Kirateshwar Awatara: Turunnya Dewa Siwa untuk Menganugerahkan Arjuna

Hilangnya nilai-nilai kebenaran dan moral di Hastina Pura, membuat Maha Resi Wyasa khawatir akan keberlangsungan Dinasti Kuru. Merujuk kepada hal tersebut Maha Resi Wyasa, menemui Panca Pandawa yang sedang dalam pengasingan untuk meminta anugerah dari Dewa Siwa. Arjuna yang diperintahkan oleh Yudhistira, memulai perjalanannya menuju Himavat, disana Arjuna mendapatkan lebih banyak makna tentang kegigihan.

Jan 18, 2026 - 14:00
Nov 20, 2024 - 18:42
Kirateshwar Awatara: Turunnya Dewa Siwa  untuk Menganugerahkan Arjuna
Arjuna dan kehidupannya di masa lalu dengan narayan (sumber: koleksi pribadi)
Kirateshwar Awatara: Turunnya Dewa Siwa  untuk Menganugerahkan Arjuna

Kisah turunnya Dewa Siwa ke dunia sebagai Kirateshwar Awatara, memiliki hubungan yang erat dengan perseteruan panca pandawa dan kurawa. Pada masa pengasingan panca pandawa di dalam hutan, Resi Agung Vyasa datang untuk mengunjungi para pandawa guna memberikan informasi mengenai para kurawa. Resi Agung Vyasa memberitahu para pandawa, terkhusus Arjuna, kelak mereka harus bertarung dalam peperangan di masa depan. Resi Agung Vyasa menyarankan Arjuna untuk bertapa dan memohon berkat Ilahi dari Dewa Indra dan Dewa Siwa. Setelah kepergian Resi Agung Vyasa, Yudhistira memerintahkan Arjuna Untuk pergi ke pegunungan Himavat untuk bertapa agar mendapat berkat dari dewa Siwa.

(Yudhistiran dan Maha Resi Wyasa membahas tapa Dewa Siwa sumber: koleksi pribadi)

Mendengar perintah dari Kakak tertuanya itu, Arjuna langsung menuju pegunungan Himavat. Suatu ketika Arjuna memasuki kaki Gunung Himavat, ia melihat hutan itu kosong tanpa ada satu pun manusia disana. Ia dapat mendengar suara keong dan genderang dari surga. sehingga memupuk keinginannya mencapai puncak gunung Himavat. Arjuna terus mendaki sampai mencapai puncak.

Keindahan puncak pegunungan Himavat (sumber: koleksi pribadi)

Di sana banyak didapati berbagai jenis burung, warna air Sungai disana amat biru. Melihat keindahan yang ia saksikan, Arjuna memutuskan akan bertapa dan melakukan puja kepada Dewa Siwa disana. Di awal tapanya, Arjuna memakan daun-daun yang jatuh, serta memakan buah-buahan setiap tiga hari selamat satu bulan pertama. Pada bulan kedua, Arjuna memakan buah-buahan setiap hari keenam dan dua minggu sekali pada bulan ketiga.Di tengah pertapaannya, rambut kusut arjuna berubah warna menjadi seperti kilat. Hal itu menyebabkan panas yang berdampak kepada semua resi. Para resi pergi menemui Dewa Siwa untuk mengeluh, “Oh dewa para dewa, kami tidak tahu alasan mengapa putra Kunti melakukan tapa sekeras ini. Namun, ia menyebabkan kami kesakitan.“ Mendengar permintaan dari para brahmana. Dewa Siwa kemudian mengambil wujud Kirata, yaitu suku asli di pegunungan tersebut. Ia menyamar sebagai seorang yang sedang berburu, Bersama dengan banyak orang khususnya wanita Kirata lainnya. Pada dasarnya, Dewa Siwa turun ke dunia bukan hanya untuk menganugerahi Arjuna, tetapi juga menghentikan salah satu asura yaitu Muka. Muka mengambil wujud babi hutan, guna menganggu tapa, serta membunuh Arjuna.  Arjuna yang terusik, akhirnya nangkit dari tapanya. ia pun berusaha memanah Muka, dengan berbagai anak panah. Namun, panahnya tidak mengenai muka. sampai akhirnya satu serangan mengenai.

