Garden of Time: Kolaborasi Sanggar Dewata Indonesia dan Seniman Korea Daejeon di Ubud
Pameran "Garden of Time: The Journey of Nature and Man" di Komaneka Gallery, Ubud (17–23 September 2025) mempertemukan 17 seniman Indonesia dan 75 seniman Korea dengan tema hubungan manusia dan alam. Kolaborasi ini menegaskan seni sebagai jembatan diplomasi budaya sekaligus ruang refleksi tentang tanggung jawab lingkungan. Pameran ini menghadirkan dialog lintas budaya yang memperkaya seni kontemporer Asia.
Ubud kembali menjadi ruang penting bagi dialog budaya melalui pameran "Garden of Time: The Journey of Nature and Man". Pameran yang digelar di Komaneka Gallery pada 17–23 September 2025 ini menghadirkan karya-karya seniman dari Sanggar Dewata Indonesia Bali dan Daejeon International Art Exchange Association, Korea Selatan. Kolaborasi ini menjadi simbol persahabatan dan pertukaran seni lintas negara.
Pameran ke-17 dari Daejeon International Art Exchange Association ini menghadirkan tema yang universal namun mendalam tentang hubungan antara manusia dan alam. Melalui medium seni rupa, seniman dari kedua negara berupaya menyampaikan pesan tentang perjalanan waktu, transformasi alam, dan tanggung jawab bersama manusia dalam menjaga Bumi.
Para seniman Indonesia dan Korea saat pembukaan pameran “Garden of Time” di Komaneka Gallery, Ubud (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)
Momentum Baru Sanggar Dewata Indonesia di Kancah Internasional
Sanggar Dewata Indonesia (SDI) merupakan komunitas seniman yang telah mengukuhkan posisinya dalam percaturan seni rupa nasional Indonesia. Dengan lebih dari 200 anggota yang tersebar di dua kepengurusan berbasis di Yogyakarta dan Bali, SDI telah menjadi jembatan bagi seniman lintas generasi untuk berkarya dan berkolaborasi.
Ketua Sanggar Dewata Indonesia Bali, I Made Arya Palguna, menekankan bahwa pameran ini merupakan momentum yang sangat baik untuk kedua komunitas. Sebelumnya, SDI telah menjalin kerjasama dengan seniman Malaysia dalam pameran kolaborasi di Tony Raka Gallery pada Februari 2025, dan kini melanjutkan tradisi kolaborasi internasional dengan seniman Korea.
Seniman-seniman SDI yang berpartisipasi membawa keragaman latar belakang dan pengalaman berkarya. Gusti Ketut Oka Armini, yang lahir di Denpasar tahun 1967, telah aktif berpameran sejak 1986 dan mengembangkan karya grafis dengan eksplorasi medium dan gagasan. I Gusti Agung Bagus Ari Maruta, lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta, menampilkan karya dengan pendekatan kontemporer yang memadukan tradisi dan modernitas.
"Intertwined Trails" oleh I Wayan Arnata (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)
Karya "Intertwined Trails" dari I Wayan Arnata menggunakan benang di atas kain handuk berukuran 120×100cm, menunjukkan eksplorasi medium non-konvensional yang mencerminkan inovasi dalam seni kontemporer Indonesia.
I Wayan Arnata, seniman kelahiran Sukawati 1973 dan alumnus FSR ISI Yogyakarta, merupakan salah satu contoh seniman SDI yang terus berinovasi dengan medium dan teknik. Karya tekstilnya "Intertwined Trails" mendemonstrasikan bagaimana seniman Indonesia mengeksplorasi medium non-konvensional untuk menyampaikan pesan tentang keterkaitan antara jejak-jejak kehidupan. Penggunaan benang sebagai medium utama mencerminkan filosofi tentang benang merah kehidupan yang menghubungkan berbagai aspek eksistensi manusia dengan alam.
Karya seniman Korea dengan teknik beragam, mulai dari lukisan minyak hingga media campuran (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)
Menghubungkan Generasi Seniman Korea di Panggung Internasional
Daejeon International Art Exchange Association, yang didirikan pada 2007, telah menjadi pioneer dalam diplomasi budaya Korea Selatan melalui seni rupa. Organisasi ini telah menyelenggarakan pertukaran dengan lebih dari 20 negara di berbagai benua, mempromosikan dialog melalui bahasa universal seni.
Pameran ini bertujuan menyediakan platform komunikasi dan pemahaman melalui karya seni yang mewujudkan keragaman budaya Korea dan Indonesia. Partisipasi seniman Korea dalam pameran ini mencakup berbagai generasi dan latar belakang artistik yang beragam, mulai dari seniman senior hingga generasi muda dengan pendekatan kontemporer.
Woongtaek Shim, Presiden Daejeon International Art Exchange Association, menegaskan kembali bahwa pameran ini bertujuan menghadirkan platform komunikasi dan pemahaman, serta mempertemukan keragaman generasi dalam satu ruang dialog artistik lintas budaya.