Jejak Kesenian patung Bali dalam Kehidupan Masyarakat Bali Kuno
Seni patung Bali sejak zaman kuno tidak hanya bernilai estetis, tetapi juga sakral dan simbolis. Bukti peninggalannya terlihat pada patung Batara Da Tonta di Trunyan dan arca di Pura Puseh, Gianyar. Meski mendapat pengaruh luar dan berkembang hingga era modern, seni patung Bali tetap mempertahankan teknik tradisional serta nilai spiritualnya sebagai identitas budaya.
Seni adalah bagian dari kehidupan masyarakat di pulau Bali sejak zaman Bali kuno. Kesenian dari zaman dahulu selalu dianggap penting. Di Bali, karya seni tidak hanya diasosiasikan sebagai sarana ekspresi artistik tetapi juga sangat terkait dengan kehidupan religius dan sosial. Salah satu bentuk seni yang paling menonjol atau lebih tepatnya bentuk seni yang paling diakui adalah patung. Selama periode Bali kuno, pahatan dianggap sebagai sebuah karya seni yang tidak hanya elok dipandang saja. Ia juga memiliki fungsi sakral dan simbolis yang terhubung erat dengan tradisi masyarakat. Sisa-sisa seni pahatan di pulau Bali adalah kuno dan merupakan bukti pentingnya peran seni serta penggunaannya dalam pembangunan identitas budaya masyarakat Bali.
Tradisi Hindu-Buddha yang masuk ke Bali dapat berpengaruh positif terhadap perkembangan seni patung. Patung-patung Bali kuno tradisional diberikan pengaruh baru bukan hanya karena pengislaman yang pertama, tetapi juga karena kepercayaan yang sudah ada sebelumnya, yang meliputi kepercayaan terhadap roh-roh leluhur dan sistem kepercayaan alam. Setelah itu, kepercayaan dewa dan makhluk-makhluk mitologis, serta patung-patung yang mempunyai nilai spiritual, sangat luar biasa dan berpengaruh.
Ilustrasi AI Seni Pahatan Patung (Sumber: Koleksi Pribadi)
Seni pahat Bali muncul dari praktik roh leluhur pada masa prasejarah, dan terus berkembang seiring dengan penyebaran pendidikan Hindu-Buddha dan pengaruh budaya Tiongkok. Pada awalnya, patung berfungsi sebagai simbol perlindungan dewa dalam tradisi Hindu dan biasanya dipajang di pura. Patung-patung tradisional Bali dengan ciri dan gaya unik muncul dari perjalanan budaya yang telah disebutkan.
Patung-patung diciptakan dari batu napas kuno Bali, yang jarang dibagikan, dan cube. Patung-patung yang jarang dibagikan dengan arkeologis berpenghasilan di Bali sangat terpengaruh. Ukiran dengan detail yang luar biasa buatan bata yang beraneka ragam, sudah sekian maju, menunjukkan keahlian tertentu. Juga, argumen, pekerjaan batu dulang bukti mempunyai harga patung, memiliki nilai tinggi di mata masyarakat Bali pada zaman kuno.
Patung Batara Da Tonta (Sumber: Koleksi Pribadi)
Seni pahat, yang juga dikenal sebagai patung, di Bali berasal dari tradisi persembahan untuk leluhur pada masa prasejarah, dan kemudian mengalami perubahan signifikan akibat pengaruh adat Hindu-Buddha dan Tiongkok. Salah satu contoh yang sering disebut dalam penelitian adalah patung Batara Da Tonta, yang terletak di kawasan Trunyan, Kintamani. Prasasti berberikh Saka 971 menjadi bukti bahwa cara hidup tradisional Seni Pahat telah bertahan sepanjang sejarah Bali. Patung semacam ini tidak hanya mencerminkan praktik keagamaan masyarakat, tetapi juga menegaskan nilai estetika pada masa Bali kuno. Misalnya, pahatan pada batu atau kayu yang menggambarkan candi dan pura menampilkan berbagai motif yang berbeda dari kosmologi lokal.
Arca Pura Puseh (Sumber: Koleksi Pribadi)
Selain itu, peninggalan lain berupa arca juga ditemukan di Pura Puseh, yang terletak di Desa Bale Agung, Bukian, Payangan, Gianyar. Arca-arca ini terkait dengan perkembangan seni patung antara abad ke-8 hingga ke-16 Masehi. Sebelum pengaruh Hindu muncul, masyarakat Indonesia sudah memiliki berbagai bentuk seni, termasuk batik, wayang, dan arca. Dalam seni arca, karya-karya yang dihasilkan umumnya memiliki kesederhanaan baik dalam bentuk maupun hiasan, mencerminkan keahlian para seniman pada masa itu. Berbagai peninggalan seperti dolmen, sarkofagus, menhir, dan punden bertingkat berperan sebagai sarana komunikasi dengan roh leluhur. Di sisi lain, patung-patung dianggap sebagai simbol atau perwakilan dari leluhur.
