Jejak Mpu Semeru : Pelopor Parahyangan di Pura Besakih

Mpu Semeru, atau dikenal pula dengan nama Mpu Mahameru, adalah seorang brahmana suci dari Jawa Timur. Dalam tradisi Hindu Bali, Beliau dikisahkan sebagai sosok rohaniwan yang menempuh kehidupan penuh tapa brata dan memiliki pengaruh besar dalam perkembangan agama Hindu di Bali.

Mar 27, 2026 - 06:06
Jan 16, 2026 - 20:43
Jejak Mpu Semeru : Pelopor Parahyangan di Pura Besakih
Ilustrasi AI Mpu Semeru (Sumber : Koleksi Pribadi)

Mpu Semeru tiba di Bali pada tahun 999 Masehi atau tahun Saka 921, tepatnya pada Hari Jumat Kliwon Wuku Pujut saat Purnamaning Kawolu. Beliau melakukan perjalanan dari Jawa seorang diri, menyeberang ke Bali, lalu menelusuri jalur pegunungan. Dalam perjalanannya, Beliau singgah di wilayah Kuntulaga (Kedisan), Tampurhyang (Songan), dan daerah Batur sebelum akhirnya menetap untuk menjalankan misi spiritualnya.

Di tengah perjalanan itu, terjadi sebuah peristiwa sakral yang dikenal luas dalam tradisi. Dikisahkan Mpu Semeru menemukan tonggak kayu celagi yang berwarna hitam karena bekas terbakar. Dengan kekuatan tapa brata dan pengetahuan suci yang dimilikinya, Mpu Semeru kemudian menyalurkan kesaktiannya hingga kayu tersebut hidup dan menjelma menjadi sosok manusia. Manusia hasil ciptaan dari kayu tersebut segera bersujud kepada Mpu Semeru. Ia mengungkapkan bahwa dirinya tidak mampu membalas jasa besar itu, karena asal-usulnya hanyalah dari kayu, bukan manusia sejati.

Ilustrasi AI Tonggak Kayu Celagi yang Dijumpai Mpu Semeru (Sumber : Koleksi Pribadi)

Sosok itu menunjukkan kerendahan hati dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Mpu Semeru, memohon bimbingan agar kehidupannya memiliki makna. Walaupun pada awalnya Mpu Semeru menolak, mengingat asal usulnya yang tidak lazim, namun karena permohonannya sangat tulus, Beliau akhirnya luluh dan menerima sosok tersebut sebagai murid. Sosok yang lahir dari kayu tersebut kemudian diberi nama Mpu Kamareka, juga dikenal sebagai Mpu Dryakah, yang selanjutnya menjadi pengikut dan murid utama Beliau dalam mengajarkan dharma. Kisah ini tidak hanya menegaskan kewibawaan Beliau sebagai resi agung, tetapi juga memperlihatkan betapa kuatnya daya spiritual yang dimilikinya.

Kedatangan Mpu Semeru ke Bali membawa perubahan besar, terutama dalam tatanan parahyangan dan penguatan harmoni antara berbagai aliran keagamaan yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri. Selama di Bali, Beliau mengajarkan konsep penyelarasan ajaran Siwa-Buddha, menegaskan tata aturanĀ parahyangan, serta memperkenalkan sistem ritual yang mampu mempersatukan umat. Dari sinilah lahir harmoni keagamaan yang tetap dijaga hingga kini dan menjadi salah satu dasar integrasi spiritual masyarakat Bali.

Ilustrasi AI Mpu Semeru Mengajar Orang-orang di Bali (Sumber : Koleksi Pribadi)

Hubungan Mpu Semeru dengan Pura Besakih sangatlah erat. Beliau disebut sebagai pelopor pembangunan parahyangan (tempat melakukan yoga semadhi) di Pura Penataran Agung Besakih, pura terbesar dan terpenting di Bali. Parahyangan tersebut kemudian diresmikan melalui upacara besar yang dikenal sebagai Karya Agung Pengenteg Linggih, pada Hari Soma (Senin) Umanis, Wara Tolu, yang dipuput oleh Mpu Gni Jaya dan Mpu Withadharma. Parahyangan Mpu Semeru itu pada masa kini dikenal dengan nama Pura Catur Lawa Ida Ratu Pasek. Dengan peran tersebut, Pura Besakih ditata menjadi pusat pemujaan utama dengan struktur parahyangan yang menampung konsep Siwa-Buddha, menjadikannya pusat spiritual tertinggi di Bali. Tradisi juga menyebutkan bahwa pura-pura lain di Bali memperoleh legitimasi dan kekuatan spiritual melalui parahyangan yang didirikan di Besakih, sehingga karya Mpu Semeru tetap menjadi pusat keagamaan hingga saat ini.

Pura Catur Lawa Ida Ratu Pasek (Sumber : TikTok dobelss)

Pura Catur Lawa Ida Ratu Pasek sendiri memiliki kedudukan istimewa di kompleks Pura Besakih. Pura ini disimbolkan dengan warna putih sebagai stana dari Ida Bhatara Iswara dan terletak di sisi timur Pura Penataran Agung. Piodalan utama dilaksanakan setiap Purnama Sasih Kawolu, sedangkan pujawali besar digelar pada Purnama Sasih Kadasa, bertepatan dengan Karya Ida Bhatara Turun Kabeh. Selain itu, sejumlah upacara rutin juga dilakukan, seperti Aci Usaba Pasek, Caru Penyaag Tilem Sasih Kanem, dan Purnama Sasih Kadasa. Menariknya, Pura Catur Lawa Ida Ratu Pasek berada di bawah pengelolaan Pemerintah Provinsi Bali, sehingga keberlangsungan upacara dan pelestariannya terjaga dengan baik hingga kini. Hal ini memperlihatkan kesinambungan antara warisan leluhur yang dibawa Mpu Semeru dan peran pemerintah modern dalam menjaga sentralitas Pura Besakih sebagai pusat spiritual Bali.

Daftar Pustaka

Badan Pengelola Fasilitas Kawasan Suci Pura Agung Besakih, Pura Catur Lawa Ida Ratu Pasek, 2025, besakih.org

Bayu Riswandono, Upacara Piodalan Di Dukuh Pasekan Kecamatan Karangpandan Kabupaten Karanganyar (Studi Kasus Terhadap Upacara Tradisi di Petilasan Kyai I Gusti Ageng Pemacekan Dan Parhyangan Sapta Pandita), 2013, digilib.uns.ac.id

I Wayan Titra Gunawijaya, Esensi Ajaran Bhujangga dalam Tradisi Ritual Masyarakat Batur (Kajian Teologi Hindu), 2025, Jurnal Penelitian Agama Hindu

I Wayan Wardha, Babad Kayu Selem, 1989, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta