Ketika Masakan Tionghoa Bertemu Rempah Bali: Rahasia Lezat Siobak Singaraja

Di balik ramainya kuliner khas Bali yang sering identik dengan babi guling atau lawar, ada satu hidangan unik dari Bali Utara yang jarang diketahui banyak orang yaitu Siobak Singaraja. Makanan ini lahir dari pertemuan dua tradisi kuliner berbeda yaitu masakan Tionghoa yang kaya akan cita rasa gurih-manis dan bumbu Bali yang terkenal berani dengan rempah.

Jan 22, 2026 - 05:49
Dec 30, 2025 - 20:59
Ketika Masakan Tionghoa Bertemu Rempah Bali: Rahasia Lezat Siobak Singaraja
Siobak Singaraja (Sumber: Koleksi Pribadi)

Asal Usul Siobak Singaraja

Siobak Singaraja merupakan makanan khas Bali Utara berbahan dasar daging babi yang tampilannya sekilas mirip siu bak ala Tionghoa. Namun, cita rasanya jelas berbeda karena dipadukan dengan bumbu rempah khas Bali. Hidangan ini berisi potongan berbagai bagian babi, mulai dari daging empuk, kulit goreng yang renyah, jeroan dengan tekstur khas, hingga telinga babi yang kenyal. Semua bagian ini diolah dengan ramuan khusus bernama “Loh Yang”, lalu disiram kuah kental berwarna cokelat pekat yang menjadi ciri khas Siobak Singaraja. Kehadiran rempah Bali membuat siobak memiliki rasa lebih berlapis, memadukan unsur gurih, manis, asin, serta aroma rempah yang kuat.

Salah satu tokoh penting dalam sejarah kuliner ini adalah Tan Khe Lok, warga keturunan Tionghoa yang kemudian dikenal sebagai pelopor warung siobak pada tahun 1963. Ia berasal dari keluarga peranakan Tionghoa-Bali, dengan ayah yang merupakan pendatang dari Tiongkok dan menikah dengan perempuan Bali asal Tejakula. Awalnya, Tan Khe Lok dan istrinya membuka warung sederhana yang menjual kebutuhan sehari-hari serta kue basah. Namun, tiga tahun setelah itu, ia mulai merintis warung siobak yang kemudian populer berkat kelezatan cita rasanya. Sejak saat itu, Siobak Singaraja semakin dikenal luas, bukan hanya di kalangan masyarakat lokal, tetapi juga menjadi bagian dari identitas kuliner khas Singaraja yang diwariskan hingga kini.

Jenis Daging yang Digunakan (Sumber: Koleksi Pribadi)

Bahan dan Proses Pembuatan Siobak Singaraja

Siobak Singaraja dibuat dengan memilih potongan daging babi dari berbagai bagian, di mana setiap potongan memiliki karakteristik tersendiri yang memperkaya cita rasa hidangan. Bagian daging utamanya dimasak hingga empuk, sehingga saat digigit terasa lembut dan mudah dikunyah. Tidak hanya itu, hati babi dan kremesan telur digoreng hingga kering, menghadirkan sensasi renyah yang kontras dengan kelembutan daging. Kerupuk kulit babi pun turut disajikan sebagai pendamping, menambah variasi tekstur sekaligus memberi sentuhan gurih yang khas. Beberapa bagian lain seperti jeroan diproses dengan cara direbus perlahan agar tetap matang merata namun tetap mempertahankan tekstur aslinya yang kenyal dan memberikan pengalaman berbeda dalam setiap suapan. Telinga babi juga menjadi salah satu komponen unik, menghadirkan rasa kenyal yang khas dan sering menjadi favorit bagi penikmat tekstur yang tidak biasa. Seluruh potongan ini kemudian dipotong kecil-kecil agar mudah disantap, sehingga setiap sendok berisi kombinasi yang seimbang antara daging, kulit, jeroan, dan telinga babi.

