Mausala Parwa: Kehancuran Dwaraka dan Lahirnya Kali Yuga

Mausalaparwa adalah adalah buku keenam belas dari seri kitab Mahabharata yang menceritakan kehancuran kota Dwaraka dan berakhirnya zaman Dvapara Yuga serta dimulainya Kali Yuga. Dengan wafatnya Krishna dan kehancuran Dwaraka, dimulailah zaman Kali Yuga yang penuh dengan kekacauan, kebohongan, dan konflik yang menandai kemunduran spiritual umat manusia.

Jan 2, 2026 - 15:00
Nov 20, 2024 - 18:39
Mausala Parwa: Kehancuran Dwaraka dan Lahirnya Kali Yuga
Mausalaparwa (Sumber: Koleksi Pribadi)

Setelah berakhirnya Perang Kurukshetra, kemenangan Pandawa menjadi simbol kebenaran yang mengalahkan ketidakadilan. Yudhisthira sebagai yang tertua, diangkat menjadi Raja Hastinapura. Kemenangan ini memakan pengorbanan yang besar. Hampir seluruh keluarga besar termasuk para pahlawan seperti Bhishma, Drona, Karna, dan Duryodhana, telah gugur di medan perang meninggalkan duka yang mendalam bagi para ibu dan janda yang kehilangan anak-anak mereka. Kunti dan Gandhari, ibu dari Pandawa dan Kaurava, merasakan kehilangan yang tak terhingga, menciptakan luka yang akan terus membekas. Meski Yudhisthira telah memperoleh posisi yang telah lama menjadi haknya, ia tetap dibayangi oleh kesedihan dan rasa bersalah atas kehancuran yang telah terjadi.

Setelah perang Kurukshetra berakhir, Krishna yang telah memainkan peran penting sebagai penasihat dan pengemudi kereta Arjuna, kembali ke Dwaraka bersama seluruh suku Yadava. Meskipun kemenangan telah diraih dan keadilan ditegakkan, Krishna menyadari bahwa kemenangan ini hanyalah awal dari rangkaian peristiwa yang lebih besar dan lebih tragis. Dengan wawasan ilahi, Krishna mengetahui bahwa kehancuran besar lainnya sudah mendekat sebuah takdir yang tak terhindarkan bagi dinasti Yadava. Meskipun demikian, Krishna menjalani hidupnya dengan tenang menerima dengan lapang dada apa yang akan datang.

Di Dwaraka, kehidupan perlahan kembali normal setelah kembalinya Krishna dan para Yadava dari Perang Kurukshetra. Suku Yadava yang dikenal karena kekuatan dan kepahlawanan mereka, menikmati masa damai yang tampak penuh kesejahteraan. Di bawah kepemimpinan bijak Krishna dan saudara-saudaranya termasuk Balarama, Dwaraka berkembang sebagai pusat kemakmuran dan kemegahan. Namun, di balik kedamaian yang terlihat, tanda-tanda buruk mulai muncul. Beberapa kejadian aneh dan firasat mengganggu mulai terasa, seperti mimpi-mimpi buruk dan pertanda alam yang ganjil. Meski demikian, kebanyakan orang mengabaikan tanda-tanda ini, terbuai oleh kenyamanan dan kemakmuran yang mereka nikmati, tanpa menyadari bahwa bencana besar sedang mendekat.

Kedatangan Para Resi (Sumber: Koleksi Pribadi)

Suatu hari, Dwaraka dikunjungi oleh sekelompok resi suci yang sangat dihormati, termasuk Vishwamitra, Narada, dan Kanwa, yang dikenal karena kekuatan spiritual mereka yang luar biasa dan kemampuan mereka untuk memengaruhi nasib dunia. Kedatangan para resi ini membawa aura yang penuh misteri, seolah mereka membawa pesan penting yang tak terucapkan. Krishna yang selalu waspada terhadap pertanda, menyambut mereka dengan penuh hormat, begitu juga dengan anggota suku Yadava lainnya yang turut memberikan penghormatan tinggi. Kehadiran para resi di Dwaraka tidak hanya dianggap sebagai suatu kehormatan, tetapi juga sebagai pertanda akan terjadinya sesuatu yang besar dan mungkin mengubah arah kehidupan mereka.

