Napas Taksu di Nusa Dua: Dari Alunan Tabuh hingga Rautan Bambu Penjor Sanggar Jaya Art

Sanggar Jaya Art di Nusa Dua merupakan wadah pelestarian seni Bali melalui kegiatan tari, tabuh, serta pembuatan penjor dan kerajinan upacara. Berawal dari kumpulan keluarga dengan hobi seni, sanggar ini kini menjadi tempat belajar bagi generasi muda. Dengan makna “Jaya” yang berkesinambungan, Sanggar Jaya Art menjaga taksu seni Bali agar tetap hidup.

Aug 17, 2026 - 05:32
Aug 17, 2026 - 11:37
Napas Taksu di Nusa Dua: Dari Alunan Tabuh hingga Rautan Bambu Penjor Sanggar Jaya Art
Perayaan HUT ke-3 dan Evaluasi Kenaikan Tingkat Penari Sanggar Jaya Art 2025 (Sumber: Koleksi Pribadi)

Nusa Dua dikenal sebagai kawasan wisata dengan deretan hotel besar dan pantai yang indah. Namun, di balik ramainya aktivitas pariwisata, kehidupan budaya Bali tetap hidup dan dijaga. Salah satu buktinya adalah Sanggar Jaya Art, sanggar seni yang hingga kini aktif mengembangkan dan melestarikan seni tradisional Bali di tengah perubahan zaman.

Melalui kegiatan tabuh, tari, serta pembuatan penjor dan kerajinan upacara, Sanggar Jaya Art terus menghidupkan taksu, yaitu jiwa dalam seni Bali yang lahir dari ketulusan, kebersamaan, dan proses panjang yang dijalani dengan sungguh-sungguh.

Makna JAYA: Harapan yang Berkelanjutan

Nama Jaya Art bukan sekadar identitas. Kata “Jaya” bermakna pemenang, juara, dan berkesinambungan. Makna ini menjadi dasar sekaligus harapan sanggar, yaitu melahirkan penari dan penabuh yang mumpuni, serta menjaga seni dan kebudayaan Bali agar terus hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Harapan tersebut tidak berhenti sebagai nama, tetapi diwujudkan melalui latihan rutin, keterlibatan dalam kegiatan adat dan keagamaan, serta proses pembelajaran yang konsisten dan terbuka bagi generasi muda.

Sanggar yang Tumbuh Bersama Masyarakat Nusa Dua

Berlokasi di wilayah Nusa Dua, Sanggar Jaya Art tumbuh dan berkembang bersama masyarakat sekitarnya. Sanggar ini menjadi ruang berkumpul, belajar, dan berkarya, terutama bagi anak-anak dan remaja yang memiliki minat pada seni tradisional Bali.

Kegiatan sanggar tidak terbatas pada satu bidang seni. Selain seni tari, Sanggar Jaya Art aktif mengembangkan seni tabuh atau karawitan. Sanggar ini juga mengerjakan penjor, berbagai kerajinan berbahan bambu untuk upacara adat, serta menerima pembuatan ogoh-ogoh, khususnya menjelang Hari Raya Nyepi. Ragam kegiatan ini membuat sanggar dekat dengan kehidupan adat dan kebutuhan masyarakat.

Sudut Latihan Sanggar Jaya Art yang Menjadi Rumah bagi Pencinta Seni (Sumber: Koleksi Pribadi)

Awal Berdirinya Sanggar Jaya Art

Sanggar Jaya Art mulai dirintis sekitar lima tahun yang lalu, sebelum pandemi Covid-19. Kegiatan seni ini berawal dari lingkungan keluarga kecil yang sering berkumpul karena memiliki hobi yang sama, yaitu megamel (bermain gamelan) dan menari.

Latihan dilakukan secara sederhana dan penuh suasana kekeluargaan. Salah satu anggota keluarga tersebut merupakan lulusan jurusan seni tari, sehingga menjadi penggerak awal dalam proses pembelajaran. Dari pertemuan-pertemuan rutin itulah muncul gagasan untuk membentuk wadah seni yang lebih luas dan terbuka bagi masyarakat.

Setelah melalui proses yang cukup panjang, sanggar ini akhirnya diresmikan sekitar tiga tahun yang lalu dengan nama Sanggar Jaya Art. Sejak saat itu, kegiatan latihan tari, tabuh, serta pembuatan sarana upacara berjalan lebih teratur dan melibatkan semakin banyak anak-anak serta remaja di lingkungan Nusa Dua.

