Adiparwa: Dari Persaudaraan Hingga Perseteruan Dinasti Kuru

Adiparwa adalah bagian pembuka dari kisah epik Mahabharata yang memulai perjalanan heroik Dinasti Bharata. Dimulai dari Raja Janamejaya yang mendengar kisah leluhurnya, kita dibawa ke awal mula kelahiran dua garis keturunan agung—Pandawa dan Kurawa. Mengisahkan tentang bagaimana kelahiran Pandawa dan Kurawa, hingga mulai munculnya percikan api kebencian diantaranya yang mendasari perang saudara, Bharatayudha.

May 17, 2025 - 07:41
Nov 13, 2024 - 04:52
Adiparwa: Dari Persaudaraan Hingga Perseteruan Dinasti Kuru
Panca Pandawa (Sumber: Koleksi Pribadi)

Kisah ini dimulai dengan Raja Janamejaya yang mengadakan upacara pengorbanan ular untuk membalas dendam atas kematian ayahnya, Raja Parikesit, yang tewas akibat gigitan ular yang dikirim oleh naga Taksaka. Namun, saat upacara berlangsung, utusan dari Sang Naga Taksaka memohon kepada Raja Janamejaya untuk membatalkan upacara tersebut. Mereka meminta belas kasih dan menjelaskan bahwa balas dendam tidak akan mengembalikan ayahnya. Setelah merenungkan permohonan tersebut, Raja Janamejaya akhirnya membatalkan upacara, menunjukkan kebijaksanaan dan belas kasih yang lebih tinggi.

Bagawan Wesampayana Bercerita (Sumber: Koleksi Pribadi)

Maharaja Janamejaya merasa sedih karena upacaranya tidak berjalan sesuai harapan dan merasa ada kekurangan dalam pelaksanaan upacara tersebut. Untuk mengatasi kesedihan ini dan mencari pemahaman lebih dalam tentang leluhurnya, ia meminta Bagawan Vyasa untuk menceritakan kisah leluhurnya, termasuk kisah Korawa dan Pandawa. Namun, Bagawan Vyasa menolak permintaan tersebut karena kesibukan yang sangat padat. Sebagai alternatif, Vyasa merekomendasikan muridnya, Bagawan Wesampayana, untuk menceritakan kisah-kisah tersebut kepada Raja Janamejaya.

Keluarga Bharata dimulai dari Maharaja Yayati, seorang penguasa yang berkuasa besar dan berpengaruh. Yayati memiliki dua permaisuri utama: Dewayani dan Sarmishta. Dari pernikahannya dengan Dewayani, lahir dua putra, yaitu Yadu dan Turwasu. Yadu kemudian dikenal sebagai leluhur dari Bangsa Yadawa.

Raja Yayati dan Anaknya (Sumber: Koleksi Pribadi)

Dari pernikahannya dengan Sarmishta, Yayati memiliki tiga putra: Anu, Druhyu, dan Puru. Ketiga putra ini mendirikan cabang-cabang penting dalam keluarga Bharata. Keturunan dari Sang Anu dikenal sebagai Anuwa, sementara keturunan Druhyu membentuk kelompok Druhyu. Puru, sebagai putra yang paling dikenal, menjadi leluhur dari Bangsa Paurawa, yang memainkan peran kunci dalam sejarah dinasti Bharata.

Kemudian dalam silsilah Paurawa lahirlah Maharaja Dushyanta yang menikahi Sakuntala yang kemudian melahirkan Sang Bharata. Sang Bharata berjuang memperluas daerah kekuasaannya dengan menaklukan daerah – daerah jajahannya. Kemudian beliau dikenal sebagai Bharatawarsha, yang kemudian menikah dan menurunkan Sang Kuru.

Sang Kuru, seorang tokoh legendaris, menyucikan sebuah tempat yang kemudian dikenal sebagai Kurukshetra, yang menjadi pusat dari Dinasti Kuru. Dinasti ini berkembang pesat dan memainkan peran penting dalam sejarah India kuno. Dari Dinasti Kuru, lahirlah Prabu Santanu, yang kemudian menjadi Raja Hastinapura.

Dikisahkan, suatu hari ketika Prabu Santanu berburu ke tepi sungai, Sang Prabu bertemu dengan seorang wanita dengan paras yang begitu cantik. Ia adalah Dewi Gangga.

