Keris Sakti yang Terkutuk Milik Mpu Gandring

Keris Mpu Gandring menceritakan sebuah keris sakti yang memiliki kutukan yang dibuat oleh seorang pandai besi bernama Mpu Gandring. Suatu ketika ada seorang bernama Ken Arok memesan keris sakti kepada Mpu Gandring hanya dengan waktu satu malam saja. Ketika keris itu diselesaikan Ken Arok menguji kekuatan keris itu dengan menusukkanya kepada Mpu Gandring. Sebelum tewas, Mpu Gandring mengutuk keris itu yang dimana akan mendatangkan mala petaka untuk Ken Arok itu sendiri.

May 24, 2025 - 06:00
May 23, 2025 - 22:46
Keris Sakti yang Terkutuk Milik Mpu Gandring
Ken Arok dan Ken Dedes (Sumber : Koleksi Pribadi)

Keris Mpu Gandring adalah senjata pusaka yang terkenal dalam riwayat berdirinya Kerajaan Singhasari di daerah Malang, Jawa Timur sekarang. Keris ini terkenal karena kutukannya yang memakan korban dari kalangan elit Singasari termasuk pendiri dan pemakainya, ken Arok. Keris yang memiliki kekuatan luar biasa karena terbuat dari berbagai sumber kekuatan yang ada  membuat keris ini sangat kuat dan sakti. Keris ini dibuat oleh seorang pandai besi yang dikenal sangat sakti yang bernama Mpu Gandring, atas pesanan Ken Arok, salah seorang tokoh penyamun yang menurut seorang brahmana bernama Lohgawe adalah titisan wisnu. Mpu Gandring adalah seorang yang sangat berpengalaman pada hal pandai besi. Kemampuan yang ia dapatkan dari turun temurun membuat Mpu Gandring sangat mahir dalam hal ini.

 Ilustrasi Seorang Mpu Gandring yang sedang bekerja (Sumber: Koleksi Pribadi)

Ken Arok adalah seorang rakyat biasa yang sangat ambisius yang konon merupakan titisan dari dewa wisnu. Meskipun berasal dari kalangan bawah, dia memiliki cita-cita untuk mengubah nasibnya dan menjadi penguasa. Ken Arok memiliki rencana untuk merebut kekuasaan di Jawa Timur dan mendirikan kerajaan. Ken Arok memesan keris ini kepada Mpu Gandring dengan waktu satu malam saja, yang merupakan pekerjaan hampir mustahil dilakukan oleh para "mpu" (gelar bagi seorang pandai logam yang sangat sakti) pada masa itu. Namun Mpu Gandring menyanggupinya dengan kekuatan gaib yang dimilikinya. Bahkan kekuatan tadi "ditransfer" kedalam keris buatannya itu untuk menambah kemampuan dan kesaktian keris tersebut. 

Ilustrasi Keris Mpu Gandring (Sumber: Koleksi Pribadi)   

Setelah selesai menjadi keris dengan bentuk dan wujud yang sempurna bahkan memiliki kemampuan supranatural yang konon dikatakan melebihi keris pusaka masa itu. Mpu Gandring menyelesaikan pekerjaannya membuat sarung keris tersebut. Namun belum lagi sarung tersebut selesai dibuat. Ken Arok datang mengambil keris tersebut yang menurutnya sudah satu hari dan harus diambil. Kemudian Ken Arok menguji Keris tersebut dan terakhir Keris tersebut ditusukkannya pada Mpu Gandring yang konon menurutnya tidak menepati janji (karena sarung keris itu belum selesai dibuat). Selebihnya bahkan dikatakan untuk menguji kemampuan keris tersebut melawan kekuatan supranatural si pembuat keris (yang justru disimpan dalam keris itu untuk menambah kemampuannya). Dalam keadaan sekarat, Mpu Gandring mengeluarkan kutukan bahwa Keris tersebut akan meminta korban nyawa tujuh turunan dari Ken Arok.

