WayangVision: Saat Kecerdasan Buatan Membantu Generasi Muda Mengenal Wayang Kulit Bali
Di tengah derasnya arus digitalisasi dan dominasi hiburan modern, berbagai warisan budaya tradisional perlahan mulai kehilangan ruang di tengah generasi muda. Salah satunya adalah wayang kulit Bali, sebuah karya seni adiluhung yang tidak hanya memuat unsur hiburan, tetapi juga nilai filosofis, spiritual, moral, dan sejarah budaya yang sangat mendalam. Menjawab tantangan tersebut, hadirlah inovasi berbasis AI yang dirancang untuk membantu masyarakat mengenal dan memahami karakter wayang kulit Bali dengan cara yang lebih modern dan interaktif bernama WayangVision.
Wayang merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang sarat akan nilai filosofis, moral, dan artistik. Pengakuan dunia terhadap kekayaan budaya ini bahkan telah diberikan UNESCO melalui penetapan wayang sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity pada 7 November 2003. Namun di balik pengakuan tersebut, minat masyarakat terhadap pertunjukan wayang terus mengalami penurunan, khususnya di kalangan generasi muda.
Perkembangan media hiburan digital yang serba cepat, visual, dan interaktif membuat pertunjukan tradisional mulai dianggap sulit dipahami dan kurang relevan dengan gaya konsumsi hiburan generasi saat ini. Kompleksitas visual karakter wayang kulit Bali, ditambah minimnya media edukasi interaktif, menjadi salah satu faktor yang membuat masyarakat kesulitan memahami alur cerita maupun tokoh-tokoh dalam pewayangan.
Berangkat dari tantangan tersebut, hadir WayangVision, sebuah aplikasi Android berbasis kecerdasan buatan yang dirancang untuk membantu masyarakat mengenali karakter wayang kulit Bali dengan cara yang lebih modern, interaktif, dan mudah diakses. WayangVision hadir sebagai “mata digital” yang mampu mengenali karakter wayang sekaligus menjadi media edukasi budaya berbasis teknologi.
Tampilan Splash Screen Aplikasi WayangVision
WayangVision merupakan aplikasi deteksi karakter wayang kulit Bali yang secara khusus berfokus pada pertunjukan Wayang Lemah, yaitu jenis pertunjukan wayang sakral yang menjadi bagian penting dalam ritual Yadnya di Bali. Berbeda dengan Wayang Peteng yang menggunakan kelir dan pencahayaan lampu, Wayang Lemah dipentaskan pada siang hari dan memiliki nuansa ritualistik yang sangat kental. Kondisi tersebut membuat pertunjukan ini semakin jarang diakses dan dipahami oleh masyarakat luas, terutama generasi muda.
Melalui WayangVision, pengguna dapat mengenali tokoh-tokoh wayang secara lebih mudah hanya dengan memanfaatkan kamera smartphone. Aplikasi ini mampu mendeteksi hingga 16 karakter wayang kulit Bali dan menampilkan informasi lengkap mengenai tokoh yang terdeteksi, mulai dari nama karakter, filosofi, hingga ciri khas visual dari tokoh tersebut. Lebih dari sekadar aplikasi pendeteksi objek biasa.
Tampilan Halaman Beranda dan Hasil Deteksi
WayangVision mengintegrasikan teknologi Artificial Intelligence melalui pendekatan computer vision dan Large Language Model (LLM). Salah satu keunggulan utama dari WayangVision adalah integrasi Large Language Model (LLM) GPT-4o-mini yang digunakan untuk memperkaya pengalaman edukasi pengguna. Teknologi ini memungkinkan aplikasi memberikan elaborasi penjelasan karakter wayang secara lebih natural, informatif, dan mudah dipahami. Tidak hanya membaca informasi statis, pengguna juga dapat mengajukan pertanyaan seputar tokoh wayang dan memperoleh jawaban secara interaktif layaknya berdiskusi dengan asisten digital budaya.
