Nyepeg Sampi: Warisan Budaya Desa Adat Asak
Terlahir dalam kekayaan warisan budaya Bali, Desa Adat Asak memukau dengan sejarah dan tradisi yang dalam. Terletak di ujung timur pulau, desa kuno ini menjelma sebagai penjaga kearifan lokal, mempersembahkan budaya Bali yang otentik lewat tarian memukau, musik yang merdu, dan upacara adat.

Pulau Bali, dikenal sebagai pulau surga dengan keindahan alamnya yang memukau, juga menyimpan sebuah harta karun budaya yang kaya. Salah satu desa adat yang menonjol di Bali adalah Desa Adat Asak, sebuah tempat di ujung Timur pulau ini yang tak hanya menjadi destinasi wisata tetapi juga penjaga warisan budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Tradisi yang menarik perhatian banyak orang adalah "Tradisi Penyepegan Sampi," sebuah peristiwa langka yang menghiasi keseharian Desa Adat Asak. Ritual ini dilakukan setahun sekali pada sasih kawulu atau bulan ke delapan menurut kalender Bali. Menariknya, ritual ini tidak hanya menjadi peringatan bagi warga desa, tetapi juga menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin merasakan keunikan budaya Bali yang autentik.
Taradisi Nyepeg Sampi (Sumber : Dokumentasi Adat)
Tradisi ini memiliki aturan ketat yang harus diikuti oleh teruna adat, seperti larangan menebas ekor dan kepala sapi. Alat yang digunakan pun haruslah blakas suci, yang hanya boleh dipergunakan pada saat tradisi tersebut dan tidak boleh digunakan untuk kegiatan lain. Pelanggaran aturan dapat dikenai sanksi berupa denda yang harus dibayarkan.
Setelah sapi ditumbangkan dalam tradisi penyepegan, seluruh bagian tubuhnya dijadikan banten atau persembahan caru. Uniknya, sebelum acara dimulai, setiap rumah di pinggir jalan raya desa dihiasi dengan bantang (potongan pohon pisang tanpa daun), menambah kemeriahan dan keistimewaan acara ini.
Adanya sanksi berupa denda bagi pelanggar aturan menunjukkan keseriusan warga Desa Adat Asak dalam menjaga kesucian dan keberlanjutan tradisi ini. Dengan demikian, setiap peserta teruna adat tidak hanya menjadi pelaku tetapi juga penjaga warisan budaya yang berharga.
Prosesi penyepegan yang berakhir dengan persembahan caru dari seluruh bagian tubuh sapi menunjukkan konsep keberlanjutan dalam kehidupan masyarakat Desa Adat Asak. Hal ini bukan hanya sekadar tradisi yang dilakukan untuk menyenangkan wisatawan, tetapi juga sebagai ungkapan penghormatan kepada leluhur dan alam.
Dengan menjaga dan merayakan "Tradisi Penyepegan Sampi," Desa Adat Asak tidak hanya memperkaya warisan budaya Bali, tetapi juga memberikan contoh bagi masyarakat lain untuk tetap menghormati dan melestarikan nilai-nilai tradisional di tengah arus modernisasi. Sebuah perjalanan panjang dari generasi ke generasi yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas dan keberlanjutan pulau Bali, pulau yang selalu menghadirkan keindahan alam dan kearifan lokal yang tak terlupakan.