dagang Rakyat Tabanan. Organisasi tersebut menjadi salah satu gambaran mengenai perkembangan kegiatan perdagangan Tabanan yang mulai bergerak menuju bentuk usaha yang lebih terstruktur.

Peta 1906 dan Perpindahan Pasar

Temuan yang menarik dalam penelusuran ini adalah adanya peta Kota Tabanan yang diterbitkan pada tahun 1906. Peta tersebut menjadi petunjuk penting yang semakin memperkuat keberadaan pasar pada masa lalu karena posisi pasar dapat terlihat dalam gambaran ruang Kota Tabanan pada periode tersebut. Berdasarkan penelusuran Januartha, peta ini menggambarkan wilayah Kerajaan Tabanan secara cukup detail, termasuk keberadaan pasar. Tahun 1906 sendiri merupakan periode menjelang berakhirnya Kerajaan Tabanan. Peta ini sekaligus memperkuat dugaan bahwa kawasan sekitar pohon beringin merupakan salah satu lokasi awal Pasar Tabanan.

Peta Kota Tabanan Terbitan Belanda (Sumber: Koleksi Pribadi)

Setelah tahun 1906, yaitu pada awal abad ke-20, pusat perdagangan Tabanan diperkirakan mulai bergeser ke arah timur. Pergeseran tersebut diperkirakan terjadi setelah Kerajaan Tabanan jatuh dan ketika Belanda mulai mengambil alih wilayah Tabanan. Aktivitas perdagangan kemudian berkembang di sepanjang Jalan Gajah Mada Tabanan, yang menjadi lokasi Pasar Tabanan hingga sekarang.

Menurut I Nengah Januartha, pemindahan tersebut kemungkinan dilakukan Belanda agar aktivitas masyarakat lebih mudah dipantau. Alasan ini masih berupa dugaan berdasarkan penelusuran dan keterangan yang diperoleh sehingga belum dapat dipastikan sebagai alasan utama pemindahan pasar.

Meski tahun pasti perpindahannya belum diketahui, keberadaan pasar di lokasi sekarang memiliki petunjuk dari masa berikutnya. Salah satunya berupa sebuah foto bangunan yang diduga merupakan bagian dari pintu masuk selatan Pasar Tabanan di kawasan Jalan Gajah Mada. Pada foto tersebut tercantum tahun 1929. Foto ini menjadi petunjuk bahwa Pasar Tabanan telah berada di kawasan tersebut pada periode itu.

Petunjuk tersebut kemudian diperkuat oleh catatan Nyoman S. Pendit dalam buku Di Lambung Gunung Agung. Dalam bukunya, Pendit menceritakan pengalamannya kembali ke Tabanan setelah bertahun-tahun tinggal di Jakarta. Ia menggambarkan Pasar Tabanan yang pada masa sebelumnya dikelilingi tembok dengan hiasan yang mengambil cerita dari epos Ramayana dan Mahabharata. Menurut Januartha, catatan tersebut memiliki kesesuaian dengan gambaran pasar dalam foto lama dan turut memperkuat dugaan bahwa foto tersebut berkaitan dengan Pasar Tabanan.

Foto yang diduga merupakan pintu selatan Pasar Tabanan. Angka 1929 yang tercantum pada bangunan menjadi salah satu petunjuk mengenai periode foto (Sumber: Koleksi Pribadi)

Dari Pasar Lama Menuju Wajah Baru

Berbagai jejak tersebut menunjukkan bahwa Pasar Tabanan mengalami perubahan seiring perkembangan kehidupan masyarakat dan kawasan Kota Tabanan. Aktivitas perdagangan yang pada masa awal disebut berlangsung melalui barter kemudian berkembang dengan penggunaan uang kepeng sebagai alat pembayaran. Perubahan pola perdagangan tersebut berjalan beriringan dengan perubahan ruang, dari kawasan sekitar pohon beringin hingga lokasi Pasar Tabanan yang digunakan masyarakat saat ini.

Kini, Pasar Tabanan masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Di tengah perkembangan Kota Tabanan, jejak masa lalunya tetap hadir dalam nama-nama wilayah, kawasan pohon beringin dan Pura Puseh, serta berbagai peta, foto, dan catatan yang masih dapat ditelusuri.

Kawasan Pasar Tabanan saat ini. Terlihat masih ramai dikunjungi masyarakat dan terdapat proses renovasi di sekitar pasar (Sumber: Koleksi Pribadi)

Perjalanan Pasar Tabanan pun belum berhenti. Rencana revitalisasi pasar pada tahun-tahun mendatang akan kembali mengubah wajahnya. Perubahan tersebut menjadi babak baru dalam perjalanan Pasar Tabanan, yang sejak masa kerajaan hingga hari ini terus mengikuti perkembangan kehidupan masyarakat dan Kota Tabanan.