Antawali: Tanaman Merambat Penyembuh dari Pulau Dewata
Antawali merupakan tanaman tradisional Bali yang memainkan peran penting dalam Usadha Tiwang, terutama dalam mengatasi penyakit Tiwang Jangat. Dengan kandungan nutrisi dan sifat penyembuhan yang unik, Antawali tidak hanya digunakan untuk kesehatan manusia, tetapi juga bagi hewan dan tumbuhan. Artikel ini membahas manfaat, karakteristik, serta cara penggunaan Antawali sebagai ramuan jamu sederhana di rumah. Kearifan tradisional Bali tetap relevan dalam menjaga kesehatan holistik di tengah gemerlap modernitas.
Bali, seringkali disebut sebagai Pulau Dewata, tidak hanya menawarkan pesona visual yang memukau, melainkan juga menjadi suatu daerah di mana budaya dan tradisi menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian masyarakat. Di tengah gemerlap modernitas, masyarakat Bali dengan tulus menghargai dan menjaga dengan sungguh-sungguh warisan nilai-nilai tradisional. Ini tidak hanya tercermin dalam upacara adat dan seni, tetapi juga dalam aspek penting seperti pengobatan. Budaya penyembuhan Bali tidak hanya sebuah praktik, melainkan suatu warisan yang dijunjung tinggi, melekat erat dalam cara hidup masyarakat.
Rempah-rempah Bali menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari, digunakan untuk pengobatan dan ritual. Sebelum era pengobatan modern, pengetahuan pengobatan tradisional dikenal sebagai Usadha, berfungsi sebagai garda depan dalam menjaga kesehatan masyarakat Bali. Meskipun modernitas telah merambah Bali, pengobatan tradisional tetap memiliki tempatnya dengan kelebihan uniknya, mampu bertahan di tengah pesatnya perkembangan pengobatan modern.
Usadha tidak hanya dimaksudkan untuk manusia, tetapi juga diterapkan dalam pengobatan bagi hewan dan tumbuhan. Ratusan usadha termuat dalam lontar-lontar, mencakup berbagai jenis, seperti usadha sawah untuk tumbuhan, usadha sato, ushada kuda, usadha paksi untuk hewan, dan usadha dalem, usadha tantri, usadha tiwang, dan lainnya untuk manusia. Jenis penyakit yang dapat diobati mencakup dua aspek, yakni sekala (nyata) dan niskala (tidak nyata).
Salah satu bentuk Usadha yang menarik untuk dijelajahi adalah Usadha Tiwang. Tiwang merupakan kondisi yang ditandai oleh sensasi tubuh yang melemah, rasa sakit menusuk, kegelisahan, berat pada mata, kaku pada otot, bahkan hingga dapat menyebabkan kehilangan kesadaran. Dalam Usadha Tiwang, kita akan melihat bagaimana pengetahuan tradisional Bali memberikan penanganan untuk mengatasi kondisi kesehatan melalui pemanfaatan tanaman merambat bernama Antawali.
Tanaman Antawali Merambat (Sumber Photo: Koleksi Penulis)
Antawali atau Brotowali (Tinospora cordifolia) merupakam tanaman berbentuk semak merambat yang menjadi sorotan berkat potensinya sebagai sumber obat tradisional. Keunikan tanaman ini dapat dikenali melalui daun berbentuk hati dan batangnya yang terhiasi tonjolan-tonjolan kecil. Bagian yang paling sering dimanfaatkan sebagai ramuan obat adalah batangnya, yang diolah menjadi rebusan dengan rasa pahit yang khas. Rebusan tersebut memiliki banyak manfaat, seperti meredakan gejala reumatik, menurunkan gula darah, meningkatkan imunitas dengan menurunkan panas, serta membantu mengurangi gejala kencing manis. Selain itu, orang pada zaman dahulu menggunakan Antawali untuk menghentikan kebiasaan menyusui pada anak yang masih kecanduan kepada ibunya.
Tanaman yang kerap dikenal sebagai Antawali atau Brotowali ini, di Indonesia juga memperoleh identitas lokal dengan sejumlah nama daerah seperti Andawali, Putrawali, atau Daun Gadel. Dalam klasifikasinya, tanaman ini termasuk dalam famili tanaman Menispermaceae. Tumbuhan ini menyukai lingkungan dengan suhu tinggi,berupa perdu memanjat, dengan tinggi batang mencapai 2,5 meter. Batangnya yang seukuran jari kelingking memiliki bintil-bintil rapat yang memberikan rasa pahit, mirip dengan sirih. Daun tunggal tanaman ini, bertangkai, memiliki bentuk seperti jantung atau agak bundar seperti telur dengan ujung yang lancip, panjang 7–12 cm, dan lebar 5–10 cm. Meskipun bunganya kecil dan berwarna hijau muda, Antawali juga dapat diperbanyak dengan metode stek.