Pertemuan Prabu Santanu dan Dewi Gangga (Sumber: Koleksi Pribadi)

Terpikat oleh kecantikan Dewi Gangga yang luar biasa, Prabu Santanu, seorang raja yang bijaksana dan kuat, tidak mampu menahan gejolak hatinya. Ia jatuh cinta pada pandangan pertama dan dengan segera mengutarakan keinginannya untuk menjadikan Dewi Gangga sebagai permaisurinya. Dengan tenang, Dewi Gangga menerima pinangan tersebut, tetapi ia mengajukan satu syarat yang tidak biasa. Ia meminta Prabu Santanu untuk berjanji bahwa ia tidak akan pernah mempertanyakan atau melarang apapun yang Dewi Gangga lakukan, terutama yang berkaitan dengan anak-anak mereka di masa depan. Dengan cinta yang meluap-luap dalam hatinya membuatnya tak mampu menolak.

Dewi Gangga Menenggelamkan Putranya (Sumber: Koleksi Pribadi)

Tak lama setelah pernikahan mereka, Dewi Gangga dan Prabu Santanu dikaruniai seorang putra. Namun, kebahagiaan yang seharusnya menyelimuti kelahiran tersebut sirna begitu saja ketika Dewi Gangga dengan dingin membawa putra pertamanya ke Sungai Gangga dan menenggelamkannya tanpa keraguan sedikit pun. Prabu Santanu yang terkejut dan terluka hatinya, teringat akan janji yang telah ia buat untuk tidak menentang atau mempertanyakan tindakan istrinya, meski hati kecilnya menjerit. Ia hanya bisa menahan diri dengan penuh kesedihan. Peristiwa ini tidak hanya terjadi sekali. Anak kedua, ketiga, hingga yang ketujuh, semuanya mengalami nasib yang sama. Setiap kali Dewi Gangga melahirkan, ia dengan tenang membawa anak-anak mereka ke sungai dan menenggelamkannya di dalam air suci Gangga.

Namun, ketika Dewi Gangga mengandung anak mereka yang kedelapan, batas kesabaran Prabu Santanu mencapai puncaknya. Setelah bertahun-tahun menahan kesedihan dan kebingungan, ia tidak lagi bisa diam. Ketika Dewi Gangga hendak melakukan hal yang sama kepada putra kedelapan mereka, Prabu Santanu dengan tegas menghentikannya. Untuk pertama kalinya, ia melanggar janji yang pernah ia buat. Dengan suara yang penuh ketegangan, ia bertanya, 'Kenapa kau melakukan ini? Apa alasanmu membunuh anak-anak kita?'

Dewi Gangga, dengan tenang namun penuh kesedihan, menjelaskan kepada Prabu Santanu alasan di balik tindakan yang tampaknya kejam itu. Putra-putra yang ia lahirkan bukanlah anak-anak biasa, melainkan Astabasu—delapan makhluk surgawi yang dikutuk untuk lahir di dunia sebagai manusia. Mereka dihukum karena telah melakukan dosa besar, yaitu mencuri lembu suci milik Resi Wasistha. Dewi Gangga menenggelamkan putra-putranya karena ia ingin segera melepaskan jiwa para Astabasu agar mereka cepat kembali ke surga dan terbebas dari kutukan duniawi.

Namun, anak kedelapan mereka berbeda. Dewi Gangga menjelaskan bahwa putra kedelapannya adalah reinkarnasi dari Prabata, pemimpin dari para Astabasu yang memimpin pencurian lembu tersebut. Karena perannya sebagai pemimpin dalam perbuatan dosa itu, Prabata dihukum lebih berat dibandingkan yang lain. Ia harus menjalani kehidupan di dunia lebih lama dibandingkan tujuh Astabasu lainnya. Setelah menjelaskan semua itu, Dewi Gangga yang masih mengandung putra kedelapannya, tiba-tiba lenyap dalam air Sungai Gangga yang suci.