Kuah Siobak Singaraja (Sumber: Koleksi Pribadi)

Kuah Siobak Singaraja menjadi elemen paling khas yang membedakannya dari hidangan lain. Kuah ini dibuat dari perpaduan kecap manis dan kecap asin, lalu diperkaya dengan kaldu hasil rebusan tulang kepala babi yang dimasak perlahan selama berjam-jam hingga mengeluarkan sari rasa terbaiknya. Proses perebusan ini bukan hanya menghasilkan kuah yang gurih alami, tetapi juga memberi aroma harum yang khas dan menggugah selera sejak pertama kali kuah dituangkan. Cita rasa kuah siobak semakin kompleks berkat tambahan bumbu-bumbu khas seperti tauco yang menghadirkan sensasi asin dari fermentasi, kayu manis yang memberi sentuhan hangat sekaligus manis rempah, serta cabai rawit yang menghadirkan kejutan pedas di sela-sela suapan. Kehadiran bumbu ini tidak hanya menambah lapisan rasa, tetapi juga menciptakan harmoni unik antara manis, asin, gurih, pedas, dan sedikit asam yang berpadu dengan seimbang. Selain itu, penggunaan tepung maizena untuk mengentalkan kuah membuat teksturnya lebih lembut dan kental, sehingga setiap tetes kuah dapat menempel sempurna pada potongan daging. Alhasil, kuah tidak hanya menjadi pelengkap, melainkan benar-benar menjadi inti dari cita rasa siobak. Tanpa kuah yang khas ini, hidangan siobak tidak akan memiliki identitas sekuat sekarang.

Hidangan Siobak Singaraja (Sumber: Koleksi Pribadi)

Cita Rasa Siobak Singaraja

Keunikan Siobak Singaraja terletak pada perpaduan rasa dan teksturnya yang begitu kaya. Dalam satu piring, tersaji harmoni kuliner yang jarang ditemukan pada hidangan lain. Potongan daging babi dimasak hingga empuk, membuat setiap gigitan terasa lembut dan mudah dikunyah. Kulit goreng yang renyah menambahkan kontras tekstur yang memuaskan, sementara jeroan menghadirkan sensasi berbeda dengan karakteristiknya yang khas. Tidak kalah menarik, telinga babi yang kenyal memberi pengalaman unik, menghadirkan rasa yang jarang ditemui dalam hidangan sehari-hari. Seluruh potongan ini kemudian disatukan oleh kuah kental berwarna cokelat pekat, yang meresap ke dalam setiap daging dan menyelimuti mulut dengan kombinasi rasa gurih, manis, asin, serta aroma rempah yang kuat. Setiap suapan siobak menghadirkan sensasi berlapis, dimulai dari kelembutan daging, disusul oleh renyahnya kulit, lalu ditutup dengan kehangatan bumbu kuah yang kompleks. Pengalaman rasa yang begitu beragam ini membuat Siobak Singaraja memiliki daya tarik tersendiri, berbeda dengan kuliner Bali lainnya seperti lawar yang cenderung segar dan pedas, atau babi guling yang kaya akan bumbu tradisional Bali. Siobak Singaraja menghadirkan sesuatu yang baru yaitu sebuah pertemuan cita rasa yang lebih berimbang, lembut, dan kaya akan nuansa manis dan gurih khas masakan Tionghoa, namun tetap terasa akrab bagi lidah orang Bali.

Lebih dari sekadar hidangan, bagi masyarakat Singaraja, siobak memiliki makna simbolis yang mendalam. Hidangan ini lahir dari akulturasi budaya Tionghoa dan Bali yang telah hidup berdampingan selama berabad-abad. Dari awal mulanya yang sederhana, yakni sebuah warung kecil milik Tan Khe Lok dan istrinya, siobak kini menjelma menjadi kuliner ikonik yang identik dengan identitas kota Singaraja. Perjalanan Siobak Singaraja mencerminkan bagaimana masyarakat setempat mampu merangkul perbedaan, memadukan tradisi, serta menciptakan warisan kuliner yang unik dan berharga.