Mpu Brahmaraja: Sejarah Leluhur Warga Pande Pada Masa Bali Kuno

Sejarah Bali tidak hanya dibentuk oleh kisah raja dan kerajaan, tetapi juga oleh peran tokoh leluhur yang memberi identitas bagi kelompok sosial tertentu. Salah satu di antaranya adalah Warga Pande, komunitas pengrajin logam yang sejak masa Bali Kuno dikenal karena kepandaiannya. Sosok sentral dalam tradisi ini adalah Mpu Brahmaraja, pendeta agung bergelar Bhagawan Pandya Bumi Sakti, yang dihormati sebagai leluhur suci sekaligus pembawa ajaran kepandean dan spiritualitas bagi keturunannya.

Sep 11, 2026 - 05:30
Sep 11, 2026 - 00:48
Mpu Brahmaraja: Sejarah Leluhur Warga Pande Pada Masa Bali Kuno
Mpu Brahmaraja, Ilustrasi AI (Sumber: Koleksi Pribadi)

Sejarah masyarakat Bali tidak hanya terbentuk oleh kisah raja dan kerajaan, tetapi juga oleh peran tokoh leluhur yang memberikan identitas bagi kelompok-kelompok sosial tertentu. Salah satu di antaranya adalah Warga Pande, komunitas yang sejak masa Bali Kuno dikenal karena keahlian dalam mengolah logam, mulai dari pembuatan senjata, perhiasan, hingga gamelan. Keahlian ini bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan dianggap sebagai warisan sakral yang memiliki hubungan erat dengan leluhur mereka.

Tokoh sentral dalam tradisi Warga Pande adalah Mpu Brahmaraja, seorang pendeta agung bergelar Bhagawan Pandya Bumi Sakti. Dalam berbagai babad, beliau disebut sebagai kawitan atau leluhur utama yang menurunkan garis keturunan Pande serta mewariskan ajaran tentang kepandean, spiritualitas, dan aturan leluhur. Kehadiran Mpu Brahmaraja bukan hanya membentuk identitas genealogis, tetapi juga meneguhkan posisi Warga Pande sebagai komunitas spiritual yang memiliki kedudukan penting dalam sejarah Bali Kuno.

Mpu Brahmaraja Bertapa, Ilustrasi AI (Sumber: Koleksi Pribadi)

Mpu Brahmaraja, yang bergelar Bhagawan Pandya Mpu Bhumi Sakti, adalah seorang pendeta agung keturunan Bhatara Brahma yang hidup pada masa pemerintahan Hayam Wuruk di Majapahit (1350–1389 M). Dalam Babad Pande Beratan mencatat bahwa beliau lahir ketika Bhatara Brahma melakukan yoga di Gunung Silasayana, Madura. Sejak kelahirannya, Mpu Brahmaraja dipandang sebagai sosok suci yang memiliki kesaktian luar biasa. Ia menguasai ajaran Panca Bayu (prana, apana, samana, udana, dan byana), yaitu lima tenaga kehidupan yang menjadi dasar keahlian kepandean logam. Kemampuan spiritual sekaligus teknis inilah yang kemudian diwariskan kepada keturunannya sebagai Dharma Kepandean.

Dalam tradisi silsilah yang tercatat dalam Babad Pande Beratan dan Babad Pande Jadi, Mpu Brahmaraja menurunkan garis keturunan penting melalui putranya, Brahma Rare Sakti (Mpu Gandring), dan cucunya, Brahmana Dwala. Dari Brahmana Dwala inilah lahir Arya Pande Beratan dan Arya Pande Sadhaka, dua tokoh sentral yang kemudian menyebarkan keturunan Pande ke seluruh Bali. Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa seluruh Warga Pande di Bali memiliki akar genealogis dan spiritual yang bersumber langsung dari Mpu Brahmaraja sebagai kawitan, atau leluhur tertinggi mereka.

