I Cangak: Kebohongan di balik Kesucian

Pedanda Baka, seekor burung bangau rakus berpura-pura menjadi seorang pendeta suci dan memanfaatkan kepandaiannya dalam berbohong. Pedanda Baka berhasil mengelabui semua penghuni telaga hingga hanya tersisa satu makhluk, seekor kepiting cerdik, yang menyadari niat jahatnya. Setelah mengumpulkan bukti kejahatan Pedanda Baka, kepiting tersebut akhirnya memperjuangkan keadilan. Akankah Pedanda Baka menerima akibat dari perbuatannya?

Apr 16, 2026 - 20:01
Nov 25, 2024 - 03:09
I Cangak: Kebohongan di balik Kesucian
Kehadiran I Cangak sebagai Pedanda Baka. (source : personal collection)

Di sebuah tempat yang tenang dan asri, terdapat sebuah telaga kecil bernama Telaga Kumudawati. Airnya yang sangat jernih, memungkinkan kita melihat dasar telaga yang dipenuhi dengan kehidupan. Di dalam telaga ini, berbagai jenis mahluk seperti kepiting, katak dan ikan hidup dengan damai dan harmonis.  

KehidupanTelaga Kumudawati (sumber: Koleksi pribadi)

Selain keberadaan berbagai jenis ikan yang melimpah, telaga kecil ini juga merupakan tempat berkumpulnya berbagai jenis burung yang bertengger di sekelilingnya. Namun, di antara berbagai burung yang ada, terdapat burung bangau yang dikenal dengan nama Pedanda Baka yang memiliki sifat sangat rakus dan nafsu. Keberadaan Pedanda Baka di tepi telaga menimbulkan rasa ancaman bagi kalangan para ikan, karena burung bangau tersebut secara terus-menerus berusaha memangsa mereka dan keluarganya.

 Pedanda Baka Sebagai Sosok Yang Suci (sumber: Koleksi pribadi)

Niat jahat Pedanda Baka, pertama kali muncul ketika ia mulai memperdaya ikan-ikan dengan berpura-pura menjadi sosok yang suci mengenakan anting, serta aksesoris Ganitri serta Ketu dan menjalani praktik mabrata, tidak lagi memangsa para ikan. Perilaku baru ini membuat ikan-ikan kagum dan mereka sepakat untuk mengangkatnya sebagai Dang Guru, berharap mendapatkan ajaran dan bimbingan yang benar.

Melihat kebahagiaan yang menyelimuti mereka, Pedanda percaya bahwa tipu dayanya yang telah dirancang dengan cermat akan berhasil. Hingga, ketika Pedanda Baka bertengger di pinggir kolam ia tiba-tiba menangis terisak-isak dan dengan suaranya yang terdengar terbata-bata berujar bahwa ia baru saja mendengar berita bahwa kekeringan di Telaga Kumudawati akan segera datang untuk mengambil segala isinya, yaitu saudara-saudara ikan. 

Meskipun kata-kata Pedanda Baka tampak penuh kesedihan sebenarnya itu semua adalah tipu daya yang bisa membahayakan para ikan. Namun, ikan-ikan tidak menyadari niat jahat di balik kata-kata Pedanda Baka. Akibatnya semua ikan memohon keselamatan dengan wajah sedih dan penuh harapan. Pedanda Baka kemudian membalas dengan nada menenangkan kepada para ikan untuk pergi ke  sebuah kolam yang sangat bening bernama Andhawana, miliki Ida Sang Hyang Rudra.

Mendapatkan informasi dan arahan dari Pedanda Baka, para ikan merasa yakin dan siap untuk menyerahkan diri sepenuhnya, tanpa menyadari bahwa mereka sedang diperdaya. Pedanda Baka, dengan kepandaian berbicaranya, berhasil meyakinkan ikan-ikan tersebut bahwa mereka akan dipindahkan ke tempat yang lebih baik dan aman. Bahkan, mereka menjadi sangat antusias dan saling berlomba untuk menjadi yang pertama dipindahkan. 