Dewi Gangga dan Dewabrata (Sumber: Koleksi Pribadi)

Enam belas tahun berlalu sejak kepergian Dewi Gangga. Suatu hari, ketika ia sedang berjalan-jalan di tepi Sungai Gangga, pandangannya tiba-tiba tertuju pada seorang anak laki-laki yang tampak luar biasa. Anak tersebut, dengan penuh ketangkasan dan kekuatan, menggunakan ratusan panah untuk membendung derasnya aliran Sungai Gangga. Kehebatan dan kemahiran sang anak dalam memanah membuat Prabu Santanu terpukau. 

Saat itu muncul dewi gangga yang dengan lembut menjelaskan bahwa anak laki-laki yang baru saja memamerkan kemahirannya itu tidak lain adalah putra kedelapan Prabu Santanu, Dewabrata. Dewabrata, yang selama ini diasuh dan dibimbing oleh Dewi Gangga, tumbuh menjadi anak yang sangat berbakti kepada orang tuanya, serta memiliki jiwa kesatria yang tinggi. Prabu Santanu, penuh dengan kebanggaan dan harapan, memeluk anaknya dan memberinya nama Dewabrata.

Beberapa tahun berlaluPrabu Santanu dan Dewabrata hidup dengan bahagia. Suatu hari desas – desus tersebar di Hastinapura yang akhirnya sampai ke telinga Prabu Santanu. Dikabarkan bahwa di sekitar Sungai Yamuna tersebar bau yang sangat wangi. Prabu Santanu sendiri penasaran akan hal itu, ia memutuskan untuk mencari tau tentang kebenarannya.

Suatu hari, saat ia sedang berjalan di tepi Sungai Yamuna, Prabu Santanu tiba-tiba disergap oleh aroma yang sangat harum dan memikat. Di sana, ia melihat seorang gadis muda yang luar biasa cantik sedang mendayung perahu. Gadis itu adalah Satyawati, anak seorang nelayan, yang dikenal karena kecantikan dan kesederhanaannya.

Dengan hati yang dipenuhi cinta, Prabu Santanu mendekati Satyawati dan menyatakan keinginannya untuk menjadikannya sebagai permaisuri. Dasabala, ayah Satyawati menerima lamaran tersebut dengan satu syarat yang sangat berat bagi Prabu Santanu. Ia meminta agar keturunan Satyawati, bukan Dewabrata, yang kelak mewarisi takhta Hastinapura. Permintaan ini membuat Prabu Santanu sangat terpukul, karena ia sangat mencintai Dewabrata dan telah menyiapkannya untuk menjadi penerus kerajaan.

Hari demi hari, Prabu Santanu tenggelam dalam kesedihan. Ia tidak lagi memiliki semangat untuk memerintah kerajaannya dengan penuh antusias seperti biasanya. Pikiran tentang Satyawati membuatnya begitu stres hingga akhirnya ia jatuh sakit. Tubuhnya semakin melemah, dan wajahnya yang biasanya ceria kini tampak pucat dan lelah. Sang Prabu yang dulu gagah kini tampak seperti bayangannya sendiri, tersiksa oleh cinta yang tak bisa ia raih.

Setelah memahami betapa dalamnya perasaan cinta ayahnya kepada Satyawati, Dewabrata merasa iba. Ia tak sanggup melihat ayahnya terus menderita karena cinta yang tak dapat ia wujudkan. Dengan hati yang penuh tekad, Dewabrata berangkat menuju Sungai Yamuna, tempat di mana Satyawati tinggal bersama ayah angkatnya, Dasabala, seorang nelayan yang bijaksana namun tegas.

Dewabrata dan Sumpahnya Yang Dahsyat (Sumber: Koleksi Pribadi)

Dengan hati yang teguh, ia menyatakan bahwa ia menerima syarat tersebut. Demi memastikan tidak ada perselisihan di masa depan antara keturunannya dan keturunan Satyawati, Dewabrata membuat sumpah yang dahsyat: ia bersumpah untuk tidak menikah dan tidak memiliki keturunan seumur hidupnya. Dengan sumpah yang penuh ketulusan ini, ia mengorbankan haknya atas takhta dan kehidupan pribadi, hanya untuk melihat ayahnya bahagia.

Sumpah ini begitu luar biasa, hingga semua yang mendengarnya merasa tergetar. Dewabrata bersumpah dengan penuh keyakinan, dan sumpahnya disaksikan oleh para dewa. Sumpah ini juga membuat Dewabrata dikenal dengan nama Bhisma, yang berarti "yang sumpahnya dahsyat" atau "yang disegani". Pengorbanannya menjadi legenda yang akan dikenang sepanjang masa.

