Laklak Biu Men Bayu: Crepes Tradisional Bali yang Lahir dari Tungku Tanah Liat

Laklak Biu Men Bayu bukan sekadar jajanan tradisional, melainkan cerminan kesederhanaan dan kekayaan warisan kuliner Bali. Melalui proses memasak dengan tungku tanah liat dan resep yang dijaga turun-temurun, crêpes tradisional ini terus memikat warga lokal maupun wisatawan di Tabanan.

Jan 4, 2026 - 06:23
Dec 30, 2025 - 21:19
Laklak Biu Men Bayu: Crepes Tradisional Bali yang Lahir dari Tungku Tanah Liat
Tipis, sederhana, dan penuh cerita Laklak Biu Men Bayu adalah bukti bahwa rasa terbaik lahir dari tradisi

Di sela hiruk pikuk jalan utama Penebel, ada satu jajanan tradisional Bali yang selalu menarik perhatian siapa pun yang lewat, terutama pecinta kuliner dan wisatawan yang sedang menjelajah Tabanan. Namanya Laklak Biu Men Bayu, kudapan lokal yang bisa kita sebut sebagai crêpes versi tradisional Bali karena bentuknya yang tipis dan proses pembuatannya yang sederhana namun penuh karakter.

Laklak Biu yang Sangat Lezat dan Menggiurkan (Sumber: Koleksi Pribadi)

Bukan sekadar jajanan pasar biasa, Laklak Biu Men Bayu sudah mengisi ragam kuliner Bali selama lebih dari satu dekade. Kue ini dijual di warung sederhana dekat Balai Banjar Penebel Kaja, Kecamatan Penebel, dan tetap laku keras baik oleh warga lokal maupun wisatawan yang kebetulan lewat.

Pemiliknya, I Ketut Sutarma, menceritakan bagaimana awalnya Laklak Biu hanya menjadi usaha sampingan dari neneknya yang juga berjualan bubur ayam. Namun, aroma khas laklak yang dipanggang dengan kayu bakar justru menjadi daya tarik utama bagi pembeli. Sejak 2009, laklak terus berkembang menjadi ikon kuliner lokal yang disantap sebagai sarapan, camilan sore bersama kopi, atau oleh-oleh setelah piknik di sekitar Bedugul dan Jatiluwih.

Laklak yang Dimasak di Atas Tungku Tanah Liat Menggunakan Kayu Bakar (Sumber: Koleksi Pribadi)

Yang membuat Laklak Biu Men Bayu begitu spesial adalah cara dan bahan pembuatannya yang tetap tradisional. Adonan laklak dimasak di atas cetakan tanah liat dengan tungku kayu bakar, sebuah proses yang memberi aroma unik yang sulit ditiru oleh kompor gas modern.

Rasa manisnya pun bukan dari gula buatan, melainkan dari irisan pisang segar yang ditambahkan ketika adonan mulai matang, dipadu kelapa parut yang gurih. Kombinasi sederhana inilah yang membuat laklak terasa ringan namun tetap menggugah selera, sangat cocok dinikmati saat santai sore sambil menyeruput kopi Bali.

Laklak Biu Men Bayu, tipis sederhana penuh cerita (Sumber: Koleksi Pribadi)

Meski akarnya sangat tradisional, Laklak Biu Men Bayu tidak ketinggalan tren. Selain rasa original, kini hadir varian dengan topping cokelat dan keju yang tetap mempertahankan keaslian cita rasa Bali namun memberi kejutan baru bagi lidah generasi masa kini. Varian ini membuat laklak tidak hanya dinikmati oleh generasi tua, tetapi juga oleh anak muda dan wisatawan. Sentuhan modern tersebut memperluas jangkauan penikmat laklak tanpa menghilangkan identitas tradisionalnya.

Keberhasilan Laklak Biu Men Bayu mempertahankan eksistensinya selama lebih dari sepuluh tahun bukan sekadar soal rasa. Laklak ini juga menjadi bagian dari upaya melestarikan warisan kuliner Bali dan kerap dibawa ke pameran kuliner lokal hingga nasional. Terlepas dari lokasi warungnya yang sederhana, antusiasme pembeli yang datang dari berbagai kota menunjukkan bahwa kuliner tradisional tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat, terutama ketika resep turun-temurun dipadukan dengan kreativitas masa kini.