Ramayana Uttara Kanda: Jejak Terakhir Kisah Cinta, Pengorbanan dan Takdir Rama dan Sita
Bagian ke tujuh/terakhir Ramayana mengisahkan pertemuan dua sejoli Rama Sita dengan cinta kasih sejati di taman Asokawana. Kisah-kisah terakhir Rama sebagai bagian kerajaan hingga tirta yatra Rama ke sungai Serayu.

Setelah berhasil mengalahkan Rahwana dan menyelamatkan Sita, Rama kembali ke Ayodhya dalam kejayaan besar. Kota yang telah lama merindukan pemimpinnya menyambutnya dengan penuh sukacita dan rasa syukur. Jalanan Ayodhya dipenuhi dengan rakyat yang bersorak-sorai, bunga-bunga yang tersebar di sepanjang jalan, dan musik meriah yang mengiringi langkah-langkah mereka. Rama, bersama Sita yang setia di sisinya dan Lakshmana yang gagah, memasuki kota dalam sebuah iring-iringan megah yang dipenuhi keagungan. Momen itu menjadi bersejarah, ketika Rama dengan penuh kehormatan dinobatkan sebagai raja yang sah di Ayodhya, membawa kedamaian dan kemakmuran ke seluruh kerajaan.
Rama memimpin Ayodhya dengan bijaksana, menjunjung tinggi prinsip kebenaran dan keadilan. Masa pemerintahannya, dikenal sebagai Rama Rajya, dipenuhi kedamaian dan kemakmuran. Di bawah kepemimpinannya, rakyat hidup bahagia dan harmonis. Setiap kebijakan didasarkan pada dharma, memastikan keadilan bagi semua, tanpa memandang status sosial. Meskipun Ayodhya menikmati kesejahteraan, Rama tetap merasakan kesedihan yang mendalam akibat pengorbanannya, terutama keputusan untuk mengasingkan Sita. Meski terluka secara pribadi, Rama tetap berkomitmen menjaga keadilan dan kesejahteraan bagi kerajaannya.
Bayangan Keraguan di Tengah Kebahagiaan (Sumber: Koleksi Pribadi)
Meskipun Sita telah membuktikan kesuciannya melalui Agni Pariksha, keraguan tetap muncul di kalangan rakyat mengenai masa lalunya saat berada di Lanka. Desas-desus mulai menyebar, mempertanyakan apakah Sita tetap murni selama diculik oleh Rahwana. Gosip dan spekulasi ini menciptakan gelombang ketidakpuasan di antara rakyat Ayodhya, menempatkan Rama dalam situasi yang sulit meskipun Sita telah terbukti suci.
Rama menghadapi dilema besar. Di satu sisi, ia tahu bahwa Sita adalah wanita yang suci dan setia, namun di sisi lain, sebagai raja, ia harus memikirkan kehendak rakyat dan menjaga martabat kerajaannya. Setelah berjuang dengan keputusan ini, Rama akhirnya, dengan berat hati, memutuskan untuk mengasingkan Sita demi menjaga nama baik kerajaan, meskipun keputusan ini sangat menyakitkan baginya.
Pengasingan di Tepi Gangga (Sumber: Koleksi Pribadi)
Sita, yang pada saat itu sedang mengandung anak kembar, dibawa oleh Lakshmana ke hutan atas perintah Rama. Lakshmana, meskipun dengan hati yang hancur, meninggalkan Sita di tepi sungai Gangga, dekat dengan pertapaan Resi Valmiki. Sita yang penuh kesedihan namun tetap tegar, menerima nasibnya dan mulai menjalani hidup yang sederhana di pertapaan Valmiki.
Sita diterima dengan hangat oleh Resi Valmiki di pertapaannya. Di sana, dia menjalani kehidupan sederhana, jauh dari kemewahan istana. Sita menemukan ketenangan dalam pertapaan tersebut, meski kesedihan akan pengasingan yang tak adil masih menyelimuti hatinya. Dia menantikan kelahiran anak-anaknya sambil berdoa dan melakukan tugas sehari-hari di bawah perlindungan Valmiki.
Di bawah bimbingan Resi Valmiki, Lava dan Kusha tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas, kuat, dan berbudi luhur. Mereka belajar ilmu pengetahuan, filsafat, seni bela diri, serta mempelajari kisah Ramayana yang ditulis oleh Valmiki. Mereka tidak mengetahui bahwa kisah tersebut adalah tentang orang tua mereka. Lava dan Kusha menjadi sangat terampil dalam segala hal, dan kebijaksanaan.