Setelah itu Dasabala setuju untuk mengizinkan Satyawati menikahi Prabu Santanu. Tak lama kemudian pernikahan Prabu Santanu dan Satyawati dilangsungkan. Dari pernikahan ini Prabu Santanu dikaruniai dua putra, yakni Chitrānggada dan Wicitrawirya.

Chitrānggada, putra sulung Prabu Santanu dari pernikahannya dengan Satyawati, naik tahta sebagai Raja Hastinapura setelah kematian ayahnya. Dengan mewarisi kepemimpinan dari Prabu Santanu, Chitrānggada membawa semangat baru bagi kerajaan. Di bawah kepemimpinannya, Hastinapura menikmati masa-masa ketentraman dan stabilitas yang sangat dibutuhkan. Rakyat merasa aman dan makmur, dan Chitrānggada dikenal sebagai raja yang bijaksana dan adil, meneruskan legasi ayahnya yang telah meninggal. Namun, ketenangan ini tidak bertahan lama.

Kekalahan Chitranggada (Sumber: Koleksi Pribadi)

Suatu hari muncul surat tantangan yang dikirimkan oleh Raja Gandarwa kepada Citranggada. Raja Gandarwa yang juga bernama Citranggada merasa tidak bisa ada dua raja dengan nama yang sama, maka diperlukan adanya duel hingga tersisa hanya satu Citranggada. Citranggada menerima tantangan itu dan segera berangkat ke Sungai Saraswati, tempat duel akam dilaksanakan.

Duel tersebut berlangsung dengan sangat intens dan dramatis. Keduanya bertempur dengan keberanian dan keterampilan tinggi, membuat seluruh kerajaan dan rakyatnya menyaksikan dengan penuh kecemasan. Namun sayang sekali duel ini diakhiri dengan kematian Chitranggada. Chitranggada  meninggal dunia tanpa meninggalkan keturunan, artinya yang harus menduduki tahta sekarang adalah adiknya, Wicitrawirya

Wicitrawirya yang saat itu masih muda belum sepenuhnya siap untuk menjadi seorang Raja. Oleh karena itu, dalam memimpin Hastinapura, ia dibantu oleh kakaknya, Bhisma. Ketika sudah cukup umur, kemudian Bhisma mencarikan calon pendamping yang terbaik untuk Wicitrawirya. Bhisma memenangkan sayembara di Kerajaan Kasi, dan mendapatkan 3 putri Kerajaan Kasi untuk menjadi istri Wicitrawirya.

Putri Amba, Ambika, dan Ambalika (Sumber: Koleksi Pribadi)

Ketiga putri dari Kerajaan Kasi yang diperoleh Bhisma untuk Wicitrawirya adalah Putri Amba, Ambika, dan Ambalika. Ketiganya dikenal sebagai wanita yang sangat cantik dan elegan. Namun, ada masalah serius yang muncul terkait Putri Amba. Putri Amba menolak untuk ikut bersama Bhisma karena ia telah terikat emosional dengan Raja Salya. Amba sebelumnya telah berjanji untuk menikahi Raja Salya dan merasa sangat setia terhadap janjinya tersebut. Meskipun Bhisma telah memenangkan sayembara dan mendapatkan ketiga putri untuk Wicitrawirya, Putri Amba tetap pada pendiriannya untuk tidak meninggalkan Raja Salya.

Setelah mengetahui penolakan Amba, Bhisma membawa ketiga putri tersebut kembali ke kerajaannya. Namun, masalah semakin rumit ketika Raja Salya menolak untuk menerima kembali Putri Amba. Raja Salya merasa dipermalukan setelah Bhisma berhasil mengalahkannya dalam pertarungan selama sayembara. Kekecewaan dan rasa malu ini membuat Raja Salya menolak untuk menerima Amba, meskipun dia sebelumnya telah berjanji untuk menikahinya.

