Di Balik Gerak Tari: Kisah Hidup I Made Openanta Sang Penjaga Jiwa Budaya Bali
Apa yang membuat seseorang bertahan puluhan tahun di dunia seni? Melalui kisah hidup I Made Openanta, artikel ini menyingkap perjalanan seorang seniman tari Bali yang menjadikan seni sebagai pengabdian dan napas hidup. Sebuah cerita tentang disiplin, nilai, dan pewarisan budaya di tengah perubahan zaman.
Biografi Seniman
Di balik setiap gerak tari Bali yang tampak anggun dan terukur, tersimpan proses panjang yang tidak lahir begitu saja. Gerak itu tumbuh dari disiplin, pengabdian, dan perjalanan hidup seorang seniman. Salah satu sosok yang konsisten menjaga denyut kehidupan seni tari Bali adalah I Made Openanta, S.Sn., M.Pd., pendiri Sanggar Tari Bali Nanta Kemara sekaligus guru seni budaya di SMAN 4 Denpasar. Lebih dari lima puluh tahun hidupnya ia abdikan untuk dunia seni tari.
Perjalanan Panjang Seorang Seniman
Ketertarikan I Made Openanta terhadap seni tari telah tumbuh sejak usia sangat dini. Ia mulai belajar menari sejak kelas 2 sekolah dasar, berguru kepada beberapa seniman dari wilayah Blahbatuh. Sejak masa kanak-kanak, tari tidak hanya hadir sebagai kegiatan belajar, tetapi juga sebagai ruang pengabdian. Ia terbiasa ngayah di pura, mengikuti kegiatan adat, hingga tampil di berbagai kesempatan sebagai bagian dari proses pembelajaran hidup.
Perjalanan tersebut semakin terarah ketika ia menempuh pendidikan seni di KOKAR (Konservatori Karawitan Indonesia) yang kemudian berkembang menjadi SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia) dan kini dikenal sebagai SMK Negeri 3 Sukawati. Lingkungan sekolah seni ini menjadi ruang penting bagi pembentukan keterampilan dan karakter seniman muda. Hingga kelas empat, ia terus menari dan mengasah kemampuan tanpa henti.
Selepas itu, ia melanjutkan pendidikan ke ASTI (Akademi Seni Tari Indonesia) yang kemudian bertransformasi menjadi STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) dan kini dikenal sebagai Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Selama masa pendidikan tinggi, ia banyak terlibat dalam pementasan, pelatihan, serta berbagai kegiatan seni lintas daerah dan mancanegara. Di luar jalur akademik, ia juga aktif berkesenian melalui ARTI Foundation yang berbasis di Art Centre Denpasar, sebuah ruang seni yang pada masanya menjadi pusat aktivitas dan kolaborasi seniman Bali.
Proses wawancara dengan I Made Openanta dalam penggalian kisah perjalanan hidupnya sebagai seniman (Sumber: Koleksi Pribadi)
Seluruh pengalaman tersebut membentuknya tidak hanya sebagai penari, tetapi juga sebagai pembina dan pendidik seni. Hingga kini, I Made Openanta telah berkecimpung di dunia seni tari selama lebih dari lima dekade.
Tari sebagai Ekspresi Jiwa dan Pengabdian
Bagi I Made Openanta, seni tari Bali bukan sekadar rangkaian gerak yang indah. Tari adalah ekspresi jiwa manusia yang diwujudkan melalui gerak ritmis dan bernilai estetis. Seni menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hidupnya karena selalu hadir dalam keseharian masyarakat Bali, terutama dalam konteks adat dan agama.
Ia memandang seni sebagai jalan pengabdian. Di mana ada kegiatan keagamaan, di sanalah seni hidup dan berfungsi. Meskipun secara formal berprofesi sebagai guru seni budaya, ia selalu kembali pada dunia seni sebagai pusat kehidupannya. Seni bukan hanya profesi, melainkan napas yang terus menghidupi langkahnya.
Disiplin sebagai Prinsip Berkarya dan Membimbing
Pengalaman panjang di dunia seni membentuk prinsip hidup yang kuat. Salah satu nilai utama yang selalu ditanamkan I Made Openanta adalah disiplin. Disiplin, baginya, tidak hanya berkaitan dengan latihan atau pementasan, tetapi juga menyangkut sikap hidup: tepat waktu, bertanggung jawab, dan menuntaskan setiap proses yang telah dimulai.
Dalam dunia seni yang berorientasi pada praktik, disiplin menjadi fondasi utama. Ia meyakini bahwa seniman yang terbiasa berlatih dan tampil di panggung akan lebih mudah menyesuaikan diri di berbagai lingkungan, karena ditempa oleh pengalaman nyata, bukan sekadar teori. Prinsip inilah yang terus ia wariskan kepada generasi muda yang dibimbingnya.
Anak-anak berlatih tari Bali sebagai bagian dari proses pendidikan dan pewarisan nilai budaya (Sumber: Koleksi Pribadi)
Kontribusi sebagai Bentuk Pengabdian Budaya
Kontribusi I Made Openanta terhadap perkembangan seni tari Bali lahir dari rasa panggilan untuk mengabdi. Baginya, seni akan tetap ajeg selama kehidupan adat dan keagamaan masih berjalan. Selama masyarakat masih menjalankan upacara, seni tari akan selalu memiliki tempat.
Melalui perannya sebagai penari, pembina, pendidik, dan seniman, ia terus terlibat dalam aktivitas seni di tengah masyarakat. Mengajar dan membina bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk pelayanan budaya yang menghubungkan seni dengan kehidupan sosial masyarakat Bali.
Kegelisahan dan Harapan untuk Generasi Muda
Di tengah arus globalisasi dan kuatnya pengaruh media sosial, I Made Openanta menyimpan kegelisahan sekaligus harapan. Ia menyadari bahwa ruang belajar seni bisa semakin menyempit jika tidak dijaga. Karena itu, keberadaan sanggar menjadi penting sebagai wadah pengayoman dan pelestarian seni.
Menurutnya, langkah awal yang harus ditanamkan pada anak-anak adalah rasa cinta terhadap seni. Ketika anak sudah mencintai tari, mereka akan terdorong untuk belajar, memahami, dan mempraktikkannya sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Seni tari juga berfungsi sebagai pengikat nilai yang mampu membentengi generasi muda dari dampak negatif globalisasi.
Belajar tari sejak usia dini diyakininya dapat membentuk karakter, ketangguhan mental, serta kesiapan generasi muda dalam menghadapi tantangan zaman.
Menjaga Jiwa Budaya Bali
Kisah hidup I Made Openanta menunjukkan bahwa menjaga seni bukan hanya tentang mempertahankan tradisi, tetapi tentang menjaga jiwa budaya. Melalui disiplin, pengabdian, dan kecintaan terhadap seni, ia terus menyalakan api pewarisan budaya Bali kepada generasi berikutnya. Di balik setiap gerak tari yang diajarkan, tersimpan nilai, pengalaman, dan harapan agar seni Bali tetap hidup, tumbuh, dan bermakna di tengah perubahan zaman.