Beberapa pemuda Yadava termasuk Samba, putra Krishna yang dikenal nakal, memutuskan untuk bermain-main dengan para resi yang suci. Dalam tindakan yang dipenuhi dengan kelancangan, mereka mendandani Samba sebagai seorang wanita hamil, lengkap dengan perut yang tampak buncit, dan kemudian membawa dia ke hadapan para resi dengan maksud mempermainkan mereka. Dengan sikap penuh ejekan, mereka berpura-pura bertanya kepada para resi tentang jenis kelamin bayi yang "akan dilahirkan" oleh Samba. Meski dimaksudkan sebagai lelucon oleh para pemuda Yadava, namun hal ini dianggap sangat tidak hormat dan menghina terhadap para resi yang memiliki kedudukan suci dan spiritual yang tinggi. Para resi yang dikenal memiliki kesabaran yang tinggi, kali ini merasa terhina oleh pelecehan yang terang-terangan terhadap martabat mereka.

Merasa dipermainkan dan dihina, para resi yang suci itu menjadi sangat marah. Salah satu dari mereka mengucapkan kutukan yang mengerikan: "Anak" yang akan dilahirkan oleh Samba bukanlah seorang bayi, melainkan sebuah gada besi (mausala) yang kelak akan menjadi penyebab kehancuran seluruh suku Yadava. Kutukan ini segera menimbulkan ketakutan dan kecemasan di antara anggota suku Yadava yang mendengarnya. Namun, suku Yadava banyak yang meremehkan ancaman tersebut dan menganggapnya sebagai kata-kata yang tak berarti. Hanya sedikit yang menyadari bahwa kutukan dari para resi suci ini bukanlah sesuatu yang bisa diabaikan dan nasib tragis yang tertulis dalam kutukan itu akan segera mengubah kehidupan mereka selamanya.

Munculnya Gada Besi Besar (Sumber: Koleksi Pribadi)

Kutukan para resi segera terbukti benar. Tak lama setelah kutukan itu diucapkan, Samba, yang sebelumnya dipermainkan sebagai "wanita hamil," secara mengejutkan "melahirkan" sebuah gada besi besar, yang wujudnya sangat menakutkan dan penuh dengan aura kehancuran. Kejadian ini mengejutkan seluruh suku Yadava, yang awalnya menganggap enteng kutukan tersebut. Melihat gada besi itu, mereka mulai sadar bahwa kata-kata para resi bukanlah sekedar ancaman kosong, melainkan pertanda malapetaka yang nyata. Ketakutan mulai merasuki hati mereka. Mereka menyadari bahwa masa depan suku Yadava yang sebelumnya kuat dan penuh kejayaan, kini tergantung pada benda terkutuk itu. Kesadaran bahwa kehancuran besar yang sedang mengintai di depan mereka membuat seluruh suku Yadava mulai khawatir. Bayangan takdir yang mengerikan perlahan menyelimuti Dwaraka dan merusak ketenangan dan kemakmuran yang pernah mereka nikmati.

Menyadari potensi bahaya besar dari gada besi yang terkutuk itu, para pemimpin suku Yadava segera mengadakan pertemuan dan dengan penuh kebijaksanaan memutuskan untuk menghancurkan gada tersebut menjadi potongan-potongan kecil. Mereka sadar bahwa kutukan yang dijatuhkan oleh para resi sangat berbahaya dan bisa membawa kehancuran bagi seluruh suku mereka, sehingga tidak ada pilihan lain selain menghancurkan senjata tersebut. Dengan harapan dapat menggagalkan kutukan itu, mereka menggunakan kekuatan yang ada untuk memecah gada itu hingga menjadi serpihan-serpihan kecil. Setelah proses penghancuran selesai, dengan perasaan lega dan percaya bahwa tindakan mereka sudah cukup untuk mengakhiri kutukan, mereka kemudian membuang potongan-potongan besi tersebut ke laut. Mereka yakin bahwa lautan yang luas dan dalam akan mampu menelan ancaman tersebut selamanya, membawa serpihan-serpihan besi itu jauh dari daratan dan dari kehidupan mereka.

