Ida Ayu Triana Titania Manuaba: Dari Panggung Tari ke Layar Digital, Menjaga Tradisi di Dunia Nyata dan Maya
Di tengah pergeseran zaman yang kian cepat, menjaga tradisi tidak selalu berarti bertahan di satu ruang yang sama. Bagi Ida Ayu Triana Titania Manuaba, seni tari Bali justru menemukan ruang hidupnya yang baru, bergerak dari panggung ke layar digital, tanpa kehilangan akar dan maknanya. Perjalanan hidupnya memperlihatkan bagaimana tradisi dapat terus tumbuh, beradaptasi, dan menjangkau generasi lintas batas.
Latar Belakang dan Jejak Seni
Ida Ayu Triana Titania Manuaba, atau yang akrab disapa Kak Titania, lahir di Denpasar pada 27 September 1998. Ia menempuh pendidikan formal seni di Institut Seni Indonesia Denpasar, menyelesaikan studi Sarjana dan Magister pada Program Studi Penciptaan Seni Tari. Latar belakang akademik ini memperkuat posisinya sebagai praktisi seni yang tidak hanya bergerak di ranah pertunjukan, tetapi juga memahami seni tari sebagai pengetahuan dan proses penciptaan. Ia juga merupakan cucu dari maestro tari Bali, almarhum Ida Bagus Blangsinga, pencipta Tari Kebyar Duduk, sebuah warisan besar yang turut membentuk jalan hidupnya.
Awal Ketertarikan dan Proses Menapaki Dunia Tari
Ketertarikan Titania pada dunia seni tari mulai tumbuh sejak duduk di bangku kelas dua sekolah dasar. Pada usia sekitar delapan tahun, ia telah menunjukkan minat dan bakat yang kuat. Meski ia merasa memulai lebih lambat dibandingkan anak-anak masa kini, proses yang dijalani justru berkembang dengan cepat. Berbagai kompetisi diikuti dan membuahkan hasil, hingga bakatnya mulai dilirik oleh para seniman. Sejak kelas lima hingga enam sekolah dasar, ia telah terlibat dalam Pesta Kesenian Bali dan turut tampil dalam Festival Gong Kebyar, sebuah ruang bergengsi bagi para pelaku seni Bali. Selain itu, ia juga kerap mewakili sekolah dalam ajang-ajang kesenian seperti FLS2N dan berbagai festival seni lainnya.
Titania Menjadi Juri di Biaung Art Festival (Sumber: Dayu Titania)
Peran sebagai Praktisi, Pendidik, dan Penggerak Sanggar
Seiring berjalannya waktu, peran Titania dalam dunia seni semakin meluas. Ia aktif sebagai praktisi tari, pengajar seni tari di sekolah, juri dalam berbagai ajang kesenian, serta pendiri Sanggar Griya Tetamian yang berdiri pada tahun 2021. Sanggar tersebut menjadi ruang pembinaan generasi muda, sekaligus wadah pewarisan nilai dan identitas seni tari Bali yang berakar pada tradisi, namun terbuka terhadap perkembangan zaman.
Menjembatani Seni Tari dan Ruang Digital
Perjumpaannya dengan dunia digital bermula dari kegemarannya menari dan tampil di depan kamera. Dengan latar belakang pendidikan seni dan pengalamannya sebagai juri, ia melihat media digital sebagai ruang berbagi pengetahuan. Melalui video-video tari dan konten edukatif di YouTube, Instagram, dan media sosial lainnya, ia mulai membangun citra diri sebagai penari sekaligus pendidik. Konten yang dihadirkannya tidak sekadar menampilkan gerak, tetapi juga memperlihatkan proses, karakter, dan pemahaman terhadap tari Bali.
Pementasan Tari Bali di Luar Negeri (Sumber: Dayu Titania)
Jejak Global dan Dampak Media Sosial
Dampak dari aktivitas digital tersebut terasa nyata. Dalam perjalanannya ke luar negeri, Titania pernah bertemu dengan penikmat seni yang mengenalnya melalui YouTube Sanggar Griya Tetamian. Pengalaman bertemu dengan penonton dari Jepang dan Singapura yang belajar tari melalui media digital menjadi bukti bahwa seni tari Bali dapat menjangkau ruang global tanpa kehilangan jati diri. Media sosial kemudian menjadi sarana pembelajaran sekaligus arsip hidup bagi mereka yang ingin mengenal dan mempelajari tari Bali, dengan akun Instagram @gektitania sebagai salah satu ruang ekspresinya.
Tantangan Waktu di Tengah Banyak Peran
Di balik berbagai peran yang dijalani, tantangan terbesar yang dihadapi adalah soal waktu. Mobilitas yang tinggi sebagai penari, pelatih, juri, perias, konten kreator, hingga pengelola sanggar dan manajemen hiburan, menuntut pengelolaan waktu yang disiplin. Dunia konten digital, menurutnya, memerlukan komitmen dan konsistensi yang tidak kalah besar dari latihan di panggung. Namun, tantangan tersebut justru menjadi bagian dari proses pendewasaan dalam menjalani peran sebagai pelaku seni di era kini.
Titania Berbusana Pakaian Adat (Sumber: Koleksi Pribadi)
Tradisi dan Modernisasi sebagai Ruang Kolaborasi
Bagi Titania, tradisi dan modernisasi bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Tradisi dipandang sebagai pondasi yang kokoh, sementara modernisasi menjadi ruang kolaborasi untuk melahirkan bentuk-bentuk baru yang relevan. Pengalaman tampil dalam ajang Denpasar Festival melalui karya seni kontemporer menjadi salah satu contoh bagaimana tradisi dapat diolah secara kreatif. Dalam kebebasan ekspresi seni kontemporer, ia tetap mengangkat unsur tradisi, termasuk permainan anak-anak, sebagai bagian dari ingatan kolektif budaya Bali.
Titania sedang Menenun di Sebuah Event (Sumber: Koleksi Pribadi)
Melalui perjalanan yang dijalaninya, Ida Ayu Triana Titania Manuaba menunjukkan bahwa menjaga tradisi tidak selalu berarti bertahan pada bentuk lama. Dengan berpijak pada akar budaya dan membuka diri pada medium baru, seni tari Bali dapat terus hidup, bergerak, dan berbicara kepada generasi masa kini dan masa depan, baik di dunia nyata maupun di ruang maya.