Sosok di Balik Sanggar Jaya Art

Sanggar Jaya Art dikelola oleh ketua sanggar I Nyoman Widnyana, yang akrab disapa Mang Lejug, bersama dua orang pelatih. Para anggota sanggar didominasi oleh anak-anak dan remaja yang sejak dini diperkenalkan pada seni tradisional Bali.

Menurut Mang Lejug, sanggar ini dibentuk sebagai wadah positif bagi generasi muda. Di sini, mereka tidak hanya belajar teknik menari atau menabuh, tetapi juga nilai disiplin, kebersamaan, tanggung jawab, dan rasa saling menghargai dalam berkesenian.

Penulis bersama Penggagas Sanggar Jaya Art Usai Sesi Wawancara (Sumber: Koleksi Pribadi)

Belajar Tari: Gerak, Rasa, dan Proses

Pembelajaran tari tradisional Bali menjadi salah satu kegiatan utama di Sanggar Jaya Art. Proses latihan dimulai dari gerakan dasar, sikap tubuh, hingga pemahaman ekspresi dan rasa dalam menari. Setiap anggota dilatih secara bertahap sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Suasana latihan dibuat santai namun tetap disiplin, sehingga anak-anak merasa nyaman dan menikmati proses belajar. Melalui latihan tari, anggota sanggar tidak hanya menguasai gerakan, tetapi juga belajar percaya diri, fokus, dan menghargai proses.

Alunan Tabuh yang Menyatukan

Selain tari, latihan tabuh menjadi bagian penting dari keseharian sanggar. Suara gamelan yang terdengar menandai aktivitas latihan yang terus berjalan. Pembelajaran tabuh dilakukan secara bertahap, mulai dari pengenalan alat hingga memainkan tabuh yang digunakan dalam upacara adat dan pertunjukan.

Setiap pemain memiliki peran masing-masing. Tabuh hanya akan terdengar selaras jika dimainkan bersama dengan kompak. Dari proses inilah tumbuh nilai kebersamaan dan kerja sama antar anggota.

Rautan Bambu dan Pembuatan Penjor

Sanggar Jaya Art juga aktif dalam pembuatan penjor dan kerajinan upacara. Prosesnya meliputi meraut bambu, menyusun hiasan, hingga merangkai penjor yang siap digunakan saat hari raya.

Kegiatan ini semakin ramai menjelang hari besar keagamaan. Para anggota terlibat langsung dalam setiap tahap, sehingga memahami bahwa seni Bali tidak hanya hadir di panggung, tetapi juga menjadi bagian penting dari sarana upacara yang penuh makna.

Kegiatan yang Terus Berjalan

Aktivitas di Sanggar Jaya Art dilakukan secara rutin dan berkelanjutan. Jadwal latihan disesuaikan dengan waktu luang para anggota, terutama yang masih bersekolah. Selain latihan rutin, sanggar juga aktif saat ada pementasan, upacara adat, serta pesanan pembuatan penjor dan ogoh-ogoh. Konsistensi inilah yang menjadi kunci dalam menjaga keberlangsungan seni dan budaya.

Sebagai wadah pembelajaran seni, Sanggar Jaya Art memiliki jadwal latihan rutin sebagai berikut:

Sabtu: pukul 10:00-13:00 WITA

Minggu: pukul 15:00-18:00 WITA

Menjaga Minat Generasi Muda

Mang Lejug menyadari bahwa tantangan terbesar saat ini adalah menjaga minat generasi muda di tengah pengaruh teknologi dan hiburan modern. Namun, dengan pendekatan yang santai, menyenangkan, dan melibatkan anggota langsung dalam kegiatan adat, seni tradisional tetap bisa diminati dan dijalani dengan penuh semangat.

Aksi Memukau Siswa Sanggar Jaya Art saat Uji Kenaikan Tingkat Tahun 2025 (Sumber: Koleksi Pribadi)

Taksu yang Terus Hidup

Sanggar Jaya Art bukan hanya tempat latihan seni, tetapi juga ruang untuk menjaga nilai-nilai budaya Bali. Dari alunan tabuh, latihan tari, hingga rautan bambu penjor, semua dijalani dengan kebersamaan dan ketulusan.

Di tengah perkembangan Nusa Dua sebagai kawasan wisata, Sanggar Jaya Art tetap berdiri sebagai penjaga seni tradisional. Selama masih ada generasi muda yang mau belajar, menabuh gamelan, menari, dan meraut bambu untuk penjor, taksu seni Bali akan terus hidup dan diwariskan secara berkesinambungan, sejalan dengan makna kata Jaya yang menjadi nama sanggar ini.