WayangVision hadir sebagai jembatan antara teknologi modern dan pelestarian budaya tradisional Bali. Sebagai aplikasi edukasi budaya berbasis AI, WayangVision menghadirkan berbagai fitur interaktif yang dirancang untuk mempermudah pengguna dalam mengenali karakter wayang kulit Bali sekaligus memahami nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
- Beranda (Home Page): Halaman beranda menjadi pusat navigasi utama pengguna dalam mengakses fitur-fitur WayangVision. Pada halaman ini tersedia dua pilihan utama, yaitu fitur “Buka Kamera” untuk melakukan deteksi secara real-time menggunakan kamera smartphone dan fitur “Pilih dari Galeri” untuk mendeteksi karakter wayang melalui gambar yang diunggah pengguna. Antarmuka yang sederhana dan intuitif membuat pengguna dapat langsung menggunakan aplikasi dengan mudah tanpa memerlukan proses yang rumit.
- Halaman Hasil Deteksi (Result Page): Setelah proses deteksi selesai dilakukan, pengguna akan diarahkan menuju halaman hasil deteksi. Pada halaman ini, sistem menampilkan visualisasi gambar yang telah dilengkapi bounding box, nama karakter wayang, serta confidence score dari hasil deteksi AI. Tidak hanya menampilkan hasil identifikasi visual, halaman ini juga dilengkapi panel informasi interaktif berisi penjelasan lengkap mengenai karakter yang terdeteksi, yang mencakup nama tokoh, watak karakter, filosofi, kisah dalam pewayangan, hingga ciri visual khas yang dimiliki tokoh tersebut. WayangVision juga menghadirkan fitur “Jelaskan dengan AI” yang memungkinkan pengguna memperoleh elaborasi informasi karakter secara lebih mendalam.
- Halaman Ensiklopedia: Selain fitur deteksi otomatis, WayangVision juga menyediakan halaman ensiklopedia digital yang berfungsi sebagai pusat eksplorasi informasi karakter wayang kulit Bali. Halaman ini memuat kumpulan informasi seluruh karakter wayang yang dapat dikenali oleh sistem. Pengguna dapat mencari tokoh tertentu melalui fitur search bar maupun filter kategori yang tersedia sehingga proses pencarian informasi menjadi lebih mudah dan cepat. Setiap karakter dilengkapi penjelasan mengenai kisah pewayangan, watak tokoh, filosofi karakter, serta ciri visual khas yang membedakannya dari tokoh lainnya. Halaman ensiklopedia juga dilengkapi fitur “Tanya AI” yang memungkinkan pengguna mengajukan pertanyaan seputar tokoh wayang secara langsung. Dengan integrasi AI generatif, pengguna dapat mengeksplorasi cerita dan karakter pewayangan secara lebih mendalam, interaktif, dan komunikatif.
Tampilan Halaman Ensiklopedia
WayangVision menjadi contoh bagaimana kecerdasan buatan tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan industri dan komersial, tetapi juga mampu berperan sebagai sarana pelestarian budaya lokal. Ketika generasi muda semakin dekat dengan teknologi digital, pendekatan edukasi budaya pun perlu ikut bertransformasi agar tetap relevan dan mudah diterima.
Melalui perpaduan teknologi computer vision, Generative AI, dan kekayaan budaya Bali, WayangVision membuka peluang baru dalam memperkenalkan wayang kulit Bali kepada masyarakat luas dengan pendekatan yang lebih modern tanpa menghilangkan nilai tradisional yang terkandung di dalamnya. Wayang bukan sekadar pertunjukan masa lalu. Bersama WayangVision, warisan budaya Bali kini dapat dikenali, dipelajari, dan diapresiasi melalui teknologi masa kini.
Sumber: “Deteksi Karakter Wayang Kulit Bali dengan YOLOv11 dan Teknik Pruning”, Komang Ayu Agung Arya Aprilia, Program Studi Teknologi Informasi Fakultas Teknik Universitas Udayana, Tugas Akhir, 2026