Menggema dari Bukit Ungasan: Perjalanan Seorang Seniman Muda dalam Seni Tradisi

Perjalanan seorang seniman muda asal Desa Ungasan yang menekuni seni karawitan sebagai bentuk pengabdian terhadap tradisi Bali. Ketertarikannya tumbuh sejak usia dini dan berkembang melalui pendidikan serta pengalaman berkesenian di berbagai ajang seni. Bagi tokoh ini, seni tidak semata soal prestasi, melainkan ngayah, kebersamaan, dan tanggung jawab menjaga warisan leluhur. Di tengah tantangan modernisasi, kisah ini menegaskan bahwa peran seniman muda sangat penting dalam memastikan seni tradisi Bali tetap hidup dan berkelanjutan.

May 27, 2026 - 05:56
May 26, 2026 - 21:08
Menggema dari Bukit Ungasan: Perjalanan Seorang Seniman Muda dalam Seni Tradisi
 Wawancara Seniman (Sumber Photo: Koleksi Pribadi)

Di tengah perkembangan pariwisata dan arus modernisasi yang bergerak cepat, seni tradisi Bali menghadapi tantangan yang tidak ringan. Gawai, hiburan digital, dan budaya populer kian mendominasi keseharian generasi muda. Namun, di balik perubahan itu, masih ada anak-anak muda yang memilih berjalan pelan menjaga, merawat, dan menghidupkan kembali seni yang telah diwariskan turun-temurun.

Salah satunya adalah I Komang Sukajaya Sudarma, S. Sn. , seorang seniman muda asal Desa Ungasan yang menekuni seni karawitan dengan kesadaran penuh akan perannya dalam kehidupan masyarakat Bali.

I Komang Sukajaya Sudarma, S. Sn. (Sumber Photo: Koleksi Pribadi)

Ketertarikannya pada dunia seni tumbuh sejak usia dini. Semasa duduk di bangku sekolah dasar, ia telah aktif mengikuti kegiatan sanggar seni, meski saat itu minatnya lebih condong pada seni rupa, khususnya menggambar wayang Kamasan. Seiring waktu, perkenalannya dengan gamelan membuka jalan baru. Saat memasuki bangku SMP, ia mulai menekuni seni karawitan secara lebih serius dan terlibat dalam festival gong kebyar pada ajang Pesta Kesenian Kabupaten Badung.

Perjalanan tersebut berlanjut ke jenjang pendidikan formal. Ia memilih menempuh pendidikan di SMKN 5 Denpasar (jurusan seni karawitan), kemudian melanjutkan studi ke Institut Seni Indonesia Denpasar. Pilihan ini dilandasi kesadaran bahwa seni karawitan memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Bali yang lekat dengan upacara, adat, dan ritual keagamaan. Tanpa regenerasi, seni ini perlahan dapat kehilangan tempatnya.

Latihan rutin (Sumber Photo: Koleksi Pribadi)

Kesadaran tersebut menguatkan tekadnya untuk terus berkarya dan berkontribusi, khususnya bagi Desa Ungasan, yang pada masa lalu cukup kekurangan generasi muda penekun seni karawitan. Dalam proses berkesenian, nilai ngayah menjadi prinsip utama yang selalu ia pegang. Baginya, seni tidak dapat sepenuhnya diukur dengan materi dan finansial. Meski kebutuhan hidup tidak bisa diabaikan, tidak semua hal dalam seni layak diperhitungkan secara ekonomis. Ngayah adalah bentuk pengabdian yang menjadikan seni sebagai bagian dari kehidupan.

Selama menekuni seni karawitan, berbagai capaian berhasil ia raih, baik sebagai penata tabuh maupun sebagai penabuh. Di antaranya adalah Juara 1 Baleganjur Umum se-Bali Festival Penjor GWK 2025, Juara Harapan 3 Baleganjur Umum se-Bali Festival Kesenian Kabupaten Badung, serta sejumlah prestasi lain di tingkat desa dan kabupaten. Sebagai pemain, ia juga meraih penghargaan seperti Juara Harapan 1 Gong Kebyar Anak-anak Kabupaten Badung (2012) dan Juara Favorit Kendang Tunggal pada ajang Wisba Fest.

Lomba Baleganjur GWK (Sumber Photo: Koleksi Pribadi)

Namun baginya, prestasi bukanlah tujuan utama. Setiap pertunjukan selalu dimaknai sebagai proses belajar. Salah satu pengalaman paling berkesan adalah ketika ia pertama kali membimbing 2 kelompok baleganjur dari nol dalam satu ajang lomba yang sama. Dengan keterbatasan yang ada, kerja keras dan kebersamaan akhirnya membuahkan hasil Juara 2 dan Harapan 1. Pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa kesungguhan lebih menentukan daripada kelengkapan fasilitas.

Pandangan hidupnya terhadap seni pun berkembang. Ia pernah berpikir bahwa keterbatasan dana akan menghambat proses berkesenian. Namun pengalaman membuktikan sebaliknya. Dengan kesederhanaan, proses tetap dapat berjalan maksimal. Uang memang penting, tetapi tidak mampu membeli semangat, disiplin, dan rasa kebersamaan.

Photoshoot PKB (Sumber Photo: Koleksi Pribadi)

Mengenai generasi muda, ia justru melihat harapan. Minat terhadap seni tradisi, khususnya karawitan, dinilainya tidak menurun. Berbagai pelatihan yang menyasar anak-anak menunjukkan antusiasme yang tinggi. Menurutnya, seniman muda memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan budaya Bali, menghadirkan ide-ide baru tanpa menghilangkan esensi dan taksu seni itu sendiri.

Ke depan, ia berharap seni tradisi Bali dapat terus dijaga dan dihargai secara layak, termasuk oleh pelaku pariwisata agar seni tidak dipandang sebagai hiburan murah. Ia juga menekankan pentingnya pelatihan seni sejak usia dini, agar generasi muda tumbuh dengan kecintaan terhadap tradisi.

Dari Desa Ungasan, langkahnya mungkin tidak selalu terlihat besar. Namun dari tangan-tangan muda seperti inilah, seni karawitan Bali terus berdetak menggema, hidup, dan diwariskan dari generasi ke generasi.