Sanggar Cahya Art Bali Qui: Perjalanan dari Banjar ke Panggung PKB Membangun Generasi Penabuh Muda
Sanggar Seni Cahya Art Bali Qui adalah sanggar karawitan yang didirikan oleh I Wayan Cahya Hendra Sujana sebagai upaya melestarikan seni tradisional Bali. Berawal dari pengalaman dan pendidikan karawitan, sanggar ini menjadi ruang pembinaan generasi muda melalui latihan rutin, penanaman nilai disiplin, serta kegiatan ngayah. Prestasi sebagai duta Kabupaten Badung pada Pesta Kesenian Bali 2019 menegaskan peran sanggar dalam menjaga keberlanjutan budaya Bali.
Kisah berdirinya Sanggar Seni Cahya Art Bali Qui tidak dapat dipisahkan dari perjalanan pribadi sang pendiri yaitu I Wayan Cahya Hendra Sujana. Sejak duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar, ia telah akrab dengan dunia seni melalui sekaa di banjar. Minat tersebut terus tumbuh seiring waktu. Selama masa SMP ia mulai mengenal dunia sanggar secara lebih serius melalui sebuah sanggar di daerah Pengubengan Kauh. Pengalaman itulah yang menjadi titik awal pemahaman bahwa sanggar bukan sekadar tempat latihan, melainkan ruang pembentukan karakter dan kecintaan pada budaya. Tekad untuk mendalami seni karawitan membawanya melanjutkan pendidikan ke SMK Negeri 5 Denpasar (KOKAR Bali) dengan jurusan karawitan. Di sekolah inilah pemahaman mengenai teori dan praktik seni karawitan semakin matang. Pendidikan formal tersebut tidak hanya memperkaya kemampuan teknis, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan tanggung jawab moral seorang seniman dalam menjaga dan mewariskan budaya. Sejak masa sekolah, cita-cita mendirikan sanggar sendiri telah tumbuh. Keinginan itu dilandasi oleh pengalaman pribadi ketika masih SMP, saat keberadaan sanggar seni masih tergolong minim dan sulit dijangkau. Dari pengalaman itulah muncul tekad untuk menghadirkan sebuah sanggar yang terbuka bagi siapa saja yang memiliki niat belajar dan mencintai seni tradisional Bali.
Setelah menamatkan pendidikan di SMK, langkah nyata pun dimulai. Dengan dukungan penuh dari keluarga, terutama kedua orang tua, ia mulai membangun fasilitas sanggar di rumah secara sederhana, terciptalah sanggar yang berdiri 11 Juni 2011 di Jalan Muding Indah II/5B Kerobokan Kaja. Sarana dan prasarana disiapkan sedikit demi sedikit, seiring kemampuan yang ada. Gamelan dan perlengkapan latihan dikumpulkan secara bertahap, sembari mulai mengajak anak-anak dan calon murid untuk belajar bersama. Dari ruang yang sederhana itu, Sanggar Seni Cahya Art Bali Qui perlahan tumbuh menjadi tempat belajar, berkarya, dan berproses bagi generasi muda yang memiliki ketertarikan pada seni karawitan. Seni karawitan dalam sanggar antara lain Gender Wayang, Semara Pegulingan, Kendang, Rindik, Batel, Selonding.
Nama Cahya Art Bali Qui bukan sekadar identitas, melainkan cerminan filosofi yang mendalam. Kata Cahya diambil dari nama pendiri sebagai penanda jati diri dan tanggung jawab personal dalam mengelola sanggar. Art berasal dari bahasa Inggris yang berarti seni, melambangkan keterbukaan dan universalitas nilai seni itu sendiri. Kata Bali menegaskan identitas budaya sebagai orang Bali yang kaya akan tradisi. Sementara itu, Qui diambil dari bahasa Jawa Kuno yang bermakna sesuatu yang lampau atau telah ada sejak dahulu, sebagai simbol warisan leluhur yang terus dijaga dan diteruskan. Keseluruhan nama tersebut merepresentasikan semangat sanggar: menjaga seni warisan masa lalu agar tetap bercahaya dan relevan bagi generasi masa kini dan mendatang.
Ngayah Upacara Mecaru Di Sanggar (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)
Dalam proses pembelajaran, Sanggar Seni Cahya Art Bali Qui tidak hanya menekankan kemampuan teknis menabuh. Nilai-nilai disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan profesionalitas menjadi fondasi utama yang selalu ditanamkan kepada para penabuh dan peserta didik. Mereka diajak memahami bahwa seni bukan hanya tentang kemampuan, tetapi juga tentang sikap dan etika. Selain itu, rasa cinta terhadap budaya dan kesenian Bali menjadi nilai yang terus dikuatkan. Para murid didorong untuk kelak membagikan ilmu yang mereka miliki kepada generasi berikutnya, agar seni tradisional tidak mengalami kepunahan dan tetap hidup secara berkelanjutan.
Kegiatan di sanggar berlangsung secara rutin melalui jadwal latihan mingguan. Latihan ini bertujuan untuk mengasah kemampuan, memperdalam pemahaman, serta mempersiapkan para penabuh agar siap tampil dalam berbagai acara dan kegiatan. Selain latihan, sanggar juga aktif melakukan ngayah di pura-pura dan upacara keagamaan, sebagai wujud pengabdian seni kepada masyarakat dan nilai spiritual budaya Bali.
Tampil dan Menjuarai Lomba Gender di PKB 2019 (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)
Salah satu pencapaian paling berkesan bagi Sanggar Seni Cahya Art Bali Qui adalah ketika dipercaya menjadi duta Kabupaten Badung pada tahun 2019 dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Pada kesempatan tersebut, sanggar menampilkan karya dalam bentuk gender anak-anak dan berhasil meraih Juara III, sebuah prestasi yang menjadi tonggak penting dalam perjalanan sanggar. Selain itu, sanggar juga kerap terlibat dalam berbagai kegiatan seni di lingkungan kampus dan institusi pendidikan, seperti di ISI Denpasar, Universitas PGRI Bali, serta kolaborasi bersama Universitas Hindu Indonesia (UNHI). Berbagai penghargaan dari lomba antar sekolah dan event seni lainnya turut mengukuhkan eksistensi sanggar di dunia kesenian Bali.
Hadirnya Sanggar Seni Cahya Art Bali Qui menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat dimulai dari langkah kecil, dari rumah, dari banjar, dan dari ketulusan hati. Dengan semangat regenerasi, profesionalitas, dan kecintaan terhadap seni tradisional, sanggar ini terus menyalakan cahaya seni agar tetap menerangi perjalanan budaya Bali dari generasi ke generasi.