Raja yang Lalai: Kisah Dalem Agra Samprangan di Bali Abad ke-14
Pasca penaklukan Bali oleh Gajah Mada pada tahun 1343, Majapahit mendirikan Dinasti Kepakisan dengan pusat kekuasaan pertama di Samprangan, Gianyar. Sebagai putra mahkota dari Sri Aji Kresna Kepakisan, harapan besar disematkan pada Dalem Agra Samprangan. Namun, sejarah mencatatnya sebagai penerus yang gagal. Kelalaiannya dalam memerintah tidak hanya membuatnya kehilangan takhta, tetapi juga memicu krisis politik yang memindahkan pusat kekuasaan kerajaan dari Samprangan ke Gelgel, menentukan arah baru sejarah Bali.
Setelah Bali ditaklukkan, Majapahit mengangkat Sri Aji Kresna Kepakisan, seorang brahmana dari Jawa, sebagai adipati di Bali. Ia membangun pusat pemerintahan di Samprangan, Gianyar, yang kala itu dikenal dengan nama Linggarsa Pura. Dari sinilah ia meletakkan dasar bagi dinasti baru yang akan berkuasa lama di Bali. Samprangan pun berkembang menjadi pusat politik, militer, dan budaya, menggantikan pusat-pusat kerajaan Bali Kuno sebelumnya. Sebagai putra sulung, Dalem Agra Samprangan dipersiapkan untuk melanjutkan warisan besar ayahnya. Rakyat dan para bangsawan menaruh harapan tinggi agar ia mampu menjaga stabilitas dan meneruskan kejayaan yang telah dirintis.
Ilustrasi AI Kerajaan Samprangan di Masa Sri Aji Kresna Kepakisan (Sumber: Koleksi Pribadi)
Namun, harapan itu tidak terwujud. Naskah-naskah Bali, terutama Babad Dalem, menggambarkan Dalem Agra Samprangan sebagai raja yang jauh dari ideal. Ia dikenal berwatak kasar, sulit diajak bicara, dan tidak memiliki wibawa seorang pemimpin. Kebiasaannya yang paling menonjol adalah kegemarannya pada sabung ayam. Karena terlalu larut dalam hobi ini, ia sering mengabaikan urusan pemerintahan. Nasihat dari para penasihat, termasuk Patih Agung Kubon Klapa, tidak pernah ia dengarkan. Akibatnya, roda pemerintahan di Samprangan tersendat, hukum diabaikan, dan keresahan pun meluas di kalangan bangsawan.
Ilustrasi AI Dalem Sri Samprangan Dengan Watak Keras dan Suka Berjudi (Sumber: Koleksi Pribadi)
Ketidakcakapan Dalem Agra Samprangan memicu krisis kepercayaan. Di tengah kegelisahan ini, harapan baru muncul pada sosok adiknya, I Dewa Ketut. Berbeda total dari kakaknya, Dalem Ketut dikenal bijaksana, berwibawa, dan peduli pada nasib kerajaan. Para Patih Agung akhirnya bersepakat bahwa kepemimpinan harus beralih. Mereka secara kolektif memohon Dalem Ketut untuk mengambil alih takhta demi menyelamatkan kerajaan, sehingga Dalem Agra Samprangan pun disingkirkan dari kekuasaan tanpa perlawanan berarti.
Ilustrasi AI Para Patih Agung memohon Dalem Ketut untuk Mengambil Alih Takhta (Sumber: Koleksi Pribadi)
Perubahan kepemimpinan ini membawa dampak besar. Setelah naik takhta dengan gelar Dalem Ketut Ngulesir, ia memutuskan untuk memindahkan pusat kerajaan ke Gelgel (kini di Klungkung) dan mendirikan keraton baru bernama Sweca Pura. Keputusan ini sekaligus menandai berakhirnya Samprangan sebagai pusat kekuasaan. Di bawah kepemimpinan Dalem Ketut Ngulesir dan penerusnya, Gelgel berkembang menjadi kerajaan besar yang pengaruhnya meluas hingga Lombok dan Blambangan. Kisah Dalem Agra Samprangan pun menjadi pelajaran penting dalam tradisi Bali, bahwa karakter dan tanggung jawab seorang raja lebih utama daripada kesenangan pribadi
Ilustrasi AI Kerajaan Gelgel dibawah Pemerintahan Dalem Ketut Ngulesir (Sumber: Koleksi Pribadi)
Perjalanan hidup Dalem Agra Samprangan adalah kisah tentang kegagalan seorang pemimpin. Sifatnya yang lalai dan lebih mementingkan hobi dibanding kewajiban telah menjatuhkannya dari takhta. Namun, peristiwa itu tidak hanya soal kejatuhan seorang raja. Lebih jauh, hal tersebut menjadi titik balik sejarah Bali mengakhiri era Samprangan dan membuka jalan bagi kejayaan Kerajaan Gelgel. Sejarah mengingatnya sebagai bukti bahwa karakter seorang pemimpin bisa mengubah arah perjalanan sebuah kerajaan dan peradaban.
Budihardjo, Rachmat. "Sistem Pemerintahan Kerajaan Pengaruhnya Terhadap Arsitektur Bali." Jurnal Arsitektur Universitas Atmajaya Yogyakarta.
Darmawan, I Dewa Made, dan Semeton. "Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha." (Artikel Penelitian Mandiri, Institut Seni Indonesia Denpasar).
Noorwatha, I Kadek Dwi. (2019). Naranatha-Kanya: Jejak Sejarah Dewa Agung Istri Kanya dan Perkembangan Seni Kerajaan Klungkung Abad Ke-19. Jakarta: Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.