Mendengar keputusan Raja Salya yang menolak untuk menerima kembali Putri Amba, Amba merasa sangat marah dan kecewa. Ia merasa Bhisma sebagai penyebab utama kehancuran kebahagiaannya dan menganggap bahwa Bhisma telah menghancurkan harapan hidupnya untuk bersatu dengan Raja Salya.
Dengan kemarahan dan kepedihan mendalam, Putri Amba bersumpah untuk membalas dendam. Ia mengutuk Bhisma dan bersumpah bahwa ia sendiri akan menjadi penyebab kematian Bhisma di kehidupan selanjutnya. Dalam keputusasaannya dan penuh kemarahan, Amba memilih untuk melompat ke dalam api.

Pernikahan Wicitrawirya dengan Putri Ambika dan Ambalika (Sumber: Koleksi Pribadi)

Pernikahan Wicitrawirya dengan Putri Ambika dan Ambalika dilangsungkan dengan penuh perayaan. Namun, sayangnya, pernikahan ini hanya bertahan selama tujuh tahun. Wicitrawirya meninggal dunia karena menderita penyakit paru-paru, dan selama masa hidupnya, ia tidak memiliki keturunan. Untuk memastikan kelanjutan garis keturunan Dinasti Kuru, Satyawati, ibu Wicitrawirya, merasa perlu untuk mengambil langkah lebih lanjut. Dia memohon kepada Bagawan Vyasa untuk memberikan keturunan kepada Dinasti Kuru. Mengingat pentingnya melanjutkan garis keturunan, Bagawan Vyasa setuju untuk membantu.

Bagawan Vyasa kemudian mengunjungi kedua istri Wicitrawirya, Ambika dan Ambalika, untuk menganugerahi mereka putra. Sebagai bagian dari proses ini, Bagawan Vyasa meminta agar Ambika dan Ambalika datang menemui beliau sendirian dan secara bergantian. Ambika, sebagai yang pertama, datang untuk bertemu Bagawan Vyasa.

Ambika yang Memejam selama Prosesi (Sumber: Koleksi Pribadi)

Selama proses pertemuan dengan Bagawan Vyasa, Ambika merasa sangat ketakutan dan cemas. Dalam keadaan penuh ketegangan tersebut, ia memejamkan matanya erat-erat. Akibatnya, putra yang dilahirkannya kemudian terlahir dengan kondisi buta. Putra Ambika diberi nama Drestarasta.

Kemudian Ambalika yang mengetahui putra Ambika terlahir buta karena memejam selama prosesi, berusaha tidak memejamkan matanya. Ia berhasil tidak memejam, namun selama prosesnya Ambika menjadi pucat karena takut akan rupa Sang Bagawan yang “luar biasa”, maka lahirlah Pandu yang terlahir pucat dan dikatakan menderita anemia sehingga tidak akan cukup sehat untuk memerintah kerajaan.

Mengetahui bahwa kedua putra yang dilahirkan oleh keduanya tidak dalam kondisi yang baik untuk menjadi raja kelak, Satyawati meminta salah satu dari mereka untuk menemui kembali Bagawan Byasa untuk meminta keturunan. Namun alih – alih pergi sendiri, mereka mengirim seorang pelayan untuk melakukan ritual tersebut. Pelayan tersebut melakukan ritual dengan sangat baik dan tenang, sehingga Sang Bagawan meramalkan bahwa anak pelayan tersebut akan mejadi anak yang berperilaku mulia dan beliau juga berkata bahwa anak tersebut adalah penjelmaan Dewa Darma. Anak tersebut diberi nama Widura yang kelak menjadi menteri di Hastinapura.

Beberapa tahun berlalu, putra - putra Hastinapura tumbuh dewasa. Karena kondisi putra sulung Wicitrawirya, Drestarasta dianggap tidak memenuhi kriteria seorang raja, maka Pandu putra keduanya akhirnya menjadi Raja di Hastinapura. Pandu memiliki dua istri yakni Dewi Kunti dan Dewi Madri. Suatu hari ketika ia sedang berburu di hutan, ia melihat dua ekor rusa yang terlihat begitu cantik. Ia berpikiran untuk membawa rusa – rusa tersebut sebagai hadiah untuk kedua Istrinya.

Kutukan Rsi Kindama (Sumber: Koleksi Pribadi)

Ia melepaskan anak panahnya dengan akurat, namun tanpa disadari, salah satu rusa yang ia tembak sebenarnya adalah Rsi Kindama yang sedang bersenggama dalam wujud rusa. Rsi Kindama, sangat marah dan terkejut karena diserang dalam keadaan yang sangat pribadi, mengutuk Pandu. Rsi tersebut mengeluarkan kutukan bahwa Pandu akan menemui kematian ketika bersenggama.