Kepiawaian Mpu Brahmaraja Membuat Keris, Ilustrasi AI (Sumber: Koleksi Pribadi)

Selain hubungan genealogis, Mpu Brahmaraja juga mewariskan ajaran dan sistem nilai yang membentuk identitas Warga Pande. Ajaran Dharma Kapandean menegaskan bahwa kepandean logam bukan sekadar pekerjaan teknis, melainkan kewajiban suci. Pekerjaan pande dipandang sebagai jalan spiritual yang mengintegrasikan kekuatan tubuh dan jiwa dengan alam semesta. Dalam praktiknya, Panca Bayu diwujudkan melalui lima unsur yaitu prana sebagai napas yang menjadi angin, apana sebagai air yang keluar dari tubuh, samana sebagai api yang terpancar dari mata, udana sebagai inti logam yang memberi kekuatan baja, dan byana sebagai gerakan tubuh yang dipersonifikasikan dalam landasan, palu, dan penjepit. Simbolisasi ini menjadikan pekerjaan pande setara dengan ritual suci.

Lebih jauh, Mpu Brahmaraja juga mewariskan ajaran Bhisama Pande. Bhisama ini menekankan tiga hal pokok yaitu:

  1. Kewajiban seluruh keturunannya untuk berbakti di Pura Penataran Pande Besakih
  2. Penggunaan sistem sulinggih khusus "Sira Mpu" sebagai wujud independensi spiritual Warga Pande
  3. Penguatan ikatan pesemetonan atau persaudaraan antar sesama Pande.

Bhisama ini menjadikan komunitas Pande tidak hanya terikat oleh darah, tetapi juga oleh kewajiban spiritual yang diwariskan dari leluhur.

Patih Madhu Meminta Bantuan Kepada Mpu Brahmaraja, Ilustrasi AI (Sumber: Koleksi Pribadi)

Pada abad ke-14 (sekitar 1350-1380M), Mpu Brahmaraja muncul di Madura dalam sebuah cerita leluhur yang tercatat dalam tradisi babad. Saat itu, Patih Madhu, seorang patih pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk, hendak mengadakan upacara besar berupa pitra yajña dan bhuta yajña. Namun, upacara tersebut tidak bisa dilanjutkan karena tidak ada pendeta yang mampu memimpin acara tersebut. Dalam situasi itu, Patih Madhu meminta bantuan kepada Mpu Brahmaraja untuk memuput/menyelesaikan upacara yang hendak dilaksanakan. Berkat kemampuan dan kewibawaannya, Mpu Brahmaraja berhasil menyelesaikan seluruh rangkaian upacara tersebut. 

Tidak lama berselang, kabar tentang kesaktian Mpu Brahmaraja sampai ke Bali. Dalem Ketut Smara Kepakisan, raja pertama di Kerajaan Gelgel pasca ekspedisi Majapahit, mengutus Arya Langon dan Pasek Bya untuk menjemput beliau dari Madura. Selama berada di Bali, beliau  menjadi guru spiritual di Keraton Gelgel. Pada periode ini, beliau menetapkan sistem spiritual dan ajaran kepandean yang kemudian diwariskan kepada cucu-cicitnya. Mpu Brahmaraja ditempatkan di Kayumanis, yaitu tempat yang dianggap suci dan pantas untuk dijadikan pasraman bagi seorang leluhur yang membimbing Kerajaan Gelgel, serta diberi gelar Bhagawan Pandya Bumi Sakti. Gelar ini menegaskan peran Mpu Brahmaraja sebagai pendeta agung (bhagawan), penguasa kepandean (pandya), dan sosok sakral yang menjadi sumber kekuatan duniawi (bumi sakti).

Puncak warisan terjadi pada tahun 1478M ketika Mpu Sadhaka (Arya Pande Sadhaka), cicit Mpu Brahmaraja, diundang Dalem Waturenggong untuk membantu persiapan upacara Eka Dasa Rudra di Pura Besakih atas saran Danghyang Nirartha. Ini menunjukkan bahwa warisan kepandean Mpu Brahmaraja telah berkembang menjadi keahlian yang diakui tingkat kerajaan.

