Jejak yang Dijaga Waktu: Pura Kawitan Pusat Pasek Dalem Ciwa Gaduh
Pura Kawitan Pusat Pasek Dalem Ciwa Gaduh di Desa Gelgel, Klungkung, merupakan pusat spiritual dan identitas kawitan bagi keturunan Pasek Gelgel Dalem Ciwa Gaduh. Pura ini menyimpan jejak sejarah migrasi leluhur dari Jawa ke Bali, tradisi pemujaan kawitan sanak pitu, serta peranannya sebagai ruang persaudaraan yang terus hidup dan terawat hingga masa kini.
Pura Kawitan Pusat Pasek Dalem Ciwa Gaduh di Desa Gelgel, Klungkung, Bali, berdiri sebagai pusat spiritual dan identitas kawitan bagi keturunan Pasek Gelgel Dalem Ciwa Gaduh. Keberadaan pura ini tidak hanya merepresentasikan tempat pemujaan leluhur, tetapi juga menjadi penanda penting hubungan historis antara Jawa dan Bali yang diwariskan melalui babad, tradisi lisan, serta praktik keagamaan yang terus hidup hingga kini.
Menurut sumber babad dan keterangan para pemangku, garis leluhur Pasek Dalem Ciwa Gaduh berawal dari Mpu Wiradangka di Jawa. Dari garis keturunan inilah muncul De Pasek Lurah Gaduh yang kemudian bermigrasi ke Bali pada masa awal Kerajaan Gelgel. Migrasi tersebut diyakini terjadi sebelum sistem kerajaan Bali terbentuk secara mapan, sehingga pura kawitan didirikan sebagai parahyangan dewa pitra, tempat pemujaan leluhur yang mendahului struktur kekuasaan politik pada masanya.
Pintu Masuk Pura Kawitan Pusat Pasek Dalem Ciwa Gaduh (Sumber : Koleksi Pribadi)
Dalam tradisi lisan disebutkan bahwa pura dasar ini kembali dari Jawa melalui perjalanan spiritual dari Paku Alam menuju Basak, Bali. Kisah ini memuat narasi tentang kehadiran pengiring Muslim awal yang datang dalam beberapa gelombang dan terlibat dalam dinamika sejarah kerajaan. Mereka dikisahkan turut serta dalam pemberontakan, lalu memperoleh anugerah tanah sebagai balas jasa, sebuah peristiwa yang sering dimaknai sebagai balipat geger, yakni adaptasi konflik dan perubahan sosial dari Jawa ke dalam konteks budaya Bali.
Jejak migrasi dan adaptasi tersebut tercermin pula dalam perkembangan bahasa dan penamaan wilayah. Pengaruh bahasa Jawa Kuno melahirkan nama-nama lokal seperti Gede, Kota Klungkung, Sekowati, Gedong, dan Pasar, yang menandai penyebaran keturunan Pasek ke berbagai banjar dan wilayah di Bali. Hal ini sejalan dengan catatan dalam Babad Pasek yang menggambarkan proses pembauran dan penguatan identitas Pasek dalam struktur masyarakat Bali.
Jabe Tengah Pura Kawitan Pusat Pasek Dalem Ciwa Gaduh (Sumber : Koleksi Pribadi)
Konon, pura kawitan pertama memiliki artefak atau replika peninggalan kuno yang kini dikenal sebagai Lingga-Lingga Jawa dan disebut pernah dibawa serta dikaji oleh akademisi luar negeri. Keberadaan simbol-simbol ini menguatkan pandangan bahwa Pura Kawitan Pusat Pasek Dalem Ciwa Gaduh berakar pada masa pra-kerajaan, sekaligus menjadi penghubung spiritual antara leluhur di Jawa dan keturunannya di Bali.
Dalam praktik keagamaannya, pura ini menegaskan konsep kawitan sanak pitu, yaitu pemujaan terhadap asal-usul tujuh saudara dalam satu garis keluarga. Orientasi ini menempatkan hubungan darah dan spiritual sebagai inti pemujaan, bukan jabatan atau kekuasaan. Pengaruh ajaran Mpu Kuturan dan konsep Tri Murti pada abad keempat belas turut membentuk sistem pemujaan, dengan Lingga atau Linglinga dipahami sebagai simbol kehadiran leluhur yang terus disucikan.
Bale Pawedan Pura (Sumber : Koleksi Pribadi)
Pada masa kini, Pura Kawitan Pusat Pasek Dalem Ciwa Gaduh tetap memainkan peran penting dalam kehidupan sosial dan keagamaan pasemetonan. Tahun dua ribu dua puluh tiga menjadi tonggak penting melalui pelaksanaan Paruman Agung pertama Pasemetonan Pasek Gelgel Dalem Ciwa Gaduh di pura ini. Berbagai kegiatan sakral seperti upacara ngewacen prasasti, persembahyangan bersama, serta tangkil pasemetonan kini juga diperkuat melalui pemanfaatan media sosial sebagai sarana komunikasi dan pemersatu persaudaraan.
Berada di jalur tua Gelgel Jumpai, Banjar Peminggir, Desa Gelgel, pura ini menjadi ruang hening tempat ingatan leluhur terus dirawat. Di sanalah doa leluhur dan langkah generasi masa kini bertemu, menyambungkan kisah yang tidak terputus oleh waktu. Pura Kawitan Pusat Pasek Dalem Ciwa Gaduh hidup melalui kesadaran kolektif para semeton yang datang untuk mengingat asal-usulnya, sebagai ruang pulang tempat persaudaraan dirajut kembali dan jati diri Pasek Gelgel Dalem Ciwa Gaduh dijaga agar tetap utuh di tengah perubahan zaman.