Akibat kutukan ini, Pandu tidak dapat memiliki anak secara langsung melalui hubungan suami-istri. Kutukan ini menjadi tantangan besar dalam hidupnya, terutama karena Pandu sangat ingin melanjutkan garis keturunannya dan memastikan masa depan dinasti. Atas kutukan ini, Pandu merasa sia – sia saja ia menjadi raja bila tidak dapat memiliki keturunan. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan istana bersama kedua istrinya dan hidup sebagai pertapa, sementara tahta diserahkan ke kakaknya. Mereka menjalani kehidupan sebagai pertapa di hutan Satasringga.

Dalam kondisi putus asa dan mencari solusi, istrinya, Kunti, teringat akan sebuah anugerah penting yang ia terima sebelumnya. Kunti pernah mendapatkan sebuah mantra sakti dari Rsi Durwasa. Mantra ini memiliki kekuatan luar biasa yang memungkinkan Kunti untuk memanggil dewa-dewa tertentu dan memperoleh keturunan dari mereka.

Kunti dan Pandu yang Memohon Anak Kepada Dewa (Sumber: Koleksi Pribadi)

Kunti melakukan ritual untuk memanggil Dewa Yama. Hal ini berhasil mereka lakukan dan permohonan Kunti untuk memiliki seorang putra dikabulkan. Seketika lahirlah putra pertama mereka yang diberi nama Yudistira. Yudistira memiliki sifat bijaksana, hampir tidak pernah berbuat dusta atau berbohong seumur hidupnya, memiliki moral yang sangat tinggi, dan merupakan orang yang pemaaf. Selanjutnya, Kunti dan Pandu memanggil Dewa Bayu, sang Dewa Angin. Dari Dewa Bayu, mereka memperoleh seorang putra bernama Bhima atau Werkudara. Bhima memiliki watak kesatria yang luar biasa, sangat peduli dengan keluarga, gemar menolong, jujur, berbakti kepada orang tua dan gurunya, setia, serta berkomitmen untuk memberantas angkara murka dan keadilan.Terakhir, Kunti memanggil Dewa Indra, sang Dewa Petir. Dari Dewa Indra, lahirlah Arjuna. Arjuna memiliki karakter yang sangat mulia, berjiwa kesatria, iman yang kuat, dan tahan terhadap godaan duniawi. Ia dikenal karena keberaniannya yang gagah berani dan kemampuannya untuk selalu meraih kejayaan, sehingga dijuluki Dananjaya.

Kemudian, Kunti memutuskan untuk membantu Madri mendapatkan keturunan. Madri kemudian melakukan ritual dan memanggil Dewa Kembar Ashwini Kumara, yang dikenal sebagai dewa-dewa penyembuh dan pelindung. Dewa Ashwini Kumara menganugerahkan anak-anak kembar bernama Nakula dan Sadewa. Kedua kembar ini memiliki keahlian khusus dalam merawat kuda dan sapi. Nakula dikenal sebagai sosok yang sangat menghibur dan juga memiliki keterampilan dalam bermain pedang. Dengan lahirnya Nakula dan Sahadeva, keluarga Pandu kini memiliki lima putra yang dikenal sebagai Pandawa. Berita ini pun disampaikan ke Hastinapura, bahwa kini Pandu memiliki pewaris yang sah.

Raja Drestarasta pada akhirnya menikahi Gandari, putri dari Raja Gandhara, yang dikenal sebagai seorang wanita yang berkepribadian luhur dan penuh kasih. Untuk menunjukkan cintanya yang mendalam kepada suaminya yang buta, Gandari melakukan tindakan yang sangat simbolis, ia menutup matanya dengan kain agar ia juga berada dalam kondisi yang sama dengan Drestarasta. Ini adalah bentuk kesetiaan dan pengorbanannya terhadap suaminya. 