Kejahatan Pedanda Baka di Kolam Andhawana (sumber: Koleksi pribadi)

Pedanda Baka, si bangau yang cerdik, dengan gesit dan cekatan membawa ikan-ikan tersebut menggunakan kaki dan mulutnya, lalu terbang menuju puncak gunung. Dalam perjalanan tersebut, Pedanda Baka mengatur setiap langkahnya dengan hati-hati untuk memastikan bahwa semua ikan terangkut dan dipindahkan dengan sukses.

Di puncak Gunung, batu besar yang permukaannya mengkilat dengan indah ketika terkena sinar matahari. Setiap hari, Pedanda Baka, akan datang ke lokasi ini untuk melakukan kegiatannya yang sudah menjadi rutinitas sehari-hari, yaitu memangsa ikan. Para ikan yang berkelana di sekitar area tersebut sering kali tidak menyadari bahaya yang mengancam. Mereka dengan ceroboh atau tidak tahu arah dapat dengan mudah terperangkap dan menuju ke tempat yang telah ditentukan untuk mereka, tanpa menyadari bahwa mereka sedang menuju ke dalam nasib buruk yang telah direncanakan dengan cermat oleh Pedanda Baka. 

Kepiting dan pedanda baka (sumber: Koleksi pribadi)

Saat ini, di telaga yang dulu kaya akan kehidupan, hampir tidak tersisa lagi karena sebagian besar telah dipindahkan ke puncak gunung oleh Pedanda Baka. Hanya ada satu penghuni telaga yang tersisa, yaitu seekor kepiting yang cerdik dan ulet. kepiting ini terus bertahan di tempat yang sama, menjadi saksi bisu dari perubahan besar yang telah terjadi dan tetap menjadi bagian dari ekosistem yang perlahan berubah. 

Sang Kepiting, yang merasa perlu menguji sejauh mana niat Pedanda Baka, memutuskan untuk membuat sebuah perjanjian. Dalam perjanjian tersebut, Kepiting meminta untuk diantar ke Taman Bhatawati, sebuah lokasi yang diyakini sebagai tempat yang dapat memberi tahu sifat asli dari Pedanda Baka. Menyadari bahwa dengan kaki-kakinya yang terbatas ia tidak akan mampu menempuh perjalanan tersebut, Kepiting meminta agar ia digantung di leher Pedanda Baka selama perjalanan mereka.

Sampailah disaat  mereka mendekati tujuan yang dituju, Sang Kepiting mulai memperhatikan keadaan sekitar dan pandangannya tertuju pada sebuah batu lebar yang mengkilat dari kejauhan, di atas batu tersebut terlihat tulang-tulang ikan yang berserakan dimana merupakan bekas dari mangsa Pedanda Baka

Setelah menyaksikan bukti kejahatan Pedanda Baka yang sangat kejam, Sang Kepiting merasakan kemarahan yang membara.  Sang Kepiting mulai menjepit leher pedanda baka dengan kuat. Pedanda Baka dengan nada yang penuh penyesalan dan rasa takut meminta maaf, mengakui kesalahannya, dan berharap agar diberikan kesempatan untuk memperbaiki tindakannya. Namun, sang Kepiting hanya menjawab “Bawa aku ke tengah kolam!”. Tanpa membantah, Pedanda Baka dengan hati-hati mengikuti perintah sang Kepiting kembali menuju Taman Manasara.

Kematian Pedanda Baka  (sumber: Koleksi pribadi)

Setibanya mereka di tengah kolamTaman Manasara , sang Kepiting mempersiapkan diri untuk melaksanakan tindakannya yang telah direncanakan. Sementara Pedanda Baka, masih berada dalam keadaan terjepit, menunggu dengan penuh kecemasan dan ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Begitu sang Kepiting yakin dengan keputusannya, ia segera melaksanakan tindakannya. Dalam posisi yang sangat strategis, kepiting itu menjepit leher Pedanda Baka dengan sangat kuat. Cengkraman yang penuh kekuatan itu akhirnya memutuskan leher Pedanda Baka.

Sesaat setelahnya, Pedanda Baka meninggal dunia. Dengan demikian, akhir hidup Pedanda Baka menjadi tragis, sebagai hasil dari perbuatannya yang jahat. dimana Pedanda Baka yang memperdaya ikan-ikan dan makhluk lainnya kini menuai akibat yang setimpal. Tindakan jahatnya membawa konsekuensi yang sesuai dengan kejahatannya.

Files