Ashwamedha Yagna (Sumber: Koleksi Pribadi)
Di Ayodhya, Rama memutuskan untuk mengadakan Ashwamedha Yagna, sebuah ritual besar untuk memperluas kekuasaannya dan menegaskan otoritasnya sebagai raja. Seekor kuda dilepaskan untuk berkeliling kerajaan, dan siapa pun yang menangkap kuda itu dianggap menantang otoritas raja. Banyak kerajaan yang membiarkan kuda itu lewat sebagai tanda penghormatan kepada Rama, namun perjalanan kuda itu membawa tantangan yang tak terduga.
Saat kuda tersebut tiba di dekat pertapaan Resi Valmiki, Lava dan Kusha, tanpa mengetahui bahwa kuda tersebut milik ayah mereka, menangkapnya. Mereka melihat ini sebagai kesempatan untuk menunjukkan keberanian mereka. Mereka tidak menyadari bahwa tindakan ini akan memicu serangkaian peristiwa yang tidak terduga.
Perlawanan dari Prajurit Ayodhya (Sumber: Koleksi Pribadi)
Mendengar bahwa kuda telah ditangkap, prajurit Ayodhya, termasuk Bharata dan Shatrughna, datang untuk mengambil kembali kuda tersebut. Namun, dalam pertempuran sengit, Lava dan Kusha menunjukkan keterampilan luar biasa dalam bertarung dan berhasil mengalahkan para prajurit, termasuk paman-paman mereka sendiri, meski mereka tidak menyadarinya.
Kabar tentang dua pemuda yang berhasil mengalahkan prajurit Ayodhya sampai ke telinga Rama. Dipenuhi rasa penasaran, Rama memutuskan untuk menemui langsung kedua pemuda pemberani yang telah mampu mengalahkan pasukannya. Rama sama sekali tidak menyadari bahwa kedua pemuda itu adalah putra-putranya sendiri, Lava dan Kusha.
Sebelum pertempuran lebih lanjut terjadi, Resi Valmiki tiba dan mengungkapkan identitas Lava dan Kusha sebagai putra-putra Rama. Rama terkejut dan dipenuhi kebahagiaan mendalam saat mengetahui bahwa kedua pemuda pemberani yang mengalahkan pasukannya adalah anak-anaknya sendiri, yang selama ini tidak diketahuinya.
Atas undangan Rama, Lava dan Kusha menyanyikan kisah Ramayana yang telah mereka pelajari dari Valmiki. Dengan penuh rasa bangga dan hormat, mereka menceritakan semua peristiwa yang terjadi, termasuk pengasingan ibu mereka, Sita. Rama mendengarkan dengan campuran emosi, dari kebanggaan hingga kesedihan.
Sebuah Penantian (Sumber: Koleksi Pribadi)
Rama memanggil Sita untuk kembali ke Ayodhya bersama Lava dan Kusha, berharap dapat menyatukan keluarganya yang telah lama terpisah. Namun, begitu kabar ini sampai ke telinga rakyat Ayodhya, keraguan dan desas-desus kembali mencuat. Mereka sekali lagi menuntut agar Sita membuktikan kesuciannya, meski ia telah melakukannya di masa lalu. Tekanan dari rakyat yang masih belum puas membuat situasi menjadi semakin rumit. Meskipun hati Rama ingin menerima Sita tanpa syarat, ia terpaksa menghadapi dilema besar, terjebak antara cintanya kepada Sita dan tanggung jawabnya sebagai seorang raja.
Sita, yang telah mengalami cukup banyak penderitaan, menolak untuk membuktikan kesuciannya lagi. Dalam kesedihan dan keputusasaan, dia memohon kepada Ibu Pertiwi untuk menerimanya kembali. Bumi pun terbuka, dan Sita diserap ke dalam tanah, kembali kepada ibunya, Pertiwi. Rakyat dan Rama menyaksikan peristiwa ini dengan hati yang penuh duka.
Kepergian Sita meninggalkan luka yang mendalam di hati Rama. Walaupun ia telah dipertemukan kembali dengan putra-putranya, kehilangan Sita menjadi beban yang terus menghantui pikirannya. Meskipun hatinya dipenuhi kesedihan, Rama tetap menjalankan tugasnya sebagai raja dengan penuh dedikasi, mengutamakan kepentingan rakyatnya di atas segalanya.
Persiapan Penerus Dinasti Ayodhya (Sumber: Koleksi Pribadi)