Ilustrasi Ken Arok Mendirikan Kerajaan Singasari (Sumber: Koleksi Pribadi) 

Setelah membunuh Mpu Gandring, Ken Arok berhasil merebut kekuasaan dan mendirikan kerajaan Singasari. Ia berkuasa pada kerajaan tersebut pada saat itu. Cita citanya menjadi pemimpin yang berkuasa pun akhirnya terwujud saat itu juga. Namun, kutukan yang ada dalam keris Mpu Gandring mulai menampakkan dampaknya.

Ken Arok menghadapi berbagai masalah, konflik, dan tragedi selama masa pemerintahannya. Keris yang awalnya memberikan kekuatan, kini menjadi sumber kesulitan dan malapetaka. Dalam banyak versi cerita, keris ini dianggap sebagai simbol dari kesalahan dan malapetaka yang menimpa Ken Arok dan keturunannya. Dalam perjalanannya, keris ini terlibat dalam perselisihan dan pembunuhan elit kerajaan Singhasari yakni:

Terbunuhnya Tunggul Ametung, Tunggul Ametung, kepala daerah Tumapel (cikal bakal Singhasari) yang saat itu adalah bawahan dari Kerajaan Kadiri yang saat itu diperintah oleh Kertajaya yang bergelar "Dandang Gendis" (raja terakhir kerajaan ini). Tumapel sendiri adalah pecahan dari sebuah kerajaan besar yang dulunya adalah Kerajaan Jenggala yang dihancurkan Kadiri, dimana kedua-duanya awalnya adalah satu wilayah yang dipimpin oleh Airlangga.

Ilustrasi Seorang Ken Dedes yang Sangat Cantik (Sumber: Koleksi Pribadi) 

Ken Arok membunuh Tunggul Ametung untuk mendapatkan istrinya yang cantik, Ken Dedes. Ken Arok sendiri saat itu adalah pegawai kepercayaan dari Tunggul Ametung yang sangat dipercaya. Latar belakang pembunuhan ini adalah karena Ken Arok mendengar dari Brahmana Lohgawe bahwa "barang siapa yang memperistri Ken Dedes akan menjadi Raja Dunia".

Sebelum Ken Arok membunuh Tunggul Ametung, keris ini dipinjamkan kepada rekan kerjana, yang bernama Kebo Ijo yang tertarik dengan keris itu dan selalu dibawa-bawanya ke mana mana untuk menarik perhatian umum. Bagi Ken Arok sendiri, peminjaman keris itu adalah sebagai siasat agar nanti yang dituduh oleh publik Tumapel adalah Kebo Ijo dalam kasus pembunuhan yang dirancang sendiri oleh Ken Arok. Siasatnya berhasil dan hampir seluruh publik Tumapel termasuk beberapa pejabat percaya bahwa Kebo Ijo adalah tersangka pembunuhan Tunggul Ametung. Ken Arok yang saat itu adalah orang kepercayaan Tunggul Ametung langsung membunuh Kebo Ijo yang konon, dengan keris pusaka itu.

Setelah membunuh Tunggul Ametung, Ken Arok mengambil jabatannya, memperistri Ken Dedes yang saat itu sedang mengandung dan memperluas pengaruh Tumapel sehingga akhirnya mampu menghancurkan Kerajaan Kediri. Ken Arok sendiri akhirnya mendirikan kerajaan Singhasari. Rupanya kasus pembunuhan ini tercium oleh Anusapati, anak Ken Dedes dengan Tunggul Ametung. Anusapati, yang diangkat anak oleh Ken Arok mengetahui semua kejadian itu dari ibunya, Ken Dedes dan bertekat untuk menuntut balas. Anusapati akhirnya merancang pembalasan pembunuhan itu dengan menyuruh seorang pendekar sakti kepercayaannya, Ki Pengalasan.