Gandari dan Dresrarasta (Sumber: Koleksi Pribadi)

Gandari sangat ingin memiliki putra, dan akhirnya dia pun hamil. namun setelah sekian lama hamil, kandungannya tak kunjung lahir. Ia merasa iri kepada Kunti yang telah memiliki anak, Yudistira. Ia pun memukul – mukul kandungannya sehingga air ketubannya pecah. Namun ketika proses persalinan berlangsung yang keluar bukan lah seorang bayi, melainkan gumpalan daging. Kondisi ini menyebabkan Gandari merasa sangat sedih dan bingung. Kemudian Drestarasta meminta bantuan kepada Bagawan Byasa. Bagawan Byasa memotong – motong gumpalan daging tersebut menjadi 100 bagian dan memasukkannya ke guci yang didiaman selama setahun. Setelah setahun, setiap potongan daging tersebut mulai berkembang menjadi seorang anak. Dari proses ini, lahir seratus anak, dengan yang pertama adalah Duryodana dan Dursasana. Anak-anak lainnya lahir kemudian, dan keseluruhan dari seratus anak tersebut dikenal sebagai Kurawa.

Setelah 15 tahun berlalu, putra-putra Pandu telah tumbuh menjadi anak-anak yang sehat dan kuat. Suatu hari, ketika Kunti dan anak-anak mereka sedang berada jauh dari kediaman, Pandu dan Madri mengalami momen intim yang tidak sesuai dengan kutukan yang menimpa Pandu. Sesuai dengan kutukan yang dimilikinya, Pandu langsung meninggal dunia saat bersenggama.

Kremasi Pandu yang Penuh Kesedihan (Sumber: Koleksi Pribadi)

Kepergian Pandu meninggalkan duka mendalam bagi seluruh keluarga, dan rasa kesedihan serta kehilangan sangat dirasakan oleh Madri. Dengan rasa bersalah dan kesedihan yang mendalam atas kematian suaminya, Madri memutuskan untuk mengikuti tradisi sati dan membakar dirinya untuk menyusul Pandu. Sebelum melakukan ritual tersebut, Madri dengan penuh harapan menitipkan kedua putranya, Nakula dan Sahadeva, kepada Kunti untuk dirawat dan dibesarkan. Kunti, yang sangat mengasihi anak-anaknya dan juga kini harus mengurus kedua anak Madri, menerima tanggung jawab tersebut dengan penuh perhatian. Dia berjanji untuk merawat Nakula dan Sahadeva seperti anak-anaknya sendiri. Kemudian Kunti dan kelima putranya kembali ke Hastinapura dan menetap disana.

Pandawa dan Kurawa tumbuh bersama di istana Hastinapura, menikmati masa kanak-kanak mereka di bawah bimbingan yang ketat namun penuh perhatian dari Bagawan Drona. Bagawan Drona, seorang guru yang sangat terampil dan bijaksana, mengajarkan mereka berbagai keterampilan, mulai dari seni berperang hingga strategi militer dan ilmu pengetahuan. Aswatama, putra Bagawan Drona, juga bergabung dalam pendidikan ini, belajar bersama dengan Pandawa dan Kurawa. Selain itu, para Pandawa juga sering mendapatkan pelajaran dan nasihat berharga dari kakek mereka, Sang Bhisma, yang mengajarkan mereka tentang moralitas, dharma, dan tanggung jawab sebagai calon pemimpin.

Pandawa Belajar dengan Guru Drona (Sumber: Koleksi Pribadi)

Drestarasta, yang mengamati perkembangan para pangeran, melihat potensi besar dalam diri Yudhishthira, putra Kunti. Ia merasa bahwa Yudhishthira memiliki semua kualitas yang diperlukan untuk menjadi seorang raja yang bijaksana dan adil. Dengan keputusan ini, Drestarasta berniat untuk mencalonkan Yudhishthira sebagai Raja Hastinapura di masa depan. Hal ini menyebabkan Duryodana merasa sangat terancam oleh kemungkinan Yudhishthira yang akan menjadi raja, yang secara langsung mempengaruhi hak dan posisinya sebagai calon raja. Rasa iri hati dan kebencian Duryodana terhadap Pandawa, khususnya Bhima, semakin membesar. Bhima, dengan kekuatan dan keterampilan luar biasa dalam berperang, sering kali menjadi sasaran kebencian Duryodana dan adik-adiknya. Bhima juga dikenal karena sikapnya yang blak-blakan dan sikapnya yang terkadang menyinggung perasaan Kurawa.

