Lutung Ngencak Taluh: Pelajaran Hidup di Tengah Hutan
Cerita ini mengisahkan Lutung yang kekenyangan dan bertemu katak bernama Godogan. Mereka sepakat menanam pisang bersama, namun Lutung serakah dan memakan pisang Godogan sendiri. Godogan kecewa dan mengajarkan tentang pentingnya kejujuran dan kesetiaan. Pada akhirnya, Lutung menerima karma atas tindakannya yang curang dan meninggal.
Diceritakan Lutung yang kotor kekenyangan setelah makan jambu. Lalu ia pergi ke hutan Mandala. Di sana terdapat sungai yang luas, airnya jernih, mengalir deras dengan banyak ikan di dalamnya. Hutan itu terasa hidup, dengan pepohonan rimbun dan suara burung berkicau riang. Lutung jongkok di tepi sungai, matanya memperhatikan ikan-ikan berenang. Sesekali ia tersenyum, menikmati kedamaian di tempat itu.
Lutung sedang duduk sambil melihat ke dalam sungai. (Sumber : Koleksi Pribadi).
Tiba-tiba, datang seekor katak bernama Godogan yang melompat mendekati Lutung. Lutung terkejut dan melompat berdiri, lalu bertanya, “Baru datang, Godogan?” Godogan menjawab, “Iya, Lutung. Kamu sedang mencari apa di sini?” Lutung menghela napas, menenangkan hatinya yang sempat terkejut, lalu menjawab dengan pelan, “Aku hanya ingin mencari teman, supaya punya banyak teman.”
Keesokan paginya, Lutung dan Godogan bertemu lagi dan mengobrol di tepi sungai. Lutung, dengan suara pelan namun penuh niat, berkata, “Godogan, bagaimana kalau kita menanam pisang? Besok, kalau pisangnya sudah matang, kita makan bersama-sama.” Godogan tersenyum lebar, matanya berbinar-binar, “Wah, kalau seperti itu bagus sekali idemu, Lutung.” Tanpa ragu, Godogan setuju.
I Lutung di hampiri oleh Godogan (Sumber : Koleksi Pribadi).
Setelah semuanya disetujui, Lutung bergegas mencari pohon pisang. Tidak lama, ia kembali membawa satu pohon pisang di bahunya, dengan wajah penuh kemenangan. Lutung berteriak-teriak memanggil Godogan, “Godogan! Ini pohon pisangnya. Di mana kita tanam sekarang?” Godogan lantas membagi dua pohon pisang itu. Lutung mengambil bagian ujungnya dan berpikir licik, “Jika aku ambil ujungnya, pasti akan cepat berbuah.” Sementara Godogan dengan polos mengambil bagian pangkalnya, menanamnya di tepi sungai dengan hati-hati.
Lutung membawa bibit pohon pisang untuk Godogan (Sumber : Koleksi Pribadi).
Tiga bulan kemudian, ujung pohon pisang milik Lutung mati, daunnya kering, berguguran, dan mengelupas. Lutung menatap pohonnya yang layu dengan wajah penuh penyesalan. Dalam hatinya, ia berkata, “Mengapa aku serakah? Sekarang lihatlah akibatnya!” Sementara itu, Godogan terlihat sangat bahagia di sisi sungai. Pohon pisangnya tumbuh subur dan mulai berbuah besar-besar.
Lutung mendekati Godogan, dengan wajah menyesal, namun tetap berusaha bersikap ramah. “Godogan, kenapa kamu tidak menyapaku? Apakah kamu lupa kita bersahabat?” Godogan, yang sempat terkejut oleh kehadiran Lutung, menjawab dengan tenang, “Maafkan aku, Lutung. Aku terlalu asyik melihat buah pisang ini. Lihatlah, buahnya besar-besar dan hampir matang.”
Lutung, dengan nada suara lebih rendah, berkata, “Aku ke sini hanya ingin minta pendapatmu. Pisang mana yang sudah bisa dipanen, supaya aku bisa menepati janji kita.” Godogan mengangguk sambil tersenyum, “Jangan terburu-buru, Lutung. Kita harus menunggu hari yang baik untuk memanen pisang ini, agar semuanya berjalan lancar.” Lutung berpura-pura mendengarkan, namun dalam hatinya ia sudah tak sabar.
Hari berikutnya, buah pisang sudah matang, berwarna kuning cerah, menggantung di pohon dengan indah. Lutung, yang tak bisa menahan lapar, datang ke tempat Godogan dengan air liur menetes. “Godogan, aku akan memakan pisang ini. Perutku sangat lapar,” katanya sambil melompat ke pohon pisang.
I Lutung memakan buah pisang Godogan. (Sumber : Koleksi Pribadi).
Lutung memakan pisang dengan rakus, mulutnya penuh dengan pisang sementara perutnya semakin membesar. Godogan, yang melihat temannya tak berhenti makan, merasa kesal. “Lutung, sisakan sedikit untukku!” serunya. Namun, Lutung seolah tuli dan terus melahap semua pisang sampai perutnya kekenyangan.
Merasa kecewa, Godogan meninggalkan Lutung dan berjalan menuju sungai. Sesampainya di tepi sungai, ia menemukan sebuah tempurung kelapa. Godogan masuk ke dalamnya untuk beristirahat, merasa kesal dan letih dengan kelakuan sahabatnya.
Lutung, dengan perut besar, merasa haus dan pergi ke sungai untuk minum. Setelah meneguk air sungai yang jernih, ia duduk di atas tempurung kelapa, mulai bernyanyi sambil melihat ikan-ikan di air. Namun, hatinya tak tenang. Rasa bersalah mulai merayap di dalam dirinya. Ia bergumam, “Godogan, di mana sebenarnya kamu? Semoga kamu di sini, merasakan akibat dari tindakanku.”
Tiba-tiba, dari bawah tempurung kelapa, terdengar suara Godogan, “Kamu memang senang menipu teman.” Lutung terkejut, matanya mencari-cari di sekelilingnya, namun ia tak melihat siapa pun. Jantungnya berdegup kencang. “Siapa yang berbicara?” tanyanya, suaranya menggema di hutan. “Tunjukkan dirimu sekarang, atau aku akan memukulmu!” Suara Godogan terdengar lagi, lebih pelan tapi tetap jelas, “Kamu, Lutung, suka berbohong. Sifatmu itu yang akan membawamu pada karma buruk.”
Merasa bingung, Lutung melihat ke bawah dan mengira suara itu berasal dari telur. Dengan marah, ia mengambil batu besar dan memukul telurnya keras-keras, hingga pecah. Sesaat setelah itu, Lutung merasa kesakitan luar biasa, lalu jatuh terkapar. Ia telah merasakan karma akibat pengkhianatannya.
I Lutung Meninggal dengan mata terbuka. (Sumber : Koleksi Pribadi).
Pada akhirnya, Lutung pun meninggal, dan seperti yang dikatakan oleh Godogan, ia masuk neraka sebagai hukuman atas ketidaksetiaannya. Karma telah membalas tindakan curangnya.