Pada saat menyendiri di kamar pusaka kerajaan, Ken Arok mengamati pusaka kerajaan yang dimilikinya. Salah satu pusaka yang dimilikinya adalah keris tanpa sarung buatan Mpu Gandring yang dikenal sebagai Keris Mpu Gandring. Melihat ceceran darah pada keris tersebut, ia merasa ketakutan terlebih lebih terdengar suara ghaib dari dalam keris tersebut yang meminta tumbal. Ia ingat kutukan Mpu Gandring yang dibunuhnya, dan serta merta mebantingnya ke tanah sampai hancur berkeping-keping. Ia bermaksud memusnahkannya.

Ilustrasi Seorang Ken Arok yang tengah menyendiri di kamar pustaka Kerajaan (Sumber: Koleksi Pribadi)

Namun ternyata keris tersebut melayang dan menghilang. Sementara Anusapati dan Ki Pengalasan merancang pembunuhan tersebut, tiba-tiba keris tersebut berada di tangan Anusapati. Anusapati menyerahkan keris kepada Ki Pengalasan yang menurut bahasa sekarang, bertugas sebagai "eksekutor" terhadap Ken Arok. Tugas itu dilaksanakannya, dan untuk menghilangkan jejak, Anusapati membunuh Ki Pengalasan dengan keris itu.

Anusapati mengambil alih pemerintahan Ken Arok, tetapi tidak lama. Karena Tohjaya, Putra Ken Arok dari Ken Umang akhirnya mengetahui kasus pembunuhan itu. Dan Tohjaya pun menuntut balas. Tohjaya mengadakan acara Sabung Ayam kerajaan yang sangat digemari Anusapati. Ketika Anusapati lengah, Tohjaya mengambil keris Mpu Gandring tersebut dan langsung membunuhnya di tempat. Tohjaya membunuhnya berdasarkan hukuman dimana Anusapati diyakini membunuh Ken Arok. Setelah membunuh Anusapati, Tohjaya mengangkat dirinya sebagai raja menggantikan Anusapati.

Ilustrasi Toh Jaya yang Menjadi Raja (Sumber: Koleksi Pribadi)

Tohjaya sendiri tidak lama memerintah. Muncul berbagai ketidak puasan baik dikalangan rakyat dan bahkan kalangan elit istana yang merupakan keluarganya dan saudaranya sendiri, diantaranya Mahisa Campaka dan Dyah Lembu Tal. Ketidakpuasan dan intrik istana ini akhirnya berkobar menjadi peperangan yang menyebabkan tewasnya Tohjaya. Setelah keadaan berhasil dikuasai, tahta kerajaan akhirnya dilanjutkan oleh Ranggawuni yang memerintah cukup lama dan dikatakan adalah masa damai kerajaan Singashari. Sejak terbunuhnya Tohjaya, Keris Mpu Gandring hilang tidak diketahui rimbanya.

Di akhir hayatnya di ujung keris buatannya sendiri, Mpu Gandring mengutuk Ken Arok, bahwa keris itu akan menelan korban tujuh turunan dari Ken Arok. Sekarang marilah kita hitung. Dalam sejarah ataupun legenda yang kita ketahui, ternyata ada 7 (tujuh) orang yang terbunuh oleh Keris Mpu Gandring: Mpu Gandring (Sang Pembuat Keris), Kebo Ijo (rekan Ken Arok), Tunggul Ametung (Penguasa Tumapel saat itu), Ken Arok (Pendiri Kerajaan Singasari), Ki Pengalasan (pengawal Anusapati yang membunuh Ken Arok), Anusapati  (Anak Ken Dedes yang memerintah Ki Pengalasan membunuh Ken Arok), Tohjaya (putera Ken Arok dari selirnya Ken Umang tidak terbunuh oleh keris ini, tetapi terluka oleh lembing, dan akhirnya tewas karena luka-lukanya)

Files