Nyepeg Sampi: Warisan Budaya Desa Adat Asak

Terlahir dalam kekayaan warisan budaya Bali, Desa Adat Asak memukau dengan sejarah dan tradisi yang dalam. Terletak di ujung timur pulau, desa kuno ini menjelma sebagai penjaga kearifan lokal, mempersembahkan budaya Bali yang otentik lewat tarian memukau, musik yang merdu, dan upacara adat.

Aug 29, 2025 - 06:34
Aug 29, 2025 - 19:58
Nyepeg Sampi: Warisan Budaya Desa Adat Asak
Taradisi Nyepeg Sampi (Sumber : Dokumentasi Adat)

Pulau Bali, dikenal sebagai pulau surga dengan keindahan alamnya yang memukau, juga menyimpan sebuah harta karun budaya yang kaya. Salah satu desa adat yang menonjol di Bali adalah Desa Adat Asak, sebuah tempat di ujung Timur pulau ini yang tak hanya menjadi destinasi wisata tetapi juga penjaga warisan budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Desa Adat Asak berlokasi di Kabupaten Karangasem, tepatnya di Desa Dinas Asak, Pertima, Kecamatan Karangasem. Desa ini bukan hanya sekadar ansambel bangunan dengan arsitektur khas Bali seperti pura, banjar, dan wantilan, tetapi juga sebuah saksi bisu perjalanan panjang dan konservasi budaya. Keistimewaan Desa Adat Asak terletak pada kemampuannya untuk menjaga dan melestarikan tradisi-tradisi unik yang telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari.

  

Tradisi yang menarik perhatian banyak orang adalah "Tradisi Penyepegan Sampi," sebuah peristiwa langka yang menghiasi keseharian Desa Adat Asak. Ritual ini dilakukan setahun sekali pada sasih kawulu atau bulan ke delapan menurut kalender Bali. Menariknya, ritual ini tidak hanya menjadi peringatan bagi warga desa, tetapi juga menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin merasakan keunikan budaya Bali yang autentik. Prosesi "Tradisi Penyepegan Sampi" dilakukan oleh teruna adat, yaitu anak muda yang telah melalui serangkaian prosesi upacara dan sah menjadi teruna adat. Teruna adat ini kemudian melakukan prosesi pembelian sapi yang harus sempurna dan tanpa kekurangan fisik. Sapi yang dibeli dipelihara dan dirawat dengan penuh kehormatan. Sebelum prosesi penyepegan, sapi tersebut dimandikan di tempat pemandian suci, menambah kesakralan acara. Sebelum inti acara penyepegan, terdapat persiapan upakara atau banten, serta serangkaian tahapan seperti nyaga-nyaga, pecaruan, dan lainnya. Sapi yang telah dipelihara dengan baik kemudian diarak keliling desa, dihiasi, dan diputar satu kali sebelum tiba di pura patokan. Di pura ini, sapi diupacarai, di lepas, dan dilakukan tradisi penyepegan.

   

Taradisi Nyepeg Sampi (Sumber : Dokumentasi Adat) 

Tradisi ini memiliki aturan ketat yang harus diikuti oleh teruna adat, seperti larangan menebas ekor dan kepala sapi. Alat yang digunakan pun haruslah blakas suci, yang hanya boleh dipergunakan pada saat tradisi tersebut dan tidak boleh digunakan untuk kegiatan lain. Pelanggaran aturan dapat dikenai sanksi berupa denda yang harus dibayarkan.

  

Setelah sapi ditumbangkan dalam tradisi penyepegan, seluruh bagian tubuhnya dijadikan banten atau persembahan caru. Uniknya, sebelum acara dimulai, setiap rumah di pinggir jalan raya desa dihiasi dengan bantang (potongan pohon pisang tanpa daun), menambah kemeriahan dan keistimewaan acara ini. Tradisi Nyepeg Sampi di Desa Adat Asak bukan hanya sebuah acara seremonial semata, tetapi juga sebuah ungkapan cinta dan kepatuhan terhadap warisan budaya yang telah diterima dari leluhur. Prosesi ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan suatu upaya pelestarian budaya yang mengakar dalam kehidupan sehari-hari warga Desa Adat Asak. Pentingnya tradisi ini dapat dilihat dari tahapan-tahapan yang cermat dan penuh makna yang harus dilewati. Mulai dari pembelian sapi yang sempurna, perawatan yang penuh kasih, hingga prosesi penyepegan yang dijalani dengan penuh kehormatan. Larangan-larangan seperti tidak menebas ekor dan kepala sapi menunjukkan betapa tingginya nilai-nilai etika dan kehormatan yang ditanamkan dalam setiap teruna adat yang terlibat.

  

Adanya sanksi berupa denda bagi pelanggar aturan menunjukkan keseriusan warga Desa Adat Asak dalam menjaga kesucian dan keberlanjutan tradisi ini. Dengan demikian, setiap peserta teruna adat tidak hanya menjadi pelaku tetapi juga penjaga warisan budaya yang berharga.

  

Prosesi penyepegan yang berakhir dengan persembahan caru dari seluruh bagian tubuh sapi menunjukkan konsep keberlanjutan dalam kehidupan masyarakat Desa Adat Asak. Hal ini bukan hanya sekadar tradisi yang dilakukan untuk menyenangkan wisatawan, tetapi juga sebagai ungkapan penghormatan kepada leluhur dan alam. Keunikan lain dari tradisi ini terlihat dari hiasan bantang yang menghiasi setiap rumah di pinggir jalan raya desa. Seakan-akan seluruh desa turut merayakan dan menghormati tradisi penyepegan sampi. Suasana khas Bali yang hangat dan ramah semakin terasa, menjadikan Desa Adat Asak sebagai destinasi yang memikat bagi mereka yang ingin merasakan keindahan dan keunikan budaya Bali yang autentik.

  

Dengan menjaga dan merayakan "Tradisi Penyepegan Sampi," Desa Adat Asak tidak hanya memperkaya warisan budaya Bali, tetapi juga memberikan contoh bagi masyarakat lain untuk tetap menghormati dan melestarikan nilai-nilai tradisional di tengah arus modernisasi. Sebuah perjalanan panjang dari generasi ke generasi yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas dan keberlanjutan pulau Bali, pulau yang selalu menghadirkan keindahan alam dan kearifan lokal yang tak terlupakan.