Meskipun telah dibuang ke laut dengan harapan untuk menghindari kutukan, potongan-potongan besi dari gada terkutuk itu ternyata terdampar kembali ke pantai. Potongan-potongan ini mulai menyebar di sepanjang garis pantai, terhampar di berbagai tempat dan berubah menjadi alat-alat tajam yang tampaknya tidak bisa dihancurkan lagi. Fenomena ini segera dianggap sebagai pertanda buruk oleh suku Yadava, yang menyadari bahwa kutukan itu tidak bisa dihindari. Setiap serpihan besi yang ditemukan di pantai menjadi simbol nyata dari nasib buruk yang akan datang. Rasa cemas dan ketidakberdayaan menyelimuti suku Yadava. Mereka merasa bahwa nasib buruk mereka sudah dekat dan tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan untuk menghindari kehancuran yang sudah diprediksi oleh para resi.

Beberapa waktu setelah kejadian dengan gada terkutuk, seluruh suku Yadava berkumpul di Prabhasa untuk merayakan sebuah festival. Namun, di balik kemeriahan festival, tersembunyi ketegangan yang mendalam dan tak terlihat oleh banyak orang. Meskipun Krishna dan Balarama sadar akan kutukan yang mengancam keselamatan, mereka tetap hadir untuk memimpin pertemuan ini dengan tujuan untuk memberikan ketenangan dan harapan kepada suku mereka. Krishna, dengan kebijaksanaannya yang mendalam berusaha menjaga suasana tetap positif, sementara Balarama sebagai pendukung setia berdiri di sampingnya untuk menenangkan hati rakyatnya. Meski mereka berusaha keras untuk mengabaikan ancaman yang semakin mendekat, suasana di Prabhasa tetap dipenuhi oleh rasa cemas dan keraguan yang mengganggu. Hal ini menunjukkan bahwa kebahagiaan yang tampaknya begitu dekat mungkin hanya sementara, dan bahaya yang tak terhindarkan akan segera melanda.

Di tengah perayaan festival yang semula meriah dan penuh sukacita, suku Yadava mulai larut dalam euforia pesta dan mengonsumsi alkohol dalam jumlah yang sangat banyak. Suasana yang pada awalnya dipenuhi gelak tawa dan perayaan hangat berubah ketika minuman keras yang berlimpah mulai memengaruhi perilaku mereka secara drastis. Banyak dari mereka yang mabuk berat, kehilangan kendali atas pikiran dan tindakan mereka. Alkohol yang dikonsumsi secara berlebihan menumpulkan penilaian mereka, sehingga hal-hal sepele yang sebelumnya diabaikan tiba-tiba menjadi pemicu konflik. Perbedaan pendapat dan ketegangan kecil yang sudah lama tertahan di bawah permukaan, yang biasanya tak diperhatikan saat mereka sadar, kini berubah menjadi argumen-argumen sengit. Kata-kata kasar terlontar, tindakan provokatif semakin menguat, dan perselisihan yang awalnya hanya percakapan sengit berubah menjadi pertengkaran fisik.

Pertengkaran yang awalnya hanya melibatkan beberapa orang segera berkembang menjadi perkelahian massal yang mengerikan. Dalam keadaan mabuk dan kehilangan kendali, para Yadava mulai menggunakan potongan-potongan besi dari gada terkutuk sebagai senjata. Pertarungan yang terjadi menjadi sangat brutal dan mengerikan. Ketegangan yang terpendam selama ini meledak dalam bentuk kekerasan yang tak tertahan, dengan para pejuang yang mabuk saling menyerang dengan penuh amarah dan kebencian. Kekacauan ini mengakibatkan banyak kematian dan suku Yadava harus menghadapi kenyataan mengerikan dari kutukan yang telah mereka coba untuk abaikan.

Konflik yang bermula kecil segera berkembang menjadi perang saudara penuh di antara suku Yadava, mengubah hubungan yang dulunya erat antara teman dan keluarga menjadi permusuhan yang mematikan. Dalam suasana kekacauan ini, tidak ada satupun yang berusaha menghentikan kekerasan yang merajalela. Sebaliknya, kebencian, kemarahan, dan dendam menjadi kekuatan yang mendominasi, memperburuk situasi yang sudah buruk. Suku Yadava yang sebelumnya dikenal sebagai masyarakat yang kuat dan bersatu, kini terpecah dalam kekacauan total, merasakan dampak dari kutukan yang selama ini dianggap sepele. Dalam kekacauan ini, kehancuran yang telah diramalkan semakin dekat.

