Menghidupkan Kembali "Suara" dari Daun Lontar: Perjalanan Digital SASKARA, Transliterasi Aksara Bali pada Lontar ke Teks Latin
Di balik daun lontar tersimpan ribuan tahun sejarah dan filosofi Bali, namun kini suara leluhur itu mulai hilang karena generasi muda banyak yang kesulitan membacanya. Proyek SASKARA hadir sebagai jembatan digital untuk menghidupkan kembali aksara Bali, memastikan pesan dari masa lalu tetap terdengar dan dapat diakses oleh generasi sekarang.
Di balik deretan garis melengkung yang tergores di atas daun lontar, tersimpan ribuan tahun sejarah, filsafat, dan jati diri krama Bali. Namun, warisan agung ini kini sedang berbisik dalam sunyi; sebuah kenyataan pahit menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga generasi muda kita kini kesulitan untuk sekadar mengeja aksara Bali. Aksara Bali bukan sekadar tulisan, ia adalah "suara" masa lalu yang terancam hilang ditelan zaman.
Keinginan untuk menyambung kembali tali komunikasi yang terputus inilah yang melahirkan SASKARA (Script Adaptive Scanner for Knowledge and Revitalization Aid). Proyek ini bukan sekadar barisan kode komputer, melainkan sebuah jembatan digital yang dirancang melalui empat tahapan utama untuk membawa pesan dari masa lalu ke layar ponsel masa kini:
Mata Digital yang Mengenali Lekukan Karakter
Hasil Deteksi Aksara Bali (Sumber: Koleksi Pribadi)
Perjalanan dimulai dengan "mata" kecerdasan buatan bernama YOLO. Teknologi ini bertugas mengenali setiap lekukan karakter aksara Bali dengan tingkat presisi yang sangat tinggi, mencapai 94%. Ia dilatih untuk tidak hanya membaca teks digital yang kaku, tetapi juga mengenali karakter pada naskah lontar yang penuh derau alami hingga goresan tangan yang sangat personal.
Menemukan Garis Utama dalam Lembaran Lontar
Hasil Deteksi Garis Utama (Sumber: Koleksi Pribadi)
Setelah karakter dikenali, tantangannya adalah bagaimana menyusunnya secara urut. Tidak seperti kertas modern, naskah lontar seringkali memiliki posisi tulisan yang dinamis. Di sinilah algoritma garis utama berperan. Algoritma ini bekerja seperti pemandu jalan, menentukan garis referensi utama agar sistem tahu persis urutan pembacaan karakter, sehingga tidak ada "suara" yang tertukar atau melompat dari baris aslinya.
Merangkai Suku Kata yang Patuh pada Tradisi
Aksara Bali memiliki aturan penulisan yang kompleks, di mana satu karakter dasar bisa berubah suara atau bentuk jika bertemu dengan gantungan atau aksara suara lainnya. SASKARA menerapkan aturan fonologi yang ketat pada tahap ini. Potongan-potongan aksara yang telah urut kemudian dirangkai menjadi suku kata yang sah secara kaidah penulisan Bali, memastikan integritas tata bahasa aslinya tetap terjaga.
Menyusun Kata Menjadi Makna yang Utuh
Hasil Komposisi Kata (Sumber: Koleksi Pribadi)
Tahap terakhir adalah memberikan "jiwa" pada deretan suku kata tersebut melalui algortima cerdas. Karena naskah lontar sering ditulis tanpa spasi, algoritma ini berperan penting untuk membedah dan menyusun kembali suku kata menjadi kata-kata utuh yang bermakna. Hasilnya adalah transliterasi ke teks Latin yang terbaca secara organik, memudahkan siapa pun untuk memahami isi naskah layaknya membaca pesan teks masa kini.
SASKARA adalah bukti nyata bahwa teknologi mutakhir tidak harus mematikan tradisi. Sebaliknya, ia menjadi napas baru bagi daun-daun lontar yang mulai rapuh, memastikan bahwa suara-suara bijak dari masa lalu akan terus terdengar jernih oleh generasi masa depan.