Taksu Tanpa Sekat: Saat Hindu, Islam, dan Kristen Menari dalam Satu Irama di Sanggar Dwi Lestari
Di tengah pesatnya modernisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat, pelestarian seni tradisional Bali menghadapi tantangan yang tidak ringan. Seni tari, sebagai salah satu identitas budaya Bali, membutuhkan ruang belajar yang tidak hanya mengajarkan teknik gerak, tetapi juga menanamkan nilai, disiplin, dan rasa memiliki. Dalam konteks inilah Sanggar Tari Bali Dwi Lestari hadir sebagai wadah pembelajaran seni sekaligus ruang kebersamaan yang hidup di tengah masyarakat.
Sanggar Tari Bali Dwi Lestari didirikan pada 2 September 2012 oleh I Kadek Lamat, S.Pd. Pendirian sanggar ini dilatarbelakangi oleh keinginan untuk melestarikan seni dan budaya Bali, khususnya seni tari tradisional, agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Sejak awal, sanggar ini dirancang sebagai ruang edukasi budaya yang terbuka bagi masyarakat luas. Tujuan utama Sanggar Dwi Lestari tidak hanya mencetak penari yang terampil, tetapi juga membentuk generasi yang memahami makna tari Bali sebagai warisan leluhur yang sarat nilai filosofis, spiritual, dan sosial.
Sesuai dengan visi pendiriannya, Sanggar Dwi Lestari secara khusus berfokus pada seni tari Bali. Berbagai tarian tradisional diajarkan kepada peserta sesuai dengan tingkat usia dan kemampuan mereka. Proses pembelajaran dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan, dengan penekanan pada ketepatan gerak, ekspresi, serta pemahaman nilai budaya yang terkandung dalam setiap tarian. Pendekatan ini menjadikan sanggar tidak hanya sebagai tempat latihan teknis, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran budaya yang menyeluruh.
Ujian Kenaikan Tingkat (Sumber:Koleksi Sanggar)
Sejak berdiri hingga kini, Sanggar Dwi Lestari mengalami perkembangan yang cukup pesat. Peserta sanggar berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak TK, remaja, hingga orang dewasa, termasuk ibu-ibu PKK. Minat masyarakat terhadap sanggar ini menunjukkan bahwa seni tari Bali masih memiliki tempat penting di tengah kehidupan sosial. Meskipun sempat mengalami masa vakum akibat pandemi Covid-19, aktivitas sanggar kembali berjalan dan tetap mendapat sambutan positif dari masyarakat. Hal ini mencerminkan daya tahan sanggar sebagai ruang budaya yang dibutuhkan dan dirasakan manfaatnya.
Sanggar Tari Bali Dwi Lestari juga memiliki peran nyata dalam pelestarian seni dan budaya Bali. Para peserta tidak hanya belajar di ruang latihan, tetapi dilibatkan secara langsung dalam berbagai kegiatan, seperti ngayah di pura, mengikuti lomba seni, tampil dalam festival budaya, serta mengisi acara-acara masyarakat. Keterlibatan langsung ini menjadi sarana efektif untuk menanamkan rasa tanggung jawab budaya, sekaligus memperkuat hubungan antara seni tari dan kehidupan sosial masyarakat Bali.
Latihan di Tempekan Kulat (Sumbeer: Koleksi Sanggar)
Salah satu keunikan Sanggar Dwi Lestari terletak pada sifatnya yang terbuka dan inklusif. Anggota sanggar berasal dari berbagai latar belakang, baik usia, sosial, maupun agama, termasuk Hindu, Islam, dan Kristen. Keberagaman ini tumbuh secara alami dan harmonis dalam ruang sanggar. Dalam proses latihan, perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang. Seni tari menjadi bahasa bersama yang menyatukan semua peserta dalam satu irama dan tujuan. Di sinilah taksu tidak hanya dimaknai sebagai kekuatan spiritual dalam tari, tetapi juga sebagai energi kebersamaan yang lahir dari sikap saling menghormati dan toleransi.
Keluarga Sanggar Tari Bali Dwi Lestari Berfoto Bersama (Sumber: Koleksi Sanggar)
Di era modern, tantangan utama yang dihadapi sanggar seni adalah menurunnya minat sebagian anak-anak serta kurangnya dukungan orang tua, disertai keterbatasan dukungan finansial. Meski demikian, Sanggar Dwi Lestari tetap bertahan dengan semangat pengabdian dan kerja bersama. Harapan sanggar terhadap generasi muda adalah agar mereka tetap memiliki kesadaran dan semangat untuk menjaga serta melestarikan warisan seni tari Bali, tidak hanya sebagai keterampilan, tetapi sebagai bagian dari identitas budaya.
Sanggar Tari Bali Dwi Lestari merupakan contoh nyata bagaimana seni tradisional dapat terus hidup di tengah perubahan zaman. Melalui proses pembelajaran yang terbuka, partisipatif, dan inklusif, sanggar ini tidak hanya melestarikan seni tari Bali, tetapi juga menanamkan nilai kebersamaan dan toleransi dalam kehidupan bermasyarakat. Di ruang sanggar ini, seni tidak sekadar ditampilkan, tetapi dihidupi menjadi denyut budaya yang terus bergerak, menari, dan diwariskan tanpa sekat.