Sebelum melakoni Bali kuno, sekitar zaman praaksara, kepercayaan masyarakat Bali masih berhubungan dengan alam, roh leluhur, dan kekuatan alam. Pada waktu ini, seni patung masih belum banyak didokumentasikan, baik dalam bahasa Bali, maupun Sansekerta, seperti setelah masuknya pengaruh Hindu-Buddha. Akan tetapi, dari yang pernah diteliti, arkeologi memiliki banyak bukti dan dengan berbagai artefak patung dan arca yang berukuran megalitik yang menunjukkan adanya perkembangan dalam pemikiran simbolik serta religius.
Satu diantara banyaknya bukti yang ada, dan diakui banyak orang, ada Arca Megalitik yang terdapat di Pura Sibi Agung, Desa Pakraman Kesian, Gianyar. Penelitian yang dilakukan mengungkapkan kebohongan orang-orang yang mengklaim arca tersebut ada setelah pura yang bergaya Hindu di dirikan. Arca ini, memiliki bentuk yang sangat sederhana dan berfungsi sebagai simbol pemujaan tanpa arca-arca yang rumit dan berfungsi sebagai simbol pemujaan terhadap arwah leluhur, sarana pendidikan sosial, dan sebagai warisan budaya purbakala.
Sampai saat ini, belum banyak catatan yang menjelaskan secara lebih teknis tentang apa yang dimaksud dengan “patung” di masyarakat praaksara Bali. Pantauan modern lebih mempertimbangkan menggunakan istilah arca megalitik, patung tradisi megalitik, atau arca sederhana. Adapun, jika menceraikan dari aspek kesenian, karya-karya ini mudah diidentifikasi secara kualitatif. Karyanya sederhana, tidak memiliki detil yang halus seperti patung Hindu klasik. Selain proporsinya tidak seimbang, karyanya terkesan monoton dengan posisi tidak dinamis. Misal, hanya dalam pose berdiri atau duduk yang tidak terekspresi dan dramatis.
Sejak saat itu, seni patung di Bali mengalami perubahan besar, tidak hanya dalam fungsi, gaya, dan struktur sosial yang di dalamnya. Pariwisata, pasar seni, dan modernisasi juga turut berkontribusi dalam perubahan yang terjadi. Patung yang dibentuk tidak berfungsi hanya dari segi ritunya, tetapi juga dari nilai ekonomi dan estetika yang diakui secara internasional. Penelitian yang dilakukan di Ubud mengenai perkembangan seni patung menunjukkan bahwa, gaya modern di patung lebih banyak berunsurkan elemen minimalis. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pasar internasional. Tetap, untuk karya-karya kontemporer, masih banyak yang mengintegrasikan tradisi budaya dan adat yang dikreatifkan dengan banyak variasi model patung.
Ilustrasi AI Seni Patung Zaman Bali Kuno (Sumber: Koleksi Pribadi)
Meskipun perkembangan seni patung di Bali dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal yang berasal dari tradisi Jawa, India, Tiongkok, serta dinamika pariwisata modern, namun unsur-unsur estetika dan fungsi sakralnya tetap terjaga. Dengan masuknya era modern, muncul berbagai bentuk baru dalam ekspresi seni pahat, termasuk karya kontemporer dan produk komersial yang ditujukan bagi wisatawan. Namun, banyak seniman tetap mempertahankan teknik-teknik kuno serta ikonografi tradisional mereka. Analisis mendalam tentang aspek estetika dan transformasi kriya menunjukkan bahwa seni patung Bali dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman sambil tetap terhubung dengan akar tradisi ritualnya.
DAFTAR PUSTAKA
Parta, I. W. S. TRANSFORMASI SENI TIGA DIMENSIONAL BALI. 2010. PRASI, 6(11).
Dewi, I. A. M. K., Aryana, A. G., & Titasari, C. P. Tinggalan Arca di Pura Puseh Desa Bale Agung Bukian, Payangan, Gianyar. 2019. Jurnal Humanis, Fakultas Ilmu Budaya Unud.
Sujana, I. M., & Karsana, I. P. SENI PATUNG BALI MODERN KONTEMPORER: SUATU KAJIAN ESTETIKA. 2020. Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni, 11(1), 183-200.
Setiawan, M. A., Purnawati, D. M. O., & Maryati, T. (2014). Arca Megalitik di Pura Sibi Agung, Desa Pakraman Kesian, Gianyar, Bali, dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA Berdasarkan Kurikulum 2013. Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah, 2(2).
Buda, I. K. (2013). PENGARUH POLA-POLA AKADEMIK DALAM PERKEMBANGAN PATUNG MODERN DI KECAMATAN UBUD. Imaji: Jurnal Seni dan Pendidikan Seni, 11(2).