Pertarungan ini berlanjut tanpa henti, dengan suku Yadava saling membunuh satu sama lain dalam sebuah kekacauan yang mengerikan. Setiap hari, anggota suku Yadava tewas satu per satu dalam pertempuran. Pahlawan besar yang dulu dihormati, prajurit kuat yang pernah menjadi simbol kekuatan, dan individu-individu yang pernah meraih kejayaan di Perang Kurukshetra semuanya menemui ajal mereka di medan perang. Kejayaan yang dulu memancar dari suku Yadava kini lenyap, tak meninggalkan apa-apa kecuali kehampaan dan reruntuhan. Dengan setiap pertarungan yang berakhir, jejak kemegahan mereka semakin pudar, dan akhirnya seluruh suku Yadava musnah dalam kegelapan yang menyelimuti tanah mereka. Kejayaan yang pernah mereka nikmati kini menjadi kenangan pahit yang tenggelam dalam kehancuran total yang tak terhindarkan, mengukir akhir yang tragis dari dinasti yang dulu agung.

Krishna menyaksikan kehancurkan Dwaraka (Sumber: Koleksi Pribadi)

Krishna, yang sejak awal menyadari bahwa kehancuran suku Yadava adalah hasil dari kutukan para resi, hanya bisa menyaksikan dengan hati yang berat dan penuh kesedihan. Meskipun memiliki kekuatan luar biasa dan kebijaksanaan yang mendalam, Krishna terhalang oleh kekuatan takdir yang telah tertulis dan tidak dapat diubah. Dalam upaya untuk menghentikan kekacauan yang melanda, Krishna berusaha keras untuk meredakan kekerasan dan menenangkan hati mereka yang terlibat, namun semua usahanya tampak sia-sia di tengah arus yang tak tertahan. Kehancuran suku Yadava yang sangat menyakitkan dan memilukan, merupakan bagian dari rencana yang tidak bisa dihindari atau diubah. Dengan rasa penyesalan yang mendalam, Krishna menyaksikan kemusnahan suku yang pernah sangat dicintainya sebagai bagian dari siklus alam semesta yang lebih luas dan tak terhindarkan.

Setelah menyaksikan seluruh rangkaian peristiwa tragis yang mengarah pada kehancuran suku Yadava, Krishna merasa bahwa tugasnya di bumi telah selesai. Dengan penuh kesadaran akan berakhirnya zaman, dia memilih untuk mengundurkan diri ke hutan mencari tempat yang tenang dan damai untuk merenung dan mengakhiri perjalanan hidupnya. Dalam kedamaian alam, Krishna duduk di bawah pohon besar, yang menjadi saksi bisu dari refleksi dan ketenangannya. Di tengah heningnya hutan, dia merasakan kedamaian batin yang mendalam, memahami bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah bagian dari takdir. Dengan sikap penuh penerimaan, Krishna menunggu akhir hidupnya menyadari bahwa perannya di dunia ini telah selesai, dan bahwa kepergiannya akan menandai penutup dari era yang penuh dengan tantangan dan pembelajaran.

Saat Krishna duduk dengan tenang di bawah pohon besar di hutan, menikmati keheningan alam yang damai, seorang pemburu bernama Jara tengah berjalan di sekitar area tersebut dalam pencariannya akan mangsa. Jara, yang tidak menyadari keberadaan Krishna, fokus pada perburuan dan mengarahkan pandangannya ke arah semak-semak. Dari balik dedaunan, Jara melihat sekilas sesuatu yang menyembul, dan dengan penglihatannya yang terlatih, ia mengira bahwa yang ia lihat adalah kaki seekor rusa, mangsa yang biasa ia buru. Tanpa berpikir dua kali dan yakin bahwa itu adalah buruannya, Jara dengan cepat mengambil busur dan menyiapkan panahnya. Namun, tanpa disadari oleh Jara, panah tersebut bukan mengenai seekor rusa, melainkan kaki Krishna. Panah itu menembus dengan tepat dan melukai Krishna secara fatal. Luka yang ditimbulkan oleh panah tersebut sangat parah, dan mengancam nyawa.

