Canting Camplung: Sanggar Tari Kecil dengan Semangat Besar di Dauh Puri Kaja
Sanggar Tari Canting Camplung berdiri sejak tahun 1993 di Dauh Puri Kaja, Denpasar. Berawal dari latihan sederhana anak-anak di banjar, sanggar ini tumbuh menjadi ruang seni yang aktif. Dengan fokus pada tari Bali, Canting Camplung juga melibatkan diri dalam penyewaan busana, pentas budaya, hingga ngayah di pura. Sanggar ini menjadi bukti bahwa ruang sederhana mampu melahirkan semangat besar untuk melestarikan budaya Bali.
Sanggar Tari Canting Camplung berdiri pada tahun 1993. Latar belakang terbentuknya berawal dari kebiasaan anak-anak berlatih tari di banjar. Saat banjar tersebut mengalami renovasi, latihan dipindahkan ke rumah milik Almarhum I Nyoman Sudiana. Dari tempat sederhana inilah sanggar mulai tumbuh dan hingga kini tetap aktif sebagai wadah pembelajaran seni tari.
Lokasi sanggar canting camplung (Sumber Foto: koleksi pribadi)
Canting Camplung difokuskan khusus pada seni tari Bali. Selain menjadi ruang belajar, sanggar juga menyediakan penyewaan busana tari, serta layanan rias pengantin dan potong gigi. Peran ini menjadikan Canting Camplung lebih dari sekadar tempat berlatih, melainkan bagian penting dari aktivitas budaya masyarakat.
Kegiatan di sanggar tidak terbatas pada latihan rutin. Murid-muridnya aktif tampil dalam berbagai acara, mulai dari pentas kenaikan tingkat sanggar, pentas budaya yang digelar Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, hingga ngayah di pura-pura. Sanggar juga kerap berpartisipasi dalam lomba-lomba tari yang menjadi wadah untuk mengukur kemampuan sekaligus memperkuat identitas seni.
Kegiatan Latihan di sanggar (Sumber Foto: koleksi pribadi)
Sanggar ini telah menorehkan berbagai pencapaian. Salah satu prestasi membanggakan adalah penghargaan Parama Patram Budaya, yang menjadi pengakuan atas kontribusi nyata Canting Camplung dalam pelestarian seni tari Bali. Penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa sanggar kecil pun dapat memberi dampak besar bagi perkembangan budaya.
Hingga kini, Canting Camplung tetap aktif menjadi pusat berkesenian di Dauh Puri Kaja. Semangat murid, suara gamelan, serta dukungan masyarakat sekitar menjadikan sanggar ini terus hidup. Dari perjalanan panjangnya, Canting Camplung menunjukkan bahwa ruang sederhana mampu melahirkan semangat besar untuk melestarikan budaya Bali lintas generasi.Kisah Canting Camplung adalah gambaran tentang kekuatan tradisi dan dedikasi. Dari latihan kecil di banjar, berpindah ke rumah, hingga berdiri sebagai sanggar, perjalanan ini membuktikan bahwa seni dan budaya tetap bertahan selama ada komitmen untuk menjaganya. Canting Camplung bukan sekadar tempat berlatih tari, melainkan rumah bagi semangat budaya yang hidup di tengah masyarakat.