Istana Laksagreha (Sumber: Koleksi Pribadi)

Dengan kebencian dan iri hati yang mendalam terhadap Pandawa, Duryodana mulai merencanakan tindakan jahat untuk menghilangkan ancaman dari sepupunya. Tidak mungkin bagi Duryodana dan Kurawa untuk meraih tahta jika Pandawa masih ada, sehingga ia memutuskan untuk bertindak licik dan berbahaya. Duryodana, dengan bantuan pamannya, Sangkuni, merancang sebuah skema jahat untuk membunuh Pandawa. Mereka memutuskan untuk mengundang Pandawa berlibur ke sebuah tempat yang disebut Ekacakra. Tempat tersebut, yang dibangun khusus untuk acara liburan Pandawa, ternyata adalah sebuah perangkap maut. Duryodana sengaja membangun bangunan megah tersebut dengan bahan-bahan yang sangat mudah terbakar, yang dikenal sebagai Laksagreha.

Rencana busuk ini segera diketahui oleh Widura. Ia kemudian segera mengambil tindakan untuk menyelamatkan Pandawa dengan mengirimkan penambang untuk menggali terowongan yang akan digunakan sebagai jalur pelarian jika terjadi kebakaran.

Pandawa Menyelamatkan diri Lewat Terowongan (Sumber: Koleksi Pribadi)

Pada malam setelah perayaan yang diadakan di Laksagreha, Purocana, orang suruhan Duryodana yang ditugaskan untuk menjaga tempat tersebut, tertidur pulas setelah makan makanan yang disediakan oleh Kunti. Ini memberikan kesempatan bagi Pandawa untuk melarikan diri. Dengan cepat, mereka memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melarikan diri melalui terowongan penyelamatan yang telah disiapkan oleh Widura. Sebelum melarikan diri, Pandawa juga membakar Laksagreha, sehingga Duryodana dan Kurawa percaya bahwa rencana mereka berhasil dan bahwa Pandawa telah tewas dalam kebakaran tersebut.

Setelah berhasil melarikan diri dari Laksagreha, Pandawa menyeberangi Sungai Gangga dan tiba di Hutan Hidimba, atau Hidimbawana. Di sini, mereka menemukan perlindungan dan tempat tinggal sementara. Dalam perjalanan mereka di hutan ini, Bhima, salah satu dari Pandawa, bertemu dengan Hidimbi, seorang raksasa yang menyamar sebagai wanita biasa.

Hidimbi, yang jatuh cinta kepada Bhima karena keberanian dan kekuatan yang dimilikinya, mulai mendekatinya. Namun, cinta Hidimbi menimbulkan kemarahan dari kakaknya, Hidimba, yang juga seorang raksasa. Hidimba merasa terancam oleh kehadiran Bhima dan menganggap bahwa saudara perempuannya telah mencemari kehormatan mereka dengan cintanya kepada seorang manusia.

Perkelahian Hidimba dan Bima (Sumber: Koleksi Pribadi)

Kemudian terjadilah perkelahian antara Bima dan Hidimba. Perkelahian berlangsung sangat sengit, disaksikan langsung oleh Hidimbi. Dengan segala keterampilan dan kekuatannya Bima berhasil memenangkan perkelahian ini. Setelah perkelahian, Bima menikahi Hidimbi, dan dari pernikahan ini lahir seorang putra yang diberi nama Gatotkaca. Gatotkaca mewarisi kekuatan luar biasa dari kedua orangtuanya. Dengan darah campuran manusia dan raksasa, Gatotkaca memiliki kekuatan sakti yang luar biasa. Ia mampu terbang di angkasa tanpa sayap dan memiliki tubuh yang sangat kuat dan kebal, sekuat besi. Kemudian Gatotkaca dan Hidimbi menetap di Hidimbawana.

Suatu hari selama perjalanannya, Pandawa mengikuti sayembara yang diadakan Raja Drupada di Kerajaan Pancala. Sayembara ini dilakukan untuk memperebutkan Dewi Drupadi. Para Pandawa menyamar sebagai seorang Brahmana. Sayembara ini diikuti oleh begitu banyak kesatria namun tidak ada satupun yang berhasil memenangkan tantangan yakni memanah sasaran dengan baik.