Desa Tigawasa: Pemanfaatan Kekayaan Alam sebagai Penggerak Ekonomi Lokal
Desa Tigawasa, sebuah permata tersembunyi di pedalaman Pulau Bali, memiliki potensi luar biasa dalam pemanfaatan kekayaan alamnya sebagai penggerak ekonomi lokal. Desa ini tidak hanya terkenal dengan keindahan alamnya, tetapi juga dengan kreativitas masyarakatnya dalam menghasilkan kerajinan anyaman bambu yang unik dan pemanfaatan kopi sebagai minuman herbal yang berkualitas. Inilah cerita tentang bagaimana Desa Tigawasa menjadikan kekayaan alamnya sebagai sumber pendapatan yang berkelanjutan.
Desa Tigawasa memiliki sejarah dalam penggunaan bambu sebagai bahan baku untuk kerajinan anyaman. Para pengrajin setempat mewarisi keterampilan ini dari generasi ke generasi, sehingga disebut sebagai kearifan lokal. Menciptakan produk anyaman bambu yang tidak hanya cantik estetis, tetapi juga memiliki nilai kepraktisan dan kekuatan. Berbagai produk anyaman bambu diproduksi di Desa Tigawasa. Terutama disalah satu UMKM yang ada di desa tersebut yaitu WE Sokasi Bali. WE Sokasi memproduksi beberapa produk mulai dari keranjang, bakor, hingga perabot untuk sembahyang. Para pengrajin yang ada di WE Sokasi diperhitungkan sudah bekerja kurang lebih 10 tahun dan akan terus melanjutkan pekerjaan sebagai pengrajin sebagai warisan leluhur mereka. Keunikan desain dan kualitas tinggi yang dimiliki semua pengrajin di Desa Tigawasa membuat produk-produk ini diminati oleh pasar lokal hingga luar daerah mereka. Seiring dengan perkembangan teknologi, para pengrajin di Desa Tigawasa juga memadukan tradisi dengan desain modern untuk memenuhi selera konsumen yang beragam. Produk yang akan dipesan oleh pelanggan bisa sesuai request mereka. Ada konsumen yang meminta agar dibuatkan nama, warna yang mencolok serta ukuran yang berbeda-beda. Pemesanan dapat dilakukan melalui media online sebagai contoh yaitu melalui IG yang dimiliki WE Sokasi Bali. Bukan hanya melalui media online saja, pemasaran dilakukan juga secara offline yang cukup meluas dari dalam daerah hingga luar daerah. Sebagai contoh yaitu pengiriman produk ke beberapa daerah diluar Kabupaten Buleleng.
Pengembangan kerajinan anyaman bambu tidak hanya berdampak pada perekonomian desa tetapi juga mempromosikan keberlanjutan lingkungan serta memperkenalkan lebih jauh keunggulan dari desa ini. Bambu, sebagai sumber daya alam yang dapat diperbaharui dengan cepat, membantu menjaga kelestarian lingkungan sekaligus menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat local. Penggunaan bambu sebagai bahan baku anyaman juga membantu dalam memitigasi dampak negatif terhadap lingkungan. Bambu memiliki jejak karbon yang lebih rendah dibandingkan dengan bahan-bahan sintetis atau logam, sehingga menciptakan produk anyaman bambu menjadi pilihan ramah lingkungan dan bambu yang digunakan adalah bambu milik pribadi dari kebun sendiri.
Kerajinan Anyaman Bambu (Sumber Photo : Koleksi Penulis)
Selain kerajinan anyaman bambu, Desa Tigawasa juga terkenal dengan potensi kopi dengan tema Agrowisata lokal sebagai minuman herbal. Salah satu tempat yang terkenal dengan penyajian kopi unik ada di Kopi Kejapa. Tanaman kopi yang digunakan oleh Pemilik Kejapa yaitu kopi yang tumbuh subur diperkebunan sendiri sehingga menciptakan kopi dengan cita rasa yang khas dan kualitas yang tinggi. Kopi yang juga dipadukan dengan rempah-rempah yang mereka tanam sendiri sehingga membuat kopi menjadi minuman yang kaya akan manfaat.
Masyarakat Desa Tigawasa mengolah kopi mereka dengan cara tradisional, memanfaatkan metode pengeringan alami dan roasting manual untuk menjaga keaslian rasa kopi. Kopi herbal ini tidak hanya menjadi minuman favorit di kalangan penduduk setempat, tetapi juga menarik perhatian pecinta kopi dari luar desa. Selain itu, mereka juga menggabungkan rempah-rempah lokal untuk menciptakan campuran kopi herbal yang menyehatkan. Bukan hanya kopi saja, Kejapa juga menyajikan salah satu minuman yaitu teh suchang tanpa gula namun menggunakan rempah-rempah asli dari kebun milik pribadi. Rempah-rempah lain yang digunakan dalam mengkonsumsi teh suchang yaitu jahe, sereh dan diminum berbarengan dengan gula merah.
Kopi dan Teh Suchang (Sumber Photo : Koleksi Penulis)
Pemanfaatan kopi sebagai minuman herbal tidak hanya membuka peluang bisnis baru tetapi juga mendukung kesehatan masyarakat. Tanaman herbal yang digunakan dalam campuran kopi memiliki berbagai manfaat kesehatan, yang kemudian menjadi daya tarik bagi konsumen yang peduli akan gaya hidup sehat. Pemanfaatan kekayaan alam Desa Tigawasa, terutama melalui kerajinan anyaman bambu dan pemanfaatan kopi sebagai minuman herbal, memiliki dampak positif yang signifikan pada ekonomi lokal. Lapangan kerja tercipta, pendapatan masyarakat meningkat, dan keberlanjutan lingkungan dijaga dengan bijak.
Pemerintah setempat bersama komunitas Desa Tigawasa dapat terus mendukung pengembangan ini dengan memberikan pelatihan keterampilan, mempromosikan produk-produk lokal, dan mengembangkan jejaring pemasaran yang lebih luas. Dengan demikian, Desa Tigawasa tidak hanya menjadi destinasi pariwisata yang menarik tetapi juga model inspiratif bagi desa-desa lain yang ingin mengoptimalkan potensi alam mereka untuk pengembangan ekonomi yang berkelanjutan.