Ketika Seni Tradisi Bali Menemukan Jalannya ke Panggung yang Lebih Luas: Sanggar Wahyu Giri Swara
Sanggar Tari dan Tabuh Wahyu Giri Swara merupakan wadah pembinaan seni yang bertujuan mewadahi generasi penerus untuk belajar dan melestarikan kesenian Bali. Nama Wahyu Giri Swara bermakna anugerah besar yang diharapkan dapat memberkati setiap peserta didik dalam proses pembelajaran seni. Sanggar ini terbentuk dari keinginan pemimpinnya untuk menjaga keberlanjutan seni dan budaya Bali di tengah perkembangan zaman.
Tempat Sanggar Wahyu Giri Swara (Sumber Foto: Koleksi Studio)
Pada awalnya, sanggar ini berdiri pada tahun 1993 dan berlokasi di Desa Tanjung Benoa dengan nama Lingga Sempurna. Seiring berjalannya waktu, pendiri sanggar menetap secara permanen di Perumahan Taman Jimbaran III No. B/86, Desa Jimbaran, sehingga sanggar pun berpindah lokasi ke alamat tersebut. Sanggar ini kemudian dikenal sebagai Sanggar Tari dan Tabuh Lang-Lang Bhuana IV, cabang dari Sanggar Lang-Lang Bhuana di Denpasar, sebelum akhirnya pada tahun 2019 resmi berganti nama menjadi Sanggar Tari dan Tabuh Wahyu Giri Swara untuk keperluan perizinan pemerintah.
Anak-anak Berlatih Tari diSanggar Wahyu Giri Swara (Sumber Foto: Koleksi Studio)
Sanggar Tari dan Tabuh Wahyu Giri Swara diketuai oleh I Ketut Sudiarta, S.Skar., dan pada awal berdirinya hanya berfokus pada pelatihan seni tari Bali dengan peserta didik yang sebagian besar merupakan anak-anak. Seiring meningkatnya minat masyarakat, khususnya di wilayah Kuta Selatan, sanggar ini mulai mengembangkan pelatihan seni tabuh sejak tahun 2005. Hingga kini, sanggar menerima peserta didik tari dan tabuh dengan jumlah aktif sekitar 100 orang yang berasal dari berbagai daerah.
Anak-anak Berlatih Tabuh di Studio Wahyu Giri Swara (Sumber Foto: Koleksi Studio)
Jenis pelatihan yang diselenggarakan di Sanggar Wahyu Giri Swara meliputi latihan menari dan megambel yang dilaksanakan satu kali dalam seminggu. Latihan diawali dengan megambel pada pukul 09.00 hingga 13.00 WITA dan dilanjutkan latihan tari pada pukul 15.00 hingga 18.00 WITA, dengan pembagian kelas bertingkat dari kelas 0 kecil hingga kelas 5 sesuai kemampuan peserta. Sistem pelatihan tabuh menerapkan metode meguru kuping, yaitu belajar dengan cara mendengar dan menirukan langsung permainan guru secara bergiliran setiap 30 menit dengan pendampingan kakak kelas. Sementara itu, pelatihan tari diawali dengan pemanasan khusus dan menggunakan musik sebagai acuan ketukan untuk menyatukan gerak tari yang dipelajari.
Prestasi yang Diraih oleh Sanggar Wahyu Giri Swara (Sumber Foto: Koleksi Studio)
Letak sanggar yang dekat dengan kawasan perhotelan membuka peluang bagi peserta didik untuk memperoleh pengalaman pentas secara langsung. Sanggar Tari dan Tabuh Wahyu Giri Swara aktif mengisi hiburan seni tari Bali di hotel-hotel kawasan Nusa Dua serta turut serta dalam kegiatan upacara keagamaan atau ngayah. Selain itu, sanggar ini juga mencatat berbagai prestasi, termasuk pernah mewakili Kabupaten Bangli dalam Pesta Kesenian Bali tahun 2005 dan aktif meraih juara dalam berbagai ajang perlombaan seni. Pada periode 2002 hingga 2004, sanggar ini juga pernah menjalin kerja sama internasional melalui kegiatan pementasan dan pengajaran seni tari Bali di Jepang, sebelum kegiatan tersebut terhenti sementara akibat merebaknya wabah flu babi.