Panah Arjuna mengenai wujud babi hutan asura Muka (sumber: koleksi pribadi)

Saat anak panah Arjuna mengenai wujud babi hutan muka, seolah muncul suara gemuruh seperti halilintar milik Dewa Indra. Arjuna berkata kepada babi hutan itu, “Aku tidak datang kesini untuk menyakitimu, tetapi kau berusaha membunuhku. Oleh karena itu, aku harus mengirimmu untuk diadili di kediaman Yamaraja.” Melihat Arjuna hendak membinasakan babi hutan itu, Dewa Siwa menyerukan kepada Arjuna, “Jangan bunuh babi hutan ini karena aku yang telah membidiknya terlebih dahulu!” Akan tetapi Arjuna mengaibaikan perintah itu lalu menembak babi hutan itu.” Pada saat yang sama Kirata juga melesatkan anak panahnya dan kedua panah itu pun mengenai babi hutan tersebut. Saat babi hutan itu terkena anak panah, ia langsung menyerahkan nyawanya menggunakan wujud asli Raksasha. tiba-tiba, ada seseorang yang juga ingin menangkap hasil buruannya, oarng itu adalah Kirata. Kirata dan Arjuna Berdebat anak panah siapakah siapakah yang lebih dahulu mengenai babi hutan tersebut. Arjuna dengan lagak yang sombong mengatakan bahwa tidak ada pemanah di dunia ini yang mampu menandinginya. Namun, Kirata justru meremehkan Arjuna. Mengetahui Kirata meremehkannya, Arjuna pun merasa tertantang. Arjuna melepaskan anak panah mematikan, ke arah Kirata. Kemudian kedua ksatria perkasa itu mulai melepaskan anak panah dalam berbagai bentuk satu sama lain. Kirata yang merupakan Awatara Siwa tidak terguncang oleh serangan yang diberikan Arjuna.

Arjuna dan kirata bertarung menggunakan busur (sumber: koleksi pribadi)

Melihat hal itu, Arjuna berkata, “Bagus sekali!,” Dalam pikirnya Arjuna bertutur, “Siapakah dia? Apakah dia adalah Dewa Siwa atau dewa setengah dewa lainnya, mungkinkah dia adalah yaksha atau asura. Kemudia Arjuna menarik tali busur Kirata dan memukulnya berulang kali hingga bunyinya seperti petir. Namun, Kirata menyambar busur dari tangan Arjuna. Setelah itu, Arjuna langsung mengambil pedangnya dan berlari ke arah Kirata untuk mengakhirinya. Arjuna, dengan kekuatan penuh, menghunus pedang ke arah mahkota Kirata yang berkilauan. Saat menyentuh mahkota kirata, pedang itu hancur menjadi ratusan keping. Merasa marah, Arjuna kemudian melemparkan pohon dan batu kemudian Arjuna memukul Kirata dengan tinju yang mengepal. Namun Kirata juga juga menekan dada Arjuna sampai Arjuna jatuh tak sadarkan diri.

Arjuna segera sadar kembali, dia menyebut nama Dewa Siwa dalam hatinya. Dalam hatinya, Arjuna mempersembahkan sebuah karangan bungan. Ketika ia mendongak, karangan bunga itu berada di mahkota Kirata. Arjuna akhirnya mengetahui indenitas asli dari Kirata, ia adalah Dewa Siwa. Arjuna bersimpuh karena bahagianya, melihat Dewa Siwa, melihat kegigihan Arjuna dewa Siwa hendak menganugerahinya senjata yang tak terkalahkan.

Arjuna bertemu Dewa Siwa (sumber: koleksi pribadi)

Arjuna bersujud di hadapan Dewa Siwa, ia pun berkata, "Oh Dewa Siwa, sudah sepantasnya Anda memaafkan kesalahanku. Untuk mendapatkan penglihatan Anda, aku datang ke gunung ini untuk melakukan tapa. Aku memuja Anda untuk mendapatkan karunia Anda. Tolong jangan menganggap kelancanganku sebagai kesalahan. Saya memohon perlindungan anda, maafkan aku atas semua pelanggaran yang telah kulakukan." Dewa Siwa, lalu menggenggam tangan Arjuna lalu ia menuturkan, "Aku telah memaafkanmu. Dalam kehidupanmu sebelumnya, kau adalah Nara (Manusia), sahabat Narayana. Wahai dewa, angkat busurmu yang ganas, yang bunyinya menyerupai gemuruh guntur yang dalam, kau, dan juga Dewa Krishna, menghukum para iblis saat penobatan Indra.”

Arjuna dan kehidupannya di masa lalu dengan narayan (sumber: koleksi pribadi)

Arjuna pun akhirnya meminta pasupata astra milik Dewa Siwa. Karena kegigihan Arjuna, Dewa Siwa memberikannya senjata kesayangannya Pasupata Astra. Senjata ini akan melayani Arjuna sama seperti ia melayani Dewa Siwa. Akan tetapi bila Pasupata Astra digunakan untuk menyerang orang yang lebih lemah maka, Dunia akan hancur seketika.

Files