Yatinath Awatara : Kisah Penyamaran Sang Dewa Siwa
Dewa Siwa datang dengan penyamaran sebagai orang tua kepada sepasang suami istri untuk menguji kesetiaan dan ketulusan hambanya, sampai suatu takdir aahuk yang datang tanpa diduga sama sekali, dan pengorbanan aahuka, yaitu sang istri ke dalam kobaran api yang besar
Di puncak Gunung Arbudachal yang suci, tinggalah sepasang suami istri yang setia bernama Aahuk dan Aahuka, penyembah setia Dewa Siwa yang setia
Sepasang suami istri yg sedang berada diatas bukit (Sumber : koleksi pribadi)
Untuk menguji kesungguhan devosi mereka, Dewa Siwa menyamar sebagai seorang pertapa bernama Yatinath dan muncul di hadapan mereka.
Aahuk, yang mengenali esensi ilahi dari tamunya, menyambutnya dengan hangat dan memberikan penghormatan tertinggi. Ia langsung menghampiri nya dengan sapaan yang sangat ramah tanpa memandang fisik dari dewa siwa yang sedang menyamar
Yatinath, yang sebenarnya adalah Dewa Siwa dalam penyamaran, dengan rendah hati meminta tempat untuk menginap semalam. Aahuk merasa sedikit keberatan dikarenakan tempat tinggal nya yang kecil, aahuk terdiam sejenak karena memikirkan hal tersebut.
Namun, Aahuka tidak tinggal diam, ia mendorong dan membujuk suaminya untuk mengorbankan kenyamanannya dan tidur di luar gubuk, agar dewa siwa yang sedang menyamar tersebut bisa tidur dengan nyaman.
Meski dengan enggan dan berat hati, Aahuk setuju, dan pada malam itu, Yatinath dan Aahuka tidur di dalam gubuk sederhana sementara Aahuk tidur di atas tumpukan jerami yang berada diluar gubuk tersebut
Sayangnya, selama malam, hewan liar mendekati gubuk mereka…
binatang buas sedang mendatangi gubuk (Sumber : Koleksi pribadi)
Aahuk terbangun dari tidurnya dan segera mengambil tombak bambu di depan gubuknya, ia berlari sekencang kencang nya ke arah tombak bambu tersebut.
Kemudian Aahuk bertarung melawan binatang liar dengan sekuat tenaga untuk melindungi gubuknya, mereka bertempur dengan kekerasan yang luar biasa. Aahuk merhasil menusuk beberapa bagian tubuh dari hewan liar tersebut, akan tetapi hewan liar tersebut sangatlah tangguh dan kuat
Binatang liar mulai memojokkan Aahuk dengan menggigit tangannya, mencegahnya memegang senjatanya. Aahuk masih mencoba untuk membebaskan dirinya dari gigitan si hewan liar, akan tetapi tenaga aahuk sudah mulai habis dan Aahuk mulai tidak berdaya
Pada akhirnya, Aahuk dikalahkan oleh binatang liar, menderita banyak luka di seluruh tubuhnya. akibat kurang nya darah yang disebabkan oleh luka luka di tubuhnya, Aahuk harus menemui akhir hidupnya di tangan binatang liar....
malam pun berganti menjadi pagi, Aahuka sangat terkejut melihat Aahuk yang tak bernyawa dan terluka parah. dia terdiam dengan perasaan yang tercampur aduk, perasaan bingung, sedih, marah, dan duka menjadi 1 perasaan. tanpa disadari, Aahuka menetaskan air mata
Dalam kesedihan yang mendalam, Dewa Siwa mengungkapkan wujud aslinya dan menyaksikan peristiwa tragis tersebut. Aahuka, tidak tergoyahkan oleh tragedi itu, memutuskan untuk merangkul pengorbanan diri dengan melompat ke dalam api pembakaran.
Aahuka mengorbankan dirinya pada kobaran api besar (Sumber : koleksi pribadi)
Tersentuh oleh devosi mereka yang tulus, Dewa Siwa memberkati Aahuka yang sedang berduka. Beliau meramalkan bahwa Aahuk akan terlahir kembali sebagai anggota keluarga kerajaan bernama Nala, sementara Aahuka akan terlahir kembali sebagai Damayanti. Dengan keyakinan akan campur tangan ilahi, Dewa Siwa berjanji akan muncul dalam bentuk angsa untuk memfasilitasi pertemuan mereka kembali.
Reinkarnasi Aahuk dan Aahuka
Dengan kata-kata ini, Dewa Siwa menampakkan diri sebagai Shivalinga yang tak tergoyahkan, yang kemudian dikenal sebagai Achaleshwar Linga. Linga suci ini menjadi simbol berkah ilahi yang diberikan kepada Aahuk dan Aahuka, memastikan persatuan takdir mereka di kehidupan berikutnya sebagai Nala dan Damayanti.