Di Balik Rerimbun Alas, Pura Padharman Pusat Ida Bhatara Dalem Tarukan Pulasari : Menyimpan Napas Bali Kuno
Pura Padharman Pusat Ida Bhatara Dalem Tarukan Pulasari merupakan warisan spiritual dan budaya Bali yang memiliki makna mendalam. Sebagai pusat pemujaan leluhur, pura ini menjadi simbol penghormatan, kebersamaan, dan keseimbangan dalam kehidupan masyarakat Hindu Bali. Melalui berbagai upacara suci dan tradisi turun-temurun, umat Hindu menjaga kesinambungan nilai-nilai adat, agama, dan sejarah leluhur yang telah diwariskan sejak masa Bali kuno.
Keberadaan pura sebagai pusat pemujaan dan pelestarian nilai-nilai leluhur merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Hindu di Bali. Pura tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi simbol identitas, sejarah, serta kesinambungan hubungan spiritual antara manusia, alam, dan leluhur. Dalam konteks inilah, pura-pura kawitan memiliki kedudukan yang sangat penting karena menjadi tempat pemujaan asal-usul leluhur suatu wangsa atau keturunan, sekaligus sebagai media pewarisan nilai adat, budaya, dan keagamaan dari generasi ke generasi.
Tampak Tulisan Depan Pura Dalem tarukan Pulasari (Sumber Foto : Koleksi Pribadi)
Pura Kawitan Pulasari atau yang lebih dikenal Pura Padharman Pusat Ida Bhatara Dalem Tarukan merupakan sebuah pura leluhur yang memiliki peran penting dalam kehidupan spiritual masyarakat Bali. Pura ini sudah berdiri sejak tahun 1399 masehi. Pura pedharman Pusat Ida Bhatara Dalem Tarukan ini merupakan pura penyungsungan sewarih Ida Bhatara Dalem Tarukan yang sejak tahun 1969 telah mempersatukan diri dalam wadah Para Gotra Santana Dalem Tarukan. Pura ini digunakan sebagai tempat pemujaan roh leluhur yang telah disucikan, khususnya Ida Bhatara Dalem Tarukan, sosok suci yang diyakini memiliki pengaruh besar dalam perkembangan budaya, sejarah, dan agama Hindu di Bali.
Wantilan Areal Pura (Sumber Foto : Koleksi Pribadi)
Pura ini tepatnya berada di Pulasari, Peninjauan, Tembuku, Bangli. Lokasinya berada di daerah yang sejuk, dan masih memiliki suasana pedesaan. Pura ini juga memiliki sarana seperti Wantilan yang terdapat di areal dalam Pura, dimana Wantilan tersebut mampu menampung ratusan bahkan hingga ribuan orang di dalamnya. Wantilan ini digunakan sebagai pusat kegiatan, khususnya pada saat piodalan (hari besar pura). Pada saat piodalan suasana Pura akan terlihat berbeda, dimana Pura akan dipenuhi oleh pemedek yang akan melaksanakan persembahyangan. Piodalan disini digelar tepat Buda Kliwon Ugu setiap enam bulan sekali.
Proses upacara di pura ini dilakukan dengan tata cara adat Bali yang penuh makna spiritual dengan mempersiapkan Banten seperti menyiapkan canang sari, pejati, dan daksina, sebagai simbol rasa syukur dan bakti, lalu akan dilakukan juga prosesi persembahyangan dan ngaturang Ayah dan Tawur dimana ini merupakan persembahan simbolik untuk memohon keselamatan dan keseimbangan alam. Selain itu, juga Pelaksanaan Pitra Yadnya yaitu penyucian roh leluhur yang dilaksanakan dengan penuh kesakralan untuk menghantarkan leluhur ke alam suci.
Area Dalam Pura (Sumber Foto : Koleksi Pribadi)
Pura ini menjadi pusat pemujaan terhadap Ida Bhatara Dalem Tarukan, seorang leluhur agung yang diyakini merupakan bagian dari garis keturunan kerajaan Bali kuno. Menurut berbagai lontar dan tradisi lisan, Ida Bhatara Dalem Tarukan memiliki kaitan erat dengan Dinasti Warmadewa dan perkembangan peradaban Hindu di Bali. Umat Hindu yang memiliki hubungan spiritual dengan Ida Bhatara Dalem Tarukan, datang ke pura ini untuk ngaturang bhakti (mempersembahkan doa dan sesajen seperti Canang). Namun, tidak hanya keturunannya saja, umat Hindu pada umumnya juga datang untuk memohon keselamatan, kesejahteraan, dan keseimbangan hidup.