Meskipun terluka parah dan berada di ambang kematian, Krishna tetap menunjukkan ketenangan yang luar biasa, tanpa sedikit pun menunjukkan kemarahan atau rasa dendam terhadap Jara, pemburu yang telah secara tidak sengaja melukainya. Dengan kebijaksanaan yang mendalam dan hati yang penuh pengertian, Krishna langsung memahami bahwa peristiwa ini bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari takdir yang telah ditentukan untuk dirinya. Bahkan dalam situasi yang kritis, Krishna memaafkan pemburu yang malang tersebut, menyadari bahwa Jara hanya menjalankan perannya dalam skema besar kehidupan yang diatur oleh kekuatan takdir. Krishna menerima nasibnya dengan lapang dada, menganggap bahwa kematiannya adalah transisi yang wajar dalam perjalanan spiritualnya. Dia melanjutkan sisa waktunya di dunia dengan sikap penuh penerimaan, menghadapinya dengan ketenangan dan kedamaian yang mendalam, menutup lembaran terakhir dari perjalanan duniawinya dengan kebijaksanaan dan ketenangan batin yang tiada tara.

Balarama Meditasi di Tepi Pantai (Sumber: Koleksi Pribadi)

Sementara itu, Balarama saudara Krishna yang setia merasa bahwa waktunya juga telah tiba untuk menyelesaikan tugasnya di bumi. Dengan pemahaman yang mendalam tentang akhir dari era mereka, Balarama pergi ke tepi pantai untuk bermeditasi dalam keheningan dan kedamaian. Dalam meditasi mendalamnya, dia meninggalkan tubuh duniawinya, melampaui batas-batas fisik dan kembali ke alam ilahi. Balarama yang dikenal sebagai avatar dari Shesha, raja para naga, mengalami transformasi kembali ke wujud aslinya setelah menyelesaikan tugasnya di bumi. Proses ini menandai akhir dari perjalanan spiritualnya di dunia dan kembalinya ke alam kekekalan yang penuh dengan kemuliaan dan kekuatan. Dengan keberangkatan Balarama tugas mereka di bumi selesai, dan siklus kosmik mereka mencapai puncaknya, meninggalkan jejak yang mendalam dalam sejarah dan spiritualitas umat manusia.

Setelah kematian Krishna, sebuah peristiwa besar dan dramatis terjadi yang menandai akhir dari dinasti Yadava. Kota Dwaraka, yang pernah berdiri sebagai pusat kejayaan dan kemakmuran suku Yadava, akhirnya tenggelam ke dalam laut, memenuhi ramalan yang telah dinyatakan sebelumnya. Peristiwa ini merupakan tanda terakhir dari kehancuran total dinasti Yadava, sebuah simbol dari akhir sebuah era yang megah dan penuh sejarah. Dengan tenggelamnya Dwaraka, seluruh jejak dan warisan suku Yadava lenyap dari muka bumi, membawa pada penutupan babak penting dalam sejarah dan spiritualitas. Kota yang pernah menjadi lambang kekuatan dan kebanggaan kini hilang, menyisakan hanya kenangan dan cerita tentang kemegahan yang pernah ada, mengingatkan bahwa kekuatan dan kemakmuran yang besar tidak dapat melawan arus waktu dan takdir yang telah ditentukan.

Dengan tenggelamnya Dwaraka dan kehancuran suku Yadava, zaman Dvapara Yuga berakhir, menandai transisi ke era baru yang dikenal sebagai Kali Yuga. Kali Yuga, yang dianggap sebagai zaman kegelapan dan kemerosotan moral, merupakan periode di mana kejahatan, keburukan, dan ketidakadilan mendominasi dunia, menggeser nilai-nilai kebenaran dan kebajikan. Ini adalah zaman terakhir dalam siklus empat Yuga dalam kosmologi Hindu, menggantikan Dvapara Yuga dengan suasana yang penuh dengan kerusakan moral dan spiritual. Kali Yuga diperkirakan akan berlangsung hingga akhir dunia, sebelum siklus kosmik dimulai kembali dengan era baru yang penuh pembaharuan dan perbaikan. Selama Kali Yuga, manusia akan menghadapi tantangan besar dalam mencari kebenaran dan integritas, sementara perubahan zaman ini membawa kesadaran bahwa siklus kosmik terus berputar, dengan harapan akan munculnya era baru yang lebih baik di masa depan.

Files