Dalam lontar Usadha Tiwang, penyakit Tiwang Jangat dideskripsikan dengan gejala seperti perut begah, tubuh terasa remuk, dan kesulitan buang air kecil. Pengobatan tradisional untuk mengatasi kondisi ini melibatkan campuran bahan obat alami yang terdiri dari Sembung Rambat (Tournefortia sarmentosa Lam.), Antawali (Tinospora crispa), Pijer, Bawang Adas (Eleutherine palmifolia), dan Bras (Oryza sativa). Antawali, yang merupakan salah satu komponen utama, memberikan kontribusi besar dalam menyembuhkan Tiwang Jangat. Proses pengobatan dilakukan dengan menyembar campuran tanaman ini di hulu hati, mengandalkan sifat penyembuhan yang terkandung dalam Antawali untuk meredakan gejala perut begah, memulihkan kekuatan tubuh yang terasa remuk, dan mengatasi kesulitan buang air kecil. Pendekatan ini menunjukkan kearifan tradisional Bali dalam memanfaatkan potensi obat dari alam, khususnya peran yang dimainkan oleh Antawali dalam mengatasi Tiwang Jangat secara alami dan manusiawi.
Batang Tanaman Antawali (Sumber Photo: Koleksi Penulis)
Antawali memberikan sejumlah manfaat yang signifikan bagi kesehatan. Dengan kandungan nutrisi dan berbagai zat yang dimilikinya, tanaman ini telah dikenal sejak lama dalam pengobatan tradisional seperti yang dijelaskan dalam Lontar Usadha Tiwang. Salah satu manfaat utamanya adalah kemampuannya dalam menurunkan kadar gula darah, menjadikannya pilihan herbal yang efektif untuk pencegahan diabetes tipe 2. Antawali dapat memperbaiki kinerja hormon insulin dan mencegah resistensi insulin, sehingga menjaga kadar gula darah tetap stabil. Antawali juga dapat mencegah kambuhnya gejala alergi. Risiko alergi dapat diminimalkan dengan konsumsi tanaman ini, mengurangi gejala seperti bersin, pilek, dan gatal-gatal. Sifat antioksidan, vitamin C, dan nutrisi lainnya di dalam Antawali juga menjadikannya sebagai pendukung kuat dalam meningkatkan daya tahan tubuh. Meskipun demikian, pola hidup sehat tetap menjadi kunci dalam menjaga kekebalan tubuh yang optimal.
Selain itu, Antawali memiliki khasiat meredakan peradangan dan bersifat antibakteri serta antijamur. Ekstrak tanaman ini dapat membunuh dan mencegah pertumbuhan berbagai jenis bakteri dan jamur penyebab infeksi. Keberagaman kandungan, termasuk kalsium dan fosfor, menjadikan Antawali sebagai pendukung kesehatan tulang dan sendi. Zat antioksidan dan antiradang dalam tanaman ini juga memberikan manfaat tambahan dalam memelihara kesehatan dan fungsi hati.
Proses Membuat Ramuan Jamu Antawali Sederhana (Sumber Photo: Koleksi Penulis)
Untuk mendapatkan manfaat kesehatan dari Antawali, kita dapat dengan mudah membuat ramuan jamu sederhana di rumah. Untuk menyusun ramuan ini, kita membutuhkan bahan-bahan yang mudah ditemukan, yaitu 5 gram batang Brotowali, 3 gram sambiloto, 5 gram kumis kucing, dan 110 ml air. Langkah pertama adalah mencuci bersih semua bahan dengan air mengalir untuk memastikan kebersihan dan keamanan. Selanjutnya, rebus bahan-bahan tersebut dengan menggunakan air mendidih. Setelah matang, matikan kompor dan saring airnya untuk memisahkan residu bahan. Ramuan jamu Antawali yang telah disiapkan ini dapat disajikan dan dikonsumsi dua kali sehari. Proses sederhana ini memberikan kemudahan bagi kita untuk mengintegrasikan manfaat Antawali ke dalam rutinitas keseharian, menjadikan kesehatan lebih terjaga secara alami. Tetap ingat untuk selalu berkonsultasi dengan ahli kesehatan sebelum memulai program konsumsi jamu, terutama bagi mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.