Mengapa Mpu Brahmaraja dihormati sebagai leluhur sakral Warga Pande?

Jawabannya terletak pada tiga hal yang tidak terpisahkan. Pertama, dari sisi genealogis, seluruh Pande di Bali menegaskan dirinya sebagai keturunan langsung Mpu Brahmaraja, sehingga garis leluhur mereka jelas dan tunggal. Kedua, dari sisi spiritual, beliau mewariskan Dharma Kapandean dan ajaran Panca Bayu yang menjadikan pekerjaan pande sebagai dharma suci, bukan sekadar profesi teknis. Ketiga, dari sisi sosial dan budaya, beliau meninggalkan Bhisama Pande yang mengikat seluruh keturunannya dalam kewajiban bersama, baik dalam pemujaan, persaudaraan, maupun pantangan. Oleh karena itu, Mpu Brahmaraja bukan hanya tercatat sebagai tokoh sejarah, tetapi juga dipuja sebagai leluhur suci dan sumber identitas Warga Pande.

Penyucian Pusaka Pada Hari Raya Tumpek Landep (Sumber: Koleksi Pribadi)

Warisan beliau tidak berhenti pada masa hidupnya, melainkan diteruskan melalui empat jalur utama yaitu genealogis, ajaran, bhisama, dan tradisi ritual. Melalui garis keturunan, lahirlah generasi penerus yang menyebar ke seluruh Bali. Melalui ajaran spiritual, Warga Pande meyakini pekerjaan mereka sebagai bagian dari dharma. Melalui Bhisama Pande, mereka terikat pada kewajiban bakti di Besakih dan persaudaraan internal. Dan melalui tradisi ritual seperti Tumpek Landep, mereka terus menyucikan karya logam sebagai simbol daya spiritual. Dengan cara inilah ajaran dan identitas Mpu Brahmaraja tetap hidup hingga kini, menjadikan Warga Pande bukan sekadar kelompok profesi, melainkan komunitas spiritual dengan leluhur yang jelas.

Sejarah Warga Pande di Bali berakar kuat pada sosok Mpu Brahmaraja, seorang pendeta agung bergelar Bhagawan Pandya Bumi Sakti yang lahir di Madura dan kemudian menetap di Bali pada masa Dalem Ketut Smara Kepakisan. Dari beliau lahir garis keturunan Brahmana Dwala, Arya Pande Beratan, dan Arya Pande Sadhaka, yang menyebarkan komunitas Pande ke seluruh Bali. Selain menurunkan garis genealogis, Mpu Brahmaraja juga mewariskan ajaran Dharma Kapandean, Panca Bayu, dan Bhisama Pande yang menjadi fondasi spiritual serta sosial bagi Warga Pande.

Oleh karena itu, Mpu Brahmaraja bukan hanya tokoh sejarah, melainkan kawitan, leluhur sakral, dan sumber identitas Warga Pande. Hingga kini, ajaran, bhisama, dan tradisi yang beliau wariskan tetap dijalankan, menjadikan Warga Pande bukan sekadar kelompok profesi pengrajin logam, tetapi juga komunitas spiritual yang memiliki tempat khusus dalam sejarah Bali Kuno.

Daftar Pustaka

Anggriani, N. K., Pageh, I. M., & Pardi, I. W. (2023). The Kehidupan Warga Pande Di Sekitar Danau Tamblingan Dan Pemanfaatannya Sebagai Sumber Belajar Sejarah Di SMA (Tinjauan Tentang Prasasti Dan Tinggalan Arkeologi). Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah11(2), 196-207.

Babad Pande Beratan. Koleksi Lontar, Gedong Kirtya, Singaraja.

Babad Pande Jadi. Koleksi Lontar, Gedong Kirtya, Singaraja.

Guermonprez, J. F., Paturusi, S. A., Widiastuti, & Atmaja, J. (2012). Soroh pande di Bali: pembentukan" kasta" dan nilai gelar. Udayana University Press.